CHAPTER 20 – CIUMANNYA KOK MALAH KE PAMAN?

Cassian lantas mengantar Kania pulang ke rumahnya setelah dia mengetahui bahwa dirinya tidak aman berjalan sendirian di tengah malam buta itu.

Cassian telah lupa akan tujuan awalnya mendatangi Kania untuk memastikan apakah selama ini dia mendekati Dilan karena dia tahu bahwa Dilan itu keponakannya.

Setelah memastikan bahwa Kania berada di tempat yang aman, Cassian hanya segera akan beranjak pulang.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Ujar Cassian dalam nada rendah.

Namun begitu Cassian hendak melangkahkan kakinya pergi, Kania tibairba saja meraih tangan kanan Cassian dari arah belakang.

“Tunggu sebentar. Luka di lengan kanan Anda tampaknya cukup parah dan membutuhkan pengobatan segera. Ayo singgah di kost-an-ku sebentar untuk mengobatinya.”

Akan tetapi, Cassian segera menolak tawaran tersebut.

“Tidak usah. Aku bisa mengobatinya nanti di rumah sakit.”

Mendengar jawaban Cassian itu, seketika muncul urat saraf di pelipis Kania.

“Apa Anda pikir Kota Makassar ini kota besar, hah? Memangnya ada rumah sakit yang buka di jam sekarang? Terlebih, UGD di Makassar tidak sebaik itu menerima pasien luka-luka. Bisa-bisa Anda malah akan dilaporkan polisi karena dikira penjahat yang habis berantem.”

“Heh.” Cassian tiba-tiba tertawa.

Dia sendiri tidak tahu mengapa dirinya yang biasanya berekspresi datar tersebut bisa tertawa seperti itu di hadapan orang asing.

Apakah itu karena Cassian merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Kania itu lucu perihal tidak ada di dunia ini yang tidak bisa dibeli oleh uang sehingga mulut petugas medis di ruang UGD pun bisa segera dibekap dengan uang untuk tidak mempertanyakan asal luka-luka di tubuh pasien jikalau itu diperlukan?

Lagipula Cassian bukan kriminal sehingga tidak ada gunanya juga dia khawatir soal itu.

Mungkin jika ada sesuatu yang dikhawatirkan oleh Cassian, itu adalah wartawan yang bisa segera menyihir suatu fakta dengan permainan kata-kata yang segera akan membahayakan posisi keluarganya di mata publik jika sampai dirinya yang terluka parah di lengan itu terekspos ke media massa.

Tapi untuk kasus yang terakhir itu, itu pun bisa dibeli dengan uang.

Seketika lampu hijau menyala di atas kepala Cassian.

'Ah, jadi ini ya yang namanya diperhatikan?'

“Hei, Tuan Muda dari keluarga konglomerat, apa Anda mendengar ucapanku barusan?”

Ucapan Kania yang selanjutnya segera membuyarkan Cassian dari pikirannya sendiri.

“Lagipula apa Anda bisa menyetir pulang dalam keadaan luka parah di lengan seperti itu?”

“Kan sudah kubilang, luka seperti ini bukan masalah bagiku.”

“Anda tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi di jalan. Bagaimana jika selama di perjalanan, rasa sakitnya tiba-tiba bertambah parah?”

“Aku punya banyak anak buah yang bisa segera datang kapan saja hanya dalam satu kali panggilanku di mana pun aku berada, jadi rasanya itu bukan masalah.”

“Tapi tetap saja… Bagaimana kalau luka-lukanya sampai menjadi tetanus karena terlambat diobati?”

“Justru Anda yang pikirannya terlalu ke mana-mana, Kania. Atau apa Anda sedang mendoakanku dengan ucapan Anda barusan itu?”

Kania terkesima pelan oleh ucapan tiba-tiba Cassian tersebut sehingga muncul sedikit rasa bersalahnya atas mulutnya yang sembarang ucap.

“Mana mungkin begitu. Ih, pokoknya ayo masuk ke kost-an-ku dulu saja. Ah.”

Kali ini lampu hijau itu menyala di atas kepala Kania.

“Atau jangan-jangan Anda pikir aku terlalu miskin, jadi Anda menolak pengobatan saya karena takut luka Anda malah akan semakin parah setelah saya obati?”

Tidak, itu lampu merah.

“Bukan…. Bukan seperti itu.”

Cassian sejenak tergagap.

Dia tidak tahu juga mengapa arah pembicaraannya sampai ke situ.

“Gini-gini aku juga punya peralatan P3K di rumah yang sering aku gunakan untuk mengobati Edo yang sering luka-luka karena banyak pelanggan nakal di klub.”

Melihat Kania yang mulutnya memanyun, entah mengapa ada sedikit hal yang menggelitik di hati Cassian.

Suatu perasaan yang segera membuat Cassian merasa bersalah akan hal tersebut hingga akhirnya, Cassian memutuskan saja untuk menerima kebaikan hati Kania.

Dua sejoli pria paruh baya dan wanita paruh baya itu pun lantas segera memasuki kamar sempit seukuran 3 kali 3 meter tersebut hanya dengan berduaan saja.

Begitu memasuki area kamar, Kania segera mengarahkan Cassian ke atas kasurnya yang tidak beranjang tersebut.

Dengan sigap Kania bergerak merogoh-rogoh sesuatu dari suatu tempat yang gelap nan berbulu.

Kania segera tersenyum puas begitu menemukan sesuatu yang keras dari dalam tempat yang gelap nan berbulu itu lantas tidak menunggu lama Kania segera menariknya keluar dari tempat persembunyiannya.

“Cassian.”

Ujar Kania dengan lembut sambil penuh keringat sehabis keletihan merogoh-rogoh sesuatu di dalam tempat gelap tersebut.

“Aku mengatakan ini karena biasanya ada tipe pria yang tidak suka disentuh itunya. Jadi bisakah aku menyentuhnya?”

Dengan enteng pun Cassian menjawab, “Ya, tidak masalah.”

“Pakaian Anda menghalangi. Aku buka juga tidak masalah kan?”

“Ya, silakan saja.” Sekali lagi, Cassian menjawab dengan enteng.

“Tapi keadaan kamar Anda benar-benar pengap ya.”

Kania sontak menghentikan aktivitasnya begitu menyadari ketidaknyamanan Cassian tersebut.

“Ah, maaf, aku tidak punya kipas angin di kost-an karena kupikir itu pemborosan. Biar aku buka jendela sebentar.”

Tidak butuh waktu lama bagi Kania membuka jendela.

Usai membuka jendela, pandangan Kania segera kembali tertuju kepada Cassian.

Dia bolak-balik menatap antara sesuatu yang keras yang sedang dipegangnya dengan wajah Cassian yang tampan itu.

“Kalau begitu, aku mulai ya.”

“Heh.” Cassian hanya tertawa kecut menanggapi ujaran Kania.

“Tetapi apa-apaan dengan botol alkohol itu? Bukannya Anda bilang tadi mau mengobatiku dengan peralatan P3K? Tapi Anda malah menggunakan alkohol konsumsi?”

Melihat Cassian tertawa, entah mengapa Kania merasa dirinya diledek.

“Ukh. Antiseptik rumah sakit terlalu mahal. Lagipula ini kan sama-sama alkohol, tetapi ini harganya lebih murah dan juga bisa aku dapatkan gratis di sisa barang tak terpakai di klub.”

“Tentu saja itu murah karena itu barang ilegal, Kania. Kalau alkohol konsumsi yang berizin itu justru jauh lebih mahal dari harga antiseptik. Lagipula kandungan alkohol konsumsi sebenarnya sedikit berbeda dengan yang biasa dipakai mensterilkan luka.”

“Ukh. Tapi aku biasa kok menggunakan ini kepada Edo ketika dia terluka.”

“Tampaknya, Anda cukup akrab sekali ya dengan seseorang yang bernama Edo itu sehingga Anda sering menyebutkan namanya. Jangan-jangan dia pacar Anda ya?”

Sejenak pandangan Cassian menelisik ke arah Kania, namun mendengar itu Kania hanya tertawa lepas mengatakan bahwa Edo tidak lebih hanyalah sekadar teman baiknya selama berada di Kota Makassar tersebut, teman terbaik yang selama ini membantunya mengatasi berbagai kesulitan di kota antah-berantah yang tiba-tiba saja didatanginya tanpa persiapan apa-apa tersebut.

“Jadi tidak baik ya jika menggunakan alkohol seperti ini untuk mensterilkan luka…”

Terhadap pernyataan Kania itu, Cassian menggelengkan kepalanya.

“Tidak kok. Itu tidak masalah. Kandungannya memang sedikit berbeda, tetapi itu tetap bisa dipakai mensterilkan luka. Aku hanya ingin menggoda Anda saja barusan.”

Kania terkaget dengan ucapan Cassian tersebut.

Tiada satu pun di benaknya bahwa Cassian pernah bercanda di hadapannya dengan eskpresinya yang selalu terlihat serius itu.

Mengabaikan ucapan Cassian yang bagi Kania absurd tersebut, dia segera melepas setelan jas Cassian lantas menggulung lengan kemejanya lalu tidak butuh waktu lama bagi dia menumpahkan sedikit demi sedikit cairan bening itu ke luka-luka Cassian, lalu membalutnya dengan perban secara hati-hati.

“Lantas bagaimana dengan Dilan…”

Cassian tiba-tiba saja berujar kepada Kania, namun sebelum ucapan itu selesai diucapkannya, pegangan tangan Kania tiba-tiba saja terpeleset oleh licinnya botol.

Cassian yang lengannya masih terluka hingga tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik lantas ikut terperosok di atas tempat tidur dengan Kania yang menimpa dadanya itu.

Lalu secara ajaib, bibir mereka bersentuhan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!