"Nisa, Kakak mau malam ini kamu buang boneka itu!" geram Amar seraya menunjuk boneka kitty yang terus Annisa dekap.
"Enggak, Kak! kenapa selalu nyuruh aku untuk buang boneka ini?"
Amar mengaburkan pandangannya malas ke arah samping sambil menghembuskan napas berat, lalu pandangannya tertuju kembali ke arah Annisa.
"Kamu masih belum sadar juga? Dia hampir buat kamu mati beberapa kali, Annisa."
"Ya tapi aku tetap nggak mau buang boneka ini. Ini dari Ayah, Kak."
"Keras kepala sekali ya kamu. Terserah kamu deh, sudah sana istirahat. Sudah larut malam." Amar berjalan membelakangi Annisa dengan wajah masam.
Sementara itu Annisa hanya menundukkan pandangan, lalu ikut berjalan membelakangi sang Kakak, untuk segera istirahat.
Kamar Annisa yang hanya beralaskan tikar cukup tipis itu selalu menjadi saksi akan kesedihan dan kesakitan yang Annisa rasakan, seperti rollercoaster yang naik turun tanpa perkiraan, kini Annisa hanya bisa bertahan, menunggu dan bersiap diri untuk kejadian-kejadian di luar pikiran yang akan dilakukan boneka itu lagi, tepatnya jiwa dalam bonekanya.
Tubuh yang sudah lelah juga rasa sakit di telapak tangan yang nampaknya terlalu sakit sehingga sekarang hanya kaku yang Annisa rasakan, membuatnya terpaksa tertidur dan memejamkan mata. Boneka kitty itu seperti biasa selalu Annisa letakkan di samping kirinya atau bahkan biasanya dia mendekap hingga pagi hari tiba.
Baru beberapa detik Annisa terpejam dan bisa merasakan ketenangan, tiba-tiba terdengar suara tangisan, perlahan suaranya sangat keras, tetapi makin Annisa resapi dengan mata yang masih terpejam, suaranya kian melemah, pikir Annisa itu adalah Kakaknya atau sang Ayah, buru-buru Annisa beranjak dari tempat istirahatnya tanpa sadar boneka kitty di samping yang tadi masih pada tempatnya sudah tertarik oleh tangan seseorang, tangan itu terlihat bengkak, hitam, merah, dan mengeluarkan darah, tampak jelas pada kulit-kulit punggung tangan yang terkelupas. Dia membawa bonekanya di balik tirai jendela putih yang sudah cukup kumuh.
"Kak? Kakak kenapa?" Annisa berjalan hati-hati seraya memperhatikan sekelilingnya.
Semakin lama berada di luar kamar, semakin membuat Annisa merinding karena angin malam juga suasana yang seperti memojokkannya untuk takut, sangat sepi, hanya tersisa tangisan itu saja yang kian dalam dan terasa sakit.
"Ayah, itu Ayah? Ayah kenapa?" ucap Annisa semakin pelan tiap katanya.
Annisa terus menggigit bibir dengan gigi-gigi runcingnya, bahkan kedua tangan kini sudah bersiap di depan wajah, jikalau nanti tiba-tiba sesosok makhluk muncul mengejutkan.
Entah kenapa, kini langkah Annisa malah tertuju pada depan rumah, pintu ambruk yang sudah diperbaiki oleh sang Kakak dengan sederhana, masih menyisakan celah untuk angin atau serangga masuk. Fokusnya beralih pada sebuah bayangan hitam, cukup tinggi di balik tirai jendela berwarna putih, ya rumah Annisa selalu dibalut tirai putih tiap jendelanya.
Dengan detak jantung yang semakin tidak karuan, juga keringat dingin yang sudah menguasai tubuh, membuat langkah Annisa semakin perlahan, pikirannya selalu menolak untuk lanjut melangkah, sementara hatinya berkata terus mendekat.
Selangkah demi langkah, hingga akhirnya membawa tubuh Annisa tepat di depan tirai itu, bayangan hitam semakin terlihat jelas, HAH?! bahkan ternyata dia sedang menghadap ke arah Annisa juga, sangat terlihat netranya yang besar dan hitam.
Tanpa berlama-lama kembali, Annisa segera menyibak tirai, dia menghembuskan salah satu napas paling leganya selama hidup, ketika melihat sang Kakak yang sedang berdiri dengan seutas senyum, tak bisa Annisa artikan maknanya.
"Annisa!" ucap seseorang dari belakang.
Deg! Jantung Annisa seperti ingin pindah dari tempatnya, tubuhnya kembali gemetar, bahkan terlalu takut dan terkejutnya, kini air mata pun ikut pada per-dramaan malam itu.
"Kak A---mar?" ucap Annisa terbata.
Buru-buru Annisa menoleh ke arah belakangnya kembali dan tidak menemukan seseorang atau sesosok apapun di sana. Dengan tangisan yang sudah pecah, Annisa berlari ingin mendekap sang Kakak. Namun, ini mimpi buruk kembali, wajah dan tubuh Kakaknya kini berubah menjadi sesosok hitam, tinggi, terlihat jelas luka dalam yang menggerogoti perutnya, dan darah terus bercucuran di mana-mana. Sementara itu, Annisa yang sudah kewalahan dengan perasaan yang naik turun hanya bisa menjatuhkan tubuh, mendekap kedua kaki, berusaha menutup segala ketakutannya dengan tangisan yang kian keras.
Sampai-sampai dia tidak menyadari suara pintu rumah yang terbuka, lalu diikuti seorang menyentuh pundaknya. Bukannya membuka mata, Annisa refleks teriak dan terus menyangga sentuhan itu.
"Jangan ganggu aku! Tolong pergi!" Annisa tersedu dengan histeris.
"Annisa, ini Kakak. Kak Amar ada di sini, ayo buka mata kamu." Amar masih berusaha untuk membawa Annisa dalam dekapannya.
Dengan sedikit keraguan, Annisa membuka mata, lalu cepat-cepat mundur dan menjauh, masih tertanam dalam benaknya akan sosok tadi, membuat Annisa sulit untuk mempercayainya kembali.
"Kamu pasti sosok itu lagi, kan? Cukup, jangan berpura-pura menjadi Kak Amar kembali!"
Amar yang semakin kebingungan akan kalimat-kalimat yang sedari tadi Annisa lontarkan, hanya bisa berusaha membuat Annisa untuk tenang, meraih kedua lengan yang terus memaksa berada di tempatnya itu oleh Annisa.
"Ini Kak Amar, Nisa. Coba buka mata kamu pelan-pelan, tenangkan diri kamu. Dan terakhir, rasakan sentuhan ini. Ini Kak Amar."
Sudah terlalu lama Annisa bergelut dengan pikirannya, hingga akhir dia memberanikan diri untuk membuka mata, memfokuskan pandangan yang kabur akan air mata pada seseorang di depan. Annisa merasakan ketenangan, jantungnya kini perlahan berdegup normal, melihat seutas senyum dari Amar yang seakan menyakinkan bahwa dia benar-benar Kakaknya.
Dengan netra yang kembali ceria, Annisa mendekap sang Kakak dengan cepat. "Kak Amar, aku takut banget."
Amar hanya bisa menerima dekapan itu dan membalasnya, dia membiarkan Annisa untuk mencurahkan segala tangis dan ketakutan yang mungkin sangat besar saat dia sempat ke luar rumah tadi. Padahal dalam benaknya terlintas banyak pertanyaan mengapa Annisa bisa setakut dan se-histeris ini, apa yang telah terjadi.
Dirasa cukup tenang, Annisa melepas dekapannya, masih menatap netra sang Kakak yang terus berbinar.
"Kalau kamu nggak mau cerita sekarang, nggak masalah kok. Sudah, ya, lupakan kejadian yang tadi, ayo lanjut tidur, ini masih malam. Mau Kak Amar temenin?"
Annisa mengangguk pasti dengan senyuman yang masih meninggalkan kesedihan, dia meraih jari-jari sang Kakak, lalu membawanya ikut ke kamar, minimal bisa menemani hingga Annisa tertidur.
Waktu menunjukkan pukul 01.00 pagi, masih sangat gelap di luar, bahkan Ayam pun enggan berkokok. Namun, Annisa masih bisa-bisanya seaktif ini, bukannya pergi tidur dengan segera, Annisa malah berjalan menuju tirai jendela kamarnya, netra Annisa terfokus pada sebuah boneka kitty yang tergeletak.
"Kak Amar, lihat! Boneka aku kok ada di sini, ya? Biasa sekali dia suka jalan-jalan kalau malam." Annisa menunjuk boneka yang dimaksud seraya menurunkan tubuhnya, berniat untuk mengambil boneka itu.
Dirasa sudah muak, Amar menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya. "Sudah, bonekanya nanti pagi lagi. Ayo lanjut tidur!"
Meski begitu, Annisa tetap berusaha keras untuk mengambil boneka kitty. Awalnya dia kira tidak cukup hanya satu tangan saja untuk meraih, tetapi setelah dicoba kedua tangannya ikut meraih juga, ternyata tetap tidak bisa, boneka kitty mendadak berat, seperti ada tumpuan yang menimpa atau tangan yang mempertahankannya.
"Kak, bonekanya berat sekali, aku kesusahan mengambilnya," rengek Annisa dengan posisi tangan yang masih hinggap di kepala boneka kitty.
"Annisa, Kakak bilang sudah, nanti pagi lagi. Kamu ngeyel, ya."
Amar dengan segera meraih tubuh Annisa, menggendongnya dan membawa Annisa ke kasur yang hanya beralaskan tikar tipis. Untung saja, Annisa ini masih seorang bocah dan beratnya tidak cukup besar jika dibanding dengan Amar. Jadi, Amar bisa lebih mudah untuk menggendongnya, walaupun beberapa kali Annisa terus memberontak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments