Hari berikutnya, Rea dan Anyelir bangun lebih awal, mereka sibuk mengerjakan tugas endorse dari beberapa pengusaha online.
Rea tidak memedulikan rasa kantuknya karena memiliki tanggung jawab mengejar target.
Dibantu Anyelir yang merekam atau memotret dirinya. Perihal keterangan produk dan posting foto, Rea serahkan sepenuhnya kepada Anyelir.
“Re? mau berangkat sekarang? Mau bawa bekal? Bibi masak banyak.” Tukas Anyelir berhadapan dengan laptop, mengedit hasil foto dan video Rea serapi mungkin.
“Ah … itu sengaja, ada kamu di sini. Aku bilang, bibi harus masak banyak, habiskan saja An. Aku berangkat ya takut terlambat.” Rea melangkah menuju mobil.
Karena jadwalnya cukup padat, Rea berusaha menyeimbangkan waktu. Penghasilannya pun sangat cukup untuk menyewa jasa sopir pribadi. Sehingga dalam perjalanan, Rea bisa menghapal naskah atau istirahat.
“Semoga sukses Nona castingnya. Saya siap sedia mengantar ke manapun.” Ujar Sopir yang baru bekerja beberapa hari.
“Terima kasih doanya. Mohon kerja samanya Pak.” Rea membuka ponsel, sederet pesan dari Marvin memenuhi notifikasi.
“Ck dasar, rubah berbulu domba. Dia pikir aku wanita yang haus belaian?” Rea mengeram, tidak sabar meraih puncak ketenaran, melebihi mantan suaminya.
Sampai di lokasi syuting, beberapa orang memandang sinis Rea. Mereka berkumpul untuk mengikut pemilihan peran utama, figuran atau cameo.
Di balik kerumunan itu, Rea melihat wanita yang gemar mencari masalah dengannya. Tsania bersedekap dada, aura permusuhan sangat kental diantara keduanya.
Tatapan tajam saling membunuh pun tak terelakan. Dua wanita yang bersaing memperebutkan gelar ratu film, model, serta drama series. Itu menurut Rea.
Tetapi bagi Tsania, mereka berlomba-lomba meraih hati Marvin dan memiliki pria itu seutuhnya.
‘Jadi itu model yang berhasil membintangi iklan produk kecantikan dari Korea?’
‘Aku yakin dia menyuap pihak agensi.’
“Ya tentu saja. Dia juga mendekati kekasih orang lain.” Sinis Tsania, tersenyum merendahkan.
Bukannya gentar, nyali Rea sama sekali tidak menciut mendapat cibiran dari semua orang. Dia selalu fokus pada tujuan utamanya.
Wajar saja bila sesama talent memiliki rasa iri hati, selama itu dalam batas wajar, tidak menyinggung atau merugikan bukan masalah bagi Rea.
‘Rea. Ayo ke aula utama, kamu sudah ditunggu produser.’ Salah seorang tim menjemput Rea, ke ruang tunggu khusus, di mana semua artis papan atas ikut menunggu antrean.
Di sana Rea mendapat pelajaran baru, dari artis senior yang sudah merasakan manis asam garam dunia entertainment, serta ketatnya persaingan antar artis.
Tak hanya itu, Rea pun mendengar gosip miring mengenai Tsania yang menjadi simpanan seorang pemilik agensi.
“Kasihan sekali kamu Marvin, wanita yang kamu puja mendua. Aku tidak sabar menonton pertunjukkan seru.” Tukas Rea melayangkan senyum penuh arti kepada Tsania yang baru saja memasuki aula.
Tiba saatnya, Rea dan Tsania beradu bakat dan kemampuan memperebutkan posisi pemeran utama wanita.
Keduanya disandingkan bersamaan, karena selama ini belum ada yang bisa menandingi Tsania sebagai artis muda terbaik.
Tsania menghapal naskah cukup baik, tetapi tidak menjiwai peran. Aktingnya pun jauh berbeda dari Rea yang menampilkan seolah karakter utama hidup dalam diri Rea.
Dua wanita cantik itu pun keluar dari ruang kecil, kembali ke aula utama. Tsania menghembus napas kesal, ia tidak tahan mendengar pujian ditujukan kepada Rea.
“Jangan senang dulu kamu Rea. Mereka semua mengenalku sudah pasti aku berhasil mendapatkan pemeran utama. Kamu itu hanya rumput liar yang harus dibasmi.” Tukas Tsania, menyenggol bahu rivalnya.
“Oh begitu kah? Ku pikir masih mending rumput liar hidup di akarnya sendiri, daripada …” Rea mendekat, mengikis jarak. Menunjuk pipi Tsania, memerhatikan penampilan dari atas ke bawah.
“Dari pada benalu yang mengandalkan makanan dari inangnya. Mungkin benalu sungguhan pun masih memiliki hati, bergantung pada satu orang. Benarkan?” Rea membalas perbuatan Tsania menyenggol bahu cukup kuat, sampai terhuyung ke belakang.
“Kurang ajar, mentang-mentang sudah tidak cacat, merasa bangga.” Ucap Tsania, leher dan rahangnya mengerat.
Dari balik pintu kaca, seorang pria melangkah mundur. Semula Marvin yang ingin menemani kekasihnya sebagai permohonan maaf, mengurungkan niat karena dia menjaga citra di depan mantan istri.
Pria ini tidak menduga bahwa Edrea mengikuti casting khusus artis terkenal.
Tsania semakin meradang ketika di toilet seorang kru bercakap-cakap bahwa hasil akhir sudah ditentukan oleh produser dan penulis naskah, bahwa artis yang cocok memerankan tokoh tersebut adalah Edrea Aurora.
‘Kamu lihat kan aktingnya sangat bagus, tokoh utama yang aku bayangkan cocok dengannya.’
‘Dia juga tidak memberi tarif mahal, tapi kualitasnya melebihi Tsania. Model terkenal bayaran selangit tapi sangat mengecewakan.’
‘Hasilnya akhirnya Rea terpilih bukan dia.’
‘Baguslah, aku juga suka. Rea sangat ramah dan baik, tidak sungkan membaur dengan kru.’
Kedua orang kru pun keluar dari toilet sembari tertawa senang sebab pekerjaannya telah selesai. Tidak perlu mencari berhari-hari untuk menemukan talent yang sesuai.
“Berani sekali dia merebut posisiku? Tidak akan aku biarkan. Aku akan mengambil peran itu dan membuat dia pulang dengan kecewa. ” Tsania bersumpah akan meraih tahta miliknya dan menyingkirkan Edrea.
Dia mengerahkan seluruh kemampuan akting. Memohon kepada produser untuk meloloskannya kali ini.
Menggunakan cara kotor dan licik, tubuh mulusnya sebagai bayaran mahal atas negosiasi siang ini. Bagian intinya terasa ngilu karena permainan singkat dan kuat diterimanya tanpa pemanasan.
Tapi keputusan tidak bisa diganggu gugat. Pengumuman disampaikan oleh tim, hanya nama Edrea dan aktor lain yang mendapat kesempatan.
Marvin dan Tsania melongo, mematung di dua tempat berbeda. Padahal selama ini mereka selalu mengalahkan siapapun pesaingnya.
Apalagi Marvin, tidak sanggup melihat mantan istri, beradu akting dengan aktor tampan yang sama tidak waras seperti dirinya.
Tsania dan Marvin pulang ke rumah. Keduanya bertemu tepat di halaman depan, tak bisa lagi menahan emosi. Tsania turun dari mobil, menghampiri kekasihnya, menampar keras pipi Marvin.
PLAK
“Apa-apaan kamu sayang?” pekik Marvin.
“Dasar lelaki tidak becus. Dari mana kamu? Ini semua salah kamu Marvin. Kamu mengganggu fokusku, kamu tidur bersama wanita lain. Menjijikkan.” Bentak Tsania.
“Heh dengar ya Tsania. Kamu itu bukan istriku, jangan mengatur! Salah kamu sendiri tidak bisa memenangkan hati produser dan timnya.” Balas Marvin sengit.
Sepasang kekasih itu pun bertengkar hebat. Saling menyalahkan satu sama lain.
Kesabaran Tsania yang semakin menipis meledakkan amarah, menyatakan bahwa semua ini murni kesalahan Marvin yang tidak bisa membuat Rea lumpuh total.
“Seharusnya kamu menabrak Rea sampai tidak bisa berdiri. Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama dia, tidak tega membuat wanita itu cacat?”
Marvin yang tidak menerima, langsung memukul pipi kekasihnya.
PLAK
“Memangnya kamu tidak sadar kalau selama ini kita berdua menikmati uang Rea? Jangan lupa Tsania, semua kerja kerasku. Kalau saja siang itu kamu tidak datang ke sini dan menggodaku, pasti aku tidak bercerai dari Rea.”
Marvin sama kebingungan, sebab karir yang dirintis dari nol dipertaruhkan, belakangan ini jarang menerima job besar.
Meskipun Marvin masih memiliki sumber penghasilan lain, tetapi nyawanya berada di dunia entertainment.
Bisa kehilangan harga diri bila dirinya tidak laku lagi di pasar hiburan, Marvin akan menjadi bulan-bulanan gengnya.
TBC
***
ditunggu dukungannya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments