BAB 4 Kejadian Yang Tidak Terduga

Memastikan semua kegiatannya selesai dengan sempurna. Selepas selesai persidangan, Rea mengunjungi salah satu cafe milik keluarga. Ia membuat janji temu dengan teman terbaiknya yang sudah lama hilang kontak.

Akibat menikahi Marvin, Rea kehilangan dunia indah, selalu mengurung diri di rumah. Sebab pria itu tidak ingin Rea mempermalukan nama besar Marvin di dunia hiburan.

Temannya yang bernama Anyelir, bekerja di salah satu Production House terbesar yang berhasil meraih banyak penghargaan setiap film atau drama televisi.

Rea sudah memutuskan akan terjun ke dunia hiburan, menunjukkan dirinya mampu melebihi Tsania dan Marvin, bahkan merebut posisi mereka sebagai artis papan atas.

“Rea?” panggil Anyelir sudah duduk di salah satu meja.

Edrea tersenyum merekah, karena Anyelir bukanlah tipe wanita jam karet, dia selalu in time sama seperti dulu. Rea yakin, Anyelir partner yang bisa mendampinginya hingga sukses.

“Bagaimana? Sudah selesai? Lancar kan prosesnya? Aku harap manusia seperti itu mendapat hukuman yang setimpal.” Kalimat penyambutan Anyelir tidak biasa, beginilah jika teman baik. Mengungkap semua tanpa sungkan.

“Ya, menjijikan sekali masih berstatus istrinya. Sekarang aku bebas, bisa melakukan apapun sesuka hati tanpa terhalang orang itu.” Rea tertawa miris, karena sebelumnya makan di luar pun tidak diizinkan Marvin.

Rea dan Anyelir benar-benar melepas kerinduan, saling bertukar cerita baik menyedihkan atau menyenangkan, semua diungkap. Hingga tidak terasa hari berubah menjadi gelap, pengunjung cafe pun tersisa beberapa orang saja.

“Kamu ikut mobil aku ya, jangan naik taksi apalagi bus.” Ucap Rea sembari membayar makanan dan minuman mereka.

“Siap, janda manis.” Anyelir pun mengangguk, menyetujui ajakan Rea.

Keduanya melangkah keluar cafe, menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Lantaran area cafe penuh, terpaksa sore tadi Rea menepikan kendaraannya di pinggir jalan.

Bertepatan Rea membuka pintu mobil, sekelompok preman berusia remaja tanggung menghadang, bau alkohol menguar tajam.

Mereka menggoda Rea dan Anyelir, tatapan mata dan kata-kata tak pantas keluar dari mulut, berniat melakukan pelecehan terhadap Rea serta Anyelir.

‘Jangan pergi dulu cantik, badanmu bagus cocok jadi teman tidur kita.’

“Ck lebih baik kalian lakukan hal bermanfaat bukan mengganggu orang.” Tegas Rea menatap sengit

Anyelir ketakutan sama halnya dengan Rea. Keduanya saling berpegangan erat. Berusaha menyembunyikan rasa cemas.

“Re, aku takut, gemana ini? Di sini sepi lagi. Ya ampun Re, maaf ya karena aku, kita jadi terlambat pulang.” Lirih Anyelir, memberengut.

“Tenang An, pasti ada jalan. Kita bisa selamat, jangan mau terperangkap bersama kumpulan manusia seperti ini.” Balas Rea, otaknya berpikir keras untuk menemukan cara yang pas.

Seorang preman nekad mengulurkan tangan, hendak menyentuh dagu lancip Edrea.

‘Cantik banget, mending ikut ke hotel kaktus di ujung jalan. Dijamin puas, ayo sayang.’

Namun Rea menepis kuat tangan pemuda itu, hingga terhuyung ke belakang. “Jangan kurang ajar, singkirkan tangan kotor kamu!”

TIndakan Rea memancing dan menimbulkan amarah kawanan pemuda penikmat alkohol itu.

‘Hey dasar perempuan, berlagak suci. Kalau kalian memang baik-baik mana mungkin malam begini ada di luar rumah.’

‘Sudah jelas kalian itu wanita pencari kepuasan karena pacar atau suami di rumah tidak memuaskan.’

Melihat gelagat yang semakin membahayakan, Rea melepas stiletto, mengarahkan benda runcing itu ke preman. “Awas kalau berani melangkah lagi, aku tidak segan menusuk kalian semua”.

‘Uhhh takut. Tambah galak ya, pasti liar banget di ranjang. Hahaha.’

‘Sikat bro, jangan kasih kendor.’

Satu temannya melangkah maju, karena kurang perhitungan dan lengah, tidak menyadari pergerakan cepat Rea. Menendang salah satu organ vital lalu menancapkan benda runcing ke punggung.

BUGH

CRASH

‘Aaargh … dasar wanita murahan’

“Hey, pengecut. Beraninya berhadapan dengan wanita. Sini maju, kalau berani!” tantang seseorang yang baru saja datang entah dari mana asal usulnya.

BUGH

Di luar dugaan, Marvin memukul para preman, dengan gaya santainya mengecoh tetapi para pemuda semakin bertingkah, bahkan mengeluarkan pisau lipat.

Kedua mata Marvin melebar, terkejut karena sesuatu yang tidak sesuai nalar serta prediksi. Ia pun mendadak panik dan kebingungan, mematung di tempat.

Pemuda mabuk itu melangkah, tidak memedulikan Marvin, incarannya adalah Rea dan Anyelir. Namun,  Rea menendang kaki salah satu preman hingga pisau sedikit meleset, menyayat paha Marvin.

“Aaargh … sakit.” Teriak Marvin histeris mendapati dirinya terluka, kemudian terdiam, mengepalkan tangan, marah. Blue jins merek ternama pun basah oleh cairan merah.

Karena melukai seseorang yang bukan targetnya, disertai beberapa pengguna jalan mulai berkerumun, sekumpulan preman bergegas melarikan diri. Mereka takut dijebloskan ke penjara.

“Re, ya ampun Re, Marvin.” Anyelir gemetaran, memiliki phobia terhadap cairan kental merah tersebut.

“Tenang An, jangan panik.” Rea melirik Marvin, tergelatak di atas trotoar seraya memegang pahanya, darah pun mengalir cukup banyak.

“Rea sayang, tolong aku. Jangan pergi.” Marvin memanfaatkan situasi demi meraih hati mantan istri.

“Kamu kan bisa sendiri, jangan-jangan preman tadi anak buah kamu. Aku tahu akal licik di kepala kamu Marvin.” Sanggah Rea, enggan menolong mantan suaminya itu.

“Re, kita bantu saja Re, kalau dia kehabisan darah di sini gemana Re? Apalagi kalau mati, kita pasti jadi saksi kunci di pengadilan.” Anyelir tidak dapat berpikir jernih, terperangkap dalam rasa takut.

Anyelir pun memaksa Rea menolong Marvin. Terharu atas sikap yang berusaha menolong tetapi malah terluka, mengorbankan diri sendiri.

“Baiklah, kamu bantu dia berdiri.” Akhirnya atas dasar kemanusiaan Rea memutuskan membawa mantan suaminya ke rumah sakit. Mengabaikan uluran tangan Marvin yang ingin mendapat perhatian darinya.

“Kamu bisa sendiri Marvin, jangan manja.” Kata-kata Rea terdengar pedas menusuk telinga seorang aktor seribu pesona itu.

“Jual mahal. Lihat saja nanti, aku pastikan kamu jatuh ke pelukan Marvin Curry, bahkan mengemis cinta aku. Jangan lupa Rea, dulu kamu begitu menyayangi aku, tidak mudah menghapus kenangan bukan?” desis Marvin dalam hati, kesal mendapat penolakan mantan istri.

Anyelir memapah Marvin, menahan rasa takutnya, melihat darah mengalir dari paha. “Ayo Marvin, kamu juga bantu aku.”

“Ok” balas Marvin mengikuti langkah Anyelir, tetapi sebelum masuk ke mobil, pria ini melihat beberapa orang yang baru saja dikenalnya sore tadi.

Seketika kedua mata Marvin melotot, menggeleng pelan tidak percaya. “Dasar tidak becus, hanya ingin uangnya saja.” Geramnya, menyadari bahwa sekumpulan preman mabuk yang melukainya bukanlah orang bayaran Marvin, maka dari itu mereka sangat berani.

Padahal Marvin membayar mahal beberapa orang untuk mengganggu dan menahan Rea, hingga dirinya datang menyelamatkan wanita itu untuk kedua kali.

“Sial, semua rencana gagal. Argh … uang melayang, merebut hati mantan juga tertunda.” Keluh Marvin, mendengus sebal.

Lelaki itu memberikan bahasa isyarat kepada anak buahnya untuk menjauh. Sebelum Rea dan Anyelir menyadari, bahwa sekelompok orang asing bertubuh besar serta menyeramkan datang mendekat.

TBC

***

ditunggu dukungannya kakak 😉🙏

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

seruuu 👍🤗

2023-06-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!