Baru saja Giska melangkahkan kaki menuju kelasnya, terdengar ramai sekali, teman-temannya seperti sedang melakukan sesuatu di dalam kelas. Dengan sedikit ketakutan yang tersembunyi dan langkah yang tidak pasti, Giska mendekati kelas. Saat pintu terbuka, tiba-tiba saja gulungan kertas dari berbagai bentuk, kecil hingga besar, mengenai tubuhnya cukup keras, sangat terkejut reaksinya. Giska sangat tidak paham maksud teman-temannya.
"Tolong hentikan, ini sakit." Giska berusaha melindungi kepala dengan kedua tangan.
Perlahan tubuhnya menunduk, dia mendekap kedua kaki dengan erat, mencurahkan tangisan dalam di sana. Masih terdengar sorak-sorai dari teman-teman kelas dan yang paling Giska kenal, adalah suara dari Nayya juga Doni.
"Ah lo jauh-jauh deh, dasar miskin, sana saja lo, enggak usah sekolah di sini!"
Giska berteriak sekencang mungkin, tangisannya begitu tersedu, masih dalam posisi mendekap kedua kakinya yang tampak gemetar, karena takut.
...***...
"Giska, bangun, sayang sudah siang. Kamu enggak berangkat sekolah?"
Suara teguran dari sang Ibu terdengar jelas, membuat Giska terbangun dari mimpinya, tubuhnya refleks terbangun, napas kian tersengal-sengal juga ketakutan yang masih membekas.
"Kamu kenapa, habis mimpi buruk?" seru suara Ibu Giska kembali, kini sembari memegangi pundaknya untuk lebih menenangkan.
Giska terdiam sejenak, lalu menghembuskan napas dengan berat. "Iya, Mah. Giska mimpi teman-teman Giska semuanya jahat sama Giska, mereka melempari Giska gulungan kertas."
"Sudah, ayo mandi dulu, mimpimu jangan terlalu dipikirkan ya, semuanya akan baik-baik saja." Ibu Giska menyentuh hangat kepala sang Anak seraya tersenyum.
Dirasa sudah semakin tenang, Giska buru-buru beranjak dari kasurnya ke kamar mandi, lalu tanpa lama kembali dia berpamitan untuk berangkat, setelah memakan roti warung yang sudah Ibunya belikan.
...***...
Amar hanya bisa berjalan datar tanpa ekspresi, pandangannya pun terus lurus ke depan tanpa memedulikan teman-temannya atau bahkan bukan temannya meluncurkan tatapan yang membuat Amar tidak nyaman. Pikiran dia masih berantakan, belum benar-benar pulih untuk sembuh dari kesedihan akan kepergian orang tersayangnya, orang yang paling berarti dalam hidupnya, Annisa. Jadi, wajar saja baru satu hari kepergian Annisa, Amar masih bersikap seperti itu.
Sesampainya di kelas, ya seperti biasa Amar lagi-lagi melihat Camelia yang sudah dilingkari oleh manusia-manusia aneh, dia belum merasa janggal saat meletakkan tasnya di bangku. Namun, saat Amar mulai melamun menghadap ke arah Camelia, Nayya juga Doni, refleks sesuatu mengingatkannya.
'Camelia? Gue harus lindungin dia!' batin Amar seraya memainkan tengkuknya yang tidak gatal.
Dengan sedikit cemas, Amar mulai beranjak mendekati perkumpulan itu, rasanya malas sekali mencampuri urusan orang, tetapi bagaimana pun ini amanah dari makhluk menyebalkan dalam boneka kitty, kalau tidak dia bisa menyusul untuk meninggal juga seperti Annisa. Namun, baru saja Amar ingin mendekati mereka, di saat yang bersamaan Camelia membangunkan tubuh dengan tegas, lalu menggebrak meja untuk pertama kalinya setelah tidak salah Doni berbicara, "Kalau ulangan akhir kali ini lo dapat ranking 1, semua utang lo gue bakal selesaikan dengan tuntas." Begitu kira-kira pembicaraannya.
Dengan tatapan tajam kepada Doni, Camelia berbicara dengan tegas. "Lo enggak usah bahas hutang gue di sini, gue kan sudah pernah bilang gue bakal bayar. Maksudnya apa ngomong begitu keras-keras di depan semua teman kelas, lo mau buat gue malu?!"
Terhenti sejenak langkah Amar, rasanya Camelia saat itu benar-benar sudah emosi, tetapi bagaimana pun Amar masih sangat tidak percaya, karena biasanya separah apapun Camelia dibully, dia tidak mungkin bisa melawan, hanya menunjukkan respon pasrah dan taat, tetapi kali itu benar-benar beda, seperti adanya dorongan dari sesuatu atau seseorang untuk Camelia bisa melawan. Antara terkejut dan bangga, bangga akhirnya Camelia bisa sadar untuk menjadi pribadi yang tegas dan tidak seenaknya untuk dijatuhkan, kalau saja Camelia terus taat dan merespons mereka dengan baik, ke depannya pasti Camelia akan terus dimanfaatkan serta diperbudak, semakin parah keadaannya.
Amar yang tidak ingin hanya menjadi penonton saja, berusaha melanjutkan langkah kembali, dia menghampiri Camelia yang tampaknya tidak bisa mengendalikan tangis itu.
"Mel, ayo ikut gue." Amar membawa jari-jari Camelia untuk pergi dari sana, melewati dua orang yang masih syok akan respon tegas Camelia barusan.
Tidak jauh Amar membawanya, hanya dua jarak kelas dari kelas mereka, X IPS 1, belum juga Amar berbicara, Camelia sudah dulu mencurahkan tangisnya saja, tubuhnya merespon untuk lesehan di atas keramik yang masih meninggalkan debu dari langkah-langkah orang.
Amar yang tidak enak dengan orang-orang sekitar, hanya bisa menenangkan Camelia untuk berhenti menangis.
"Sudah, Mel. Gue tahu lo pasti sakit sekali untuk menahan tindakan kasar mereka kemarin-kemarin. Kita lanjut cerita pulang sekolah, ya, lo bisa cerita sebebas-bebasnya nanti." Amar menepuk-nepuk pelan punggung Camelia dengan tangan kanannya.
Tidak lama dari itu, Camelia mengucapkan terima kasih, lalu menyeka air mata dengan cepat dan buru-buru kembali ke kelas, saat terdengar bel masuk sudah berbunyi.
Berbeda dengan Amar yang terlihat santai untuk berjalan, seperti memikirkan sesuatu dengan fokus, dan benar saja dia sangat lupa sekali kalau sepulang sekolah dia harus membuang boneka kitty itu dengan segera, Amar lupa juga untuk membawanya ke sekolah, kalau begitu dia harus pulang kembali, padahal niatnya di awal setelah pulang sekolah dia akan menyempatkan waktu untuk membuang boneka kitty itu, lalu bisa kembali ke rumah dengan tenang. Jadi, mungkin sepulang sekolah Amar akan berbicara kembali kepada Camelia untuk bercerita besok harinya saja, tidak hari ini.
...***...
Menunggu cukup lama kehadiran guru, Nayya tidak bisa tenang untuk tidak berkeliling atau berpindah dari bangkunya itu, dia kini beranjak ke arah Giska yang duduk dua meja di depannya.
"Giska, pulang sekolah kita biasa ya mampir ke mall." Nayya menaikkan alis dengan senyuman menggoda.
Giska yang biasa selalu merespons dengan semangat dan antusias, kali itu tidak, dia terdiam cukup lama, memainkan jari-jarinya yang hinggap di meja.
"Sorry, Nay, gue enggak bisa," jawab Giska dengan pandangan yang masih menunduk.
Nayya yang merasa kurang nyaman, segera menyesuaikan dirinya untuk bisa bertatapan dengan Giska. "Lo kenapa, sih? kenapa enggak bisa, tumben sekali."
Tidak ingin Nayya curiga olehnya, Giska berpura-pura untuk terlihat baik, dia kini berani menatap netra Nayya bersamaan dengan senyum yang sedikit terpaksa.
"Eh, iya gue bisa, Nay. Pulang sekolah, ya?"
"Nah, begitu dong. Iya pulang sekolah!"
Nayya tampak riang, lalu kembali ke bangkunya karena seorang guru telah masuk ke kelas mereka. Sementara Giska, masih berpura-pura terlihat baik, padahal pikirannya sedang kacau memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi ke depan jika seandainya Giska selalu menyembunyikan perihal keluarganya yang sudah bangkrut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments