Kedua Kakak beradik itu tampak sangat dekat sekali, mereka merangkul satu sama lain, mengurung niatnya untuk mencari sang Ayah. Setelah tadi berhenti di sebuah warung untuk mengobati luka Amar, mereka berniat untuk langsung pulang saja ke rumah, karena cuacanya pun yang sudah tidak mendukung dan semakin petang. Semakin dekat langkah mereka menuju rumah, terlihat samar-samar sosok Ayah yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya, tetapi raut Ayah tampak emosi, dan kini dia mulai berjalan mendekati Annisa juga Amar.
"Kalian dari mana saja? Itu kening Amar kenapa, Nisa?" Aldi mencengkram tangan Annisa cukup erat.
"Sakit, Ayah. Lepaskan." Annisa menyeka jari-jari sang Ayah dengan kasar.
Emosi yang dia tahan dari semalam, membuatnya tidak bisa lagi untuk disembunyikan, Annisa tiba-tiba berlari masuk ke dalam rumah seraya matanya yang tampak berkaca-kaca, padahal baru saja matanya dihajar habis-habisan akan kejadian tak terduga sore itu. Sementara kini, Amar yang lengannya ditahan oleh sang Ayah, ikut pergi mengejar Annisa yang tampaknya akan menangis kembali.
Benar saja, saat sampai di kamar, Annisa sedang duduk membelakanginya, tangisan histeris itu kini tidak bisa berbohong untuk terdengar, biasanya Annisa selalu menahan dalam hati, tetapi yang sekarang berbeda, dia benar-benar menyurahkannya dengan puas. Namun, tinggal beberapa langkah lagi Amar mendekati Annisa, Annisa tiba-tiba berbalik badan, menyeka air matanya secara kasar, menerobos sang Kakak tanpa peduli, langkahnya panjang ke arah ke luar kamar.
"Ayah! Sekarang aku mau Ayah jujur, Ayah dapat boneka kitty yang Ayah berikan 5 tahun lalu itu, dari mana?" teriak Annisa, suaranya menggelegar tertangkap Amar yang masih di kamar.
Dengan badan mungilnya, Annisa terus mendongakkan kepala, menatap sang Ayah penuh emosi. Sementara Amar yang telah kembali lagi mengikuti Annisa, hanya bisa terdiam, sembari memegang keningnya yang tiba-tiba sakit.
Aldi merespons cukup baik, dia menurunkan tubuhnya setara dengan Annisa. "Kamu kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
Merasa ada yang janggal, netra Aldi berkeliaran mencari-cari sesuatu. "Boneka kitty-nya mana? Biasanya kamu bawa-bawa terus."
Annisa terdiam sejenak, netra yang penuh amarah itu masih menatap tajam ke arah sang Ayah.
"Sudah Ayah jawab dulu pertanyaan Annisa. Ayah dapat dari mana boneka itu?" seru Annisa dengan nada cukup tinggi.
"A---yah beli, sayang," jawab Aldi dengan raut wajah yang lebih ragu.
Annisa semakin kesal akan jawaban Ayahnya, kini kedua tangannya sudah hinggap di pinggang, seperti seorang Anak kecil yang benar-benar tengah marah. Namun, hanya beberapa detik saja, lalu terlihat dalam tarikan napasnya dan diikuti hembusan napas yang cukup berat.
"Jangan bohong, Ayah. Annisa cuma mau Ayah jujur," ucap Annisa dengan nada yang perlahan lembut tiap katanya.
Mendengar kalimat Annisa yang perlahan lembut, tidak dengan emosi kembali, membuat Aldi tidak tega untuk terus berbohong kepada Annisa. Aldi menundukkan wajahnya, mencoba menahan tangis agar tidak pecah.
"Ayah ... enggak membeli boneka itu sebenarnya. Kamu ingat kejadian 5 tahun lalu saat kamu merengek sebuah boneka kitty pada seorang pemuda?"
Deg! Jantung Annisa mulai tidak karuan, giginya mencoba menggigit bibir yang tidak bersalah itu, dia sudah menebak maksud pembicaraan Ayahnya, ternyata memang benar, sosok yang selalu menghantui Annisa adalah pemilik boneka kitty sebenarnya.
"Pemuda itu, Ayah dapatkan boneka kitty darinya. Iya, Ayah pikir kamu sudah tahu, Ayah mendapatkan dengan cara yang kasar dan salah."
Annisa sudah tidak kuat kembali, air mata yang mencoba sembunyi akhirnya terlihat juga, tetapi dengan segera Annisa menyekanya, dan kembali menatap sang Ayah lebih dalam.
"Ayah, kenapa baru sekarang bilangnya? Ayah tahu nggak, Annisa sakit, pusing, takut. Sosok dalam boneka itu terus menganggu Annisa, Ayah."
Amar yang melihat Annisa semakin tertekan, segera menghampirinya, lalu mengusap kepala Annisa yang perlahan menunduk itu. "Sudah, jika tidak kuat, sudahi pembicaraannya. Kamu perlu waktu untuk menenangkan diri."
Tanpa diminta, Annisa refleks mendekap tubuh sang Kakak, entah sudah beberapa kali Annisa terus menangis dalam dekapan Kakaknya, akhir-akhir ini rasanya memang sesak sekali. Anak kecil seusia Annisa, sudah ditimpa teror dan ketakutan yang besar saja.
Ayah Annisa yang merasa bersalah, ikut mendekap tubuh Anak-anaknya itu. Namun, saat ingin hinggapkan kedua tangan dalam pundak Amar, dia malah menyekanya, seakan tidak ingin sang Ayah mendekap.
Annisa yang merasakan penolakan dari Kakaknya, langsung memberikan kode untuk membiarkan sang Ayah mendekap mereka, Amar yang ingin Annisa kembali tenang hanya menuruti dan membiarkan Ayahnya saat itu mendekap mereka, ya dekapan yang jarang mereka dapatkan.
"Maafkan Ayah, sayang." Aldi mengusap lembut kedua kepala Anaknya itu, kali ini benar-benar tulus dan dalam.
Tangisan yang tadi ditahan pun, tidak bisa berpura-pura untuk terus sembunyi, sang Ayah akhirnya luluh juga, dan mungkin hari-hari besok sampai seterusnya Ayah mereka akan berubah menjadi lebih baik.
Merasa sudah semakin tenang, Annisa melepas dekapannya perlahan, lalu menatap 2 manusia kesayangan di depannya bergantian.
"Enggak papa, Ayah, aku sudah maafkan. Yang terpenting sekarang enggak ada lagi yang gangguin aku, gangguin kita. Kita sudah terbebas, yeay!" Annisa menggenggam erat salah satu tangan milik sang Ayah dan Kakak, lalu mengangkatnya ke langit-langit.
Amar berdeham, lalu menampakkan senyum seolah menggoda Annisa. "Duh, besok hari apa, ya. Sepertinya sebentar lagi seseorang akan menginjakkan umur 10 tahun, haha."
Annisa yang langsung tersadar mulai tersenyum malu. "Apa sih, Kak? Kenapa menggodaku seperti itu."
"Oh, ada yang merasa, ya." Amar kembali menampakkan senyum jailnya.
Kini suasana diantara mereka sudah tidak canggung atau tegang kembali, semuanya sudah mencair, mereka saling melontarkan canda dan tawa.
"Nisa, nanti Ayah belikan boneka yang baru, ya."
Annisa menghembuskan napasnya, menatap sendu sang Ayah yang tampaknya sangat bersemangat ingin membelikan Annisa boneka.
"Enggak, Ayah. Engga papa kok Annisa nggak perlu boneka, yang terpenting kalian selalu ada untuk Annisa." Annisa menampakkan senyum manisnya, meski wajahnya terlihat harapan sedikit untuk memiliki boneka kembali.
"Nanti pagi mau ke mana, nih?" seru Aldi kepada Anak-anaknya.
Amar termenung sejenak, mengingat percakapan dengan temannya saat di sekolah. "Oh iya, nanti pagi ada bazar buku di taman kota, tapi Kakak enggak bisa ikut, harus sekolah, hehe."
Annisa yang tadi riang, mendadak sedikit sedih mendengarkan kalimat terakhir sang Kakak.
"Kita di rumah saja, Kak, enggak papa. Aku cuma mau Ayah jangan pergi-pergi terlalu lama, ya. Aku takut kalau harus sendirian lagi di rumah, Yah." Jari-jari kecil Annisa menggenggam hangat tangan sang Ayah.
Dengan seutas senyum yang terus melekat, Aldi mengusap kembali kepala putrinya. "Iya, Annisa. Ayah enggak akan pergi lama-lama lagi, sayang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments