Malam yang sudah sangat petang dan dingin, Aldi diam-diam berjalan mengendap-endap ke luar rumah, hanya menggunakan kaos seadanya tanpa ada jaket atau topi pelindung. Tampak lelah sekali wajah pria itu, mencari-cari sebuah kantong plastik atau karung di depan rumah, setelah menemukan empat buah kantong plastik hitam yang cukup besar, Aldi tampak senang, senyuman leganya terukir dengan bebas di wajah.
Dengan semangat juga langkah yang pasti, Aldi berjalan menyelusuri sekitaran rumah, dia berniat untuk mengumpulkan barang-barang bekas pada malam hari, agar tidak diketahui Anaknya. Sesekali dia ingin memberikan hadiah kepada sang putri di hari ulang tahun, dengan pendapatannya sendiri bukan hasil palak dari orang-orang. Namun, entah kenapa sepanjang jalan yang sepi itu, perasaan Aldi tidak enak sekali, seperti ada seseorang yang mengikuti dan mengawasinya, tetapi bukan hanya itu, perasaan tidak enaknya dibarengi dengan bayangan Annisa, entah kenapa di hari yang spesial ini, Aldi malah takut, cemas terhadap Annisa, rasa-rasanya seperti akan terjadi hal buruk saja.
Meskipun perasaan takut semakin besar, Aldi terus fokuskan dirinya mencari barang-barang bekas, sebelum pagi hari datang dia sudah harus sampai di rumah, kalau tidak, pasti Anak-anaknya akan mencari. Entah kebetulan atau apa, baru saja beberapa langkah dia berjalan, di depannya sudah terlihat saja tumpukkan gelas plastik bekas. Namun, saat Aldi hendak mengambil dan memasukkan ke dalam plastik hitam yang dia bawa, sebuah bayangan hitam besar terlihat jelas dari pantulan cahaya pinggir jalan, tetapi saat dilihat kembali ke sekitarnya, tidak ada apa-apa di sana, bahkan tumbuhan atau apa pun itu tidak terlihat.
Tanpa mengetahui lebih dalam, Aldi kembali memasukkan botol-botol itu hingga 4 plastik besar yang dia bawa penuh tanpa celah. Saat hendak melangkah pulang, tiba-tiba hembusan angin seperti terasa sekali di leher Aldi, terasa berbeda, membuat bulu kuduknya merinding. Aldi masih berusaha untuk berpikir positif, menguburkan pikiran-pikiran negatifnya, tetapi suara seseorang terdengar jelas membuat ketakutan itu kembali hadir.
"Aku akan membawa Annisa bersamaku," ucap sesosok yang entah di mana keberadaannya diikuti tawa yang jahat.
Aldi refleks melihat sekitarnya kembali, tatapan tegas mulai diperlihatkan. "Siapa kamu?! Jangan berani-berani kamu ganggu Anak saya!"
"Tunggu saja permainanku," ucap sesosok itu kembali.
Di saat yang bersamaan, sebuah pisau kecil yang selalu hinggap di saku celana Aldi, mendadak terjatuh, tetapi sangat aneh, pisau itu meninggalkan darah segar, seperti baru-baru dipakai untuk membunuh seseorang. Sempat terbesit dalam pikiran Aldi saat 5 tahun yang lalu, dia memang pernah membunuh seseorang dan merenggut bonekanya yang sekarang sudah dikembalikan oleh Annisa, tetapi lagi-lagi Aldi hilangkan pikiran itu, mungkin pisaunya jatuh hanya kebetulan. Buru-buru Aldi kembali ke rumah, karena tidak ingin terjadi hal buruk pada Anak-anaknya, dia khawatir omongan sosok tadi benar bukan sekadar ancaman saja.
Sesampainya di rumah, Aldi meletakkan kantong plastik yang telah penuh dengan botol bekas di teras depan. Lalu buru-buru kembali ke kamar, seolah tidak terjadi apa-apa.
Baru sekitar 4 jam saja Aldi memejamkan mata, sudah terdengar suara Anak-anaknya, terutama Amar yang ingin bersiap untuk ke sekolah.
"Ayah, Amar pamit ke sekolah, ya." Amar memegangi lengan sang Ayah yang baru saja terbangun.
Aldi yang pandangannya masih buram mencoba untuk fokuskan hingga benar-benar sadar, lalu mengiringi Amar sampai ke depan rumah.
"Kak Amar, hati-hati, ya. Belajar yang benar." Annisa melambaikan tangan mungilnya, mengamati Amar yang kian hilang dari pandangan.
Amar yang memang sadar kalau saat itu dirinya sudah hampir terlambat, mulai mempercepat langkah, sesampainya di pinggir jalan raya, Amar menunggu cukup lama, tidak ada tanda-tanda angkutan umum yang biasanya selalu ramai berkeliaran. Sementara waktu terus berjalan, Amar khawatir jika memutuskan untuk jalan kaki saja pasti akan terlambat sampai sekolah. Namun, akhirnya tidak ada pilihan lain, Amar memilih untuk jalan kaki, menerima resikonya jika nanti dia akan dihukum, karena terlambat.
Baru beberapa meter Amar berjalan, tiba-tiba saja, seorang Anak berlari dari arah kiri membawa minuman yang kelihatannya tidak dia pegang dengan erat, hingga pada akhir Anak kecil itu menabrak tubuh Amar, dan membasahi baju seragamnya yang sudah rapi dengan minuman coklat yang dia bawa.
Terlalu takutnya Anak tersebut, dia hanya bisa meminta maaf, lalu berlari meninggalkan Amar yang sedikit emosi akan seragamnya yang menjadi kotor.
"Sialan, gimana mau ke sekolah kalau seragam kotor begini? Mana udah siang lagi." Amar berusaha membersihkan noda itu menggunakan telapak tangannya.
Kesal dengan noda yang sangat sulit untuk hilang, Amar berdecak kesal, lalu memutuskan untuk kembali pulang. Entah kebetulan atau apa, mendadak perasaan Amar juga tidak baik memikirkan tentang Annisa, terlintas dalam pikirannya hal-hal aneh yang terjadi dengan Annisa. Dengan masih meninggalkan rasa kesal, Amar buru-buru berjalan kembali menuju rumah, benar-benar sepanjang jalan pikirannya hanya dihantui dan dipenuhi oleh sang Adik saja, Annisa.
Sembari mengatur napasnya agar normal kembali, Amar mulai menghampiri rumah yang tampak sepi itu, baru saja jari-jarinya menyentuh gagang pintu, seseorang sudah dulu membuka pintunya saja dari dalam.
"Kak Amar, kok pulang lagi?" Annisa mengamati sang Kakak yang terlihat cemas. "Eh, seragam Kakak kenapa?" lanjutnya.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja, Annisa." Amar memegangi pundak Annisa dengan senyum tipis.
Sementara itu, Annisa yang merasa sangat kebingungan mencoba bertanya kembali.
"Kenapa, Kak? Kak Amar kenapa enggak jadi berangkat sekolah?"
Amar menghembuskan napasnya berat, lalu menduduki diri di tanah sembarang, diikuti dengan Annisa di sampingnya.
"Kakak juga merasa aneh, angkutan umum tumben sekali enggak kelihatan, padahal biasanya ramai sudah berkeliaran. Akhirnya tadi Kakak memutuskan untuk jalan kaki saja, tetapi ada lagi kendala yang muncul, ini seragam Kakak kotor, karena Anak kecil yang tidak sengaja menjatuhkan minumannya."
Annisa berdeham pertanda mengerti, lalu bibirnya kembali terbuka seperti ingin menanyakan suatu hal kembali.
"Tadi Kak Amar kenapa tiba-tiba nanyain aku baik-baik saja atau enggak, kenapa tuh?"
"Itu, enggak papa, lupain aja, hehe." Amar mengacak-acak rambut Annisa dengan senyumannya.
Sementara Annisa yang merasa risih segera meraih tangan sang Kakak dan membawanya turun dengan raut yang agak kesal.
"Jadi, kita mau ke pameran itu, Kak?!" seru Annisa dengan kembali semangat.
"Oh iya, boleh, Kakak mau bersih-bersih seragam dulu, kamu juga siap-siap dulu saja. Ajak Ayah juga, ya!" Amar membangunkan tubuhnya, meninggalkan Annisa yang kini ternyata ikut berjalan masuk ke rumah.
"Siap, Kak Amar," jawab Annisa seraya berjalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments