BAB 10 | PERINGATAN

Amar berusaha membangunkan tubuhnya yang sudah lemas, karena terlalu lama mendekap batu nisan milik sang Adik, bahkan air matanya saja seperti tidak bisa dipaksa untuk kembali terjatuh. Sementara itu sang Ayah yang tentu merasakan sesal sangat dalam, karena merasa dirinya bersalah masih menangis di sana, mendekap batu nisan milik almarhumah Annisa dengan sesenggukan.

"Annisa, maafkan, Ayah. Ayo bangun, sayang. Ayah sudah membelikanmu boneka baru, kamu belum coba memainkannya."

Amar yang sudah muak dengan tingkah laku sang Ayah segera menepuk punggungnya cukup keras.

"Ayah, ngomong apa, sih. Annisa jelas-jelas sudah pergi, jangan seperti ini, Ayah."

"Annisa pasti bisa kembali, Amar. Ini karena ulah makhluk itu, sialan!" sangkal Aldi.

Kini pandangan Aldi memutari sekitarnya dengan tajam, mencoba mencari keberadaan sosok menyebalkan itu, sosok yang membuat Anaknya meninggal, lalu tiba-tiba saja, netranya fokus pada satu titik di seberang kiri, dia seperti menemukan sesuatu yang dicari, dan tanpa aba-aba Aldi berlari menuju apa yang dia fokuskan tanpa mempedulikan Amar seraya berteriak marah-marah seperti orang yang kurang waras.

Ingin rasanya mengejar, tetapi Amar masih mau berlama-lama juga bersama Annisa, dia pikir Ayahnya juga akan pulang sore hari. Namun, entah kenapa pikirannya mendadak berubah, Amar ingin segera pulang seraya mencari sang Ayah, daripada dia harus terus bersedih, tidak mungkin juga Annisa kembali hidup, yang ada tubuhnya semakin sakit jika berlama-lama di sana.

Saat ingin beranjak pergi, Amar merasakan hembusan angin yang tidak biasa, melintas di bagian lehernya, membuat bulu kuduk Amar merinding.

Lalu sebuah suara yang sering dia dengar hari-hari kemarin, terdengar jelas saat itu di telinga Amar.

"Jaga putriku, Camelia, jika kamu tidak ingin mati juga seperti Adikmu," ucap sosok itu dengan tegas.

Amar refleks memutarkan tubuhnya ke belakang tanpa ragu, tetapi dia tidak menemukan apa-apa di sana, hanya lahan luas yang penuh dengan pohon tinggi juga kuburan-kuburan lain. Buru-buru Amar meninggalkan tempat itu, memegangi lehernya yang terasa tersentuh sosok tersebut, dia terus berjalan masih melihat tempat di mana jenazah Annisa dikuburkan.

Sesampainya di rumah, bendera kuning masih terkibar jelas di depan pintu rumahnya, kursi-kursi sudah tersusun rapi di sepanjang jalan, Amar yang sudah lelah hanya bisa melepas bendera itu dan membuangnya dengan kasar, lalu kembali masuk ke rumah dengan helaan napas berat, karena ternyata Ayahnya belum juga pulang, entah ke mana dan mengapa Ayahnya bisa seperti itu.

Baru saja Amar ingin mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di atas karpet tipis yang biasa ditempati orang-orang tersayangnya, pintu rumah terbuka dengan keras, menampakkan sang Ayah yang tampaknya semangat sekali berjalan cepat menuju kamar Annisa, ternyata dia mengambil sebuah boneka yang baru saja dia beli untuk hadiah ulang tahun Annisa, tampak seperti Anak kecil, Aldi selalu menampakkan senyum dan tertawa juga seraya mendekap boneka itu. Amar yang keheranan, segera bangkit, lalu mencegah sang Ayah yang ingin melangkah pergi kembali.

"Ayah, tunggu dulu. Tolong ceritakan semuanya, apa yang terjadi dengan Annisa, apa hubungan makhluk dalam boneka kitty itu dengan Annisa, Yah?"

Benar-benar Amar dibuat bingung dengan semua yang terjadi, ditambah peringatan sosok saat di kuburan, maksudnya apa, melindungi Camelia? Camelia teman kelasnya benar putri dari sosok itu, kah?

Ayahnya yang tadi bertindak seperti Anak kecil, mendadak kembali normal ketika Amar menuntunnya untuk duduk lesehan. Dia terdiam sejenak, terlihat dari raut wajahnya seperti kesusahan untuk mengutarakan semua itu. Tidak lama, tarikan diikuti hembusan napas terdengar cukup panjang.

"Jadi, 5 tahun lalu, Annisa pernah merengek pada seorang pemuda untuk memberikannya boneka kitty yang pemuda itu bawa, lalu saat dia tidak mau memberinya di situ Ayah bertindak. Ayah yang salah ... padahal saat itu dia juga sudah bilang kalau boneka yang dia bawa susah payah didapat untuk diberikan pada putrinya. Ayah mengambil tindakan salah, Ayah membunuhnya, lalu ... Sudah Ayah mau cari Annisa."

Amar sangat serius mendengarkannya, tetapi saat sampai di akhir kalimat, dia tercengang melihat tindakan Ayahnya yang berubah kembali.

"Ayah, lihat Amar, Annisa sudah enggak ada. Tolong, Ayah jangan seperti ini." Amar meraih pundak sang Ayah seraya menatapnya penuh kasih.

Sementara itu, Aldi masih bertindak seperti Anak kecil, netranya berkeliaran ke mana-mana, tidak ingin fokus menatap sang Anak, lalu tenaganya yang masih seperti orang dewasa, dia gunakan untuk menyeka Amar dan kembali berlari seraya mengomel tidak jelas.

"Annisa, ini boneka barunya. Kamu di mana, sayang," ucap Aldi masih mendekap boneka bear baru itu, wajahnya penuh harap agar bisa menemukan Annisa.

Amar mengembuskan napasnya dalam, dia sudah menyerah mengejar Ayahnya sampai depan rumah, Aldi berlari terlalu cepat hingga Amar tidak mampu menyusulnya. Dengan jalan yang mulai sempoyongan, Amar melangkah ke kamar Annisa, sesampainya, tubuh Amar langsung merespon dengan sangat lemas, seketika ambruk, kedua tangannya terus memegangi kepala yang terasa sangat pusing dari kemarin, luka luarnya yang masih belum benar-benar pulih harus ditumpuk kembali dengan luka dalam yang menambah perih.

Cukup lama Amar bertahan dengan posisi seperti itu, lalu tangannya yang sudah lelah hinggap di kepala akhirnya membebaskan diri, merenggangkan ke samping, dan tepat sekali pada tangan kanannya, Amar merasa dia menyentuh sebuah boneka. Dengan pikiran yang sudah tidak karuan serta detak jantung yang mulai memompa cepat, Amar membangkitkan tubuh, matanya refleks melebar, keringat dingin sore menjelang malam hari mulai tampak dari keningnya.

"Sialan! Ini makhluk maunya apa, mengapa boneka kitty ini terus kembali."

Baru saja Amar ingin melemparnya ke sembarang arah, tetapi aneh sekali, tangannya dengan boneka itu seperti permen karet yang saling mengait, tidak ingin lepas, karena terhubung dengan segumpal darah yang mendadak tampak dalam netra Amar, darah itu bersumber dari perut boneka yang terdapat luka dalam, sangat mengerikan, tangan Amar kini dipenuhi darah, lalu bersamaan, seperti biasanya makhluk dalam boneka itu kembali, dia seperti mengelilingi kamar yang Amar tempati, lalu memunculkan suara ketawa jahatnya yang seperti tidak ingin berhenti. Amar yang merasa sudah lelah dengan semuanya, tentu tidak bisa dibohongi dia juga sangat takut serta tubuhnya yang kian gemetar, Amar coba lawan, dia buru-buru mengistirahatkan tubuhnya di ranjang yang selalu Annisa pakai untuk istirahat. Amar berharap dia bisa terlelap dengan cepat ditemani suara ketawa dari makhluk yang entah di mana keberadaannya, dia juga berencana untuk membuang boneka kitty sejauh dan secepat mungkin setelah pulang sekolah esok hari, ingin rasanya cepat-cepat terbebas dari teror aneh ini.

Episodes
1 Prolog
2 BAB 1 | MATA MERAH
3 Bab 2 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 1
4 BAB 3 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 2
5 BAB 4 | AKHIR BALAS DENDAM?
6 BAB 5 | DEEP TALK
7 BAB 6 | PERASAAN BURUK
8 BAB 7 | SETENGAH HARI YANG BAIK
9 BAB 8 | PETAKA
10 BAB 9 | PULANG?
11 BAB 10 | PERINGATAN
12 BAB 11 | MELAWAN UNTUK MELINDUNGI DIRI
13 BAB 12 | CERMIN SEKOLAH
14 BAB 13 | CERITA CAMELIA
15 BAB 14 | ANNISA
16 BAB 15 | RENCANA BARU
17 BAB 16 | CLOSER
18 BAB 17 | ULANG TAHUN NAYYA 1
19 BAB 18 | ULANG TAHUN NAYYA 2
20 BAB 19 | ULANG TAHUN NAYYA 3
21 BAB 20 | AYAH
22 BAB 21 | KEJANGGALAN
23 BAB 22 | BACKGROUND
24 BAB 23 | AWAL
25 BAB 24 | TRAGEDI BUS TRAVEL
26 BAB 25 | TRAGEDI BUS TRAVEL 2
27 BAB 26 | OVERTHINKING RUMAH CAMELIA
28 BAB 27 | FEELING
29 BAB 28 | IKATAN
30 BAB 29 | SUARA-SUARA DI KELAS
31 BAB 30 | DAVID
32 BAB 31 | PERSONA
33 BAB 32 | PROGRAM BARU
34 BAB 33 | MALAM PENYELIDIKAN
35 BAB 34 | OBROLAN MENDALAM DI KELAS
36 BAB 35 | RENCANA NAYYA
37 BAB 36 | HANGUS?
38 BAB 37 | MASIH TENTANG MASA LALU
39 BAB 38 | RENCANA NAYYA 2
40 BAB 39 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA
41 BAB 40 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA 2
42 BAB 41 | INGIN DIJEMPUT
43 BAB 42 | PERBINCANGAN HOROR
44 BAB 43 | DREAM
45 BAB 44 | MENANTANG ARWAH
46 BAB 45 | SUPPORT SYSTEM
47 BAB 46 | BONEKA KITTY
48 BAB 47 | BUNUH DIRI?
49 BAB 48 | PEMUTARAN ULANG
50 EPILOG
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Prolog
2
BAB 1 | MATA MERAH
3
Bab 2 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 1
4
BAB 3 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 2
5
BAB 4 | AKHIR BALAS DENDAM?
6
BAB 5 | DEEP TALK
7
BAB 6 | PERASAAN BURUK
8
BAB 7 | SETENGAH HARI YANG BAIK
9
BAB 8 | PETAKA
10
BAB 9 | PULANG?
11
BAB 10 | PERINGATAN
12
BAB 11 | MELAWAN UNTUK MELINDUNGI DIRI
13
BAB 12 | CERMIN SEKOLAH
14
BAB 13 | CERITA CAMELIA
15
BAB 14 | ANNISA
16
BAB 15 | RENCANA BARU
17
BAB 16 | CLOSER
18
BAB 17 | ULANG TAHUN NAYYA 1
19
BAB 18 | ULANG TAHUN NAYYA 2
20
BAB 19 | ULANG TAHUN NAYYA 3
21
BAB 20 | AYAH
22
BAB 21 | KEJANGGALAN
23
BAB 22 | BACKGROUND
24
BAB 23 | AWAL
25
BAB 24 | TRAGEDI BUS TRAVEL
26
BAB 25 | TRAGEDI BUS TRAVEL 2
27
BAB 26 | OVERTHINKING RUMAH CAMELIA
28
BAB 27 | FEELING
29
BAB 28 | IKATAN
30
BAB 29 | SUARA-SUARA DI KELAS
31
BAB 30 | DAVID
32
BAB 31 | PERSONA
33
BAB 32 | PROGRAM BARU
34
BAB 33 | MALAM PENYELIDIKAN
35
BAB 34 | OBROLAN MENDALAM DI KELAS
36
BAB 35 | RENCANA NAYYA
37
BAB 36 | HANGUS?
38
BAB 37 | MASIH TENTANG MASA LALU
39
BAB 38 | RENCANA NAYYA 2
40
BAB 39 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA
41
BAB 40 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA 2
42
BAB 41 | INGIN DIJEMPUT
43
BAB 42 | PERBINCANGAN HOROR
44
BAB 43 | DREAM
45
BAB 44 | MENANTANG ARWAH
46
BAB 45 | SUPPORT SYSTEM
47
BAB 46 | BONEKA KITTY
48
BAB 47 | BUNUH DIRI?
49
BAB 48 | PEMUTARAN ULANG
50
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!