Seharian berada di luar rumah, membuat Annisa, Amar dan Aldi ambruk, datang-datang mereka langsung mengistirahatkan tubuh pada karpet tipis yang selalu tersedia di teras depan rumah, lalu meletakkan barang-barang yang mereka bawa di samping.
"Lelah sekali, ya." Annisa meregangkan kedua tangannya bebas di atas karpet seraya menatap sang Ayah dan Kakaknya bergantian.
Tidak lama dari itu, suara petir mendadak menyambar dari langit yang kian berwarna abu, saling bertabrakan, lalu hujan pun mulai turun dengan deras, sangat terdengar dan memekik telinga. Padahal sedari pagi hingga selesai berkeliling, suasananya sangat cerah, tidak ada ciri-ciri atau tanda bahwa ingin turun hujan besar.
Dirasa sudah kembali kuat, Annisa membangunkan tubuhnya berniat membersihkan badan terlebih dahulu, membiarkan sang Kakak dan Ayah yang masih terbaring lemas. Saat langkah Annisa mulai memasuki kamar mandi, lagi-lagi angin malam membuat tubuhnya menggigil, bulu kuduknya mendadak berdiri, karena ditambah lampu remang di dalam kamar mandinya, belum sempat menggantinya dengan yang baru, membuat suasana semakin seram.
Padahal sudah cukup lama Annisa merasa kitty tidak lagi dengannya, tetapi entah mengapa saat itu pikirannya terus memaksa untuk memikirkan boneka kitty yang dia lantarkan, di hadapan cermin yang telah retak, pandangan Annisa mendadak buram. Saat mencoba untuk memfokuskannya Annisa terbelalak, mulutnya yang melebar dia tutup dengan kedua tangan, netranya kian meneteskan air mata, ketika melihat kembali sosok dalam boneka itu hadir di belakang, terlihat dari pantulan cermin. Wajahnya masih sama, terlihat hitam dan menjijikan, perutnya pun masih terluka dalam, ditambah darah yang tidak berhenti bercucuran. Dengan kaki bahkan sekujur tubuh yang sudah gemetaran, Annisa mencoba membalikkan tubuh di belakang, dia mencoba meraba dengan satu tangan, sementara tangan satunya dia coba untuk menutupi wajah.
Sudah beberapa kali dia meraba ke sekitar, tetapi tidak menemukan apa-apa, betul saja saat Annisa membalikkan badan kembali ke cermin, sosok itu telah hilang, hanya meninggalkan bayangan dirinya yang masih meninggalkan bekas raut ketakutan serta cemas.
Annisa menghembuskan napas lega, dengan pandangan yang masih menunduk juga tangan kanan yang memegangi kepala, Annisa mencoba menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Namun, saat pandangannya fokus ke bawah, dia tidak sengaja melihat boneka kitty yang tergeletak, tepat di samping bawah pintu.
"Ya Tuhan, kenapa lagi ini." Annisa dengan berat hati meraih boneka kitty itu.
Awalnya semua menenangkan dan terlihat baik-baik saja, tetapi semakin Annisa lihat, mata boneka yang kini dipegangnya seketika berubah menjadi merah.
"Aaaaa!"
Buru-buru Annisa melempar boneka itu ke sembarang arah, lalu membuka kunci dengan tergesa, dan segera berlari menuju sang Kakak juga Ayah, meskipun saat itu tubuhnya kian gemetar, serta detak jantungnya yang berdegup cepat.
***
"Loh, ada apa, Ayah?" Giska menatap sang Ayah dan Ibunya bergantian.
Ibu dan Ayahnya masih diam, menundukkan pandangan, memandangi koper yang mereka bawa untuk ke luar dari rumah.
Merasa tidak ada respons dan masih penasaran, Giska mencoba bertanya kembali, kali ini dia lebih mendekatkan wajahnya pada mereka.
"Kita mau ke mana?"
Ayah Giska memandangi Anaknya itu cukup lama dengan tatapan sendu.
"Kita akan pindah rumah, rumah ini sudah Ayah jual."
Giska terbelalak, refleks tangannya memegang lengan sang Ayah cukup erat. "Loh, kok Ayah enggak bilang? Aku enggak mau pindah! Kita emang mau tinggal di mana?"
"Giska, kamu ini bukan Anak kecil lagi! Kita harus hemat mulai hari ini!"
Seketika Giska terdiam, ketika mendapatkan bentakan dari sang Ayah, matanya berkaca-kaca, lalu menatap sang Ibu yang tampaknya ingin memberikan dekapan hangat kepada Giska. Tanpa berlama-lama lagi, Giska menghampiri sang Ibu dengan air matanya yang sudah terjatuh.
"Mah." Giska mendekap Ibunya tersedu, tangisan histeris itu dia curahkan semua dalam dekapan Ibunya.
...***...
Keadaan sudah semakin membaik, dan Annisa kelihatannya sudah mulai tenang, Aldi memutuskan untuk segera merayakan ulang tahun Annisa, saat dilihat sang Anak sedang sendirian termenung, duduk di teras, Aldi meminta bantuan Amar untuk bisa memberikan kejutan juga untuk Annisa, ya walaupun Annisa sendiri sebenarnya sudah tahu kalau Ayahnya membelikan sebuah kue, tetapi tidak tahu jika Ayahnya membelikan boneka baru juga.
Begitu senang dan terkejutnya Annisa, ketika sang Ayah dan Kakaknya datang membawa kue ulang tahun disertai lilin juga boneka baru, tetapi kali ini boneka beruang, bukan kitty seperti dulu.
"Wah, terima kasih sekali, Ayah, Kak Amar. Annisa senang banget." Annisa bersorak riang, melompat di tempat dengan senyuman yang tidak kunjung padam.
Seperti layaknya seseorang yang berulang tahun, akan menyempatkan untuk mengucapkan harapannya di dalam hati sebelum lilin ditiup. Annisa berharap mulai detik itu, bisa hidup tenang dengan kedamaian, tanpa ada gangguan lagi dari sosok yang dulu. Dia juga berharap, Annisa dan keluarganya bisa semakin dekat dan selalu bersama.
Baru saja lilin Annisa tiup, meninggalkan ruangan yang begitu gelap, tiba-tiba angin berhembus kencang, pintu rumahnya seperti dimainkan oleh seseorang, terlihat terbuka, lalu ditutup kembali dengan gerakan cepat bersamaan dengan angin yang kian kencang.
"Aldi, kamu harus merasakan apa yang putriku rasakan 5 tahun yang lalu!"
Suara itu terdengar nyaring di setiap sudut ruangan, rasa-rasanya Annisa, sang Ayah dan juga Kakaknya seperti dikelilingi dan diawasi oleh makhluk tersebut.
"Kak, Annisa takut banget." Annisa berjalan cepat mendekati Amar.
Amar yang paham akan kondisi Annisa segera mendekapnya, mencoba menenangkan Annisa dengan berbagai cara.
"Siapa kamu ke luar!" ucap Aldi dengan tegas, netranya tidak berhenti untuk menyorot tajam ke sekitar ruangan.
seketika suara yang tadi terdengar melingkari mereka, kini bertambah ngeri akan kehadirannya secara mendadak, tubuhnya yang tinggi dan besar, terus menghantui ketiga orang di rumah itu, matanya ditampakkan dengan tegas, siapa saja yang melihatnya lama-lama akan merasa menghilang atau tidak sadarkan diri. Namun, berbeda dengan Aldi, tekadnya benar-benar kuat untuk melindungi Anak-anaknya, dia terus menatap balik sosok itu dan menunjuk-nunjuk dengan tegas.
"Kamu jangan lagi-lagi ganggu keluarga saya! Pergilah dengan tenang!"
Bukannya pergi, mahkluk itu tertawa dengan keras, gigi taringnya ditampakkan dengan seram, menyeringai lebar senyumnya, membuat Annisa tidak berani menampakkan wajah kembali, hanya mengumpat di balik tubuh Amar.
Dalam hitungan detik saja, makhluk itu tiba-tiba terbang ke arah Aldi, membuat tubuhnya terlempar cukup keras, hingga barang-barang yang ada di sekitar pecah berantakan.
Amar dan Annisa yang mendengar suara tersebut semakin ketakutan, apalagi Amar yang kini satu-satunya lelaki, harus melindungi Adiknya. Meskipun detak jantung Amar masih berdegup kencang, juga tubuh yang terlihat gemetaran, akhirnya dia bisa berpikir dengan jernih, Amar segera menyalakan sakelar lampu, lalu berlari membawa Annisa menghampiri sang Ayah yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, bersamaan dengan makhluk tadi yang sudah hilang, entah lari ke mana.
"Ayah, bangun, Ayah." Annisa menggoyangkan tubuh Ayahnya tanpa henti.
Sementara sang Kakak, hanya menatap tubuh yang tidak semestinya kaku itu dengan cemas.
"Annisa, jangan dekat-dekat," tegur Amar seraya menarik lengan baju Annisa untuk menjauh.
"Apaan sih, Kak. Ini kan cuma Ayah." Annisa menyeka tangan sang Kakak dengan pelan.
Namun, benar saja, saat Annisa mulai mendekap kepala Ayahnya, tiba-tiba sang Ayah mengeram, raut wajah yang tadi sudah pucat kini semakin tampak pucat, kaku sekali badannya. Annisa yang menyadari, buru-buru menjauhkan diri, dan mulai bangkit mengikuti nasihat Kakaknya tadi. Namun, sudah terlambat, dengan cepat makhluk yang sudah memasuki tubuh Ayahnya mencengkeram tangan Annisa erat, Amar yang sudah berusaha untuk membantu Annisa, tetapi selalu gagal, tubuhnya mendadak susah digerakkan, sangat susah sekali, seperti ada yang menahannya.
"Kak, tolong! Aku takut, lepaskan aku!" rengek Annisa.
Annisa masih terus berusaha untuk melepaskan cengkeraman itu, tetapi energi makhluk semakin menjadi. Kini dia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celana sang Ayah yang sedang dirasuki.
"Kamu harus mati, Annisa! Kamu harus ikut merasakan penderitaanku!" geram makhluk itu seraya menyeringai kejam.
Annisa semakin menjadi, ketakutannya sudah melampaui batas, kepalanya merasakan berat yang sangat pusing, bahkan pandangannya kini semakin kabur, karena air mata yang tak berhenti jatuh. Dia hanya bisa pasrah sekarang, tangannya yang dicengkeram sudah merasa lemas, seakan menerima dan rela jika harus mati malam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments