BAB 15 Akting Luar Biasa

Akibat berita yang menghebohkan, kedua orangtua Rea mengetahui perihal masalah anaknya. Terutama Ayah Kevin, kesehatannya semakin menurun. Menyayangkan tindakan Rea tanpa memberitahu keluarga besar.

Ayah Kevin dan Bunda Dayana pun segera pulang ke Jakarta, bertanya kepada putrinya. Sebagai orangtua tentu saja marah, ternyata selama dua tahun menikah Rea tidak pernah mendapat kebahagiaan.

“Jadi itu alasan kamu merubah penampilan?” Bunda Dayana mengembuskan napas kasar.

“Ya.”

“Kenapa kamu menyembunyikan semua dari Bunda dan Ayah? Kurang ajar Marvin.” Geram Bunda Dayana, kilat amarah pun tampak nyata hendak menerkam mangsanya.

“Ayah sakit Bun. Aku takut. Lagipula sampai sekarang masih bisa diatasi. Bunda fokus saja dengan kesehatan Ayah.” Sahut Rea, terlahir sebagai seorang kakak, membuatnya harus lebih tangguh dari adiknya.

“Permisi Bu, Non. Di luar ada tamu. Den Marvin datang, katanya mau ketemu Non Rea dan Ibu.” Asisten rumah tangga ragu-ragu memberitahu, karena saat ini tuan rumah dalam keadaan panas.

“Kamu lihat kan? Marvin itu sudah kehilangan muka, urat malunya putus. Setelah melakukan perbuatan hina dan tercela masih berani menginjakkan kaki di sini. Dasar tidak berguna.” Bunda Dayana pun berjalan menuju teras rumah diikuti yang menghela napas.

“Bun, jangan kasar. Kita harus main cantik! Bunda tenang saja, semua sudah aku atur.” Bisik Rea memerintah Ibunya agar tidak terpancing amarah.

Marvin pun mulai melancarkan aksi, memanfaatkan mantan mertuanya. Marvin rela bersimpuh, memohon maaf demi kembali bersama Rea.

“Bun, maaf. Semua ini salah Marvin. Tolong kasih kesempatan kedua Bun, Marvin janji, mulai sekarang membahagiakan Rea.” Ujar Marvin memegang kedua punggung kaki Bunda Dayana.

“Heh kamu dengar ya Marvin. Kamu berani selingkuh di rumah pemberian suami saya. Pria macam apa kamu? Bukannya berterima kasih, kamu tahu kan kehidupan orangtua kamu pun siapa yang membiayai?”

Bunda Dayana mundur satu langkah, menatap jijik mantan menantunya yang menunduk. “Atas kebaikan hati Rea, setiap bulan bagian keuangan mengirim uang ke orangtua kamu. Tapi ini balasannya. Sudahlah kamu keluar dari sini!”

Sebagai orangtua yang sudah terlanjur sakit hati, tidak memberi Marvin kesempatan lagi. Tapi hal diluar dugaan terdengar telinga Bunda Dayana.

“Kamu benar-benar menyesal Marvin?” suara Rea mendayu dan lemah lembut.

“Iya sayang, kamu mau kan? Satu kesempatan lagi Re, aku mohon.” Wajah Marvin memang menunjukkan penyesalan, sorot matanya pun seolah tulus akan semua permohonan maaf.

“Memang cocok jadi aktor, aktingnya sangat menjiwai. Luar biasa kamu Marvin.” Mencibir dalam hati. Rea tersenyum simpul, demi memuluskan rencananya ia memberi kesempatan kepada mantan suami.

“Tapi kamu harus janji meninggalkan Tsania. Bisa kan? Melindungi aku dari Tsania, jangan berhubungan lagi dengannya.” Ucap Rea menyakinkan Marvin.

“Tentu sayang. Rea, terima kasih.” Marvin senang karena usahanya tidak sia-sia.

Setelah hari itu, setiap pagi Marvin selalu datang tepat waktu menjemput Rea syuting, menemaninya di lokasi seharian. Karena Rea dan Marvin berada di bawah satu agensi yang sama, memudahkan Marvin mengetahui seluruh kegiatan mantan istrinya.

“Kamu lapar?” tanya Marvin perhatiannya melebihi pria yang jatuh cinta, ia membawa banyak makanan untuk calon istri.

“Itu kamu yang masak? Umm … terima kasih.” Jawab Rea mengambil semua kotak makan siang dari atas meja.

“Lho Re, mau dibawa ke mana? Kita makan di sini!” Marvin kebingungan karena semua makanan kesukaan diambil, menyisakan sekotak kecil salad sayur.

“Untuk kru, mereka lebih membutuhkan. Kalau aku sudah kenyang. Anyelir yang bawa bekal.” Ujar Rea meninggalkan Marvin dalam kesendirian di bawah pohon.

“Gemana Marvin, rasanya diabaikan? Makanan yang susah payah kamu masak diberikan kepada orang lain. Sakit kan? Itulah yang aku alami dulu.” Rea melangkah maju mendekati para kru, memberikan semua kotak bekal milik Marvin.

“Jadi kamu balas dendam Re? Silakan Rea, tapi ini hanya sementara, sebentar lagi kamu tunduk dan melakukan semua keinginan aku seperti dulu.” Seringai jahat Marvin.

Sehari sebelumnya, Marvin merebut peran cameo yang akan beradu akting dengan Rea. Lagi-lagi uang serta nama besar berbicara dengan mudah. Demi mendapat tangkapan ikan besar, Marvin rela mengeluarkan modal percuma.

Marvin segera melakukan persiapan syuting, sikapnya tidak lagi arogan, banyak mengumbar senyum dan keramahan palsu.

Tapi hasil kecurangan Marvin tidak disukai oleh Eberardo Mikhael yang menjadi pihak investor. Pria jangkung berdarah Eropa itu keberatan atas hadirnya Marvin.

“Frederick, kenapa orang itu ada di sana?” Eberardo menunjuk layar kecil di ruang VVIP.

“Saya sudah melakukan tugas Bos, serius. Bukan hanya dengan pihak agensi tapi production house juga.” Terang Frederick bersiap menerima hukuman dari bosnya karena lalai.

Susah payah Eberardo menyingkirkan nama Marvin dari daftar aktor pilihan tetapi masih bisa lolos sebagai figuran. Ia salah perhitungan, dipikir incaran Marvin adalah peran utama pria, ternyata salah.

**

Lokasi syuting hari ini di Kota Kembang Bandung tepatnya Jl Ganesha. Banyak sekali kenangan Rea di sini selama menempuh pendidikan beberapa tahun lalu.

Rea dan Anyelir menyisihkan waktu di sela istirahat syuting. Keduanya jalan-jalan sekitar pedagang penjual makanan ringan.

Walaupun sudah menggunakan penyamaran hampir sempurna, tetap saja mata para pria begitu jeli melihat wanita cantik.

‘Rea?’

‘Kamu Rea kan?’

“Ya, siapa ya?” Rea mengernyitkan kening, mengingat beberapa orang pria di depannya.

‘Wah sekarang kamu semakin cantik. Boleh minta nomor teleponnya Re? mungkin lain waktu bisa pergi bareng.’

“Hah? serius? Kalau mau ketemu datang ke lokasi syuting aku, jaraknya cukup dekat. Sampai ketemu di sana ya.” Edrea segera menarik lengan Anyelir, cukup jengah dikelilingi pria penggoda yang dahulu membully, melempar caci maki padanya.

“Rea? Kamu serius mengundang mereka?” Anyelir bertanya-tanya, tidak biasanya Edrea bersedia diganggu sewaktu syuting.

“Serius An, kamu lihat saja nanti. Mereka bisa bermanfaat juga di lokasi.” Ucap Rea tanpa mau mengungkap rencana.

Berselang dua jam, para pria yang dahulu merundung Rea pun menyempatkan diri datang, sembari membawa buah tangan khas daerah sebagai hadiah sekaligus mencari perhatian.

‘Re, ini untuk kamu.’

‘Nanti malam ada waktu luang Re? bisa ikut kumpul sama kita.’

“Terima kasih oleh-olehnya. Sebenarnya aku sibuk, Tapi aku punya waktu satu jam untuk kalian. ” Tentu sang artis menerima dengan tangan terbuka, membuat Marvin dan Eberardo geram.

Marvin yang mendengar jelas persetujuan dari bibir Rea merasa panas hati, karena orang itu dengan mudah merebut perhatian calon istrinya. “Bisa-bisanya Rea menyambut para lelaki hidung belang seperti itu, padahal aku ada di sini.”

Di sisi lain, Eberardo mengamati dari atas gedung. Ia mengikuti Rea secara diam-diam, mencoba mendekati secara perlahan. Namun prospek masa depannya mengundang pria lain.

“Bertambah lagi saingan.” Keluh Eberardo, tidak lagi bisa menyembunyikan diri.

“Frederick sekarang kita turun. Jangan buang waktu.” Dilanda rasa cemburu, Eberardo menghilang, meninggalkan Frederick yang baru saja naik ke atas gedung.

Eberardo dan Marvin bersaing mengalihkan fokus Rea dari sekumpulan pria yang datang secara mendadak. Karena tidak menyukai rival beratnya hadir Marvin terang-terangan mengancam dan memukul Eberardo sebab lancang menghalangi jalannya.

“Minggir, orang asing dilarang berkuasa!”

BUGH

“Jauhi Rea atau kau tidak bisa kembali ke negaramu, paham?”

BUGH

“Dasar pecundang tidak tahu diri, kau pikir aku tidak tahu siapa lelaki sepertimu, hah?” hardik Eberardo melayangkan jab tepat mengenai rahang tegas Marvin hingga tersungkur jatuh ke atas meja.

“Marvin, Ar? Kalian apa-apaan?” sangar Rea, mendelik tajam dua pria yang bertengkar di hadapannya. Rencana Rea untuk membuat Marvin sakit hati kacau, karena pertengkaran tak terduga.  

Rea pun lebih memilih membantu Eberardo dibanding Marvin. “Aku bantu, bangun Ar! Kamu bisa jalan kan?”

Rupanya Rea tidak sepenuhnya gagal, karena Marvin merasakan sesak di dada,  tidak menyukai mantan istrinya memapah pria lain di depan matanya. Rea lebih memilih orang asing dibanding dirinya yang sudah jelas mendapat kesempatan kedua.

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!