Terlihat ramai sekali pameran buku yang sedang berlangsung di taman kota, dari orang dewasa hingga Anak-anak pun ada di sana, terlihat raut yang bahagia dan tenang terukir dari wajah Annisa.
Buku-buku dengan warna cover yang memanjakan mata, membuat siapa saja yang datang dan melihat ingin segera membaca dan memilikinya.
Dengan sorotan mata yang berbinar, Annisa menarik lengan sang Kakak dan sang Ayah untuk menghampiri salah satu tempat yang membuatnya terpikat, dia segera meraih buku fantasi Anak yang diincar, lalu duduk lesehan pada sebuah karpet yang telah disediakan, diikuti oleh sang Kakak yang masih memilih buku-buku untuk dibaca. Sementara sang Ayah hanya menemani Annisa yang membaca buku, seraya melihat sekitarnya, keramaian orang, tetapi menyejukkan. Kebanyakan dari mereka semua yaitu membaca buku dan mendengarkan musik di earphone, jarang sekali terlihat seseorang yang memainkan handphone.
Saat Amar telah menemukan buku yang menurutnya bagus dan ingin menghampiri Annisa juga sang Ayah, matanya memaksa berkeliaran ke arah sampingnya, tanpa sengaja Amar menemukan sosok yang menurut dia tidak asing, tubuh tinggi, kulit kuning langsat, dan matanya yang terlihat jelas berwarna coklat, karena pantulan matahari, seperti ciri-ciri yang dimiliki teman sekelasnya, Camelia.
Amar mengedipkan mata berkali-kali, mencoba fokuskan pandangan pada seseorang yang dianggapnya tidak asing. Ya ternyata memang benar, itu Camelia, buru-buru Amar menutup buku yang tadi ingin dia baca, lalu beranjak berniat menghampiri Camelia.
Namun, baru saja ingin bangkit, Annisa yang tersadar, menarik lengan sang Kakak.
"Mau ke mana, Kak Amar?"
"Oh itu, Kakak mau ke temen kakak dulu, ya. Di sana." Amar mengarahkan telunjuknya pada seorang gadis yang sendirian tengah membaca buku.
Annisa mencoba mencari apa yang dimaksud sang Kakak, setelah tahu, dia meluncurkan tatapan tidak biasa, Annisa menatapnya cukup lama, rasa-rasanya seperti tidak asing, seperti terasa dekat dan sering bertemu dalam batinnya. Tidak hanya Annisa yang merasa seperti itu, bahkan sang Ayah pun seperti merasa bahwa orang yang Amar maksud adalah orang terdekat, terasa beda sekali ketika menatap gadis itu.
"Kak, aku ikut!" Annisa membangkitkan tubuhnya.
Annisa mengejar Amar yang perlahan melangkah jauh, sementara sang Ayah masih di tempat yang sama, hanya menunggu dan menatap kepergian kedua Anaknya. Ketika jarak antara Amar dan Camelia telah dekat, Amar melambaikan tangan tepat di hadapan Camelia.
Keseriusan Camelia yang sedang membaca buku teralihkan pada sebuah tangan itu, netranya perlahan mencari sosok pemilik tangan tersebut.
"Maaf, Camelia, ya?" tanya Amar sedikit menundukkan tubuhnya.
Camelia menyipitkan matanya, mencoba mengingat seseorang di depan. "Oh iya, ini Amar, kah?"
"Iya, lo enggak sekolah?" Amar memandangi baju yang Camelia kenakan, bukan sebuah seragam.
Camelia terdiam sejenak, menutup buku yang dia baca, lalu memperbaiki posisi duduknya.
"Enggak. Setiap ada pameran buku, aku memang selalu izin untuk pergi sekolah," jawab Camelia sangat lembut.
Amar yang tadi hanya menundukkan badan, kini mulai mengambil posisi duduk di samping Camelia diikuti Annisa yang sedari tadi hanya mengekorinya saja.
"Oh ya? Gue penasaran deh, kalau di sekolah lo kenapa enggak pernah melawan pas dibully?"
Raut Camelia mendadak berubah drastis menjadi murung. "Tidak apa-apa. Sudah biasa seperti itu juga."
Camelia meraih kembali buku yang tadi dia letakkan, lalu menatap seorang gadis di samping Amar.
"Itu Adik kamu, ya?" tanya Camelia masih menatap Annisa dengan senyuman ramahnya.
"I---iya, ini Adik gue."
Annisa yang merasa terpanggil mulai menunjukkan wajah imutnya, tangan kanan Annisa berusaha untuk berkenalan dengan Camelia.
"Halo, Kak. Aku Annisa, hari ini aku ulang tahun." Annisa menjabat tangan Camelia yang tampaknya sudah bersiap juga untuk berkenalan dengannya.
Camelia menaikkan alisnya, refleks tertawa kecil. Sementara itu, Amar yang merasa tidak enak segera menegur Annisa.
"Nisa, kamu ngomong apa, sih?"
"Loh kan benar, Kak, hari ini aku ulang tahun," jawab Annisa masih dengan wajah polosnya.
"Selamat ulang tahun, Annisa, aku Camelia temannya Kakak kamu." Camelia mencoba meraih pundak Annisa dan menyentuhnya lembut.
"Hehe, terima kasih, Kak Lia."
"Eh iya, kamu enggak berangkat juga, Mar. kenapa?" tanya Camelia kembali.
"Panjang ceritanya, hehe."
Merasa tidak ingin membuat Amar terganggu, Camelia mengalihkan pembicaraan kepada Annisa.
"Annisa sudah dapat buku yang kamu mau belum? Nanti Kakak belikan sebagai hadiah ulang tahun kamu." Camelia meraih jari-jari Annisa dengan senyuman.
Bocah seumuran Annisa mana yang menolak ketika diberikan hadiah, tentu dengan riang Annisa membalas obrolan Camelia.
"Yeay, aku mau buku genre fantasi, Kak. Fantasi Anak."
"Eh, enggak usah, Lia. Sudah biar saja Annisa beli sendiri." Amar menatap Camelia dan Annisa bergantian.
"Tidak apa-apa, Amar."
Terlalu bahagianya Annisa, dia menerobos sang Kakak yang duduk di samping untuk mendekap Camelia.
"Terima kasih, Kak Camelia. Kakak baik banget." Annisa begitu erat mendekapnya.
Sementara itu, Camelia juga yang selama ini belum pernah merasakan dekapan, membalasnya dengan tulus, dia mengusap kepala Annisa dengan lembut.
Namun, baru beberapa detik, Annisa tiba-tiba melepasnya, dia merasakan perasaan yang sama, rasa-rasanya seperti mendekap sebuah boneka.
"Kak Lia, kok pas aku peluk Kakak aku jadi keinget boneka kitty-ku, ya?"
"Kenapa kamu membahas boneka itu lagi, sudah lupakan saja, Annisa," sambar Amar dengan tegas.
"Boneka kitty? Sekarang dia di mana?" tanya Camelia lebih dalam.
"Iya kak, hm, bonekanya sudah aku buang," jawab Annisa tanpa menatap netra Camelia.
"Oh ya? Kamu mengingatkan aku sama kejadian 5 tahun lalu. Dulu saat Kakak seusia kamu, Kakak juga suka banget sama boneka kitty, tetapi ... Kakak enggak bisa dapatin itu. Ah, sudahlah itu kejadian yang pahit sekali, aku enggak mau ingat lagi."
Tanpa sadar, netra Camelia sudah dipenuhi air mata, tetapi sebisa mungkin dia tahan, bahkan air mata yang ingin terjatuh pun, buru-buru dia menyekanya.
"Eh, maaf Lia. Maafin Adik gue, ya." Amar mencoba mendekatkan dirinya pada wajah Camelia.
Annisa yang merasa bersalah, segera meraih pundak Camelia, dia menatap wajah Camelia sangat dalam.
"Kak, maafkan aku."
Camelia menarik napas dalam, lalu menghembuskan dengan tenang. "Sudah, aku tidak apa-apa kok."
Suasana kian mencair seperti semula, ketika sang Ayah tiba-tiba datang dan menyuruh Annisa juga Amar untuk cepat-cepat pergi.
"Nisa, Amar, ayo pulang," seru Aldi dengan raut wajah ketakutan, terlihat cemas sekali.
Camelia yang merasa masih mempunyai hutang dengan Annisa, segera mencegahnya saat ingin bangun dari duduk.
"Annisa, tunggu dulu. Ayo ambil buku yang kamu mau dulu, ya, nanti aku bayar."
Tanpa berlama-lama, karena melihat wajah Ayahnya yang sudah emosi, Annisa menampakkan senyuman, lalu memberikan kode kepada Camelia untuk mengikutinya.
"Ini, Kak yang aku mau." Annisa meraih sebuah buku cover lilac yang menarik mata itu.
"Okay."
Camelia menerima buku yang Annisa tunjukan, lalu segera membawanya untuk dibayar. Setelah selesai, Annisa mengucapkan terima kasih, diikuti dengan sang Kakak, berbeda dengan Ayahnya yang sedari tadi hanya diam, dan meluncurkan tatapan tajam ke arah Camelia. Bahkan saat Camelia berusaha ramah pun, Aldi tetap membalas dengan tatapan tidak sukanya.
***
"Jangan sekali-kali kamu kalian berbicara dengan dia lagi." Aldi menatap kedua Anaknya bergantian sembari berjalan menuju toko boneka dan kue untuk Annisa.
Amar mengerutkan keningnya kebingungan. "Memang kenapa, Ayah. Dia hanya teman se-kelasku."
"Ayah melihat aura negatif darinya, dia seperti memiliki pelindung dari sosok jahat, yang Ayah rasakan penuh dendam," jawab Aldi dengan pelan.
Refleks Annisa dan Amar membuka mata lebar-lebar, lalu saling menatap penuh pertanyaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments