Edrea telah tiba di Korea seorang diri tanpa Anyelir, karena paspor, visa, dan identitas lainnya milik Anyelir hilang. Laptop dan iPad pun tidak luput dirampas. Memerlukan waktu mengurus semuanya ke badan kependudukan.
Sementara Rea tidak bisa menunda kontrak yang telah disepakati.
Pagi hari Edrea baru memasuki hotel, masih memiliki kesempatan istirahat beberapa jam sebelum siang nanti bertolak ke lokasi.
Sengaja tidak memperkerjakan asisten baru, karena saat ini hanya Anyelir yang bisa dipercaya.
Dikhianati oleh orang terdekat, membuatnya memiliki tingkat kewaspadaan tinggi. Bukan menaruh curiga pada setiap orang, lebih tepatnya menjaga diri sendiri agar tidak terluka dikemudian hari.
Sinar matahari di negeri ini pun merangkak naik, hari berubah cerah tidak gelap seperti beberapa jam yang lalu.
Terpaksa Rea mempersiapkan keperluan syuting iklan seorang diri, dipandu Anyelir melalui telepon.
“Sudah siap semua, sebentar lagi aku berangkat. Kamu hari ini jadi ke badan kependudukan?” tanya Rea, hilir mudik dalam kamar hotel, merapikan semua benda miliknya ke dalam koper.
“Ya, kamu tahu sendiri Re, tanpa KTP dan Paspor aku tidak jalan-jalan. Ah aku mau ke sana, melihat para lelaki tampan.”
“Ya nanti aku kirim fotonya, lengkap dengan video. Kamu jangan iri ya, di sini front liner juga lumayan ok.” Rea menggoda Anyelir yang sedang mencari jodoh.
“Re, jangan memanasi aku! Kostum kamu sudah? Pakaian ganti?”
“Selesai, sarapan juga beres.” Sahut Rea sembari memeriksa check list pada note terkait perlengkapan syuting.
“Rea, vitamin, cemilan jangan lupa. Jangan terlambat makan Re, gerd kamu bisa kambuh.”
“Siap Madam Anyelir. Terima kasih ya karena membantu mengurus booking hotel dan kendaraan, jadi aku tidak repot.” Ujar Rea mengacungkan ibu jari ke arah layar smartphone.
Puas berbincang-bincang dengan Anyelir. Rea segera melangkahkan kaki, tiga jam sebelum syuting dimulai. Dia menyetir ke lokasi yang jaraknya lumayan jauh.
Sesampainya di lokasi syuting, disuguhkan pemandangan alam yang menyejukkan mata serta paru-paru.
Udara di desa ini sangat bersih, jauh dari polusi. Sesuai dengan perjalanan yang melewati hutan kecil, perkebunan serta peternakan.
Sebagai artis baru, sikap Rea sangat ramah, tidak sungkan membaur dengan warga sekitar yang membantu menyiapkan konsumsi. Para kru pun memuji sikap Rea yang tidak canggung.
“Permisi senior, maaf menunggu lama.” Tersenyum kepada salah satu anggota tim inti syuting.
“Nona Edrea akhirnya datang juga. Anda jauh lebih cantik aslinya dibanding foto dan video. Saya yakin iklan produk kecantikan ini sangat dinantikan para penggemar.”
Seorang wanita, menghampiri Rea, beliau adalah Creative Director. “Senang bisa bertemu dengan model berbakat seperti Nona Rea. Mari saya perkenalkan dengan model pria kami yang baru.”
Wanita itu merangkul bahu Rea, sangat menyukai perangainya yang baik. Apalagi Rea berani bertanggung jawab dengan menghubungi pihak advertising secara langsung.
Biasanya model atau artis akan memerintahkan manager untuk maju, memohon maaf atas kejadian tidak mengenakan.
“Saya dengar model pria ini berasal dari negara yang sama dengan Nona Rea. Barang kali belum kenal, silakan bertukar cerita supaya mendapat chemistry ketika syuting.” Imbuhnya, memasuki ruang khusus.
Melihat penampilan dari belakang, Rea tidak asing dengan bentuk punggung, tengkuk bahkan rambut pria itu.
Direktur memperkenalkan Rea dengan pria yang duduk sengaja membelakangi. Seketika Rea terkejut karena model pria yang dimaksud oleh pihak advertising adalah Marvin Curry.
“Marvin? Aku lihat nama yang tercantum di naskah bukan Marvin.” Batinnya tidak menerima harus bertemu dengan pria penebar pesona seperti Marvin.
“Hi cantik. Kamu cantik banget hari ini dan seksi.” Marvin mengedipkan sebelah mata.
“Terima kasih.” Jawab Rea melengos, tanpa memedulikan kedua tangan mantan suaminya yang melebar, berharap mendapat pelukan dari Rea.
Sungguh Rea ingin melayangkan tinju ke wajah Marvin yang menyatakan diri sebagai artis paling tampan, tapi pas-pasan. Bahkan tidak modal, mengeruk harta mantan istri untuk membiayai kehidupan mewahnya.
Marvin sengaja menggunakan popularitas, menjegal model sebelumnya. Keinginan Marvin untuk kembali bersama Rea sangat besar, memanfaatkan kondisi adalah jalan pintasnya.
Rea pun terpaksa harus menerima sentuhan tangan nakal Marvin yang membuatnya tidak nyaman. Sebelum kamera aktif, pria itu selalu mencuri kesempatan melekatkan tangannya di bahu Rea.
Membisikan kalimat menjijikan, “Kalau kita rujuk, aku yakin karir kamu melejit. Kita bisa punya anak banyak dan lucu juga.”
“Anak? Bukannya kamu tidak sudi kalau benihmu tumbuh di rahimku? Pria macam apa menjilat ludahnya sendiri?” sarkas Rea.
‘Camera, Roll, Action.’
Mendadak Rea memiliki ide cemerlang, ia akan menjadikan sentuhan Marvin senjata makan tuan.
Tidak ingin kesal sendirian, Rea membuat Marvin susah fokus dan mengulang pengambilan gambar berulang kali.
Sengaja menyentuh titik sensitive pria itu kemudian menghembuskan napas di telinga Marvin, hingga bulir keringat mengucur, karena menahan sesuatu yang mendesak keluar, menginginkan sesuatu,
“Aduh … Marvin mana bakat kamu? Tunjukkan kualitasmu, kalau begini terus, kita tidak akan selesai sampai malam.” Keluh Sutradara.
“Mengaku aktor dan model terkenal, banyak memenangkan penghargaan tapi kualitasnya nol.” Imbuh Sutradara mulai kehilangan kesabaran.
Syuting pun tetap berlanjut, namun Marvin sama sekali tidak mendengar instruksi, sutradara pun kesal bukan main.
“Kita istirahat dua jam.” Teriaknya membanting naskah iklan.
“Rasakan kamu Marvin, lihat saja setelah istirahat, aku pastikan model prianya bukan kamu.” Seringai licik Edrea, berjalan menjauhi mantan suaminya.
Tim inti segera mencoret Marvin dari daftar model, hingga syuting terpaksa ditunda.
Rea pun menyaksikan bagaimana Marvin memohon kepada perusahaan iklan agar memberinya kesempatan. Dia merasa di atas angin, karena tidak ada model lain yang bersedia mendadak menerima tawaran syuting.
“Lagi pula mana ada model terkenal mau syuting secara mendadak? Jangan membuang waktu Pak, saya yakin setelah ini pasti bisa.” Ucap Marvin dengan angkuhnya.
“Dasar kamu, jangan sombong jadi orang!” Sutradara menyesal tidak mempertahankan model pertama yang dipilihnya.
Rea terbahak-bahak sebab Marvin memang aktor handal, aktingnya sangat bagus untuk memikat orang lain. Tapi sayangnya tidak berhasil.
Beberapa menit sebelumnya Rea menyuarakan pendapat kepada sutradara dan pihak agensi, jika masih tetap menggunakan Marvin sebagai model pria, hasil akhirnya tidak akan sempurna.
Kriteria Marvin tidak sesuai dengan deskripsi produk, ditambah biaya produksi yang membengkak akibat jadwal syuting tidak sesuai target.
“Rasakan kamu Marvin. Sampai kapanpun aku tidak mungkin kembali ke lubang yang sama. Kamu dan Tsania harus merasakan apa itu arti sakit yang sesungguhnya.” Geram Rea dalam hati, kedua tangannya mengepal kuat.
Perusahaan iklan dan agensi sejak tadi sibuk mencari sosok pria yang cocok, tak diduga Eberardo Torres tiba-tiba datang menyatakan diri sebagai model yang dicari agensi.
Semua mata tertuju pada pria bertubuh atletis itu, karakter pria yang sesuai dengan produk serta tema iklan.
Eberardo sengaja mendekati Rea, memperkenalkan diri sebagai model pendatang baru. “Hi, kamu Rea kan? Aku Ar, salam kenal Rea, semoga syuting iklan kita berjalan lancar.”
Mengulurkan tangan kepada prospek masa depannya. Harapan menjadi nyata bisa berjabat tangan dengan Edrea.
“Ya salam kenal. Mohon kerja samanya. Saya lihat, Anda lebih berpengalaman.” Puji Edrea memerhatikan penampilan Eberardo yang tidak biasa.
“Kita sama-sama belajar. Permisi Rea, saya harus mengganti baju.” Pamit Eberardo diikuti seorang pria yang menutup rapat wajahnya, hanya kedua mata yang terlihat jelas.
Syuting pun berjalan lancar, Marvin menahan rasa cemburu lantaran Rea dan Eberardo beradegan mesra, seharusnya dialah yang di sana bukan orang lain.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
nacho
😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘
2023-09-05
0
Uthie
Wahh.. ternyata sampai di masa tunggu saya 😂😂😂👍
ditunggu kembali kelanjutan ceritanya 👍
akan jadi cerita favorit saya ini 👍🤗🤗🤗
2023-06-26
1
Uthie
mang enak 😜
2023-06-26
1