BAB 9 Harus Merasakannya

Di Jakarta

“Argh … kurang ajar. Dia memungut sampah yang telah dibuang. Dasar mata keranjang, pria matre.” Seorang wanita meremas kaleng sisa minuman.

Bagai dihantam batu besar, lengkap sudah masalah yang diderita Tsania, tabungannya terkuras habis.

Banyak dikeluarkan untuk membayar hal-hal tidak penting. Melunasi janjinya pada preman, mengganti rugi gaun, dan hal lainnya untuk menjatuhkan Edrea.

“Aku tidak terima semua ini. Tidak mungkin mereka rujuk. Cinta Marvin hanya untukku, bukan Rea!” Tsania gelisah, menggigit kuku ibu jari, mencakar dirinya sendiri dan menendang kaki meja, hingga tulang keringnya berdenyut nyeri.

“Jangan senang dulu kamu Rea, Marvin mendekati kamu hanya untuk bersenang-senang dan mendapatkan harta kamu.” Tsania menangis sesenggukan.

Malam ini menerima pesan nomor tak dikenal, diyakini dari mantan istri kekasihnya. Foto kedekatan Marvin dan Edrea di lokasi syuting membakar Tsania.

Apalagi tatapan memuja, serta bibir sensual Marvin yang begitu mendamba Rea, membuat Tsania jengah.

Padahal dia rela menyerahkan segalanya hanya untuk Marvin, bahkan menggantung status hubungan mereka di mata publik.

Dalam foto itu juga menunjukkan, bahwa Marvin lebih mencintai mantan istrinya dibanding Tsania yang selalu ada untuk Marvin.

Dahulu, bola mata Marvin tampak berkilau ketika bersamanya, saat ini semua lenyap. Sparkle itu ditujukan kepada Edrea Aurora.

“Aku tidak akan memaafkan kamu Rea. Seenak saja merebut Marvin dariku. Kamu memang perempuan tidak tahu malu, Marvin hanya milikku, Tsania.”

“Argh …”

Tsania membanting ponsel mahal keluaran terbaru ke lantai. Seketika kesadarannya kembali pulih, memungut benda pipih yang sudah retak dan tidak berfungsi.

“Ya ampun, ba-bagaimana ini? Aku tidak mungkin membeli ponsel baru, ini pemberian Marvin, tabunganku juga menipis.” Tsania menyesal mengambil tindakan gegabah. Ia menangis sembari memeluk smartphone yang tidak bisa digunakan lagi.

Hingga tengah malam Tsania meraung di atas ranjang, meringkuk kedinginan tanpa selimut.

Dia hanya membelai bantal di sisinya yang kosong, merindukan Marvin Curry. Tsania masih kesal  karena Marvin terbukti berbohong.

Lelaki itu bilang pulang ke rumah orangtuanya di Kanada, tetapi asyik berlibur bersama mantan istri, hati Tsania sakit sekali dibohongi. Meskipun ia memiliki kekasih lain, tetapi cintanya untuk Marvin, bukan kekasih gelapnya.

**

Di Korea

Sama halnya dengan Marvin yang masih cemburu. Usai syuting, lelaki itu membuntuti Rea ke hotel, berniat melakukan perbuatan tercela.

“Salahkan kamu yang menggodaku lebih dulu Rea. Sudah lama kita tidak melakukannya, terakhir dua tahun yang lalu.” Geram Marvin, kedua tangan mencengkeram setir dan perlahan menginjak pedal gas.

Menjaga jarak setipis mungkin dari mantan istrinya. Marvin tidak ingin rencananya gagal. Pria ini yakin kalau Rea masih memiliki perasaan untuknya.

Marvin adalah lelaki pertama bagi Rea. Mengulang momen malam pertama pernikahan salah satu cara mengukuhkan hubungan mereka. Apalagi jika membuahkan hasil, Marvin yakin mantan istrinya bersedia rujuk tanpa syarat.

“Ya Rea, dulu aku memang tidak mau kamu hamil. Sekarang tidak ada salahnya kalau memiliki anak darimu.” Seringai Marvin, pikirannya dipenuhi segudang cara licik.

“Aku tidak akan membebaskan kamu malam ini. Kamu hanya milikku Rea, sampai kapanpun. Tidak ada lelaki yang sebanding denganku.” Menepuk dada, begitu percaya dirinya seorang Marvin Curry bisa menaklukan Rea.

Sebelum tiba di hotel. Marvin menyempatkan singgah di toko penjual minuman beralkohol. Mengelilingi jajaran botol estetik dengan harga selangit.

“Kejutan malam ini tidak akan kamu lupakan, sayangku, Edrea.” Tawa Marvin sendirian di balik rak.

“Ok, kita pilih yang memiliki kandungan alkohol tinggi. Maafkan aku sayang,  semua ini aku lakukan karena tidak mau kehilangan kamu, mantan istriku. Itik buruk rupa yang menjelma menjadi angsa cantik.”

Marvin mengetahui bahwa Rea mudah mabuk, tidak akan sanggup bertahan setelah meneguk seperempat gelas minuman. Tidak hanya itu, Marvin membeli produk tertentu untuk meningkatkan stamina.

Berhasil mendapatkan semua keperluan untuk membuat Rea tak sadarkan diri. Dia bergegas menancapkan gas menuju hotel tempat Rea menginap.

Sekali lagi Marvin mengandalkan pesona, popularitasnya tidak diragukan lagi.

Sejak ia turun dari mobil petugas hotel sudah menyapanya. Betapa indahnya dikenal semua orang, mempermudah segala tujuan.

“Hi cantik. Aku membutuhkan bantuanmu.” Marvin mendekati resepsionis, tentu saja disertai  menyelipkan uang sebagai pelicin informasi.

‘Apapun untuk Tuan, saya bersedia.’

“Kamar nomor berapa Edrea menginap? Atau mungkin reservasi atas nama Anyelir.”

‘Lantai 10 Tuan, kamar 10001.’

“Kau memang layak mendapat yang terbaik. Katakan berapa nomor rekeningmu?” setelah memberi beberapa lembar uang kertas, kini Marvin mentransfer dana sebagai bayaran mahal atas informasi yang diterima.

Melangkahkan kaki dengan mantap sembari bersiul, Marvin segera naik ke lantai 10 menuju kamar nomor 10001. Setelah lift terbuka lebar, ia menyeringai karena kondisi selasar yang sepi.  

“Keadaan yang mendukung. Kamu lihat Rea, semesta merestui kita untuk menyatu.” Marvin menyempatkan diri meneguk obat penambah stamina, lalu mengetuk pintu kamar.

“Sayang, buka pintunya. Aku datang.”

“Rea, jangan takut, kita harus bicara berdua.”

“Rea? Aku janji tidak melakukan apapun. Buka sayang.”

Cukup lama dia menunggu, tetapi pintu tidak kunjung terbuka. “Ck ke mana targetku? Apa dia sudah tidur? Ah rupanya mau mengulur waktu.”

Satu jam sebelumnya.

Di tengah jalan tol Rea menyadari seseorang mengikuti sejak keluar gedung. Ia pikir kendaraan salah satu kru. Namun hingga ke pusat kota mobil hitam setia membuntuti.

“Siapa dia? Apa orang bayaran Tsania atau Marvin?”

“Kalian memang tidak jera ya. Baiklah kita lihat siapa pemenangnya malam ini.” Rea menggerakkan bahu.

Tantangan tak terduga sudah dihadapinya belakang ini, bukan hal sulit menyingkirkan hama pada tanaman yang sedang tumbuh.

Kendaraan Rea melesat cepat lalu bersembunyi di salah satu area parkir, ia mengamati seseorang di dalam mobil.

Di bawah kilatan sinar rembulan wajah tegas itu tampak jelas. “Marvin? Apa hadiah kecil hari ini masih kurang?” Rea menunggu, memastikan Marvin menghilang.

Kemudian Rea berbalik mengikuti mantan suaminya, dia terkejut ketika mendapati Marvin turun di minimarket membeli minuman beralkohol.

“Benar-benar pria menjijikkan kamu Marvin. Dulu ketika masih bersamaku, kamu melakukannya dengan Tsania. Sekarang, karena aku merubah penampilan, kamu ingin tidur bersamaku? No.” Desis Rea di balik kemudi.

“Kita hidup bersama bukan satu atau dua hari Marvin, tapi 730 hari. Waktu berhargaku terbuang sia-sia, menghabiskan setiap jam menunggumu pulang, melayani dan menerima penolakan dari sampah sepertimu.”

“Hahaha”

“Sekarang kamu harus merasakan, apa itu menunggu, apa itu penolakan dari seseorang yang kamu harapkan.” Rea yang sudah mengenal sifat Marvin, mengetahui persis rencana hina mantan suaminya.

Ia pun segera memesan tiket dan pulang ke Jakarta dini hari. “Maaf, aku ingin membeli penerbangan terakhir, apa masih tersedia? Berapapun aku bayar.”

Selain memesan tiket, Edrea juga check out via aplikasi pemesanan hotel. Tentu saja dia memberikan imbalan kepada wanita resepsionis jika bersedia membantunya.

TBC

Terpopuler

Comments

Marcella Lantang

Marcella Lantang

pintar..bukan hanya cantiq tp Rea jg smart..

2023-10-19

0

Fadil Fadil

Fadil Fadil

mantapp rea👍👍👍

2023-07-14

0

Day

Day

mantul Rea

2023-06-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!