"Ya udah Mas, lagian kita akan tetap cerai kan? Perilaku Mas ke aku enggak akan ada ngaruh apapun ke hubungan kita, jadi stop mencoba baik di depan aku—"
"—kamu tetap kamu Mas, selamanya kamu adalah suamiku yang kasar, tidak lebih dari itu."
"Binar, cukup, aku cuma mau bersikap baik di hari-hari menjelang perpisahan kita, aku cuma mau ngasih kesan baik ke hubungan kita Bin!"
Aku berdiri menghadap ke arahnya. "Mas yang cukup, sebaik apapun perilaku Mas ke aku, kita akan tetap pisah Mas. Mas sadar kan akan hal itu? Mas mau aku makin jatuh, jatuh, dan jatuh cinta ke kamu bahkan saat aku tahu kalau kita akan pisan?"
Mas Gian mencoba meraih tanganku, tapi aku menjauhkan darinya. "Engga Mas, Mas jahat kalau maunya gitu. Mas mau aku gak bisa lupain kamu, gitu? Sejahat apapun kamu ke aku selama setahun ini, aku tetap mau sama kamu, aku tetap mau ngurus keperluan kamu. Jadi cukup jadi diri Mas yang dulu, yang jahat ke aku, oke?"
"Tapi, bukannya kamu cuma ngejalanin wasiat dari Ayah kamu kan Bi? Kamu juga enggak pernah niat tulus di hubungan kita kan?"
Aku menggeleng. "Enggak, Mas salah besar. Aku jatuh cinta sama kamu saat kamu mengucapkan ijab qabul Mas, awalnya aku emang cuma mau jalanin wasiat dari Ayah. Tapi ternyata, perasaan ini semakin tumbuh walaupun gak pernah kamu pupuk. Mas," aku memegang kedua pundaknya.
"Kamu, sejahat apapun kamu ke aku selama ini, kamu tetap suamiku yang selalu aku jaga aibnya, aku gak pernah cerita di sosmed atau curhat ke sembarang orang atau nyari pelampiasan ke temen cowoku, karena aku menghargai kamu dengan sungguh - sungguh Mas, bukan karena Ayah."
"Apa ngaruhnya perasaan mu ke Mas Gian Mbak? Kalaupun kamu benar-benar jatuh cinta sama dia memangnya kamu akan dapat apa dari dia? Dia tetap Mas Gian yang cinta aku, bukan kamu Mbak."
Entah dari kapan Sarah berada di sana, dia mematung di depan ambang pintu kamarnya. Aku melepaskan tanganku dari pundak kekar suamiku, rasanya aku sudah terlalu banyak bicara. Lagi pula, apa yang di katakan Sarah memang benar.
Bagaimana pun, perasaan Mas Gian akan tetap untuk Sarah. Bukan aku, ya, aku cukup sadar akan hal itu.
Aku berjalan meninggalkan Mas Gian dan Sarah tanpa menjawab perkataan Sarah, karena tanpa menjawab pun sudah terlihat jelas kenyataannya seperti apa. Sarah memiliki Mas Gian yang akan membelanya, sedangkan aku? Aku sendiri.
"Binar, sampai kapanpun, perasaan Mas Gian akan tetap untukku."
"Ya, aku tahu itu Sarah."
Sejak perbincangan tadi sore, aku tidak keluar sampai malam. Bahkan, aku berencana tidak akan keluar kamar sampai besok. Bukan untuk mencari perhatian Mas Gian, bukan juga agar di cari olehnya, tapi memang aku tidak mau melihatnya juga melihat Sarah.
Aku sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi dengan alur hidupku, entah bagaimana akhirnya, aku sudah meyakini kalau itu yang terbaik buatku.
Terdengar notifikasi dari ponselku, ku lihat ternyata itu Vio, Vio mengatakan kalau dia akan pergi survei tempat penelitian besok lusa. Dia mengajakku, mungkin aku akan ikut.
"Nanti ku kabari lagi Vi, aku sih mau ikut," balasku.
"*Aku tidur dulu, kamu istirahat ya Bin*."
Bukan, itu bukan pesan balasan dari Vio. Melainkan dari Mas Gian, kenapa? Di saat kita akan berpisah, di saat dia sudah menikah lagi dengan seseorang yang sangat dia cintai, kenapa dia seolah memberi ruang kepadaku?
Untuk apa dia bersikap manis kalau pada akhirnya kita tetap akan berpisah?
"*Aku, cuma ingin jadi suami yang baik di hari-hari terakhir kita*."
Belum ku balas pesan sebelumnya, dia sudah mengirimiku pesan lagi. Dan, apa maksudnya? Apa dia tidak paham dengan apa yang terjadi? Sebenarnya Mas Gian itu yang mana?
Dia yang selalu kasar padaku atau dia yang manis seperti ini? Sebenarnya Mas Gian yang mana?
"Mas, kalau pada akhirnya dan jika cerai adalah satu-satunya solusi paling baik, setidaknya jangan buat aku berfikir kalau masih ada kesempatan untuk kisah kita," balasku.
Ku simpan ponselku di nakas, aku sudah muak dengan permainan Mas Gian. Selama setahun ini, sikapnya tidak pernah baik. Saat kita akan berpisah, dia menjadi semanis ini?
Ku pejamkan mataku, lelah sekali hari ini.
Mas Gian duduk di meja makan setelah mengantarkan Sarah yang akan menginap di rumah Ibunya, aku tidak mengerti kenapa Mas Gian duduk di sini padahal tidak ada makanan sama sekali untuknya. Kan, memang dia tidak menyukai masakanku?
"Sarapanku mana Binar?"
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. "Mas mau makan masakanku?"
Aku menghentikkan makanku, lalu meneguk setengah air yang berada dalam gelasku. Tenggorokanku seakan tercekik ketika dia bertanya demikian.
"Kenapa? Aku juga mau sarapan, mana punyaku?"
Aku segera mengambil sarapan untuknya, pagi ini aku memasak nasi goreng. Hanya itu karena tidak ada bahan lain di dapur, toh hanya aku yang makan. Mas Gian dan Sarah selalu makan di luar.
"Ini Mas, yakin mau makan ini?" Aku bertanya memastikan, karena takut kalau-kalau dia akan membuangnya seperti kejadian dulu.
Mas Gian tidak menjawabnya, dia langsung memakannya dengan lahap. Entah, entah apa yang menjadi penyebabnya tapi dia sangat lahap dan menikmati nasi goreng buatanku.
"Enak," komentarnya.
Aku tidak bisa berkata-kata selain menghabiskan makananku juga. Kita menyelasainkan sarapan itu sama-sama, aku segera kembali ke dapur untuk mencuci piring bekas makanku, Mas Gian mengikuti.
"Maaf dulu selalu nolak dan buang makananmu Bi."
Aku hanya bergumam, tidak tahu harus meresponnya seperti apa. Antara gugup, canggung, salting menjadi satu. Aku tidak tahu kalau jatuh cinta pada suami sendiri rasanya seperti ini.
"Binar," ucapnya sambil membalikkan badanku untuk menghadapnya.
"Bi, aku gak ngerti perasaan apa ini, tapi ternyata aku seneng liat kamu. Aku gak paham sama apa yang aku rasain tapi aku suka kalau lihat kamu," ujar Mas Gian.
"Bi, aku ngerasa gini pas aku bawa Sarah ke rumah, aku ngerasa ada hal aneh saat liat kamu nangis saat itu. Aku ngerasa enggak rela liat kamu nangis, padahal biasanya aku sering bikin kamu nangis kan Bi?"
Ku biarkan dia berbicara sampai dia merasa tenang, deru nafasnya sangat cepat, aku tahu kalau dia tidak berbohong atas apa yang dia katakan. Jadi, ini alasan kenapa dia merubah sikapnya?
Mas Gian memelukku dengan erat, ini pertama kalinya dalam setahun dia menyentuhku, memelukku, bahkan menatap mataku. Tak terasa air mataku lolos begitu saja, ku rasakan deru nafas suamiku semakin menggebu. Bau maskulin yang selama ini ingin aku raih, kini bahkan mengikutiku tanpa aku minta.
Mas Gian memelukku atas kesadarannya sendiri.
"Apa aku salah kalau aku sayang kamu Bi? Tapi aku juga enggak bisa ninggalin Sarah gitu aja, Bi, tolong aku, tolong suami bodohmu ini."
Aku memeluknya balik, memberi ketenangan dengan mengusap lembut punggung kekarnya itu.
"Mas, kamu enggak perlu ninggalin Sarah buat aku, Sarah orang yang selalu kamu inginkan bahkan saat kamu sudah jadi suamiku,"
"Aku akan tetap jadi istri kamu selama kamu engga menceraikanku, aku ikhlas di madu Mas," lanjutku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Haerul Anwar
tolol author nyabjuga tolol
2025-03-08
0
maya ummu ihsan
kegoblokan yang hqq...
2023-07-26
1
Sukliang
1 kata tuk binar TOLOL
ibu Kartini menangis di surga melihat perempuan kayak kamu binar
2023-07-15
1