Marvin dan Tsania pertama kalinya dalam beberapa bulan pisah ranjang. Marvin diusir keluar kamar, sedangkan Tsania menempati ruang utama.
Terlalu larut dalam kebencian membuat Tsania tidak bisa tidur nyenyak.
Dia melirik ke atas meja kerja kekasihnya, di sana tersimpan benda pribadi milik Marvin. Tiba-tiba terlintas ide dalam benaknya. Tsania turun dari ranjang, mengunci pintu kamar.
Diam-diam, tanpa sepengetahuan Marvin. Tsania membuka laptop kekasihnya, mencari data mengenai Rea. Membuka beberapa file terkunci, dengan mudah terbuka.
“Terima kasih Marvin karena mencintaiku.” Tsania terkekeh dalam gelap, karena sandi file menggunakan tanggal lahir serta hari pertemuan pertama mereka.
Aura gelap terpancar dari dalam diri Tsania. Sangat yakin beberapa hari ke depan karir Edrea hancur berantakan. Tsania tidak sungkan membuat rivalnya tak bisa bangkit berdiri lagi.
“Seenaknya saja mengatakan kalau aku benalu. Kamu yang benalu. Dengan adannya ini aku harap kamu menyerahkan diri ke rumah sakit jiwa.” Tsania tertawa ditemani redupnya cahaya lampu.
Wanita itu menyerahkan segala foto dan video kepada seseorang. Bahkan berbalas email hingga pagi hari.
Berat hati Tsania kembali mengeluarkan dana, demi melancarkan tujuan menjatuhkan Rea, hancur sedalam-dalamnya.
“Tidak apa lah, setelah berhasil menyingkirkan rumput liar itu. Tawaran syuting semakin banyak, honornya juga besar. Uangku bertambah banyak.” Monolog Tsania, seraya menahan kantuk yang mendera.
**
Satu minggu kemudian
Dunia maya mendadak heboh, baik di tanah air, dataran Asia hingga Kota Madrid tentunya.
Anyelir menjadi sasaran utama penanggung jawab perusahaan iklan, serta beberapa perusahaan yang menjadikan Rea sebagai model.
“Ya ampun siapa yang telepon pagi-pagi?” keluh Anyelir. Meraba ponsel di atas nakas. Seketika terbelalak, para haters menyerang akun pribadi Rea. Secepatnya, Anyelir menonaktifkan fitur komentar.
“Re? bangun Rea! Kamu harus lihat ini. Foto lama kamu.” Anyelir mengulurkan ponsel, ia khawatir Rea terluka karena masa kelamnya mejadi konsumsi publik.
“Hah? Ini kan?” Rea menggeleng kepala, di foto itu tampak jelas wajahnya tengah mengiba cinta seorang Marvin Curry.
Sosial media dan infotainment ramai oleh pemberitaan heboh. Para netizen menyuarakan pendapat, menghujat wanita yang membuang uang banyak demi merombak penampilan.
Salah satu akun palsu, memberi komentar pedas, menyakitkan dan melukai perasaannya.
‘Cewek gendut dan cacat kaya gitu mau jadi pacarnya artis, di mana cermin? Ayo lempar cermin ke wajahnya yang jelek!’
‘Dapat uang dari mana? Jual diri ya? Haha’
‘Operasi plastik, sedot lemak hasil jual diri.'
Fans yang semula kagum dan terkesima dan memuja Rea. Detik ini berbalik menyerang, mencaci maki, bahwa kecantikan Rea tidak alami, tidak sesuai seperti yang digaungkannya selama ini.
Tuduhan operasi plastik melekat erat di namanya, serta mengandalkan nama besar keluarga menjadi bulan-bulanan.
“Dari mana mereka mendapat foto ini? Dulu aku tidak pernah keluar rumah sendirian atau main di tempat umum. Tidak mungkin memotret seorang Rea yang memalukan.”
Edrea mengamati lamat-lamat latar belakang foto, semua lokasi sama, di rumah pemberian Ayah Kevin. Tempat semua kejadian menyakitkan dimulai.
“Foto ini dan videonya.” Analisis Rea mengetuk dagu, memicingkan kedua mata, mengingat momen itu.
“Anyelir, semua foto ini dulu sengaja Marvin ambil, dia menggunakannya untuk merusak mentalku. Tapi aku ragu pelakunya Marvin. Di balik foto dan video ini tersimpan rahasia kebusukannya.” Jelas Rea mencurigai satu nama yang selalu bertindak gegabah.
“Maksudnya Re?” Anyelir mencoba berpikir, sayangnya tidak mengerti sedikitpun.
“Kelihatannya Marvin memang bodoh tetapi setiap langkah selalu dipikir efek jangka panjang. Intinya kita bisa mengambil momentum dari bergulirnya bola panas ini.” Rea yang semula kebingungan mulai menemui titik terang.
“Tapi Rea, karir kamu bisa hancur dalam sekejap.” Anyelir gelisah, pesan singkat terkait pemutusan kerja sama pun diabaikan.
“Kamu tenang An. Sementara biarkan saja seperti ini, anggap menghibur mereka semua, toh kita diuntungkan, namaku semakin dikenal luas, mereka pasti tambah penasaran.” Rea berdiri membelakangi Anyelir, menatap langit yang berubah terang.
**
Proses syuting pun telah berjalan selama beberapa hari. Di lokasi syuting yang semula sepi dan hening, mendadak ramai dibanjiri oleh kumpulan haters Rea yang terbentuk setelah kabar bergulir.
Mereka menyatakan kebencian terhadap sosok pendatang baru yang dinilai membohongi fans. Menganggap semua artis sama saja, tidak memberikan contoh positif. Label penggoda pun disematkan pada Rea.
Anyelir yang panik segera menemui Rea di ruang ganti, dia takut karir yang baru saja dirintis oleh Rea terbawa arus dan lenyap.
Petisi penolakan ditandatangani lebih dari 1000 orang, memblokir semua film, serta iklan yang dibintangi Rea. Fans terlanjur kecewa, menelan kabar yang tersebar.
“Rea, sebaiknya kamu jangan keluar! Di depan penuh. Pihak keamanan sedang menertibkan haters.” Ucap Anyelir, memperlihatkan rekam video anarkis di lokasi syuting.
“Apa mereka mau ketemu aku?” Rea bertanya sekaligus memberi ide konyol.
“Kamu, keluar dan bertemu mereka, sama dengan bunuh diri. Jangan Re. Tahu kan aksi kekerasan pernah menimpah salah satu artis yang terlibat skandal bersama CEO PT Maju Mundur?” napas Anyelir memburu, ketakutan menggangunya.
“Ya satu tahun yang lalu. Tapi di sini, aku tidak salah sedikitpun. Narasi pemberitaan dan video yang sengaja dipotong memperkeruh pemberitaan.” Jawab Rea, mengambil minum untuk Anyelir.
“Makasih Re.”
Sikap tenang dan santai Rea seolah tidak terjadi sesuatu. Mentalnya cukup tangguh menahan emosi, alam bawah sadarnya pun memperkuat diri agar Rea tidak terbawa suasana.
Dia menanggapi bahwa ini sebagai rintangannya mencapai kesuksesan.
Setiap kru yang berpapasan dengan Rea tidak ada yang menyapa, semua kompak berwajah ketus, sengaja membuat Rea tidak nyaman di lokasi syuting.
Namun Rea tetap menunjukkan sikap professional. Di depan kamera aktingnya tidak menurun, semua sama. Kabar miring itu sama sekali tidak memengaruhinya.
Production house dilanda bimbang, serta khawatir bola panas terus bergulir. Berimbas pada penayangan film sehingga mereka merugi.
Belajar dari pengalaman lalu, nama sang artis jatuh ke dasar, karirnya meredup, film yang baru saja selesai produksi terpaksa diputar tanpa mengharap laba.
Kondisi keuangan production house goyah, dari 100% biaya yang dikeluarkan, tidak ada 5% kembali sebagai modal.
Di samping itu orang-orang suruhan Tsania pun sudah menjalankan tugas menghasut kru. Mereka di bayar mahal oleh Tsania demi melakukan misi penting.
Imbalan besar menanti bagi siapapun yang berhasil menggulingkan Rea dari singgasana artis. Ditambah membuat mental Rea hancur, sehingga trauma kembali ke dunia hiburan.
Seorang mata-mata melaporkan ketegangan keadaan di lokasi syuting.
‘Tsania, kondisi di lokasi kacau balau. Haters memaksa masuk. Produser juga mulai mempertimbangkan mengganti pemeran utama, kamu siap-siap ya!’
“Tentu saja, kamu mau berapa? 100 juta atau 200 juta? Tapi setelah aku berhasil menandatangi kontrak ya.”
‘Siap Tsania, aku pastikan Rea diusir dari sini.’
“Oke kerja bagus! Jangan sampai seorang pun curiga!
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments