Amar berusaha membangunkan tubuhnya yang sudah lemas, karena terlalu lama mendekap batu nisan milik sang Adik, bahkan air matanya saja seperti tidak bisa dipaksa untuk kembali terjatuh. Sementara itu sang Ayah yang tentu merasakan sesal sangat dalam, karena merasa dirinya bersalah masih menangis di sana, mendekap batu nisan milik almarhumah Annisa dengan sesenggukan.
"Annisa, maafkan, Ayah. Ayo bangun, sayang. Ayah sudah membelikanmu boneka baru, kamu belum coba memainkannya."
Amar yang sudah muak dengan tingkah laku sang Ayah segera menepuk punggungnya cukup keras.
"Ayah, ngomong apa, sih. Annisa jelas-jelas sudah pergi, jangan seperti ini, Ayah."
"Annisa pasti bisa kembali, Amar. Ini karena ulah makhluk itu, sialan!" sangkal Aldi.
Kini pandangan Aldi memutari sekitarnya dengan tajam, mencoba mencari keberadaan sosok menyebalkan itu, sosok yang membuat Anaknya meninggal, lalu tiba-tiba saja, netranya fokus pada satu titik di seberang kiri, dia seperti menemukan sesuatu yang dicari, dan tanpa aba-aba Aldi berlari menuju apa yang dia fokuskan tanpa mempedulikan Amar seraya berteriak marah-marah seperti orang yang kurang waras.
Ingin rasanya mengejar, tetapi Amar masih mau berlama-lama juga bersama Annisa, dia pikir Ayahnya juga akan pulang sore hari. Namun, entah kenapa pikirannya mendadak berubah, Amar ingin segera pulang seraya mencari sang Ayah, daripada dia harus terus bersedih, tidak mungkin juga Annisa kembali hidup, yang ada tubuhnya semakin sakit jika berlama-lama di sana.
Saat ingin beranjak pergi, Amar merasakan hembusan angin yang tidak biasa, melintas di bagian lehernya, membuat bulu kuduk Amar merinding.
Lalu sebuah suara yang sering dia dengar hari-hari kemarin, terdengar jelas saat itu di telinga Amar.
"Jaga putriku, Camelia, jika kamu tidak ingin mati juga seperti Adikmu," ucap sosok itu dengan tegas.
Amar refleks memutarkan tubuhnya ke belakang tanpa ragu, tetapi dia tidak menemukan apa-apa di sana, hanya lahan luas yang penuh dengan pohon tinggi juga kuburan-kuburan lain. Buru-buru Amar meninggalkan tempat itu, memegangi lehernya yang terasa tersentuh sosok tersebut, dia terus berjalan masih melihat tempat di mana jenazah Annisa dikuburkan.
Sesampainya di rumah, bendera kuning masih terkibar jelas di depan pintu rumahnya, kursi-kursi sudah tersusun rapi di sepanjang jalan, Amar yang sudah lelah hanya bisa melepas bendera itu dan membuangnya dengan kasar, lalu kembali masuk ke rumah dengan helaan napas berat, karena ternyata Ayahnya belum juga pulang, entah ke mana dan mengapa Ayahnya bisa seperti itu.
Baru saja Amar ingin mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di atas karpet tipis yang biasa ditempati orang-orang tersayangnya, pintu rumah terbuka dengan keras, menampakkan sang Ayah yang tampaknya semangat sekali berjalan cepat menuju kamar Annisa, ternyata dia mengambil sebuah boneka yang baru saja dia beli untuk hadiah ulang tahun Annisa, tampak seperti Anak kecil, Aldi selalu menampakkan senyum dan tertawa juga seraya mendekap boneka itu. Amar yang keheranan, segera bangkit, lalu mencegah sang Ayah yang ingin melangkah pergi kembali.
"Ayah, tunggu dulu. Tolong ceritakan semuanya, apa yang terjadi dengan Annisa, apa hubungan makhluk dalam boneka kitty itu dengan Annisa, Yah?"
Benar-benar Amar dibuat bingung dengan semua yang terjadi, ditambah peringatan sosok saat di kuburan, maksudnya apa, melindungi Camelia? Camelia teman kelasnya benar putri dari sosok itu, kah?
Ayahnya yang tadi bertindak seperti Anak kecil, mendadak kembali normal ketika Amar menuntunnya untuk duduk lesehan. Dia terdiam sejenak, terlihat dari raut wajahnya seperti kesusahan untuk mengutarakan semua itu. Tidak lama, tarikan diikuti hembusan napas terdengar cukup panjang.
"Jadi, 5 tahun lalu, Annisa pernah merengek pada seorang pemuda untuk memberikannya boneka kitty yang pemuda itu bawa, lalu saat dia tidak mau memberinya di situ Ayah bertindak. Ayah yang salah ... padahal saat itu dia juga sudah bilang kalau boneka yang dia bawa susah payah didapat untuk diberikan pada putrinya. Ayah mengambil tindakan salah, Ayah membunuhnya, lalu ... Sudah Ayah mau cari Annisa."
Amar sangat serius mendengarkannya, tetapi saat sampai di akhir kalimat, dia tercengang melihat tindakan Ayahnya yang berubah kembali.
"Ayah, lihat Amar, Annisa sudah enggak ada. Tolong, Ayah jangan seperti ini." Amar meraih pundak sang Ayah seraya menatapnya penuh kasih.
Sementara itu, Aldi masih bertindak seperti Anak kecil, netranya berkeliaran ke mana-mana, tidak ingin fokus menatap sang Anak, lalu tenaganya yang masih seperti orang dewasa, dia gunakan untuk menyeka Amar dan kembali berlari seraya mengomel tidak jelas.
"Annisa, ini boneka barunya. Kamu di mana, sayang," ucap Aldi masih mendekap boneka bear baru itu, wajahnya penuh harap agar bisa menemukan Annisa.
Amar mengembuskan napasnya dalam, dia sudah menyerah mengejar Ayahnya sampai depan rumah, Aldi berlari terlalu cepat hingga Amar tidak mampu menyusulnya. Dengan jalan yang mulai sempoyongan, Amar melangkah ke kamar Annisa, sesampainya, tubuh Amar langsung merespon dengan sangat lemas, seketika ambruk, kedua tangannya terus memegangi kepala yang terasa sangat pusing dari kemarin, luka luarnya yang masih belum benar-benar pulih harus ditumpuk kembali dengan luka dalam yang menambah perih.
Cukup lama Amar bertahan dengan posisi seperti itu, lalu tangannya yang sudah lelah hinggap di kepala akhirnya membebaskan diri, merenggangkan ke samping, dan tepat sekali pada tangan kanannya, Amar merasa dia menyentuh sebuah boneka. Dengan pikiran yang sudah tidak karuan serta detak jantung yang mulai memompa cepat, Amar membangkitkan tubuh, matanya refleks melebar, keringat dingin sore menjelang malam hari mulai tampak dari keningnya.
"Sialan! Ini makhluk maunya apa, mengapa boneka kitty ini terus kembali."
Baru saja Amar ingin melemparnya ke sembarang arah, tetapi aneh sekali, tangannya dengan boneka itu seperti permen karet yang saling mengait, tidak ingin lepas, karena terhubung dengan segumpal darah yang mendadak tampak dalam netra Amar, darah itu bersumber dari perut boneka yang terdapat luka dalam, sangat mengerikan, tangan Amar kini dipenuhi darah, lalu bersamaan, seperti biasanya makhluk dalam boneka itu kembali, dia seperti mengelilingi kamar yang Amar tempati, lalu memunculkan suara ketawa jahatnya yang seperti tidak ingin berhenti. Amar yang merasa sudah lelah dengan semuanya, tentu tidak bisa dibohongi dia juga sangat takut serta tubuhnya yang kian gemetar, Amar coba lawan, dia buru-buru mengistirahatkan tubuhnya di ranjang yang selalu Annisa pakai untuk istirahat. Amar berharap dia bisa terlelap dengan cepat ditemani suara ketawa dari makhluk yang entah di mana keberadaannya, dia juga berencana untuk membuang boneka kitty sejauh dan secepat mungkin setelah pulang sekolah esok hari, ingin rasanya cepat-cepat terbebas dari teror aneh ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments