BAB 10 Bertindak Tanpa Berpikir

Di hotel, tepatnya di depan pintu kamar.

“Re. Buka pintunya sayang, aku mau masuk. Rea!” suara Marvin mulai lemah, intonasinya tak karuan.

Keringat pun membanjiri tubuhnya, “Re? tolong aku. Edrea.” Teriaknya lagi sembari mengetuk pintu.

Akibat kegerahan, Marvin membuka kaosnya, hingga tubuh bagian atas polos tanpa sehelai kain. Seiring bertambahnya menit, ikat pinggang dan celana panjang dilepas secara sengaja. Salah satu organ tubuhnya sudah menagih pembayaran.

“Hey, sabar. Nyonya rumah belum membuka pintu.” Racau Marvin.

Marvin mulai bergerak gelisah sebab pengaruh obat menjalar panas ke seluruh tubuh. Ia pun meneguk satu botol minuman yang dibawanya, habis tak bersisa, tetesan air berwarna merah pun membasahi leher dan dada serta turun ke perut.

Bukannya dahaga menghilang, kerongkongannya semakin terbakar, kesadarannya pun mulai menurun. Beberapa kali Marvin hampir terjungkal karena tidak berdiri seimbang.

“Sayang … Rea, di mana sayangku?” tetap setia mengetuk pintu berulang kali. Namun tidak membuahkan hasil.

Satu-satunya andalan Marvin, menghubungi mantan istri secara langsung bertanya keberadaannya. Karena saat ini Marvin sangat memerlukan sentuhan dan bantuan Edrea.

“Ah sial. Teleponnya tidak aktif.” Kesal Marvin menjatuhkan ponsel dari tangannya.

Beberapa menit kemudian, seorang house keeping muncul dari dalam lift, hendak masuk ke kamar yang dipesan Rea.

Mo“Hey hey tunggu. Mau apa ke dalam?” mencekal lelaki muda yang membawa troli berisi kain putih kotor dan bersih.

‘Membersihkan dan merapikan kamar, Tuan. Permisi’

“What? Tapi tamunya sedang tidur di dalam, kau tidak boleh masuk. Wanita di dalam sini milikku, dia istriku. Sebaiknya kembali besok!” bentak Marvin menimbulkan keributan hingga ujung lorong.

Pria itu pun menyampaikan bahwa tamu di kamar 10001 telah check out satu jam yang lalu.

“Kau salah, aku mengikutinya masuk ke area parkir hotel, mana mungkin dia check out secepat ini?” mengguncang tubuh petugas, mendorongnya ke troli, seprai kotor dan bersih pun berhamburan, tercecer di lorong.

Pengunjung lain membuka pintu kamar, penasaran pada pelaku yang bersuara bising sejak tadi.

Mereka mencibir penampilan Marvin, hanya menggunakan celana bokser pendek. Kata-kata pedas pun meluncur, salah seorang tamu segera menghubungi pihak keamanan, mengusir Marvin.

Marvin tetap bersikukuh bahwa Rea di dalam kamar. Akhirnya petugas membuka pintu untuk membuktikan bahwa pernyataan Marvin salah.

‘Silakan lihat ke dalam. Setelah itu, Anda angkat kaki dari hotel kami.’

Sontak saja Marvin terkejut karena rencananya berantakan. Dia yakin telah memastikan Rea memasuki hotel. Tidak mungkin jika mantan istrinya pindah kamar.

Marvin diusir secara kasar dari hotel, tubuhnya menggigil diterpa angin malam. “Awas kalian semua, ku balas penghinaan ini.”

Terpaksa Marvin mencari wanita malam demi menyalurkan rasa panas yang tidak tertahankan.

**

Jakarta

Pagi hari Edrea tiba di bandara, dijemput oleh Anyelir yang sejak malam tidak tidur, lantaran mengkhawatirkan sahabatnya.

“Rea, huh. Aku khawatir.” Anyelir memeluk erat sahabatnya. Bagaimanapun juga merasa bersalah karena lalai menyimpan perlengkapan syuting serta kontraknya.

“Terima kasih, maaf ya, aku tidak sempat membeli oleh-oleh.” Rea mengurai pelukan.

“Bukan masalah Re, aku malah cemas, tiba-tiba pria tidak tahu malu itu menjadi model pengganti di sana. Dasar licik.” Sembur Anyelir, membantu Rea membawa tas besar.

“Lapar, makan yuk. Kalau Cuma makan roti kurang kenyang.” Rea terkekeh pelan.

Mereka berdua memutuskan singgah di restoran cepat saji yang terkenal dengan olahan ayam goreng, karena Rea belum sarapan.

Tiba-tiba Tsania datang mencaci maki Rea telah merebut Marvin darinya. Hati Tsania sakit sekali, ketika melakukan panggilan telepon mendengar suara wanita mendesah. Akal sehatnya tidak bisa berpikir baik, selalu tertuju kepada Edrea.

“Begini ya tingkah model baru? Apa bedanya kamu dan aku?” tanpa izin duduk di depan Rea dan Anyelir.

“Dengar ya Rea, Marvin itu milikku. Kamu lupa ya kalau dia sudah mengusir kamu dari rumah?”

“Jangan berlagak suci dan paling benar, kita semua tahu. Tidak mungkin pendatang baru langsung melejit namanya. Pasti menjual tubuh kotormu, iya kan?”

Tak mengindahkan ocehan Tsania, Rea tetap santai mengunyah makanannya hingga habis, lebih baik menutup kedua telinga agar tidak kehilangan selera makan.

“Kamu bisu? Bibir mu pasti bengkak karena Marvin, kamu hanya selingan Rea, bukan pemilik hatinya!” sentak Tsania.

Di atas meja, tersisa sup krim jagung panas serta softdrink. Tsania sebal tidak mendapat respon, lalu meraih satu mangkuk sup krim panas, tangannya melayang hendak menyiram Rea

Namun pergerakan itu kalah cepat, karena Rea lebih dulu menyambar satu gelas minuman dingin. Menumpahkannya ke dress coral Tsania. “Masih menggunakan cara murahan.”

“Ah … dingin.” Tsania terkesiap akan serangan tidak terduga.

Wanita itu melepaskan mangkuk sup tanpa perhitungan matang, sup panas pun mendarat tepat di atas pahanya. Sontak Tsania memekik karena kepanasan.

“Ah panas … pahaku, panas.” Teriak Tsania mengibas roknya yang basah, berlendir, dan bau tidak sedap, dari percampuran softdrink serta sup.

“Seharusnya kamu datang baik-baik. Bukan langsung menyerang ku. Memangnya aku salah apa?” tanya Rea memandangi penampilan kacau rivalnya.

“Salah kamu banyak. Kalian tidur bersama iya kan? Kamu menjijikkan Rea. Aku benci kamu.” Tsania menatap tajam wajah cantik yang terlihat tenang di depannya.

“Ck, apa buktinya? Tuduhan ini bisa ku laporkan. Kamu tahu dari mana kalau aku tidur dengan manusia pengerat itu?” cibir Rea.

“Aku menghubungi Marvin pagi tadi, lenguhan kamu terdengar jelas, masih berani mengelak?” Tsania bersikukuh telinganya tidak salah.

“Otakmu di mana? Kamu pikir perjalanan dari Korea ke Jakarta hanya satu atau dua jam, butuh tujuh jam penerbangan. Analisis sendiri!” Rea menghela napas, bisa-bisanya Tsania bertindak tanpa berpikir.

Sontak model angkuh itu bergeming, berpikir keras. Ia membenarkan jawaban musuhnya. Tidak mungkin tiga jam kemudian Rea sudah tiba di Jakarta.

“Marvin tidur dengan wanita lain, siapa?” lirih Tsania dalam hati.

Rea mengulurkan tangan, memberi saputangan tetapi Tsania menepisnya.

“Aku tidak membutuhkan benda kotor itu.” Mengalihkan wajah ke samping, Tsania malu atas tindakannya yang ceroboh.

Alhasil Rea dan Anyelir segera pergi meninggalkan Tsania yang mengomel kepada pelayan restoran. Sikapnya pun menjadi sorotan dan masuk tranding topik.

Semua pengunjung restoran tidak habis pikir, seorang artis besar, memiliki citra yang baik ternyata hanya omong kosong. Realitanya berbanding terbalik, semua hanya terlihat sempurna di depan kamera.

Tidak hanya menjadi buah bibir, Tsania harus rela kehilangan job besar.

“Hah apa? Tidak … tidak … itu projects film ku bulan untuk bulan depan.” Menerima pesan singkat dari managernya.

“Kontrak iklan ku juga dibatalkan, endorse makanan, pakaian. Kenapa semuanya tidak kasihan sedikitpun?” hari Tsania semakin hancur dan menimbulkan luka baru karena penghianatan Marvin.

‘Kamu masih punya kesempatan, ikuti casting dari awal. Semoga produser atau agensi memilih kamu Tsan.’

Managernya pun memaksa agar Tsania mengikuti casting di salah satu production house demi meraih kembali perhatian publik.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!