Pagi-pagi tidak ada angin atau hujan badai, Marvin mengamuk di kantor. Semua tak lain karena mantan istrinya, selalu membuat pikiran dan kesabarannya teruji.
“Di mana dia? Kenapa belum terlihat dari kemarin malam. Orang lapangan bilang kalau Rea hari ini syuting.”
Marvin yang masih tak jera mengejar kembali mantan istri dibuat pusing karena Rea mendadak menghilang, “Rea, jangan menggantung hubungan kita seperti ini. Aku membutuhkan kamu.” Lirih Marvin benar-benar dibuat mabuk oleh Rea.
Preman bayarannya tidak mengetahui keberadaan Rea. Terpaksa Marvin menunggu tepat di depan rumah keluarga Nugraha. “Menyusahkan saja, kenapa kali ini lebih sulit mendapatkan Rea? Apa harus menggunakan cara licik?”
Marvin sangat yakin bisa memaksa Rea kembali menikah dengannya. “Jangan Marvin, Rea yang sekarang sedikit pintar, bisa bahaya kalau dia tahu, akhirnya menjauh. Pelan-pelan saja, wanita lebih suka dirayu tipis-tipis.”
Senyum mengembang di bibir mantan aktor terkenal ini. Tampaknya isi kepala Marvin sudah mengalami kerusakan, di dalamnya hanya terfokus pada Edrea, ia tidak mementingkan penampilannya yang berantakan.
Drt ... drt
Di sela menunggu mantan istri, nama Tsania tertera pada layar ponsel, “Apa lagi ini? Wanita lintah, bisanya menghabiskan uang saja.” Melirik benda pipih yang tersimpan di jok samping kemudi.
Awalnya pria ini malas menanggapi Tsania, tetapi karena rasa penasaran jauh lebih besar. Tangannya iseng menggeser pop up di layar, betapa terkejutnya Marvin menerima pesan berupa gambar.
“Ini tidak lucu Tsania.” Teriak Marvin, lantas menyalakan mesin mobil, secepat kilat pria ini melaju ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah, Marvin melangkah mantap sembari mengepalkan tangan. Wajah bengisnya kentara sekali menolak kebenaran akan suatu hal yang mengejutkan. Dia menendang pintu utama menuju kamar dan membuka secara paksa, hingga salah satu engselnya terlepas.
“Marvin?” Tsania terperanjat.
“Kau? Berani sekali, hah?” geram Marvin, kilat amarah tidak lagi bisa ditutupi dari kedua matanya.
“Berani apanya Marvin?” Tsania menelan ludah, ketakutan. Dia pikir kekasihnya ini mengetahui semua kejadian satu hari yang lalu di ruang kerja.
Dagu Marvin terangkat, rahang tegas berambut halus itu mengeras, jari telunjuknya terangkat, menunjuk perut Tsania dengan otot-otot menegang.
Melihat Tsania yang duduk sembari memegang dan memandangi foto hitam putih. Marvin melangkah cepat, merebut kertas kecil di tangan kekasih gelapnya. “Kemari kan! Di mana otakmu Tsania?”
Tidak terima dibentak oleh pria yang dicintai, membuat Tsania berani melawan. Ia berdiri, bertolak pinggang, menatap sengit kedua mata Marvin.
“Otak? Tentu saja ada Marvin. Kenapa? Tidak suka? Dia anakmu. Sebaiknya kamu hentikan mengejar mantan istri. Percuma!” tegas Tsania, begitu merindukan sikap manis dan menyenangkan Marvin.
“Apa? Rea lebih berarti dibanding anakmu itu Tsania. Ia hanya menjadi beban.” Dengan teganya Marvin mendorong Tsania sampai terjatuh ke atas kasur.
“Marvin, kamu jahat. Aku lagi hamil seharusnya dimanja bukan diperlakukan kasar seperti ini.” Teriak Tsania tidak terkendali.
Sudah tentu Marvin menolak kehadiran anak dalam kandungan Tsania, “Gugurkan sekarang juga, lakukan di depan mataku. Aku tidak mau menjadi seorang ayah. Selama menikah dengan Rea saja aku tak menginginkan anak, apalagi sekarang, keadaannya berbeda.”
Marvin memaksa wanitanya untuk melenyapkan bakal janin dalam kandungan. Lebih parahnya lagi, secara tegas Marvin mengatakan bahwa itu bukan miliknya.
“Dia pasti anak pria lain. Wanita sepertimu pasti tidur dengan banyak orang, bukan hanya aku.”
“APA? Heh Marvin jaga mulut kamu ya, aku memang tidak suci tapi bukan berarti melakukan itu semua.” Mendengar pernyataan penolakan dari Marvin membuat Tsania berang.
“Ini anak kamu Marvin. Apa kamu lupa hah selalu melakukannya denganku dalam keadaan sadar?” dada Tsania kembang kempis, deru napasnya terdengar kasar.
Dia tidak menangis sama sekali, karena Marvin tidak akan luluh walaupun keluar air mata darah.
Semula Tsania pikir, setelah mengetahui dirinya hamil, Marvin segera menikahinya. Menjalani kehidupan normal, merawat bayi sampai besar, melupakan cintanya terhadap Rea. Ternyata ayah dari bayinya berencana membunuh anak mereka.
“Kamu gila Marvin, tidak waras.” Suara melengking Tsania menggema dalam ruangan. Emosinya meledak-ledak ditambah pengaruh hormon menjadikannya semakin tak terkendali.
Membalas mendorong Marvin hingga membentur dinding, mencengkeram kerah kemeja.
Marvin menepis tangan Tsania cukup keras, “Lepas! Aku memang gila, dan ini semua karena kamu. Aku bercerai dari istriku karena kamu, bibirmu itu terlalu jahat Tsania.”
“Dengar baik-baik. Aku Marvin Curry sampai kapanpun tidak akan mengakui anak itu. Mengerti kau, hah?”
Marvin tidak ingin memiliki anak dari wanita manapun, ia tidak mau terikat selamanya bersama wanita. Belum lagi setelah perut membesar dan melahirkan, pasti wajah dan tubuh wanitanya menjadi jelek, Marvin membenci hal ini.
Sebagai seorang pria normal ia menginginkan keindahan, bukan pemandangan buruk rupa, kecuali Tsania memiliki sumber tambang emas. Mungkin Marvin bisa memikirkan ulang, tetapi kalau hanya menghabiskan uangnya, tentu saja tidak mau hartanya tergerus.
“Kamu juga harus dengar Marvin. Aku tidak akan menyerah demi mendapatkan semua hak anakku. Anakku berhak hidup.” Balas Tsania lalu memukul keras pipi kekasihnya.
PLAK
“Itu sebagai hadiah kecil karena kamu menolak darah dagingmu sendiri.”
“Berani sekali kau Tsania? Seluruh raga ku itu aset berharga, melukai seenaknya saja.”
“Kamu pikir tubuhku bukan aset? Karena hamil aku tidak bisa syuting lagi, tidak bisa hidup bebas, semua ini salah kamu Marvin.” Tsania membalik tubuh, rasanya benci memandang wajah Marvin.
Pertengkaran hebat antara Marvin dan Tsania tidak terelakan, keduanya saling beradu argumen, tidak ada yang mengalah satu sama lain.
Ketika mantan kekasihnya lengah, Marvin segera mengakhiri pertengkaran dengan memukul kepala Tsania hingga pingsan.
“Mulutmu itu berisik Tsania, telingaku sakit. Apa susahnya mengugurkan kandungan, minum obat atau pergi ke dokter kan bisa. Tidak perlu membuang waktu seperti ini.” Marvin menghela napas.
Lantas menghubungi seseorang yang sangat dipercaya, “Hei, ada di mana? Masih di tempat lama? Aku ke sana. Nanti ku kirim secara detil, dan kamu jangan menolaknya.”
Tanpa membuang waktu Marvin membawa tubuh Tsania ke suatu tempat yang jauh dari ibu kota. Dia sengaja menukar mobilnya, menggunakan kendaraan roda empat yang di sewa atas nama orang lain.
Tidak lupa mampir ke salah satu apotek, membeli obat-obatan yang diterimanya melalui pesan singkat.
“Aku tidak akan minta maaf Tsania. Salahmu sendiri sampai hamil.” Pria ini tega memberikan obat tidur dosis tinggi kepada Tsania.
“Sekarang tidurlah, perjalanan kita masih jauh. Jangan bangun sebelum sampai tujuan.” Marvin menyeka keringat pada kening Tsania, kemudian mendaratkan kecupan.
Dia kembali fokus menginjak pedal gas hingga speedometer menunjukan angka 160. Melesat melewati jalan tol, kota, kemudian melintasi jalan sempit hanya cukup satu mobil, dengan hutan-hutan kecil di kiri dan kanan.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments