Hari-hari berikutnya Rea menjalani proses syuting selalu ditemani Anyelir. Keduanya sangat lengket tak terpisahkan. Semenjak namanya masuk daftar artis pendatang baru terfavorit, semakin banyak tawaran membintangi serial pendek serta film.
Mulai dari syuting tahun ini sampai dua tahun ke depan. Tapi Rea tidak mengambil keuntungan berlebihan, ia hanya menyelesaikan kontrak tahun berjalan dan beberapa iklan, serta serial yang sudah ditandatangani untuk tahun depan.
“An, aku mau setiap hari sabtu dan minggu jadwalnya kosong ya, kita juga perlu istirahat.” Perintah Rea karena melihat jadwal pemotretan di akhir pekan.
“Eh tapi Re? Minggu ini bagaimana? Sudah terlanjur janji, sovenirnya satu tas loh.” Anyelir membayangkan tas merek terkenal dibandrol dengan harga Rp 500 juta dalam genggaman. Biar saja walau hanya menyentuhnya.
“Iya tidak masalah. Untuk ke depannya tolong jadwal lebih diperketat. Terima kasih ya An.” Rea mengulas senyum lalu membuka lembaran naskah.
Baru saja mulai serius membaca dan menghapal, Rea mendapat email dari kantor akuntan terkait hasil penyelidikan.
“Kantor akuntan publik? Wah cepat juga kerjanya. Rekomendasi Ar memang luar biasa.” Ucap Rea semangat, merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada Eberardo.
Rea menggulir layar berukuran 8 inchi di tangan, membuka satu email. Betapa terkejutnya wanita cantik bermata sipit ini karena Marvin memperoleh hampir 80% dana dari hasil penjualan saham milik Rea.
“Kurang ajar, kenapa bisa kecolongan seperti ini?” mengeram marah, napasnya memburu, kedua tangannya seakan siap mencekik mantan suami yang tidak tahu diri.
“Semua ini salahku memang, terlalu mempercayai Marvin mengelola semua aset. Sekarang aku hanya punya uang tunai dari jerih payah sendiri. Semua pemberian ayah dan bunda dikuasai Marvin.” Tukas kesal bukan main.
Inilah akibat Rea terlalu mendewakan rasa cintanya kepada Marvin, pangeran yang dianggap penolong rupanya pengkhianat.
“Tenang Rea, gunakan cara yang sama tapi tanpa dia sadari mejadi miskin secara perlahan. Berpikir Rea! Ambil semua hak milikmu!” mengetuk jari jemari pada kening.
Tidak lama satu email lain menyusul diterima. Rea benar-benar percaya bahwa di bumi ini orang yang paling dekat dengan kita berpotensi menusuk dari belakang. Menyalahgunakan kepercayaan dan wewenang.
Sejumlah uang yang seharusnya digunakan untuk membayar bagi hasil dengan rekanan, sengaja Marvin tahan. Ada yang diputar kembali agar memperoleh keuntungan banyak, sebagian digunakan untuk keperluan pribadi sosialnya.
“Gila kamu Marvin. Apa kehabisan uang sampai mengeruk dana perusahaan?” cibir Rea memandangi laporan.
“Ck pengemis elegan.”
Pantas saja belakangan ini Rea merasa rekanan perusahaan berkurang dan omset penjualan tidak memenuhi target, karena para pemilik resep merubah takaran bumbu dalam setiap sajian makanan hingga pelanggan tidak puas.
“Kalau seperti ini terus usaha yang dirintis Ayah dan Bunda bisa hancur di tangan Marvin.” Rea beranjak dari tempat, segera menuntaskan proses syuting hari ini.
Dia tidak mau menunda waktu, pekerjaannya masih sangat banyak bukan hanya berakting di depan kamera saja.
Sepulang dari lokasi syuting, Rea menyempatkan diri mengunjungi perusahaan, mengumpulkan semua data rekanan, mengelompokkannya satu per satu. Mulai dari rekanan tahunan, bulanan hingga yang masuk silih berganti setiap minggu.
Ia pun menemukan surat penagihan dari para supplier, dan parahnya tagihan itu tidak masuk ke divisi akuntansi dan keuangan. Semua sengaja ditahan, seolah perusahaan bersih dari hutang.
Rea menyeringai, kedua matanya penuh kilat kebencian serta dendam. “Baiklah Marvin, kalau begini kita harus berhadapan satu lawan satu. Sebentar lagi aku pastikan kamu tercengang dan mendadak terkena serangan jantung.”
Menjelang malam hari Rea yang baru saja tiba di rumah, membersihkan keringat dan debu yang menempel pada kulit. Kemudian menemui Ayah Kevin di kamar, pria yang tetap tampan di usia tidak lagi muda itu tak berdaya di atas ranjang.
“Ayah, Rea sayang Ayah.” Turut berbaring di sisi kosong kasur memeluk ayahanda tercinta.
Rea meneteskan air mata melihat kondisi ayahnya kian hari semakin menurun, segala pengobatan rasanya tak berguna. Sebisa mungkin Rea harus menyelesaikan masalah seorang diri tanpa memberi tahu kedua orangtuanya.
Sungguh Rea tidak ingin pria ringkih ini terluka akibat perbuatan mantan menantunya.
“Yah? Aku kan sudah dewasa. Bagaimana kalau mulai besok atau lusa aku menggantikan posisi Pak Agung? Ayah harus percaya kalau Rea bisa mengelola dan memajukan perusahaan.”
Rea memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Marvin yang tentunya memiliki orang kepercayaan.
Ayah Kevin hanya mengangguk lemah, lalu menunjuk laci yang tertutup rapat. “Ambil.” Titahnya.
Ternyata Ayah Kevin memang sudah mempersiapkan peralihan kepemimpinan, sebenarnya bukan kepada Rea tetapi untuk adiknya –Ryan. Namun karena bocah itu masih sekolah tidak mungkin diberi tanggung jawab besar.
Akhirnya atas persetujuan Ayah Kevin, Rea menjadi pimpinan utama. Bisa leluasa mengakses data perusahaan ayahnya dengan mudah, bahkan anak buah Marvin pun tidak akan menaruh curiga.
Tidak hanya keuangan Marvin yang di selidiki, Rea memerintah akuntan mengulik sumber dana beberapa orang direktur. Sebab tidak mungkin seorang Marvin bekerja sendirian.
Hari-hari terus berlalu, Rea memperoleh informasi bahwa Marvin dan kawannya rutin mengambil dana milik perusahaan setiap bulan. Tentu melibatkan direktur keuangan yang siap memanipulasi data, hingga yang sampai ke tangan pemilik semuanya palsu, nominal tercatat dan jumlah fisik uang tidak sesuai.
Pagi ini Rea sengaja datang ke kantor, bersama Ayah Kevin yang duduk di atas kursi roda. Pengumuman diadakan secara mendadak.
Para petinggi yang sudah jengah dan lelah dengan peraturan lama pun bersorak, karena kepemimpinan langsung dikendalikan oleh anak pemilik perusahaan.
“Terhitung hari ini, putri pertama saya Edrea Aurora Nugraha resmi menggantikan posisi Agung. Untuk ke depannya segala keputusan mutlak di tangan Edrea.” Ucap Ayah Kevin sembari menahan sesak napas.
Setelah mengetahui semua oknum yang terlibat, Rea mengasingkan anak buah Marvin ke tempat yang cukup jauh. Satu persatu dari mereka bersujud, memohon ampun dan berjanji tidak mengulang lagi.
Namun, bagi Rea, sekali pengkhianat tetap pengkhianat. Ia tidak ingin memelihara duri dalam daging, mungkin saja saat ini menyesal tapi di lain hari berubah. Sifat dan sikap orang tidak ada yang tahu.
‘Saya mohon ampun, Bu. Semua ini atas perintah Pak Agung, saya hanya eksekutor.’
‘Saya tidak tahu apa-apa. Maaf Bu, keuntungan yang saya ambil juga tidak banyak.’
‘Jangan pecat saya Bu.’
“Baik, tapi ada syaratnya. Kalian semua harus membenahi rumah produksi makanan yang sudah terbengkalai 1 tahun ini. Selain itu berikan aku bukti mengenai kejahatan Tuan kalian, paham?”
‘Iya Bu'
Sementara di ruangan lain, seorang pria menghubungi Marvin, karena perusahaan mengalami huru hara. Berharap Marvin dapat membantu, menurut sepengetahuannya, Edrea sangat mencintai aktor terkenal itu. Mungkin Rea bisa menurut dan patuh kepada Marvin.
“Ini gawat Pak Marvin, anaknya Pak Nugraha mengambil alih perusahaan. Kamu harus ke sini, orang-orang saya dalam bahaya.”
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Marcella Lantang
Mantap Rea...ambil alih perusahaan dan tunjukan kemampuan km
2023-10-19
0