Chapter 13 - KEAKRABAN

“Hei, Bro. Lho ngerasa nggak kalau sikap Dilan belakangan ini aneh?”

Salah satu rekan seperdosaan Dilan, Gems, sedang merajuk sembari menikmati jus semangka di tangannya.

“Iya ya. Belakangan ini dia terlalu lengket dengan hostess bernama Kennie itu.”

Pernyataan itu segera mendapat persetujuan dari rekan seperdosaan lainnya, Jamet.

“Bukan hanya lengket, Bro. Si Dilan itu sudah jadi budak cintanya si Kennie, tahu?”

“Apa jangan-jangan si Kennie pakai pelet ya?”

Sesaat kemudian, terlihat bola mata Gems dan Jamet membesar membayangkan hal yang tidak-tidak.

Akan tetapi, Ivan, salah seorang rekan seperdosaan lainnya lagi yang walaupun juga memiliki IQ di bawah rata-rata tetapi sedikit lebih pintar daripada mereka berdua, segera menggelengkan kepalanya tanda pertidaksetujuan.

“Itu salah, Bro. Inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Berawal dari esek-esek, naik ke jantung menjadi debaran. Dan dari debaran, punuk yang jelek pun terlihat cantik di mata bagai rembulan.”

Ivan terlihat puas setelah merangkai puisi yang menurutnya indah itu, namun Gems hanya berkomentar tanpa dosa, “Tapi Kennie itu cantik, Bro.”

Tawa pun meledak di antara mereka bertiga.

Sayangnya, tawa itu tidak bertahan lama.

Itu karena mereka segera tersadar bahwa telah ada orang lain di dekat mereka yang telah masuk ke dalam ruangan mereka itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sembari menatap mereka dengan tajam.

“Bisa kalian jelaskan siapa itu Kennie?”

Dengan wajah datar berbalut sedikit emosi marah melalui kedua bola matanya, Cassian bertanya kepada ketiga rekan seperdosaan Dilan itu.

***

Hari yang meletihkan seperti biasa.

Ini adalah hari senin di mana setiap pekerja memulai aktivitas pekerjaan mereka kembali setelah menikmati liburan sehari atau dua hari.

Namun itu tidak bagi Kania.

Di tengah-tengah waktu liburannya yang berharga di hari minggu kemarin, dia terpaksa meluangkan waktu ekstra pada pekerjaan hostess-nya pada salah seorang pelanggan yang tanpa sengaja dia langgar kontrak jasa pelayanannya sehingga dia harus gantikan waktunya kemarin.

“Ini benar-benar melelahkan.”

Walau mengeluh, Kania tetap tersenyum sembari mengangkat kotak penyimpanan sayuran bervolume sekitar 2 meter kubik yang penuh terisi sayur-mayur itu.

Kania saat ini sedang melaksanakan pekerjaan regulernya sebagai salah satu sales di Carota Mall.

Namun tiba-tiba sang manajer mall datang menghampirinya,

“Lho, Kania? Mengapa kamu masih ada di sini? Bukannya hari ini kamu izin?”

“Apa?”

Terhadap perkataan dari sang manajer, Kania hanya dapat memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya persoalan seingatnya, dia sama sekali tidak pernah mengajukan cuti ataupun sakit.

Jangankan cuti, bahkan Kania sampai saat ini masih mencari-cari pekerjaan sambilan lain di koran yang bisa menjadi tambahan penghasilannya.

Itu semua demi bisa menabung lebih banyak uang agar suatu saat Kania mampu menemui kembali keponakannya tanpa rasa malu lagi atas kemiskinannya.

Itulah sebabnya Kania benar-benar merasa heran terhadap perkataan sang manajer itu.

Akan tetapi tanda tanya dari Kania itu tak lama terjawab.

“Hai, Bi. Apa kabar?”

Di belakang sang manajer telah berdiri seorang pemuda tampan dengan rambut ikal menawan.

Sang pemuda segera memberi isyarat agar sang manajer pergi saja lantas meninggalkan dirinya dan Kania di tempat itu.

Pemuda itu adalah Dilan.

“Kenapa kamu ada di sini, Dilan?”

“Aku telah menyewa Bibi dari pekerjaan Bibi untuk seharian penuh ini.”

“Apa yang kamu katakan? Kita sedang tidak sedang berada di klub sekarang. Ini pekerjaan regulerku…”

Kania yang tersadar bahwa kata-kata ‘klub’ adalah hal yang tabu bagi sebagian besar orang, lantas segera mengecilkan volume suaranya di tengah-tengah pembicaraannya.

“Aku saat ini sedang bekerja sebagai seorang sales, Dilan. Nanti temui aku saja di tempat biasa di klub di malam harinya.”

Dengan senyum playful ala playboy-nya yang biasa, Dilan berkata setengah merajuk kepada Kania, “Tetapi bagaimana ini? Aku terlanjur menyewa jasa Bibi dari pemilik mall untuk seharian ini.”

“Apa-apaan itu? Ini mall bukan kl… klub.”

Kania yang tampak merahasiakan pekerjaan sampingannya di tempat pekerjaan utamanya segera merendahkan suaranya seakan malu untuk menyebut kata yang seakan terlarang itu.

“Hahahaha. Tidak ada yang tidak bisa disewa di dunia ini, Bi, selama kita punya uang dan kekuasaan. Bibi terlalu naif. Gini-gini, aku ini orang hebat lho, Bi. Pemilik mall-nya saja sampai takut padaku.”

-Glup.

Terdengar jelas suara Kania menelan air liurnya itu.

Itu karena Kania sadar walaupun Dilan tampak mengatakan hal itu dalam candaan, sejatinya apa yang diungkapkan oleh pemuda itu adalah kebenaran.

Seorang pemuda berkuasa dengan temperamen yang buruk yang bisa mengacaukan hidup seseorang kapan saja jika dikehendakinya dengan uang dan kekuasaannya itu, rumor Dilan tidak asing lagi di telinga Kania melalui pembicaraan teman-teman seklubnya.

Bahkan adalah suatu keajaiban kalau pemuda yang seperti itu justru bersikap lunak di hadapan Kania.

Namun Kania takkan pernah melupakan sensasi bagaimana hari pertemuan pertamanya dengan Dilan.

Itu bukan sekadar rumor belaka.

Sayangnya, entah karena alasan apa, apakah itu karena kelembutan atau senyum menawan pemuda itu yang menggoda tiap kali dia bersamanya, Kania tidak bisa merasakan perasaan lain selain merasa nyaman bersama Dilan.

“Ayo, Bi. Jangan sia-siakan waktu lagi. Ayo kita segera pergi. Aku sudah merencanakan dengan matang banyak hal seharian ini.”

Kania hanya dapat geleng-geleng kepala terhadap sikap dominan Dilan itu yang selalu asal maunya sendiri tanpa pernah menanyakan pendapat orang lain apakah orang yang diajaknya itu setuju atau tidak.

Namun entah mengapa sebuah senyum simpul tumpah di bibir Kania.

Kania tidak membenci sikap Dilan itu.

“Duh, kamu ini. Lain kali bilang-bilang lebih awal dong, Dilan, agar aku bisa dandan lebih cantik lagi jika tahu hari ini akan jalan-jalan bersamamu.”

“Eh? Bibi bilang sesuatu?”

“Ah, bukan apa-apa kok.”

Dilan yang tidak sempat mendengarkan gumaman Kania segera menyeret sang bibi ke tempat parkir, menuntun Kania masuk ke dalam mobilnya, lantas segera berangkat meninggalkan tempat tersebut.

‘Yah daripada letih bekerja angkat-angkat barang sambil jualan, mendingan mengikuti Dilan letih-letihan jalan-jalan, walaupun capek tapi bisa sekaligus bersenang-senang’, setidaknya itulah di pikiran Kania beberapa saat lalu.

Namun rupanya tempat di mana Dilan membawanya adalah sebuah salon besar.

“Yuk, Bi. Kita spa, manicure, pedicure, sekaligus keramas dan pijat kepala dulu sebelum lanjut jalan-jalan,” ajak Dilan setengah memaksa kepada sang bibi.

Ini bukannya tempat yang begitu asing buat Kania sebab dia sesekali pernah berkunjung bersama teman-teman hostess-nya yang lain untuk sekadar membangun hubungan sosialisasi.

Bagaimana pun tempat tersebut adalah terlalu mewah buat Kania sejak di kesehariannya, bedak bayi dan air bekas cucian beras telah cukup untuk merawat kecantikannya selama ini.

“Tapi, Dilan. Bukankah ke salon hanya buang-buang uang?”

Kania yang memiliki pola pikir hidup hemat tentu beranggapan seperti itu.

Namun setelah menatap wajah panjang Dilan yang seakan tidak mengerti kompleksitas perasaan itu, hanya dapat tersenyum kecut.

Uang ke salon yang Kania harus dapatkan setengah mati dengan gaji bekerja dua hari di pekerjaan regulernya, pastilah hanya bagaikan seonggok lembaran tidak berharga bagi pemuda kaya raya di hadapannya itu.

Kania pun pada akhirnya hanya menurut patuh mengikuti Dilan.

‘Sekali-kali menikmati kehidupan mewah hadiah dari pelanggan tidak ada salahnya juga jika itu dari Dilan’, gumam Kania.

Tanpa sadar, posisi Dilan telah naik derajatnya setingkat lebih tinggi di hati Kania.

Dilan bagi Kania bukan lagi sekadar satu dari sekian pria hidung belang pelanggan klub-nya.

Terpopuler

Comments

Sarah ajha

Sarah ajha

masak sih kak, aku mau coba benaran nih 🤭

2023-08-03

1

Sarah ajha

Sarah ajha

esek2 apaan kk thor?

2023-08-03

1

Sarah ajha

Sarah ajha

jgn jadi berubah genre thor 🤭

2023-08-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!