Amar menghembuskan napas berat, satu tangannya masih memegangi kepala yang terasa sangat pusing. Yang biasanya Amar selalu lesehan di ruang depan, kini langsung menuju kamarnya sendiri, dia membaringkan tubuh di sana, sejenak menenangkan diri, walaupun tidak dapat dibohongi rasanya sangat sulit untuk pikirannya tidak bertengkar.
'Ayah, mengapa Ayah jadi seperti itu? Amar sendiri di rumah ini,' batin Amar.
Netra Amar berkeliaran memandangi ujung ke ujung tiap sudut kamarnya, tidak menemukan seseorang atau apapun, sangat sepi. Di sela-sela kesepiannya Amar bisa memanfaatkan untuk menangis bebas, karena tidak ada seseorang yang mendengar atau mengetahuinya, jika mungkin tetangga mendengar pun mereka tidak akan sepeduli yang dikira, pasti akan mengurusi aktivitasnya masing-masing.
Pikiran Amar benar-benar buntu, hanya keinginan untuk menyakiti diri dan bunuh diri saja, selain kesedihan karena kehilangan sang Adik dan sang Ayah baru-baru ini. Rasanya dia ingin menyusul mereka, ingin bertemu, lalu bercakap dengan mereka lebih lama, pastinya seorang laki-laki sekali pun akan sedih, ketika dirinya kehilangan orang tersayang apalagi keluarga, benar-benar mimpi buruk bagi Amar.
Jantungnya yang sedari tadi terus memompa dengan cepat serta air mata yang tidak pernah absen untuk terjatuh, satu detik semuanya berhenti, Amar menyeka air matanya sendiri dengan kasar, lalu dengan netra tajam satu fokus saja ke depan, Amar berjalan cepat menuju dapur.
Mata tajamnya terus mencari-cari sesuatu yang dimaksud, akhirnya tidak sia-sia mengamati cukup lama, Amar menemukan sebuah pisau di lantai, sudut kiri ruangan dapur, lagi-lagi pisaunya penuh dengan darah, seperti memang sudah pertanda Amar benar-benar ingin mengakhiri hidup saja.
"Aku ingin menyusul kamu, Annisa, Ayah masih hidup pun sudah tidak bisa aku andalkan, dia sudah terkena gangguan jiwa, karena kepergianmu, dan sekarang entah dunia membawa Ayah ke mana, padahal aku selalu berusaha membawanya pulang ke rumah."
Kedua matanya perih, sangat perih hingga terlihat kemerahan, dadanya yang tadi sudah kembali normal tidak ada sakit, kini mendadak sesak, napasnya seperti tertarik, dimainkan oleh pikirannya sendiri. Air mata Amar berjatuhan dengan cepat membasahi lantai pijakannya, tidak ingin terlarut bersedih, Amar menyeka air mata kembali dengan kasar, dia kini mulai mendekati pisau yang sedari tadi hanya dipegang saja ke arah perutnya, dia ingin juga merasakan kesakitan yang Annisa rasakan akan ulah makhluk dalam boneka kitty tersebut.
Di saat yang bersamaan, saat Amar kian mendekati pisaunya ke arah perut, angin yang terasa berbeda menghembus kencang menabrak lehernya, dan beberapa detik setelah itu, pisau yang Amar pegang dengan kuat mulai terjatuh sendiri, seperti ada seseorang yang menerkanya, sangat kuat tenaganya, bisa Amar rasakan.
Tidak hanya netra saja yang berkeliaran, kini seluruh tubuhnya ikut berbalik mencari-cari seseorang atau sesuatu yang tiba-tiba datang tadi. Bukan kesedihan lagi, jantung Amar berdetak lebih cepat, karena rasa takut yang semakin besar, ketika dia tidak berhasil juga menemukan sosok yang dimaksud.
Diikuti dengan suara barang terjatuh yang entah asalnya dari mana, sosok Annisa muncul di hadapan Amar, ya sangat tepat depan matanya. Tentu Amar meresponsnya terkejut, tubuhnya seakan ingin terjatuh karena respons kakinya yang bergerak mundur dengan cepat.
"An--ni--sa?"
Tidak hanya suara yang terdengar gemetar, bahkan sekujur tubuhnya pun ikut gemetar, melihat sosok Annisa yang berdiri di depannya, dia menampakkan senyum manis, wajahnya bersih, hanya saja ketika Amar beralih melihat bagian tubuh Annisa, terlihat sangat mengerikan, bekas tusukan pisau di tengah perut dapat Amar tangkap dengan jelas, tubuh Annisa terluka dipenuhi darah.
"Kemari, Kak. Kita bermain sebentar saja, Kakak enggak perlu sedih lagi, ya," ucap sosok itu dengan wajah yang sangat datar.
Tatapan yang tadi seperti tersenyum dan menunjukkan keceriaan, kini berganti menjadi kekosongan, Annisa menatap sang Kakak datar, tanpa ekspresi.
Amar yang sudah bisa menetralkan detak jantungnya, berlari sempoyongan mendekati Annisa kembali, niatnya untuk mendekap tergantikan hanya dengan memegang pundak Annisa.
"Annisa ... Jangan pergi terlalu cepat lagi. Ayo kita cerita di kamar kamu."
Dengan terus menyeka air mata, Amar berjalan lebih dahulu di depan Annisa, lalu mendudukkan dirinya pada tikar dikuti dengan Annisa yang masih menampakkan wajah datar.
"Annisa, badan kamu sangat dingin." Amar memegangi jari-jari mungil Annisa cukup erat.
Raut Annisa yang sedari tadi tanpa ekspresi, kini mulai berekspresi, wajahnya kian redup, sedih.
"Iya, aku sakit di sini, Kak, belum benar-benar pulih."
Amar terdiam sejenak, tidak ingin perasaannya terlalu dalam dan ke luar dari batas, karena masih sadar kalau Annisa memang benar-benar sudah meninggal.
"Saat kamu dibunuh, bagaimana perasaanmu, Annisa? Apa yang kamu rasakan, sakit?"
"Tentu, aku ingin kembali, Kak. Aku belum benar-benar tuntas untuk melakukan misi hidupku."
Amar masih memegangi jemari Annisa yang terasa dingin seraya meluncurkan tatapan dalam dan tulus.
"Kamu ikhlas akan kepergianmu ini atau belum rela, Annisa?"
"Awalnya aku belum rela kak dan merasa sangat sakit, tetapi semakin ke sini, memang ini yang terbaik untuk aku, yang terpenting Kak David sudah tidak menganggu Kakak dan Ayah kembali, bukan?" Netra Annisa terus berkeliaran ke sekitar ruangan.
Amar seketika terbelalak mendengar nama "David."
"David siapa, Annisa?"
"Iya, Kak, David, itu Ayah kak Camelia, sosok dalam boneka kitty."
"Kakak mau kamu di sini terus, Annisa. Jangan pergi, kakak enggak bisa kalau sendirian di rumah. Ayah saja sampai sakit."
Annisa yang tadi tanpa pergerakan, kini mulai menggerakkan tangannya yang tertumpu oleh tangan Amar, berbalik tangan Annisa yang sekarang menumpu punggung tangan Amar.
"Kak, jangan seperti itu, ya. Aku semakin sakit kalau kakak sama Ayah sakit di sini, biarkan aku pergi dengan tenang. Jika boleh jujur, aku juga inginnya terus di sini, aku ingin berlama-lama sama Kakak juga Ayah, tetapi aku enggak bisa, Kak."
Amar terdiam sejenak, menundukkan pandangannya, merasa saat itu dirinya benar-benar bodoh, karena telah menyuruh Annisa untuk menetap, jelas tidak bisa, dia sudah beda alam. Dirasa sudah lelah dan tidak ingin haluannya terlalu dalam, Amar membaringkan tubuhnya di sebelah Annisa, ya masih terlihat Adik kecil itu, senyuman manisnya perlahan pudar, dan saat Amar benar-benar ingin mendekap, semuanya tiba-tiba menghilang, Amar tidak bisa menggapainya, sosok Annisa tadi hanya sebuah angan-angan. Sekuat itukah rasa rindunya hingga membuat Amar menghayal, atau memang tadi benar Annisa, hanya saja arwahnya bukan jiwa yang bisa diraih kembali.
Dengan air mata yang terus terjatuh, serta dadanya yang semakin sesak menahan perih, Amar mencoba untuk memejamkan mata, membiarkan malam itu wajahnya basah akan kesedihan yang tercurah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments