BAB 2 Berusaha Sendiri

Tubuh Edrea dipenuhi keringat, pakaiannya basah dan kusut, dari Bogor dia menggunakan bus, lalu jalan kaki dari halte menuju kediaman Nugraha.

Air mata masih lancang membanjiri pelupuk mata, tepat di jalan ini, tragedi berdarah berlangsung. Dia yang berniat mengikuti audisi bintang utama film, terpaksa harus mengubur mimpi.

Mobil yang dikendarai Marvin melesat cepat tak terkendali menyebabkan semua angan-angan sirna.

Rea menunduk, mengangkat sedikit rok panjangnya, menelan ludah memerhatikan luka di sepanjang betis. “Menjijikkan? Mungkin ini alasan kamu Marvin.” Tangisnya semakin pecah.

Cukup lama terdiam di pinggir jalan sepi, berteman dengan pepohonan rimbun dan bunga-bunga indah. Rea mendongak, menegakkan kepala.

“Ini bukan akhir dari segalanya, aku Edrea Aurora Nugraha hampir mati dua tahun lalu. Sekarang, anggap saja waktu untuk berbenah diri, jangan menangis lagi Rea, pria seperti Marvin tidak layak mendapat tetesan air mata!”

Kakinya tidak lelah terus berjalan, teriknya matahari bukan halangan. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh diabaikan begitu saja. Hatinya terlanjur sakit dengan luka menganga lebar.

Tiba di rumah keluarga, Rea di sambut hangat seorang asisten rumah tangga. “Non, ya ampun Non, katanya mau pulang? Balik lagi? Bapak sama Ibu baru pergi, penyakit Bapak kambuh Non.”

Rea menghela napas, miris sekali nasibnya. Kalau saja Ayah Kevin tahu pasti penyakitnya bertambah parah.

“Tidak, Ayah dan Bunda jangan sampai tahu masalah ini.” Rea menggeleng, mencoba tersenyum manis.

Hari-hari berikutnya Marvin mulai mendatangi rumah mertua, bersikap baik-baik saja, seolah tidak pernah terjadi sesuatu. Namun Rea selalu bersikap ketus dan mengusir suaminya pergi.

“Pergi kamu, hubungan kita cukup sampai di sini. Kita bukan suami istri lagi!” ucap Rea sengit, menatap wajah begitu menyakitkan batinnya.

“Ck, bercerai? Itu maksud kamu? Jangan harap Rea, memangnya siapa lelaki yang mau menikahi wanita cacat seperti kamu? Tidak ada, semua pria sama. Dengar ya, hanya aku yang bisa kamu andalkan, jadi patuhilah, terima Tsania dengan baik!” Marvin merengkuh paksa istrinya, bahkan satu tangannya tidak memiliki belas kasih menekan kepala Rea pada dinding.

“Menerima? Aku bukan dermawan, kamu salah tempat. Jangan temui aku lagi, aku tidak sudi.’” Melepaskan pelukan Marvin, mendorongnya kuat dan menendang organ vital lelaki itu.

“Awas kamu Rea. Kalau kita bercerai, Ayah pasti syok dan meninggal, kamu tidak bisa hidup tanpa aku.” Ucap Marvin mengancam istrinya. Tidak ingin kehilangan sumber keuangan utama, Edrea harus selalu berada dalam genggaman.

**

Tekad Rea sudah bulat dan terlanjur sakit hati, diam-diam menggugat cerai suami, tanpa sepengetahuan Marvin. Memiliki kenalan di pengadilan, membuat gugatannya masuk dengan mudah dan diproses tanpa menunggu antrean.

Tapi sangat disayangkan, Rea masih harus menunggu sebab proses perceraian yang memakan waktu cukup lama.

Sembari menunggu, Rea mulai memperbaiki diri. Konsultasi dengan Bunda Dayana terkait operasi besar guna memulihkan kakinya.

Membuang jauh rasa takut terhadap jarum suntik dan meja dingin operasi, serta tajamnya alat-alat berwarna silver.

Keluarga pun tidak ikut campur rumah tangga Rea, sebab sama seperti sebelumnya. Sering kali Marvin keluar kota bahkan keluar negeri menjalani proses syuting berbulan-bulan.

Selama beberapa bulan Rea menjalani sejumlah rangkaian medis. Keluar masuk ruang tindakan, akrab dengan bau obat, tusukan jarum dan sayatan pisau bedah tak terhitung lagi.

Panggilan dari pengadilan terkait mediasi pun diabaikan, semua demi memuluskan dan mempercepat melepaskan diri dari pria lintah seperti Marvin Curry.

Di sela-sela pemulihan yang membutuhkan waktu, Rea masih berusaha mencari bukti perselingkuhan Marvin bersama Tsania. Semua dia lakukan tanpa sepengetahuan Ayah dan Bunda. “Belum saatnya mereka tahu, kondisi Ayah tidak memungkinkan.”

“Pastikan semuanya lengkap, aku ingin menunjukkan di persidangan terakhir. Jangan terlewat satupun. Marvin dan Tsania tidak bisa lolos begitu saja.” Edrea memerintah seseorang datang ke rumahnya. mengambil bukti rekam CCTV dan surat-surat berharga lain milik Marvin.

Hari dan bulan memang terus berganti, tetapi luka di hati masih terbuka lebar. Dendam terlanjur bersarang dada, siap meledak dan membidik mereka yang membuatnya hancur.

“Sekali pria jahat tetap jahat, lihat saja kamu Tsania. Marvin pasti membuang mu suatu hari nanti. Aku yakin itu, nikmati sisa waktu kalian.” Desis Rea, melihat pemberitaan di media terkait prestasi Marvin yang berhasil masuk nominasi tertentu, serta Tsania dinobatkan sebagai model terkenal dengan bayaran fantastis.

**

Hari ini, Edrea Aurora didampingi dokter khusus, membuka perban dan gips yang menutupi dua kakinya.

Setelah dilakukan observasi beberapa kali, kaki yang semula tidak bisa berdiri sempurna kini berjalan tegak. Luka parut pun sirna sama sekali tidak ada jejak bahwa kecelakaan tragis itu pernah terjadi.

‘Silakan Nona.’  

Rea bercermin, tersenyum puas sekaligus menyeringai karena waktunya bertemu Marvin semakin dekat. Tidak sia-sia semua rasa sakit yang dilaluinya, karena hasilnya memuaskan.

“Anggap saja kemarin perjuanganku.” Katanya dalam hati.

Selain itu, dia mendapatkan kabar jika Marvin berhasil mengambil barang bukti, berusaha melenyapkannya.

Rekaman CCTV pun hilang tanpa jejak. Orang kepercayaan Rea tidak bisa berbuat apapun.

“Kalau mereka tidak bisa artinya, aku sendiri yang turun tangan.” Gumamnya pelan. Membuka akses rumah melalui ponsel pintar –percuma , sebab Marvin mengganti seluruh akses menjadi miliknya seorang.

“Kurang ajar Marvin, kode aksesku di tolak.” Rea mengeram, mengepalkan telapak tangan, napasnya berpacu cepat.

Detik itu juga kembali kota asal, karena sidang terkahir akan dilaksanakan satu minggu mendatang.

Setibanya di tanah air, Edrea tidak langsung ke kediaman kedua orangtua, melainkan mengamati rumah miliknya. Pagar besi itu terbuka lebar, penampakkan menjijikan langsung menyuguhkan mata. Marvin dan Tsania begitu mesra keluar dari dalam rumah.

“Hama yang harus dibinasakan.” Rea menyeringai, melekatkan kacamata hitam. Sedikit menunduk ketika mobil Marvin keluar.

Dirasa situasi dan kondisi aman, Rea mengetahui pasti seluk beluk rumahnya, berjalan ke belakang. Tersenyum simpul melihat jalan kecil rahasia dipenuhi rumput liar. Bergerak cepat menyusup ke dalam.

Membuka pintu taman dengan mudah, lalu melangkah ke kamar utama. Susah payah harus menelan pil pahit karena bayangan itu menghampiri, hari yang berat karena sikap asli Marvin terbongkar.

Dekorasi kamar utama pun berubah, mungkin mengikuti selera Tsania yang menyukai kesan glamor.

Rea diburu waktu, membuka lemari dan brankas khusus tempat menyimpan barang pribadi. Dia menemukan flashdisk kecil di sudut laci, terhalang kertas naskah.

“Pasti, di sini.” Gumamnya pelan.

Namun sayang, surat-surat berharga tidak ditemukan satupun. “Pasti dia sudah menyimpan semuanya di safe deposit box. Licik kau Marvin.”

Usai mendapat benda kecil yang diyakini berisi rekam CCTV, Rea kembali keluar melalui jalan yang sama, tanpa meninggalkan jejak dan kecurigaan preman di pintu utama.

TBC

***

dukungannya kakak terimakasih

karena dukungan dari kakak semua sangat berarti 🙏😉

Terpopuler

Comments

Daniela Whu

Daniela Whu

seorang aktor kok rumah di jaga oleh preman 🤔bukanx pengawal

2023-09-02

0

Uthie

Uthie

Good Rea 👍👍👍😀

2023-06-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!