CHAPTER 18 - SERANGAN

Edo mencengkeram kerah baju pria flamboyan itu kuat-kuat.

Dari wajahnya, bisa terlihat betul ekspresi marah dari Edo.

Namun pria flamboyan itu malah menyengir dengan tampang yang meledek.

“Hei, jangan pikir karena aku sedari kecil dekat denganmu, aku ini suka sama kamu. Aku ini penyuka wanita, tahu.”

-Plak.

Sebuah bogeman mentah pun dilemparkan oleh Edo ke wajah tampan pria flamboyan perihal omong kosongnya itu.

-Bruk.

Sang pria flamboyan seketika terpental jatuh ke kursi.

Tidak terima dengan sikap barbar Edo, sang pria flamboyan pun membalasnya dengan tinjuan yang tak kalah menyakitkannya.

-Klak.

Dari satu atau dua tinjuan, pertengkaran mereka pun semakin berkembang menjadi semakin besar layaknya menyaksikan suatu pertandingan adu smackdown secara live.

Itu sedikit menghibur karena Edo bertarung dengan gaya preman melambai khasnya yang meliuk-liukkan tubuhnya dengan lebih dramatis, namun di luar dugaan itu masih memberikan impak yang besar terhadap serangannya.

Sayangnya, sang pria flamboyan memiliki kelenturan tubuh yang lebih atletis ketimbang Edo sehingga dia mampu menghindari setiap tinjuan Edo dengan lebih baik sehingga Edo-lah yang duluan kehabisan stamina.

Dalam suatu gerakan penentuan, sang pria flamboyan akhirnya mampu untuk menjatuhkan Edo duluan ke tanah.

Adu smackdown antara sang preman melambai dan sang pria flamboyan diakhiri dengan kemenangan sang pria flamboyan.

“Aku mengatakan ini karena dulu kau adalah sahabat baikku. Jangan pernah coba-coba campuri urusanku lagi atau kali ini tidak akan berakhir dengan sekadar luka-luka, melainkan dengan bayaran nyawa, Edo.”

“Aku tidak pernah peduli dengan urusanmu atau apalah di keluarga Lekata. Tapi jangan pula kau pikir aku akan tinggal diam jika kau sampai melibatkan Kania!”

Terlihat bahwa sang pria flamboyan tidak lagi menanggapi ucapan sang preman melambai.

Dia hanya menyeka sedikit darah yang keluar lewat ujung bibirnya lantas meninggalkan tempat tersebut.

***

Dengan wajah lebam dan sudut bibir yang berdarah, Cassian memasuki ruangan kantornya.

Tanpa diduganya, Dilan telah menunggunya di dalam.

Dilan awalnya sedikit kaget melihat sang paman yang ketat aturan dan terlalu kaku hidupnya itu sampai lebam-lebam wajahnya yang menandakannya baru saja berkelahi, suatu perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan image-nya tersebut.

“Heh.” Melihat itu, Dilan tak lagi menahan senyum kecutnya.

“Paman selalu saja melarangku terlibat masalah dengan preman di jalanan, namun tampaknya kini Paman sendirilah yang baru saja melakukannya.”

Cassian hanya mengabaikan perkataan Dilan lantas bergegas duduk di meja kantornya dan mulai membuka dokumen-dokumen berisi tuntutan pekerjaan hariannya itu.

Dengan nada cuek Cassian membalas perkataan Dilan, “Tidak usah urusi urusan Paman, perbaiki saja sikap tak berakhlakmu itu selama berada di luar, Dilan. Karena bukan Paman, melainkan dirimulah yang dipilih oleh Kakek menjadi penerus perusahaan ini.”

Mendengar perkataan Cassian, wajah Dilan seketika suram.

Walaupun itu diungkapkan oleh Cassian secara cuek, seketika terbersit kecurigaan di balik kata-kata sang paman itu.

Lalu dengan nada rendah pun, Dilan mengatakan kepada sang paman, “Paman bukan yang melakukan itu semua kepada Bibi Kania, bukan?”

Cassian hanya menunjukkan tampang seolah keheranan lantas balas menjawab Dilan, “Kania? Kania siapa? Ah, si pramuria dari Klub Persik itu ya? Makanya sudah kubilang kau jauhi saja wanita itu. Itu semua terjadi padanya memang besar kemungkinan karena kau terlibat dengannya.”

-Prak.

Mendengar perkataan sang paman, Dilan refleks memukul meja yang ada di hadapan Cassian itu kuat-kuat lantas berteriak kepadanya dengan penuh amarah, “Sudah kubilang aku tidak pernah berniat mengambil alih perusahaan, Paman! Paman bisa berbuat apa saja sesuka Paman terhadap harta perusahaan! Tetapi tolong Paman jangan pernah menganggu hidupku lagi?!”

Dalam sekejap, frustasi nampak di wajah Dilan.

“Aku sudah bilang bahwa aku akan menjaga sikap, hidup serampangan begini, demi apa?! Demi supaya kakek buyut membenciku lantas memilih Paman sebagai pewaris selanjutnya! Tetapi mengapa Paman selalu saja mengacaukan hidupku?! Bisakah kumohon Paman jangan lagi incar orang-orang yang ada di sisiku?! Lebih baik Paman bunuh saja aku daripada Paman melukai Bibi Kania!”

Terlihat ketulusan Dilan di balik kata-katanya.

Akan tetapi, Cassian hanya memandang Dilan dengan pandangan yang datar.

Cassian lantas berdiri menyamakan posisi mulutnya terhadap telinga Dilan.

Cassian lalu berbisik, “Melihatmu seperti ini, kau yang sekarang memang bukanlah hambatanku sama sekali meniti puncak karir di perusahaan ini, Dilan. Tapi apa kau begitu lemahnya sampai-sampai tidak bisa melindungi sendiri orang yang begitu penting di hidupmu itu? Aku sungguh kecewa, Dilan. Tidak Kak Andrea, tidak dirimu, aku sama-sama kecewa terhadap kalian. Atau apakah ini yang dinamakan buah tidak jauh jatuh dari pohonnya?”

Perlahan demi perlahan Cassian melangkah dengan sepatu pantofelnya yang menggema di lantai itu seakan membentuk irama kematian di telinga Dilan.

“Sudah kuduga pramuria itu tidak baik berada di sisimu, Dilan. Akan kulakukan segala cara untuk menyingkirkannya dari hidupmu.”

Tampak wajah Dilan semakin menegang terhadap perkataan sang paman.

Wajah pemuda itu benar-benar merah padam seakan amarah telah memenuhi seluruh isi kepalanya.

“Tidak hanya Ayah, kini Paman juga ingin mengincar Bibi Kania?! Aku bukan lagi anak kecil, Paman. Jika Paman sampai menyakiti Bibi Kania, kali ini aku tidak akan diam lagi. Walaupun aku harus hancur, akan kupastikan bahwa hidup Paman akan lebih menderita. Sebaiknya, camkan itu baik-baik, Paman.”

Dilan tak menunggu jawaban Cassian lagi.

Emosinya telah terlanjur meluap-luap oleh amarahnya.

Dilan pun hanya segera bergegas meninggalkan ruangan Cassian tersebut.

-Prak.

Terdengar suara bantingan pintu yang amat keras.

Namun pandangan Cassian hanya berfokus ke luar jendela.

Tidak, walaupun Cassian menatap ke luar jendela, sejatinya pikirannya berada di tempat lain.

“Kania. Sudah kuduga keberadaan wanita itu sangat menganggu.”

Pandangan Cassian tajam seakan siap membunuh orang.

***

-Totototok.

Sebuah dering peringatan SMS berbunyi di HP kania.

Dia yang keheranan karena tak biasanya ada yang mengirim pesan ke dirinya melalui nomor pribadinya itu segera membuka isi pesan.

“Ada apa, Kania? Apa itu SMS penting?”

Wajah Kania jelas terlihat menegang ketika membaca isi pesan tersebut sehingga mau tidak mau beberapa teman hostess-nya menjadi penasaran akan isi pesan tersebut lantas menanyakannya.

Namun Kania segera menyembunyikan layar HP-nya ketika beberapa teman ingin mengintip isi pesan tersebut lantas hanya menggelengkan kepala sembari berkata bahwa itu bukan pesan yang penting.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.

Itu adalah waktu di mana pekerjaan hostess Kania berakhir.

Walau demikian, selama waktu kerja, Kania hanya bersenang-senang perihal di hari itu Dilan sama sekali tak datang mengunjunginya.

Pihak pemilik Klub Persik juga sudah waspada terhadap temperamen Dilan sehingga walaupun Kania mengatakan ingin membantu-bantu sejenak karena sedang tidak ada kerjaan, pemilik klub segera menolaknya dengan tegas.

Terlebih, Edo saat itu masih belum juga masuk klub perihal cedera yang baru saja dideritanya sehingga akan bahaya jikalau sampai ada pelanggan besar yang mengamuk karena menginginkan sesuatu yang lebih dari Kania.

Ini memang sedikit memalukan, tetapi hanya Edo-lah yang berani melawan pelanggan besar nakal itu, entah itu karena Edo sejatinya orang besar juga, ataukah dia sekadar hanyalah tak punya rasa takut akan masa depan yang suram jika para orang besar itu menaruh dendam padanya lantas memblokir segala kehidupannya.

Jadi berbeda dari hari-hari biasa, Kania malam itu pulang dengan tanpa rasa lelah sedikitpun.

Akan tetapi, Kania tetap harus segera beristirahat perihal jam 9 keesokan harinya, dia harus masuk mall demi melaksanakan pekerjaan regulernya sebagai sales mall.

Kania melangkah ke jalan pulang.

Edo telah memperingati Kania agar selama dirinya tidak ada, Kania minta tolong saja kepada salah seorang teman hostessnya untuk mengantarnya pulang atau sekalian minta tolong sama pemilik klub untuk diantarkan pulang dengan memakai mobil pribadinya.

Sayangnya, Kania merasa tidak enakan jika harus merepotkan orang lain.

Jadilah Kania malam itu pulang dengan seorang diri.

Marabahaya memang tidak bisa ditebak kapan datangnya, namun naasnya itu selalu tiba di kala kita berada dalam kondisi yang paling tidak siap.

Terlihat malam itu, seorang pria mencurigakan membuntuti Kania dari belakang di perjalanan.

Begitu Kania melihat siapa wajah pria itu, betapa dia sangat kaget.

Itu rupanya adalah Paman Dilan, Cassian.

Kania memang sulit mengingat wajah orang yang hanya sekali atau dua kali ditemuinya.

Akan tetapi, wajah itu segera tumpang tindih di ingatan Kania, perihal SMS Dilan sebelumnya padanya.

[Hati-hati jika Paman Cassian menemui Bibi. Dia punya niat yang sangat jahat pada Bibi.]

Baru saja Dilan mengirim pesan waspada seperti itu, orang yang bersangkutan ternyata sudah ada di belakangnya.

Terlebih itu bukan di waktu biasa, melainkan di dini hari, ditambah dengan gerak-gerik serta ekspresi ala villain Cassian yang teramat sangat mencurigakan.

Kania tidak lagi dapat menahan rasa ketakutannya lantas segera berlari demi mencari pertolongan.

Terpopuler

Comments

Nora Neko

Nora Neko

Meliuk bagai ular

2023-10-30

1

Myumy rev

Myumy rev

Kau yang mengganggu! ku kepang pulak ususmu kalau bisa

2023-07-25

1

Myumy rev

Myumy rev

Pusing juga punya paman ikut campur begini

2023-07-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!