Rea memapah Eberardo, tidak enak hati sebab Marvin memukulnya lebih dulu. Ya setidaknya penglihatan menangkap pelaku utama pemicu perkelahian adalah Marvin.
Pria itu memang tidak bisa mengontrol emosi, Marvin tetaplah Marvin. Meskipun, menyatakan diri telah menyesal tetapi sifat dasarnya tak akan bisa berubah.
“Atas nama Marvin, aku minta maaf.” Ucap Rea mendadak membelah keheningan.
“Kenapa kamu yang minta maaf? Memangnya salah apa?” Eberardo tidak terima jika Rea menyebut nama Marvin apalagi memohon maaf atas pria itu.
Rea terkekeh pelan, satu tangannya membuka penutup cairan pembersih luka. “Tidak perlu memiliki kesalahan untuk minta maaf.”
“Tahan sebentar, biar cepat selesai.” Tukasnya mulai membasuh lebam pada kulit wajah Eberardo.
“Tidak perlu dibantu. Aku bisa sendiri.” Dilanda rasa cemburu Eberardo merebut kasa dan botol berisi cairan antiseptic. Ia jengah seolah Rea melindungi Marvin.
“Tidak. Kembalikan, sebaiknya kamu diam, menurut. Bukan marah tidak jelas.” Mengembuskan napas kasar. Edrea tidak mengerti kenapa pria asing di depannya ini tiba-tiba marah. Raut wajahnya pun berubah drastis.
Ketika sedang mengobati Eberardo di ruang tunggu, ponsel Rea bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal. Semula ia malas membukanya, namun benda pipih ini kembali bergetar, tangannya terpaksa membaca pesan.
Seketika manik coklat Edrea melebar, pesan itu berisi rekaman suara mencengangkan. Menyatakan bahwa Marvin sengaja menabraknya dua tahun yang lalu, berencana membalas dendam.
Perubahan ekspresi wajah serta sorot mata pun tidak terelakan dari pandangan Eberardo yang duduk tepat di depan Edrea.
“Ada apa? Wajahmu berbeda? Ada sesuatu yang mengganggu?” tanya bibir tebal itu beruntun. Mana mungkin membiarkan prospek masa depannya dalam kesusahan.
“Bukan apa-apa. Aku permisi.” Pamit Rea terburu-buru meninggalkan Eberardo dalam kebingungan.
Demi terhindar dari keingintahuan semua orang, Rea masuk toilet wanita, mengunci bilik. Berdiri di balik pintu. “Bukan aku membela Marvin, tapi ini terlalu mendadak. Aku memerlukan bukti yang kuat.” Gumam Rea.
Ponselnya bergetar beberapa kali, tentu saja nomor yang berbeda. “Sepertinya orang ini sengaja. Tapi siapa dia”
“Apa ini?” menekan dan menggulir layar. Tidak hanya rekaman suara, foto blur dua orang wanita pun diterima Rea. Sayangnya Rea tidak bisa melihat jelas siapa gadis dalam foto.
Puas mengamati, menebak dan berpikir hingga kepalanya pusing. Rea keluar dari toilet, dia berpapasan dengan Eberardo yang memang sengaja menunggunya.
“Takdir.” Ucap Eberardo.
Namun Rea yang tidak setuju, segera menyanggahnya. “Ini disengaja.” Sebelah sudut bibirnya tertarik.
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan sampai mengikuti aku ke toilet? Bisa baca kan? Ini toilet wanita. Benar-benar tidak masuk akal, seharusnya kamu ke ujung sana, toilet pria.” Rea menggelengkan kepala, baginya semua pria sama saja seperti Marvin.
“Jangan salah, takdir bisa dirubah.” Eberardo mengedikan bahu.
“Ck maksudmu? Kamu itu pria yang cerdas.” Sarkas Rea menghindar dari mahkluk berbahaya seperti Eberardo.
“Terima kasih atas pujiannya. Semua orang memang selalu berkata seperti itu. Jadi apa masalahmu?” tekad yang kuat, Eberardo tidak ingin kalah dari Marvin.
Kenangan buruk Rea dan Marvin menjadi keunggulannya di sini, karena Rea tidak akan mudah menerima sosok Marvin.
Namun hal itu menjadi pemicu sulitnya seorang wanita mempercayai sosok baru, lelaki yang datang terlambat.
Eberardo hendak membantu mencari tahu, “Aku bisa bantu. Kamu menerima pesan misterius kan?” tanyanya tidak jera mengikuti langkah kaki Rea.
Tetapi tawarannya ditolak. Edrea tidak ingin melibatkan orang lain dalam rencananya. “Apa sebelumnya kita saling mengenal? Kenapa kamu peduli sekali? Terima kasih untuk tawarannya, tapi aku tidak membutuhkannya.”
“Tentu saja karena aku menyukai mu, Edrea. Karena kamu, aku ada di sini. Menaklukan wanita yang pernah terluka memang tidak mudah.” Rangkaian kalimat yang tertahan pada bibi Eberardo.
Pada akhirnya hanya mampu memandangi punggung Rea yang semakin jauh dan menghilang melewati lorong. Ego pada diri setiap orang memang berbeda, Eberardo tidak bisa mengungkapkan perasaannya dalam waktu cepat.
Lebih tepatnya melindungi diri, dari penolakan yang mungkin diberikan Rea.
**
Keesokan harinya di kediaman Nugraha. Rea sengaja bangun siang. Memiliki waktu istirahat satu hari dimanfaatkan sebaik-baiknya, memulihkan stamina tubuh salah satu poin penting.
Menjaga kesehatan di sela kesibukan syuting prioritas Rea. Ia tidak ingin tumbang sebelum berhasil mencapai puncak kesuksesan. Seluruh organ tubuh bahkan darah yang mengalir pun sepakat, bahwa Rea harus memberi pelajaran kepada mereka.
Namun getaran ponsel di atas meja sangat mengganggu gendang telinganya. “Siapa lagi? Mungkin Anyelir?”
Berat hati raga yang masih ingin bersantai di atas kasur empuk, meraih smartphone. Membuka pesan tanpa membaca lebih dulu pengirimnya.
Setelah terbuka, barulah Rea menyadari jika pesan misterius diterimanya kembali. “Apa lagi ini?”
Dua mata sipitnya terbelalak. “Gila. Apa-apaan ini? Beraninya.” Ucap Rea terpancing emosi. Membaca satu persatu deret angka pada layar.
Bukti rekening Koran milik Marvin, di dalamnya menampakkan bahwa lelaki itu kerap menerima transfer uang dalam jumlah besar dari perusahaan milik Ayah Kevin.
Benda pipihnya kembali bergetar, dua pesan beruntun dari nomor berbeda diterima. Rea semakin mengeram kesal sebab uang itu digunakan Marvin untuk membeli keperluan tersier wanita, tentunya benda yang tidak pernah diterima Rea sebagai istri.
“Semua benda tidak berguna. Tas, sepatu, pakaian, ponsel dan tiket pesawat ke beberapa negara serta pembayaran hotel.” Seandainya saja terlihat, bara api tercetak jelas pada kedua bola matanya.
“Aku tahu kalian menggunakan uangku. Tapi kenapa harus mengambil dana dari perusahaan?”
“Dasar pria tidak modal! Selingkuh dengan semua uang milik keluargaku, dan Tsania tidak tahu diri. Semua barang itu milikku, aku akan merebutnya Tsania, bila perlu aku bakar tepat di depan matamu.” Kesal Rea.
Pagi yang buruk memang, rusak sudah rencananya untuk bermalas-malasan menikmati drama di laptop. Sebab orang itu memberi penawaran menggiurkan, berani membuat janji temu dengan Rea di suatu tempat.
Tentu saja dengan barang bukti khusus, ditukar dengan nominal uang tunai fantastis. “Baik, aku ikuti permainanmu. Tampaknya arus semakin kuat, kalau begitu kau juga harus siap menanggungnya.”
“Semua ini karena kebodohan ku di masa lalu, seandainya aku tidak menikah denganmu Marvin. Seharusnya aku tidak perlu takut, berakhir hidup sebagai perawan tua yang lumpuh.”
Rea tidak membuang waktu, ia membersihkan diri, merapikan penampilan serta membawa dua tas besar. Ia harus memiliki bukti sebanyak-banyaknya, memenuhi keinginan orang tersebut
Edrea pun melangkah mantap datang ke bank, menarik bahkan menguras uang dalam tabungan. Kemudian memasukkannya ke dalam tas, sesuai instruksi dari orang misterius.
“Aku hampir mati satu kali, jadi … aku tidak takut lagi.” Ucapnya segera melaju ke titik temu. Sebuah cafe sepi, bangunan kuno, lokasi di pinggiran kota, dengan pemandangan pohon pinus menjulang tinggi.
BRUK
“Langsung saja tidak perlu basa basi. Mana bukti yang kau janjikan?” Rea melempar tas berisi uang tunai ke atas meja.
“Nona tidak sabaran ya. Apa itu berisi uang?”
“Tentu saja. Periksa sendiri kalau tidak percaya. Apa itu bukti sungguhan? Aku akan mematahkan lenganmu kalau kau menipuku.” Sangar Rea enggan duduk lebih dulu. Semakin cepat lebih baik, daripada meladeni orang tidak waras di depannya.
“Ini, semua bukti tersimpan di dalamnya. Gunakan dengan baik, jangan libatkan aku dalam balas dendam mu, Nona.”
Rea menyambar benda kecil yang dilempar wanita itu, ia sendiri menatap ragu. Semudah itu orang lain memiliki buktinya, padahal orang kepercayaan Rea mencari ke sana kemari tidak pernah berhasil.
“Ok senang bekerja sama dengan anda.”
Setelah pertemuan selesai, Rea kembali ke mobil, membuka laptop dan memasang flashdisk. “Sudah ku duga. Orang ini sangat licik.” Rupanya flashdisk tidak berisi apapun.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments