"Lo setuju enggak sama omongan gue kemarin." Doni mendongakkan dagunya, lalu kini bergerak lebih dekat mendekati wajah Camelia. "Kalau lo bisa dapatin ranking 1 untuk ujian kali ini, gue akan lunasi semua hutang lo," lanjutnya sedikit berbisik.
Camelia yang merasa tidak nyaman buru-buru memundurkan tubuhnya, lalu menatap netra Doni sedikit malas.
"Iya, gue setuju."
Di saat yang bersamaan saat Doni ingin kembali ke tempat duduk, lagi-lagi suara Nayya terdengar dari arah depan, dia sedang berdiri seorang diri di depan kelas, seraya meminta teman-teman yang lain untuk mengalihkan fokus pada dirinya.
"Teman-teman, gue ada pengumuman lagi. Tolong minta perhatiannya sebentar, duduk dulu," ucap Nayya sedikit teriak seraya memperhatikan teman-temannya bergantian.
Dirasa sudah mulai tenang dan rapi, Nayya membuka pembicaraan kembali dengan sangat percaya diri.
"Jadi, hari Senin kita kan sudah mulai ujian akhir. Nah, sebelum kita pusing-pusing, gue mau usul untuk kita mengadakan jalan-jalan bersama satu kelas, kalian pasti mau juga, kan? Ayolah! Di hari Minggu saja, tidak jauh, yang dekat-dekat di kota ini, bukan di luar kota. Untuk bus dan segala kebutuhan nanti gue yang urus dibantu oleh Doni."
Doni yang namanya terpanggil refleks terbelalak, dia masih tidak mengerti akan pembicaraan Nayya, benar-benar tanpa diskusi dia bicara seperti itu, padahal Doni pun belum menyetujuinya. Sementara itu, teman-teman lain yang memang kebanyakan dari mereka takut dengan Nayya, hanya mendengarkan saja tanpa ada penolakan atau pun respons kurang suka, semuanya seperti menyetujui rencana dari Nayya, kecuali Camelia, Amar juga Giska yang mempunyai prinsip berbeda.
"Gimana kalian setuju enggak sama rencana gue? Kalau kalian diam, fiks kalian setuju!" Nayya menatap antusias teman-temannya.
Tanpa ada penolakan dan basa-basi kembali, semua teman-teman di kelas bersorak setuju akan rencana Nayya.
Nayya yang sedari tadi memperhatikan Giska hanya duduk diam tanpa ekspresi segera memanggilnya.
"Giska, lo enggak mau ikut?" tanya Nayya tiba-tiba.
Giska menatap Camelia cukup lama, lalu berganti menatap Nayya yang kelihatan raut wajahnya telah menunggu jawaban Giska.
"Enggak ah! Gue mending belajar," jawab Giska tanpa ragu atau takut jika nanti Nayya marah.
Benar saja, wajah yang tadi dipenuhi senyuman mendadak berubah kesal, tepat sekali diluncurkan pada Giska. Sementara Giska, akhir-akhir ini sudah terbiasa menerima kondisi ekonomi keluarga yang sedang menurun hanya bersikap biasa, seolah acuh dan tidak ingin berurusan kembali dengan Nayya, bisa-bisa seperti kemarin dirinya harus pura-pura menghabiskan uang hanya untuk jalan-jalan yang tidak penting.
"Ya sudah, kita enggak mengurusi dan memaksa orang yang enggak mau ikut, silakan yang mau ikut nanti bakal gue invite ke grup, dan Sabtu malam kita sudah mulai jalan-jalan hanya sampai sore saja, karena di hari Senin kita sudah berangkat untuk ujian sekolah. Jangan lupa malam ini datang ke ulang tahun gue." Nayya menutup pembicaraannya di depan, lalu beranjak ke tempat duduknya.
Namun, Doni lebih dulu melontarkan sebuah pertanyaan, membuat langkah Nayya terhenti.
"Sudah dapat izin sama wali kelas, Nay?" tanya Doni seraya mengerutkan keningnya.
Nayya terdiam, tatapannya terus berlari seperti mencari-cari jawaban yang tepat.
"Belum sih, tapi ya sudah sajalah, pasti boleh kok! Kan ini juga enggak macam-macam kegiatannya, positif juga, sebagai healing sebelum ujian." Nayya bersedekap tidak ingin kalah.
"Terserah lo dah." Doni menghembuskan napas berat, lalu kembali fokus pada tugasnya di depan.
Camelia yang sedari tadi hanya duduk mendengarkan pembicaraan teman-temannya itu mulai merasa tidak nyaman, tangan yang sedari tadi bergerak kian kemari, kini mulai terangkat ke atas, meminta intrupsi untuk dia berbicara.
"Gue setuju sama Doni. Sebaiknya kalau ingin mengadakan sesuatu di luar sekolah, apalagi ini waktunya mendekati ujian akhir, kita harus dapat izin dulu dari wali kelas, supaya kejadian yang nanti memang enggak kita inginkan, tetapi terjadi tiba-tiba itu sekolah bisa ikut tanggung jawab, sedangkan kalau kalian ke luar bebas tanpa perizinan, kalian harus menanggung jawabkan semua yang terjadi di luar kendali itu sendiri." Camelia menggerakkan tangannya dengan hati-hati agar Nayya tidak merasa tersinggung.
Nayya membalas dengan tatapan kurang suka, tangannya masih bersedekap. "Iya, terima kasih sarannya, tetapi untuk kali ini gue enggak ikutin dulu, lagian cuma satu hari saja kok. Lo kalau enggak mau ikut ya sudah saja, jangan banyak bicara."
Seketika Camelia tersentak, tubuhnya yang tadi duduk dengan tegak kini mulai disandarkan. Amar yang menyadari perubahan raut Camelia segera bertindak, tanpa emosi yang meluap.
"Lo dikasih tahu benar juga malah begitu jawabnya," sambar Amar seraya membangunkan tubuhnya berdiri.
Nayya yang keras kepala malah tersenyum dan meluncurkan tawa kecil ke arah Amar. "Ups, ada pahlawan kesiangan, haha. Enggak usah bawa perasaan, lagian gue tadi sudah bilang terima kasih. Sudah ah, gue cukupi saja, terlalu rumit sekali memikirkan orang-orang yang tidak sejalan."
Nayya mulai beranjak pergi ke kursinya, lalu bersikap biasa kembali melanjutkan obrolan dengan teman-temannya. Sementara itu, teman-teman yang lain pun langsung menyibukkan diri pada kegiatannya masing-masing tanpa memperhatikan pergerakan Nayya yang kurang baik tadi.
Tidak lama dari itu, bel pulang sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran kelas mereka yang kosong telah habis. Sebagian orang-orang beranjak pulang dan sebagian lagi ada yang menetap di kelas, entah menunggu jemputan atau ada kegiatan lagi di luar jam sekolah.
Giska yang tidak ingin lama-lama di sekolah, karena pasti akan berurusan dengan Nayya segera meraih tasnya dan beranjak ke luar kelas. Namun, dari arah belakang sebuah tangan lebih dulu menariknya untuk berhenti.
Giska perlahan membalikkan tubuh, melihat asal tangan yang menariknya itu, ketika Camelia menampakkan senyum tulus, rasanya Giska sangat malu, seperti orang terjahat di dunia, karena dulu dia pernah ikut-ikutan membully Camelia.
"Giska, lo mau ikut belajar sama kita enggak?" Camelia menatap Amar yang berada di samping juga Giska secara bergantian.
Giska masih terdiam, netranya tidak berani menatap wajah Camelia.
"Lo kenapa masih baik sama gue?"
Kini Camelia meraih jari-jari Giska yang tampak cemas, lalu dia genggam seraya menatap netra Giska.
"Lupakan, ya. Yang terpenting sekarang lo sudah berubah jadi lebih baik, gue mau ajak lo belajar bareng, ayo! Kalau lo butuh teman untuk cerita atau keluh kesah, gue sama Amar siap dengerin. Iya enggak, Mar?" Camelia menyenggol tubuh Amar seraya senyuman.
Sementara itu, Amar yang justru belum menerima dengan ikhlas kehadiran Giska memberikan respons yang lama, lalu perlahan kepalanya mengangguk ragu dengan tatapan kurang suka.
'Bisa-bisanya Camelia sebaik itu, gue saja yang selalu melihat dia diperlakukan dengan baik mereka sangat marah, tetapi Camelia justru secepat itu memaafkan. Benar-benar cewek satu ini, gue bakal selalu ingat pesan almarhum Ayah lo, Camelia, gue akan menjaga lo,' batin Amar seraya terus memerhatikan gerak-gerik bahkan suara yang terlontar dari mulut Camelia dengan tenang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments