Ternyata Marvin membawa Tsania ke villanya, cukup jauh dari ibu kota. Akses jalan pun sulit, medannya berat, selain itu tidak dekat dengan permukiman penduduk. Tempat ini di beli oleh Marvin pertama kali menggunakan hasil jerih payahnya, berangkat gelap dan pulang tengah malam.
Di villa sudah menunggu dua orang tenaga medis ilegal dilengkapi dengan peralatan aborsi yang dibawanya, dari speculum, sekrup khusus, dilators (besi panjang) tebal dan tipis, kateter penghisap, serta beragam botol obat, infus dan oksigen.
Marvin sengaja tidak mengunjungi klinik aborsi, selain tempatnya cukup terbuka, menerima banyak pengunjung. Dia pun harus mengantre, khawatir Tsania terbangun lalu melarikan diri. Bisa-bisa rencananya hancur berantakan.
Merebahkan Tsania di kamar tamu, membuka pakaian dan menggantinya dengan baju khusus operasi. Dia sempat menatap perut rata itu, bukan pancaran kasih sayang melainkan rasa benci. “Kau harus pergi, jangan mengganggu hidupku.”
Selesai melepas pakaian mantan kekasihnya Marvin berjalan keluar kamar. Menemui kedua orang yang menunggunya sejak tadi.
“Terima kasih sudah datang, lakukan tugas kalian. Aku pasti membayar 2 kali lipat. Ingat untuk merahasiakan semua ini dari siapapun.” Tukas Marvin melirik Tsania yang terbaring. Tidak ada belas kasih dari kedua matanya, dibutakan oleh ambisi dunia.
“Siap Tuan. Selama sesuai perjanjian bukan masalah.” Ucap seorang wanita yang menggunakan masker medis.
“Tapi … Tuan yakin? Kami hanya perlu memastikan saja , agar kedepannya bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jangan menggugat satu sama lain.” Seorang perawat menyerahkan selembar surat perjanjian serta rekaman bahwa hal ini memang dikehendaki oleh Tsania dan Marvin.
“Kalian itu bawel sekali ya. Mau uang tidak? Atau aku cari yang lain, pergilah!” Marvin kehilangan kesabaran. Masalah yang menimpanya satu pun belum selesai, sekarang ditimpa persoalan baru.
“Ja-jangan Tuan. Kami bersedia, permisi.” Dokter dan perawat melenggang pergi dari hadapan Marvin. Memasuki salah satu ruangan di villa.
Semua peralatan dikeluarkan dari dalam tas besar, berjajar di atas meja. Perawat mempersiapkan beberapa obat.
“Maafkan kami Nona.” Tenaga medis ini melihat Tsania dengan iba. Biasanya ia menangani pasien secara sadar bukan dalam keadaan tidur. Bisa dibayangkan reaksinya ketika mengetahui calon bayinya sudah menghilang.
“Ayo kita lakukan dengan cepat dan pergi dari sini. Tidak perlu banyak bertanya dan menggunakan perasaan.” Pesan rekannya yang lain. berurusan dengan Marvin cukup berisiko, jika terungkap maka lokasi praktiknya di pelosok bisa disegel serta diincar pihak berwajib.
Tsania yang masih tidak sadarkan diri, kembali menerima suntikan berupa peluruh dan memicu adanya kontraksi agar mulut rahim terbuka. Setelah itu dibius demi lancarnya proses aborsi. Dentingan dari dilators tebal dan tipis menjadi irama menyeramkan di ruangan luas ini.
Dalam pengaruh obat bius pun Tsania masih merasa sakit atas kontraksi yang dialami. Darah sudah mengalir dari pangkah paha, lumayan deras.
Cukup 20 menit tenaga medis ilegal menyelesaikan proses berbahaya, mereka pun keluar dari kamar. Membawa bakal janin yang kini bersatu dengan cairan merah.
“Selesai Tuan. Janinnya masih sangat kecil Tuan, tidak bisa terlihat jelas, masih berupa gumpalan.’ Menyerahkan satu tabung ke tangan Marvin.
Tetapi pria itu enggan menerima. Sembari bersedekap dada, Marvin memandangi calon anaknya yang berhasil dikeluarkan secara paksa tanpa belas kasih.
“Baguslah, bonus untuk kalian sudah disiapkan dalam tas. Ingat untuk tutup mulut, kalau sampai berita ini tersebar. Siap-siap kalian berdua ku hancurkan.” Tegas Marvin tidak main-main dengan ancamannya.
Dia kembali mengeluarkan dana dalam jumlah besar, semua demi nama baik di dunia artis dan Edrea, jika anak dalam perut Tsania tetap hidup maka Marvin selamanya terikat dengan wanita itu.
“B-baik Tuan, terima kasih atas kerja samanya.” Membawa tas besar berisi puluhan juta uang tunai.
Sementara Marvin masih menyesap sebatang rokok, menghirup aroma nikotin agar pikirannya sedikit tenang. Ia tidak menyangka perbuatannya membuahkan hasil, padahal sudah melakukan hal itu lebih dari satu tahun.
“Kau hanya pengganggu kecil yang mudah dilenyapkan. Jangan salahkan aku, karena kehadiranmu memang tidak diinginkan. Tsania juga bukan wanita baik-baik, aku tidak mau keturunan ku lahir dari perempuan seperti dia.” Cibir Marvin.
Tidak ada penyesalan sama sekali di dada Marvin, bahkan ia melihat dan mengubur gumpalan darah tersimpan dalam tabung dengan tenang. Egonya menolak untuk dihakimi oleh apapun.
Setelah mengubur calon anaknya, Marvin membuat makanan untuk Tsania. Setidaknya masih memiliki setitik rasa peduli kepada wanita yang selalu membahagiakannya di atas ranjang.
Kedua tangan Marvin cukup lihai mengolah bahan makanan dan menyiapkannya di atas meja kecil samping ranjang. Sementara ia merapikan semua barang karena sore ini harus kembali ke ibu kota untuk bertemu dengan Rea.
“Makan yang banyak Tsania, aku mau pulang. Istirahatlah 2 atau 3 hari di villa sampai badanmu benar-benar sembuh.”
Rupanya Tsania telah terbangun sejak Marvin masuk kamar membawa bubur, model cantik itu menangis karena sikap kekasihnya.
“Kamu jahat Marvin, membunuh anak kita.”
Pandangan Tsania kosong ke depan. Kemarin setelah selesai menyelesaikan masalahnya di rumah sakit, tiba-tiba kepalanya pusing. Betapa terkejutnya ketika memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa ia sedang hamil.
Tidak perlu susah payah mencari siapa ayah dari bayinya, karena beberapa bulan ini Tsania hanya berhubungan dengan Marvin.
“Kurang ajar kamu Marvin. Kamu bukan manusia, kamu lebih cocok menjadi monster.” Isak tangis Tsania, meraba perut datarnya.
Kemarin masih sempat melihat lingkaran kecil disertai detak jantung yang membuat hatinya tersentuh. Terhitung hari ini semua sirna, direnggut paksa oleh seseorang yang dipuja bagai dewa olehnya.
“Aku pastikan membuat perhitungan. Aku ini bukan hewan yang dibuang begitu saja kalau kamu sudah bosan.”
“Aw sakit … perut dan pahaku juga sakit.” Tsania mengerang di atas ranjang besar, dalam ruangan kosong yang menambah lebar luka tak kasar mata. Ditambah lagi rasa sakit dan ngilu pada bagian perut bawah serta organ vitalnya.
Susah payah Tsania turun dari ranjang, menurunkan kedua kaki yang begitu lemas efek obat bius belum sepenuhnya menghilang. Semua benda dalam kamar seolah terbagi 2,memantul ke atas dan bawah.
Lantas melirik seprei dengan cipratan noda darah, “Anakku.”Tsania menyusut mata, dalam pandangannya Marvin hidup bahagia bersama Rea di atas penderitaannya.
“Lihat saja kamu Rea, kalian tidak akan pernah bahagia. Apalagi sampai memilik anak, kedua tanganku sendiri yang menghancurkan kalian berdua.”
“Argh … aku benci kamu Rea, semua karena kamu hidupku jadi susah dan penuh luka.” Teriaknya menggelegar sampai keluar villa.
Tiba-tiba saja perutnya bunyi, Tsania banyak kehilangan tenaga. Jiwa dan raganya terlalu banyak bekerja untuk hal-hal tidak berguna. Dia langsung menyantap makanannya sangat cepat sakan tidak mengisi perut berhari-hari.
Kemudian istirahat sebelum menghampiri Marvin dan Rea untuk membalaskan dendamnya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments