Giska melangkahkan kaki ke rumah dengan sangat lesu, belum sampai kakinya menginjakkan ke dalam, terlihat dari jendela kaca hitam bayang-bayang orang tuanya seperti berbicara serius. Apalagi semakin Giska diam dan perhatikan perbincangan itu, nada suara kian tinggi, dan terdengar juga tangisan di akhir. Giska yang merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu orang tuanya, tentu merasa sangat bersalah, tetapi Giska hanya mampu membantu meringankan beban orang tuanya untuk tidak meminta uang berlebihan kembali, dia jadi teringat saat dulu dengan mudahnya dia meminta uang kepada orang tua untuk berfoya-foya dengan Nayya dan teman-temannya yang lain, baru terasa sekarang perjuangan mereka dalam benak Giska, sulit mencari uang.
Dengan kedua mata yang tidak bisa membohongi, karena menyembunyikan bekas air mata terjatuh, Giska berjalan memasuki rumah sedikit menunduk seraya mengucapkan salam. Dengan langkah sangat pelan, Giska menghampiri kedua orang tuanya, lalu mendudukkan diri di sana, membiarkan tas yang masih menggendong di pundak.
"Giska, kamu tadi dengar percakapan kita?"
Sang Ibu yang melihat Anaknya masih terdiam dan terus menunduk segera meluncurkan dekapan hangat, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya terjatuh juga. Sementara itu, Giska yang tidak bisa membohongi perasaan sedihnya kembali ikut membalas dekapan sang Ibu, dia mendekap lebih erat dan mencurahkan tangis di sana, rasanya kata-kata apa pun tidak ada yang bisa mewakili perasaannya saat itu, hanya tangisan yang mampu menjawab.
"Maafkan, Mamah, ya, sayang." Sang Ibu mengusap hangat kepala Anaknya.
Dengan getir, serta wajah yang sudah kemerahan, Giska melepaskan dekapan itu, dia menatap wajah sang Ibu dan Ayahnya bergantian.
"Enggak, Mah. Kalian enggak salah kok, justru Giska yang harusnya minta maaf. Maaf belum bisa bahagiakan Mamah sama Papah, maaf kalau dulu Giska kurang peduli sama kalian," ucap Giska tersedu-sedu.
Ayahnya yang sedari tadi hanya diam dan sering menundukkan kepala, kini mulai bergerak mendekati Giska, dia mengusap hangat kepala sang putrinya.
"Ayah akan berusaha cari pekerjaan lagi, kamu doain Ayah terus, ya, sayang."
Bibir Giska semakin gemetar, untuk mengucapkan beberapa kata saja rasanya sangat sulit.
"Pas---ti, A--yah."
Tidak menunggu sang Anak yang mendekap, Ayahnya lebih dulu mendekap Giska seperti yang Ibunya lakukan. Kini Giska merasa lebih banyak mendapatkan kasih sayang mereka, meskipun dia sekarang tidak bisa lagi untuk pergi jalan-jalan dan membeli barang yang dia suka, yang terpenting dia masih bisa merasakan kehangatan dalam keluarganya, dia masih bisa merasakan kasih yang tulus.
Dirasa semuanya sudah benar-benar tenang, Giska yang tersadar hari kian petang dan harus segera hadir ke acara ulang tahun Nayya, berniat untuk pamit membersihkan diri, setelah itu baru mencari kado dadakan. Kedua orang tuanya membalas dengan baik, lalu memberikan uang yang tidak seberapa kepada Giska, padahal Giska sudah menolaknya, tetapi orang tua tetap memaksa untuk menerima, hingga akhirnya Giska menerima sejumlah uang dari orang tuanya untuk dia manfaatkan sebaik mungkin.
Tidak membutuhkan waktu lama, karena menyadari sisa waktunya tidak banyak, Giska segera pamit untuk ke luar rumah kembali setelah membersihkan diri. Dia ke luar rumah hanya dengan pakaian sederhana serba coklat tua juga sandal hitam favoritnya.
Sepanjang jalan, hanya tatapan kosong yang Giska bawa, pandangannya seakan fokus ke depan, pikiran Giska sangat rumit, memikirkan apa yang harus dibelinya, dia harus bisa memanfaatkan uang pemberian orang tua dengan sebaik mungkin, jika bisa pun jangan habiskan semua uangnya. Sudah cukup lama Giska berjalan tanpa tujuan, kini tatapannya sudah berkeliaran, mulai mencari toko-toko atau pun barang-barang menarik di sepanjang jalan, karena pikirannya sudah menyerah untuk menemukan barang yang cocok juga tepat. Terlalu fokusnya Giska berjalan, dia sampai-sampai tidak sadar kini tengah melewati gang cukup lebar yang tampaknya, semakin Giska masuk ke dalam semakin sepi juga, apalagi dia memang baru pindah di tempat ini. Jadi, terlihat asing menurutnya.
Merasa bulu kuduk Giska mulai berdiri, karena hawa yang tidak enak, Giska berniat untuk berbalik arah, kembali ke jalan raya awal. Namun, saat tubuhnya ingin dibalikkan, dia menangkap sebuah boneka kitty yang sedang diangkut oleh mobil pengangkut sampah, kelihatannya masih bagus, hanya sedikit kotor saja. Dengan sedikit keraguan, Giska berjalan cepat menghampiri mobil pengangkut sampah itu, semakin fokus pandangannya pada boneka kitty tersebut.
"Psk, saya boleh ambil boneka saya kembali, yang itu!"
Giska terpaksa berbohong agar orang-orang tersebut mau memberikan boneka kitty pada Giska, dan akhirnya setelah boneka kitty sampai di tangannya, dia bersorak gembira. Namun, baru beberapa detik saja Giska menatap wajah boneka yang kini dipegangnya, mendadak orang-orang tadi hilang, benar-benar tanpa suara atau apa pun itu, sangat cepat sekali semuanya hilang.
"Loh, mereka ke mana?" Giska tidak henti melihat sekeliling dengan napas yang tidak karuan.
Tubuhnya kini ikut merespons dengan getaran, keringat dingin mulai membasahi kening Giska, lalu beberapa detik tatapannya fokus pada boneka kitty yang dia pegang, terlihat biasa saja rupanya. Namun, setelah lebih dekat dan dalam Giska menatap, boneka itu seperti tersenyum kepadanya. Entah mengapa, niat Giska yang awal ingin mengembalikan boneka itu ke tempat semua, kini malah semakin yakin untuk mempertahankannya, lalu dibawa pulang.
Giska sangat merinding, dia terpaksa harus berjalan cepat ke luar dari gang dengan kondisi sekujur tubuh yang gemetaran, dia benar-benar takut jika gang yang dia lewati tadi memang angker, padahal tidak tahu saja Giska, masalah utamanya adalah sosok perasuk boneka kitty yang kini ingin dibawa pulang, bukan pada gang atau jalannya. Entah kenapa juga, saat Giska mencoba membalikkan langkah ke jalan awal, terasa sangat cepat, padahal tadi dia berjalan lumayan dalam dan lama.
Tidak ingin orang tua Giska curiga dengan apa yang dibawanya, Giska memasukkan boneka kitty tadi ke dalam plastik hitam yang dia temukan sembarang di jalan. Dia berniat untuk buru-buru kembali ke rumah dan siap-siap menghadiri acara ulang tahun Nayya. Merasa kondisi ekonomi keluarga yang sedang menurun, Giska terpaksa untuk memberikan boneka bekas di tangannya kepada Nayya, bukan sebuah barang baru yang mahal. Lagipula lebih baik uang yang tadi diberikan oleh orang tua Giska ditabung saja atau digunakan untuk membeli keperluan yang lebih mendesak daripada membeli sebuah kado untuk Nayya.
"Maafkan gue, Nay. Gue usahakan untuk memperbaiki boneka kitty ini menjadi lebih cantik dan tampak baru," seru Giska pelan.
Langkahnya tadi yang rusuh juga perasaan berantakan, kini saat pulang benar-benar berubah menjadi ketenangan, sangat tenang dan merasa semuanya selesai untuk misi hadiah Nayya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments