5 tahun ke depan
Siang yang cukup terik, Annisa dan sang Kakak, Ariq Muammar seperti biasanya hanya bisa memanfaatkan buku-buku bekas yang selalu Ayahnya bawa tiap pulang untuk belajar, mereka tidak banyak tanya dari mana Ayah pergi dan buku-buku itu, yang mereka tahu perawakan Ayahnya dari dulu tidak pernah berubah, tampak seperti preman bertubuh kekar, dipenuhi tato sepanjang lengan kanan dan kalung besi yang tidak pernah lepas pandangan dari leher sang Ayah, Aldi.
Tidak ketinggalan, boneka kitty yang sedari tadi terpaku dalam pangkuan Annisa, sebetulnya banyak kejadian dan tindakan aneh semenjak 5 tahun lalu Ayahnya memberikan boneka kitty itu kepada Annisa, bahkan mereka sempat memergoki beberapa kali boneka itu mencoba membunuh Annisa. Namun, Annisa tetap saja tidak ingin jauh-jauh apalagi membuang boneka kesayangannya itu, sepertinya arwah dalam boneka kitty telah menghipnotis Annisa.
Empat jari mungil di tangan kanan gadis yang 2 hari lagi usianya genap 10 tahun berusaha memegang pena, menorehkan tulisan di sebuah lembar yang cukup kusut. Di saat yang bersamaan, angin berhembus kencang, membuat pintu rumah mereka yang hanya sebatas sebuah papan itu ambruk, merasa bertahun-tahun selalu dipermainkan, netra Amar langsung menatap tajam ke arah boneka kitty yang matanya kini berubah menjadi merah pekat, pergerakan perlahan pun mulai terlihat dari boneka tersebut. Lalu tiba-tiba saja setetes darah segar menimpa kertas yang sedang Annisa toreh hingga mengenai alas rumah mereka yang masih dialasi tanah, refleks Annisa dan Amar mendongakkan pandangan tanpa ragu, tetapi nihil, mereka tidak menemukan apa-apa di sana.
Annisa yang sudah tahu akan kode ini, mendadak tubuhnya merespon dengan getaran, bulu kuduknya merinding, jantungnya mulai berdegup kencang, dan matanya yang tidak ingin menangis malah mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Sementara itu, Amar masih berusaha mencari aura negatif yang dugaannya sebentar lagi akan muncul, mata belo milik Amar dipenuhi emosi yang siap tercurahkan pada jiwa dalam boneka itu.
"Nisa, jauhkan bonekanya!" Amar meraih lengan Annisa yang sedang asyik menulis, walau tangannya sudah gemetaran.
Annisa yang tidak ingin celaka kembali, dengan gerakan lambat, dia menaruh boneka dalam pangkuannya menjadi sedikit berjarak.
"Argh! Kak Amar!" rintih Annisa.
Darah mulai bercucuran dari telapak tangan kanan Annisa, ketika dia mencoba melepaskan pena yang sedari tadi digenggam, tangannya yang mungil itu terus bergetar, sementara tangan kirinya mencoba menekan pergelangan tangan, pikir Annisa sakitnya akan berkurang.
Amar yang bingung harus mengambil tindakan apa, karena masih tercengang, buru-buru meraih selembar kertas bekas coretan Annisa, lalu membasuh darah itu, berharap kertas yang seadanya ini bisa menyerap darah yang tidak berhenti mengalir di telapak tangan sang Adik. Tabrakan kasar dari kertas itu membuat Annisa semakin menjerit, sakit sekali rasanya, bahkan kepalanya yang tidak bermasalah seakan ingin pecah dari tempatnya. Rasa sakit yang lama menjalar itu membuat Annisa terus menangis, tangannya semakin kaku, ingin diobati dan ditangani dengan baik pun tidak bisa, karena keluarga Annisa hanyalah orang biasa, bahkan sang Ibu telah mendahului pergi, memaksa Anak-anaknya untuk merasakan pahit dan kepedihan sendiri.
...***...
"Argh, sakit sekali," keluh Camelia seraya memandangi teman-temannya yang perlahan pergi.
Dia benar-benar terkejut, ketika melihat telapak tangannya terluka parah, sebuah cercaan keramik tajam dengan tega menggores luka di tangan Annisa, terlihat dalam dan mengerikan.
"Duh, gue sampai lupa, ini buku-buku kita lo juga kerjain, ya!" Giska tanpa bersalah melempar buku itu di hadapan Camelia tanpa peduli akan luka yang meminta dikasihani. "Ups, lo terluka, ya? Duh, padahal kita dorong pelan saja tadi. Sorry, ya," lanjutnya dengan senyuman licik seraya berjalan pergi menyusul teman-teman yang lain.
Hanya hembusan napas berat yang bisa Camelia balas, dengan menahan pedih yang sangat dalam, juga darah yang entah berhenti bercucuran sampai kapan, Camelia mengambil buku-buku itu dan menumpuknya dengan sangat hati-hati. Tanpa sengaja air mata terjatuh cepat dari netra coklat Camelia, lalu tanpa sadar tangannya yang masih terluka, ikut menyeka air mata itu, membuat wajahnya yang kuning langsat kini ternodai darah, untung saja di jalanan itu sepi, tidak ada orang yang berlalu-lalang. Jadi, Camelia bisa menangis dengan puas. Dirasa sudah tenang, dia kembali bangkit dan berjalan sempoyongan menuju rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Camelia sudah tiba di rumah, sangat sepi, sudah tidak ada penghuninya lagi semenjak 5 tahun lalu, Ayahnya ikut tinggal bersama sang Ibu di dunia lain yang tidak bisa Camelia gapai.
Dengan perasaan sakit, Camelia melangkah ke dalam, buku-buku yang dia bawa tadi, diletakkannya sembarang pada meja, sementara kini Camelia berjalan ke kamar mandi, mencoba untuk membersihkan luka yang sebagian darahnya sudah terlihat mengering.
Guyuran hebat dari air yang mengalir terus-menerus membuat luka Camelia semakin sakit, tangannya pun ikut gemetaran menahan pedihnya. Namun, tetap saja Camelia lakukan, setidaknya darah di telapak tangannya itu bisa segera berhenti untuk ke luar. Setelah sudah selesai, Camelia beranjak ke kamar, tanpa ikut membawa buku-buku yang dia bawa tadi untuk masuk, dia terduduk lemas di atas kasur, wajahnya yang berhadapan langsung dengan cermin terlihat memerah, terlihat lelah, dan terlihat sedih. Air mata yang tidak diminta hadir pun, akhirnya menampakkan diri, matanya benar-benar sangat perih bersamaan air mata Camelia yang terjatuh, membasahi baju coklat tuanya. Perlahan pandangan itu beralih pada bingkai foto, sesosok Anak sedang tersenyum riang bersama 2 pahlawan hebat yang saat ini sudah tidak bisa Camelia temukan, meskipun tangannya masih sakit, dia mencoba meraih bingkai foto itu, lalu membawa setara dengan wajahnya, seperti ingin mengajak berbicara.
"Ayah, mengapa Ayah pergi juga menyusul Mamah. Aku semakin sakit di sini, Yah." Camelia mengusap hangat foto sang Ayah dengan tersedu-sedu.
Hanya per-sekian detik saja tangannya bisa kuat memegang bingkai foto itu, kini kedua tangan Camelia berusaha menutup wajahnya masih dengan tangisan, tangisan yang semakin keras menahan di dalam.
"Ayah, aku masih sama dengan 5 tahun yang lalu, semua teman-temanku tidak baik, aku butuh Ayah. Mengapa Ayah tidak mengabariku jika ingin pergi, mengapa Ayah hilang tiba-tiba. Ayah belum sempat juga memberikan boneka kitty yang saat itu aku inginkan. Ayah di mana sebenarnya, aku ingin bertemu Ayah. Maafkan aku, Ayah yang belum bisa juga menemukan jasadmu, semoga engkau baik-baik saja di sana. Camelia selalu berharap untuk pulang, bisa bertemu Ayah dan Mamah," tutur Camelia dengan isak tangis yang semakin hebat, bahkan kepalanya kini ikut merasakan sakit juga seperti dadanya yang kian sesak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments