BAB 3 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 2

Beberapa menit Annisa merasakan ketenangan, dapat mengistirahatkan tubuhnya yang letih, mimpi buruk kembali hadir, mengguncang kenyamanan yang Annisa dapatkan. Tiba-tiba wajahnya seperti tertimpa tumpuan yang berat, menghalangi napas Annisa yang ingin bebas. Annisa terbangun, dadanya begitu sesak, mencoba teriak tidak bisa, menyingkirkan sesuatu yang menekan wajahnya pun tidak bisa, seperti benar-benar terbelenggu.

Saat mencoba membuka mata, yang Annisa tangkap malah boneka kitty-nya, netra boneka tersebut tampak hitam pekat tanpa menyala merah atau pun biru yang biasa ditujukkan. Benar-benar bukan sekadar dekat saja wajah Annisa dan boneka itu, tetapi sudah saling menyentuh, sampai-sampai Annisa bisa merasakan energi pedih sangat dalam dari bonekanya. Baru satu kali Annisa berkedip, boneka itu berubah menjadi sosok manusia yang Annisa temukan beberapa jam yang lalu, sosok yang membuat Annisa menangis histeris. Detak jantungnya yang mulai berdegup kencang juga sesak di dada tertutup akan energi dari sosok itu, bau darah sangat tercium dan terasa oleh Annisa. Sosok itu seakan-akan memaksa pikiran Annisa untuk masuk ke dalam pikirannya.

Dalam hitungan detik, gelap, semuanya terasa gelap, Annisa tidak bisa melihat apa-apa, lalu tidak berapa lama, di depannya muncul sebuah gambaran 5 tahun silam, saat ya usianya 5 tahun.

Benar-benar semuanya ditampilkan sangat jelas, saat seorang laki-laki dengan ceria membawa sebuah boneka kitty, seperti tampaknya semangat sekali untuk memberikan bonekanya kepada sang Anak.

Deg! Dada Annisa mendadak sakit, sangat pedih, dia mengingat suatu hal, ya itu adalah David! Seseorang yang pernah Annisa marahi, karena tidak memberikan boneka kepadanya.

Sepanjang ingatan masa lalu yang diputar bak film itu, Annisa terus menutupi mulutnya, merasa tidak percaya dengan semua ini, ternyata boneka kitty yang dia punya sama persis dengan apa yang David akan berikan kepada putrinya 5 tahun lalu.

Rasa penasaran Annisa semakin tinggi, dia mencoba fokuskan netra, karena air mata yang sempat terjatuh mengaburkan pandangannya. Benar saja, selanjutnya seorang Anak kecil datang dan memohon untuk diberikan boneka yang David pegang.

'Itu aku? Hah?! Iya, itu benar aku!' batin Annisa seraya menggigit bibirnya.

Entah apa yang mereka obrolkan dalam tayangan itu, lalu datang seorang pria berbadan kekar, Aldi, Ayah Annisa, memarahi Anaknya untuk segera pulang. Setelah Annisa pulang, menyisakan dua orang di sana, David dan Aldi. Tiba-tiba saja terjadi perkelahian antara keduanya, Annisa melihat dengan sangat jelas di tayangan itu kalau Ayahnya menarik kerah baju milik David, lalu tidak berapa lama, OMG! Sebuah pisau kecil ditusukkan tepat di bagian perut David.

Annisa semakin ketakutan, kedua tangannya kini memegangi kepala, merasa masih belum percaya dengan semua ini, belum bisa menerima kalau Ayahnya telah menjadi pembunuh David.

Jelas, darah bercucuran di mana-mana, tubuh David pun perlahan ambruk bersamaan dengan boneka kitty yang terus dia dekap sepanjang tayangan. Belum selesai sampai di sini, Aldi terus menyiksa David, jari-jarinya yang berusaha meraih boneka, Aldi matikan dengan injakan yang sangat dalam dengan sepatunya yang terlihat ganas, hingga akhirnya David memejamkan mata, menyisakan senyuman licik di wajah Aldi. Dan setelahnya, Aldi menyeret tubuh malang David, membawa ke sebuah tempat luas dan sunyi, sungai. Aldi dengan kejam melempar tubuh David ke sana, setelah menarik kembali pisau kecil yang dia tancapkan beberapa menit lalu.

Hitungan detik, Annisa merasakan kepalanya yang sangat berat, napasnya kian sesak, tubuhnya yang ikut merasa sakit memberikan respons gemetar. Di saat yang bersamaan dia telah pindah saja ke kamar, melihat kembali netra sosok yang kini masih menyentuh wajah Annisa, bahkan wajahnya kini seperti ikut tersentuh darahnya juga. Secara tiba-tiba, sosok itu membekap Annisa, mencekik leher kecilnya yang tidak bersalah. Dengan sisa tenaga dan suara yang ada, Annisa mencoba berteriak, menggerakkan tubuhnya, dengan harap bisa terlepas dari cekikan makhluk di depannya.

Benar-benar terasa sangat sesak, pikiran Annisa sudah tertuju pada kata, "Meninggal." Dia telah pasrah, matanya sudah berkaca-kaca menahan sakitnya, kepalanya pun ikut merasa berat, seakan ingin memecahkan segala tekanan yang ada. Annisa masih berusaha, kedua tangan mungilnya mencoba memegang tangan sosok itu dengan lemas.

'Tolong lepaskan aku, maafkan Ayahku,' batin Annisa seraya menangis dalam hati.

Tidak lama dari itu, Annisa terbangun gelagapan, refleks mendudukkan tubuhnya, napasnya seperti seseorang yang habis dikejar habis-habisan, netra Annisa tidak henti berkeliling ke sekitarnya, memastikan bahwa dia telah bebas dari sosok tadi.

"Annisa, kamu kenapa? Tadi Kakak lihat kamu kejang-kejang begitu." Amar meraih pundak Annisa dengan cemas.

Sementara itu Annisa masih terdiam, berusaha menenangkan dirinya dan menetralkan kembali rasa takutnya. Tanpa sebuah kata yang terlontar, Annisa menangis histeris seraya mendekap Kakaknya erat.

"Kak Amar, Annisa takut, takut banget."

Amar hanya bisa membalas dekapan Annisa, lalu mengelus kepalanya pelan, berharap ketenangan segera hadir dalam jiwa sang Adik.

Merasa sudah cukup tenang, Annisa melepas dekapannya, kembali menatap netra sang Kakak yang tampak sangat khawatir.

Bibir Annisa gemetar, seakan ingin mengucapkan sebuah kalimat yang masih ragu dalam pikiran.

Tarikan napas dalam Annisa membuat matanya terpejam sejenak, lalu kembali menatap Amar. "Kak, aku ingin boneka ini kembali pada asalnya."

Mata Amar terbuka lebar, masih tidak percaya dengan ucapan Adiknya. Tebakan Amar ada sesuatu hal kuat yang membuat Annisa terdorong untuk berbicara seperti itu, mungkin saja mimpi buruknya tadi menyadarkan dia bahwa boneka kitty kesayangannya itu beracun, bahaya jika terus dipelihara.

"Ya sudah, sepulang sekolah, ya, Kakak antar kamu untuk buang boneka itu." Amar kembali mengusap kepala Annisa seraya senyuman.

Annisa mengangguk dan tersenyum, lalu pandangannya kembali ke mana-mana, seperti mencari sesuatu atau seseorang.

"Ayah mana, Kak? Aku ingin bicara."

"Kakak juga bingung, dari kemarin Ayah belum pulang-pulang. Nanti selepas sekolah kalau Ayah belum pulang juga, kita cari sama-sama, ya, sekalian buang boneka itu."

Annisa yang menyadari boneka kitty masih di sampingnya, dengan segera melempar sembarang, membiarkan boneka itu terjatuh dan terguling tanpa arah.

"Sudah-sudah, tenangkan diri kamu, ya." Amar menepuk pelan pundak Annisa berkali-kali.

...***...

"Heh Amel, mana laporan kelompok kita? Sudah lo buat, kan?" Nayya menggebrak meja Camelia yang sedang asyik membaca buku.

Refleks Camelia menyingkirkan pandangannya dari buku beralih kepada Nayya yang sudah penuh emosi itu.

"Sudah, nih." Camelia menyodorkan laporan yang tadi malam sudah dia kerjakan mati-matian.

"Buku-buku kita mana, sudah lo kerjain juga, kan?" sambar Giska yang sedari tadi hanya ikut-ikutan dengan tatapan tegas saja.

Raut wajah Camelia berubah takut, perlahan dengan lukanya yang masih terasa sakit, Camelia mengeluarkan buku mereka dari tasnya.

Buru-buru Giska merebut secara kasar, lalu menyibak tiap halaman buku itu, emosinya kembali naik, ketika soal-soal yang tersedia belum Camelia kerjakan.

"Kenapa belum?!"

Nayya yang penasaran juga, ikut-ikutan melihat bukunya dan ternyata memang sama, tugas dia pun belum Camelia kerjakan.

"Camelia Andhita, ngapain saja lo semalam? Kenapa belum dikerjain tugas-tugasnya?!" geram Nayya seraya mendongakkan dagu Camelia dengan kasar.

"Ta---nganku terluka. Aku kesulitan untuk menulis." Camelia menampakkan luka di telapak tangan kanannya yang terlihat semakin parah.

Nayya yang merasa geli, tanpa rasa kasihan melempar tangan Camelia itu sembarang, hingga menghasilkan suara cukup keras, tabrakan antara jari-jari Camelia dengan mejanya.

Di saat yang bersamaan, Amar datang, dia merespons dengan biasa, memang sudah diwajarkan melihat Camelia dibully. Sedikit niat untuk membantu ada, tetapi Amar lebih malas untuk nantinya berdebat dengan dua macan itu. Akhirnya, Amar hanya bisa duduk di bangku, mulai mengeluarkan buku-buku tugasnya dan tak jarang pikiran Amar terbesit akan masalah di rumah, ingin rasanya cepat-cepat menyelesaikan masalah boneka sial itu.

Episodes
1 Prolog
2 BAB 1 | MATA MERAH
3 Bab 2 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 1
4 BAB 3 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 2
5 BAB 4 | AKHIR BALAS DENDAM?
6 BAB 5 | DEEP TALK
7 BAB 6 | PERASAAN BURUK
8 BAB 7 | SETENGAH HARI YANG BAIK
9 BAB 8 | PETAKA
10 BAB 9 | PULANG?
11 BAB 10 | PERINGATAN
12 BAB 11 | MELAWAN UNTUK MELINDUNGI DIRI
13 BAB 12 | CERMIN SEKOLAH
14 BAB 13 | CERITA CAMELIA
15 BAB 14 | ANNISA
16 BAB 15 | RENCANA BARU
17 BAB 16 | CLOSER
18 BAB 17 | ULANG TAHUN NAYYA 1
19 BAB 18 | ULANG TAHUN NAYYA 2
20 BAB 19 | ULANG TAHUN NAYYA 3
21 BAB 20 | AYAH
22 BAB 21 | KEJANGGALAN
23 BAB 22 | BACKGROUND
24 BAB 23 | AWAL
25 BAB 24 | TRAGEDI BUS TRAVEL
26 BAB 25 | TRAGEDI BUS TRAVEL 2
27 BAB 26 | OVERTHINKING RUMAH CAMELIA
28 BAB 27 | FEELING
29 BAB 28 | IKATAN
30 BAB 29 | SUARA-SUARA DI KELAS
31 BAB 30 | DAVID
32 BAB 31 | PERSONA
33 BAB 32 | PROGRAM BARU
34 BAB 33 | MALAM PENYELIDIKAN
35 BAB 34 | OBROLAN MENDALAM DI KELAS
36 BAB 35 | RENCANA NAYYA
37 BAB 36 | HANGUS?
38 BAB 37 | MASIH TENTANG MASA LALU
39 BAB 38 | RENCANA NAYYA 2
40 BAB 39 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA
41 BAB 40 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA 2
42 BAB 41 | INGIN DIJEMPUT
43 BAB 42 | PERBINCANGAN HOROR
44 BAB 43 | DREAM
45 BAB 44 | MENANTANG ARWAH
46 BAB 45 | SUPPORT SYSTEM
47 BAB 46 | BONEKA KITTY
48 BAB 47 | BUNUH DIRI?
49 BAB 48 | PEMUTARAN ULANG
50 EPILOG
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Prolog
2
BAB 1 | MATA MERAH
3
Bab 2 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 1
4
BAB 3 | MISTERI JIWA DALAM KITTY 2
5
BAB 4 | AKHIR BALAS DENDAM?
6
BAB 5 | DEEP TALK
7
BAB 6 | PERASAAN BURUK
8
BAB 7 | SETENGAH HARI YANG BAIK
9
BAB 8 | PETAKA
10
BAB 9 | PULANG?
11
BAB 10 | PERINGATAN
12
BAB 11 | MELAWAN UNTUK MELINDUNGI DIRI
13
BAB 12 | CERMIN SEKOLAH
14
BAB 13 | CERITA CAMELIA
15
BAB 14 | ANNISA
16
BAB 15 | RENCANA BARU
17
BAB 16 | CLOSER
18
BAB 17 | ULANG TAHUN NAYYA 1
19
BAB 18 | ULANG TAHUN NAYYA 2
20
BAB 19 | ULANG TAHUN NAYYA 3
21
BAB 20 | AYAH
22
BAB 21 | KEJANGGALAN
23
BAB 22 | BACKGROUND
24
BAB 23 | AWAL
25
BAB 24 | TRAGEDI BUS TRAVEL
26
BAB 25 | TRAGEDI BUS TRAVEL 2
27
BAB 26 | OVERTHINKING RUMAH CAMELIA
28
BAB 27 | FEELING
29
BAB 28 | IKATAN
30
BAB 29 | SUARA-SUARA DI KELAS
31
BAB 30 | DAVID
32
BAB 31 | PERSONA
33
BAB 32 | PROGRAM BARU
34
BAB 33 | MALAM PENYELIDIKAN
35
BAB 34 | OBROLAN MENDALAM DI KELAS
36
BAB 35 | RENCANA NAYYA
37
BAB 36 | HANGUS?
38
BAB 37 | MASIH TENTANG MASA LALU
39
BAB 38 | RENCANA NAYYA 2
40
BAB 39 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA
41
BAB 40 | KEPRIBADIAN BARU NAYYA 2
42
BAB 41 | INGIN DIJEMPUT
43
BAB 42 | PERBINCANGAN HOROR
44
BAB 43 | DREAM
45
BAB 44 | MENANTANG ARWAH
46
BAB 45 | SUPPORT SYSTEM
47
BAB 46 | BONEKA KITTY
48
BAB 47 | BUNUH DIRI?
49
BAB 48 | PEMUTARAN ULANG
50
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!