Di tempat berbeda Tsania merasa bangga karena berhasil mengelabui rivalnya. Ia hanya memberikan flashdisk kosong, lalu mendapatkan uang tunai satu milyar rupiah dengan mudah.
“Bagaimana? Dia tertipu kan? Rea, Rea, Rea sudah aku bilang beauty without brain is nothing.” Tawa Tsania membayangkan ekspresi wajah musuhnya ketika melihat benda kecil tidak berisi apapun.
‘Anda benar Nona. Perempuan itu mudah ditipu, tidak banyak pertanyaan langsung menyerahkan tas dan mengambil flashdisk. Anda benar-benar cerdik Nona. Tapi … saya boleh minta bagian’
“Apa? Bagian? Aku tidak salah dengar? Sudah ku bayar mahal di awal jangan meminta lagi. Kerjakan tugasmu, setelah itu aku beri honor yang lain.” Bentak Tsania tidak menyukai, sesuatu miliknya diambil orang lain.
‘Tapi Nona, kalau tidak ada saya. Rencana ini tidak mungkin berhasil. Saya memerlukan uang itu untuk biaya pengobatan orangtua.’
Tsania memutar bola mata, berdiri mendekati tas hitam yang terlihat berat dan kokoh. Kemudian berujar, “Ck bekerja sama dengan kaum pecinta uang memang menyebalkan. Hah baiklah, setelah ini kamu harus tutup mulut. 50 juta cukup?”
‘Cukup Nona, terima kasih banyak Nona. Saya siap sedia membantu Anda, apapun itu.’
“Bagus, seorang pelayan memang harus mematuhi tuannya. Kamu memang setia dan tahu diri.” Pungkas Tsania masih mengamati penampilan tas. “Aku merasa ada sesuatu yang salah.” Gumamnya.
Satu tangan Tsania perlahan menggeser resleting tas hitam itu. Kedua matanya terbelalak, keterkejutan tidak bisa ditutupi dari raut wajah. Setelah di buka tas itu berisi batu kecil yang sangat banyak.
“Arghh … kurang ajar kau Edrea Aurora. Aku bersumpah membuatmu hancur berkeping-keping, berani sekali mengelabui ku.” Tsania murka, melempar segala benda dari atas meja. Mendorong tas hingga kerikil berhamburan ke atas lantai.
“Kau, kau tidak becus. Hal
seperti ini terlewati. Dasar tidak berguna, kembalikan uangku sekarang juga!” Kedua tangan Tsania mengepal, menarik kuat rambut panjang yang terikat itu. Api amarah membakar seluruh tubuh Tsania.
Karena gelap mata, melempar vas bunga, ia melukai anak buahnya, seketika darah mengucur deras dari kepala. Seseorang itu tersungkur tidak sadarkan diri. Kini di ruang kerja Marvin tercium bau amis yang sangat mengganggu.
“Hah bagaimana ini? Kalau Marvin tahu, bisa gawat.” Tsania mulai kebingungan, dia tidak bisa membiarkan anak buahnya mati atau terbangun dan melaporkan semua kejadian pada Marvin.
Lantas Tsania segera membawa orang itu ke rumah sakit, ia memiliki rencana cadangan agar semua tetap aman. Dirinya pun bertanggung jawab atas semua ini.
“Bersihkan ruang kerja Marvin, dan tutup mulut kamu.” Perintah Tsania kepada preman di depan rumah.
**
Di sisi lain, Edrea tengah menyesap teh hijau ditemani layar laptop yang menyala, menampilkan naskah film. Serta irama musik jazz membantu menenangkan pikiran.
“Aku ingin lihat, setelah ini apa yang bisa kamu lakukan? Masih menganggap ku wanita jelek, bodoh dan cacat? Atau memohon ampun?” ujar Rea tersenyum sinis.
“Kamu ngomong sama siapa Re?” Anyelir mendadak muncul membawa cinnamon roll. Memasukan ke dalam mulut Rea. “Makan Re, jangan minum terus. Badan kamu terlalu kurus.”
“Kamu menyebalkan An. Aku masih kenyang tapi ya sudah lah.”
“Apa yang kamu pikirkan? Tuan Eberardo Torres atau Marvin Curry sang pengecut itu? Aku harap kamu bisa melupakan lelaki seperti dia.” Tukas Anyelir.
“Ck untuk apa memikirkan dua pria itu? Mereka seperti anak-anak hobi bertengkar. Aku hanya sedikit senang bisa memberi kejutan manis untuk Tsania.” Jawab Rea kemudian terbahak-bahak membayangkan betapa marahnya Tsania.
“Apa? Kenapa?”
Rea menceritakan semua kegiatannya pagi ini, tidak percuma mengeluarkan tenaga lebih. Membawa tas yang sama tetapi dengan isi berbeda, satu uang tunai, satunya lagi batu kerikil.
Sebelum ke bank, artis cantik ini menyempatkan diri pergi ke toko bahan bangunan, membeli banyak batu kecil.
Rea yakin hanya dipermainkan, mana mungkin orang itu menjual informasi dengan tawar menawar yang singkat.
Awalnya menyerahkan tas berisi uang tunai, tetapi ketika seseorang itu lengah Rea segera menukarnya dengan tas lain.
“Waw jenius. Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan itu. Dari mana idenya? Tidak mungkin diajari oleh Ayah atau Bunda, iya kan?” Anyelir pun turut tertawa, karena emosi Tsania mudah terpancing pasti saat ini tengah menggerutu.
“Dari sepupu dan pamanku.” Jawab Rea mengambil satu cinnamon roll milik temannya.
Namun perjuangan Rea belum selesai, harus mengumpulkan bukti kejahatan mantan suaminya. Setelah itu menghancurkan Marvin ke lubang terdalam. “Tunggu aku Marvin.”
Sementara rekaman suara belum bisa dipastikan milik Marvin, memerlukan penelusuran lebih lanjut. Rea tidak mau gegabah menjerat dengan bukti seadanya. Semua harus sistematis dan memberatkan Marvin, hingga pria itu tidak bisa berkelit dan membebaskan diri lagi.
Di sela pemikirannya tentang semua kejahatan Marvin. Tiba-tiba saja Rea teringat akan sosok yang belakangan ini menjadi model dan artis dadakan.
“Eberardo Mikhael Torres?” gumam Rea.
“Nah kan, apa aku bilang. Hati kamu pasti bisa terbuka Re. Aku dukung dengan Tuan Muda Torres. Semangat temanku Edrea.” Anyelir selalu salah tanggap, berpikir bahwa Rea telah terpikat dengan pria berhidung mancung dan memiliki paras rupawan.
Tetapi Rea tidak menanggapi, lebih sibuk bersama sekumpulan pertanyaan yang muncul.
“Di mana ya aku menyimpannya?” Lelaki itu menawarkan jasa keuangan kepada Rea, memberinya kartu nama sebuah kantor akuntan yang baru saja berdiri milik salah seorang rekan Eberardo.
Sekarang sangat sulit memberi kepercayaan kepada orang, bisa jadi mereka pengkhianat meskipun bertahun-tahun berada di sampingnya. Tapi Rea yakin Eberardo pilihan yang tepat dan tidak salah.
Rea berlari masuk ke dalam rumah memeriksa seluruh sling bag serta tas besar keperluan syuting, sama sekali tidak menemukan kertas kecil berisi nama, alamat dan nomor telepon.
“Ah sial, kenapa aku bisa lupa. Kan sudah di foto kartu namanya.”
Sesegera mungkin Rea menghubungi dan membuat janji temu, beruntungnya tidak mengantre.
Sore ini Rea segera menyambangi kantor akuntan, konsultasi masalah yang sedang dihadapinya.
Edrea tidak lupa membawa beberapa bukti transaksi mencurigakan milik Marvin. Ia tidak sabar mengungkap kejahatan, ke mana saja aliran dana itu pergi.
Semua penjelasan akuntan dan gerak gerik serta kepribadiannya diamati oleh Rea. Trauma ditipu segelintir oknum tak bertanggung jawab yang hanya memanfaatkan kebaikannya saja.
“Bagaimana Nona Rea? Kalau masih ada yang ingin ditanyakan silakan jangan sungkan.”
“Saya pikir cukup.” Rea mengangguk pelan menanggapi kalimat akuntan. Dirasa cocok dengan jasa akuntan, Rea menyerahkan semua penyelidikan itu kepada akuntan, sebab dia masih disibukkan menyelesaikan kontrak sejumlah film.
“Saya tidak bisa memantau pergerakan Marvin, karena banyak kontrak film dan iklan yang harus diselesaikan.”
“Serahkan kepada kami Nona. Anda pasti puas.”
“Baik, kalau begitu saya permisi.” Edrea merapatkan penyamaran, karena ia tahu Marvin menyimpan mata-mata yang menguntit ke sana kemari.
Dalam perjalan pulang, Rea mendapat informasi dari Anyelir, ternyata namanya masuk nominasi artis pendatang baru terfavorit.
“Serius An? Ini awal yang bagus.”
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Day
mantap Re
2023-07-08
0