Kania memungut kartu nama yang dilemparkan Cassian itu padanya.
Kania sejenak terdiam.
Cassian kemudian tertawa kecut berpikir bahwa mana ada orang di dunia ini yang akan menolak gelimangan harta begitu hal itu dilemparkan secara langsung ke hadapan mereka.
Namun apa yang dilakukan oleh Kania selanjutnya adalah benar-benar di luar ekspektasi Cassian.
Kania merobek-robek kartu nama itu menjadi beberapa bagian lantas melemparkannya balik kepada Cassian.
“Jangan pikir semuanya dapat dibeli dengan uang! Aku tidak tertarik dengan uang Anda!”
“Heh.” Cassian sekali lagi tertawa kecut.
“Pastinya Anda akan menjawab begitu. Itu karena pastinya Anda berpikir jika Anda berhasil menggaet Dilan ke sisi Anda, Anda bisa memorotinya untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dengan menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi bagaimana ya?”
Cassian benar-benar menatap Kania dengan pandangan hina.
“Dilan itu tidak sepolos tampangnya. Dia itu suka membuang-buang wanita begitu puas memakainya. Anda tidak ubahnya satu di antara wanita itu. Tidak lama lagi Anda akan menyesali keputusan Anda ini.”
“Mengapa… Mengapa orang-orang kaya seperti Anda selalu saja berpikiran begitu terhadap orang-orang seperti kami?!”
Kania meraung.
Dia ingin segera beranjak pergi dari tempat itu, namun Dilan segera mencegatnya.
“Bibi…”
“Ah, maaf, Dilan. Kutahu ini bukan salahmu, kok. Aku saat ini hanya tidak bisa mengendalikan emosiku saja, jadi biarkan aku pergi. Dan juga…”
Pandangan Kania kembali tertuju kepada Cassian.
“Anda pikir aku akan bersama Dilan? Itu tidak akan pernah terjadi! Mana mungkin aku akan bercinta dengan seseorang yang usianya hampir sama dengan keponakanku sendiri?!”
Kania yang perasaannya telah terlanjur bercampur aduk perihal ulah Cassian itu, tanpa banyak berkata apa-apa lagi segera meninggalkan tempat tersebut.
Dilan hanya menganga.
Dia bahkan tidak sempat lagi berpikir untuk memberontak kepada pamannya.
Itu karena dia begitu shok tentang bagaimana bisa Kania sampai belum bisa mengenalinya bahkan ketika dia melihat wajah Cassian dan bahkan setelah nama keluarganya disebutkannya.
Sebelas tahun lalu Kania seharusnya memperoleh kartu nama yang sama dari orang yang sama, terlebih dari orang itu dia memperoleh imbalan sebesar satu milyar rupiah atas jasa-jasanya merawat Dilan selama sembilan tahun kala itu.
Entah mengapa Dilan merasakan kepahitan di hatinya.
Dia senang bahwa syukurlah identitasnya belum diketahui oleh Kania, namun ada sedikit rasa sesak di hatinya perihal kekikukan sang bibi.
Apa itu karena hari-harinya bersama Dilan tidak terlalu berharga bagi Kania sehingga dia bisa segera melupakan segala hal yang terkait dengannya bahkan hal besar seperti keluarga sang ayah yang telah merebut Dilan dari sisinya?
Dilan benar-benar merasa pahit.
Namun kemudian pemuda itu berpikir.
Ah, apakah itu karena sang bibi tadi hanya sedang berakting saja?
Jikalau demikian, Dilan harus benar-benar menemukan kata-kata yang pas untuk menenangkan hati bibinya itu keesokan harinya ketika mereka bertemu kembali.
Akan tetapi, keesokan harinya di Klub Persik,
“Jangan khawatirkan itu, Dilan. Aku sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu dari keluarga pelangganku kok. Yah, ini sudah menjadi bagian dari resiko pekerjaanku sebagai hostess."
Sama sekali tidak ada tanda-tanda sentimen apa lagi rasa pengkhianatan di balik kata-kata Kania itu kepada Dilan.
Hanya ada dua penjelasan untuk hal tersebut.
Itu bisa saja karena akting Kania yang sangat baik sehingga dia terlihat begitu totalitas dalam menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya itu.
Ataukah, itu hanya karena Kania benar-benar belum mengetahui saja identitas Dilan yang sebenarnya adalah sang keponakan.
“Ah, akulah yang benar-benar seperti orang bodoh di sini.”
Kania tertawa menanggapi Dilan yang merajuk yang dipikirnya itu karena perasaan Dilan yang merasa lega setelah mendengar jawabannya.
Dilan bisa segera kembali mengingat ingatan bersama bibinya sekitar dua belas atau tiga belas tahun yang lalu itu.
Suatu hari, Kania menjadi voluntir penyaji makanan pasca kerja bakti di tempat mereka dulu tinggal.
Ada seorang pekerja bakti yang karena ingin bubur kacang hijaunya dobel, dia setelah memperoleh bubur pertamanya segera berbaur kembali ke dalam antrian yang kala itu hanya ada lima orang dengan menyembunyikan bubur pertama yang sudah dibawanya itu di balik bajunya.
Dilan saat itu hanya geleng-geleng kepala karena mana mungkin si bibi yang pelit itu akan memberikan makanan dobel.
Namun di luar ekspektasi Dilan, sang bibi tidak mengenali orang yang padahal baru saja antri di lima antrian sebelumnya itu lantas memberikan buburnya dengan sukacita.
Mengingat kembali ke masa lalu itu yang tumpang tindih dengan keadaan sekarang, Dilan hanya dapat menghela nafasnya panjang.
Entah dia harus bahagia atau sedih karena bibinya benar-benar seorang yang idiot yang bahkan tidak mampu segera mengenali keponakannya sendiri yang selama ini dicari-carinya dari berbagai bukti yang sudah sangat jelas itu.
Namun berkebalikan dengan Dilan yang merasa santai, kegusaran Cassian justru semakin menjadi-jadi mengetahui bahwa sang keponakan malah semakin dekat dengan pramuria bernama Kennie itu.
***
Di suatu malam, terlihat Kania akan pulang kembali ke kediamannya setelah melakukan pekerjaannya sebagai hostess dengan diantar oleh sekuriti botak yang sempat ribut bersama Dilan sebelumnya itu.
“Ih, si bocah Dilan itu nampaknya naksir kamu deh, Kania.”
“Hahaha. Itu mana mungkin, Edo. Kalau aku lihat, Dilan hanya kurang kasih sayang saja sehingga dia bisa dekat denganku karena aku memiliki sifat keibuan.”
“Idih, yuuk. Sifat keibuan apanya itu ih. Kamu bohay begitu, mana ada tampang keibuannya.”
Terlihat sang pria botak nan kekar yang sedang berjalan bersama Kania itu melentak-lentikkan tangannya dengan gemulai sembari terus berceloteh menggosipi Dilan.
Menanggapi sisi lain Edo yang hanya Kania yang tahu di mana di hadapan orang lain dia terlihat sebagai pria kekar, namun jika hanya berdua bersamanya, Edo akan segera berubah ke mode ngondeknya, Kania hanya tertawa menanggapi setiap celotehan Edo tampak benar-benar merasa nyaman menjadikannya sebagai sahabatan curhatannya.
Edo ngondek tetapi bukannya dia penyuka sesama jenis atau semacamnya. Dia hanyalah seorang kasim sejati.
Kania bukannya tidak mengerti mengapa Edo bisa sampai berpikiran seperti itu kepada Dilan.
Itu karena Dilan tak henti-hentinya menyatakan rasa sukanya padanya sembari berekspresi seperti Chihuahua.
Namun sebagai seorang wanita, insting Kania mengatakan dengan jelas bahwa dibandingkan cinta, perasaan yang dirasakannya kepada Dilan hanyalah sama seperti perasaan yang akan dirasakan oleh seorang kakak perempuan terhadap adik laki-lakinya.
Kania ingin Dilan memperoleh yang terbaik, tetapi bukan berarti Kania ingin memperoleh cinta dari Dilan.
Mengetahui Dilan bahkan hampir sepuluh tahun lebih muda darinya, hal itu malah bertambah tidak mungkin.
Kania jujur benar-benar hanya merasa nyaman bersama Dilan, tetapi itu bukan cinta.
Tampang seram Dilan sewaktu menindihnya di dinding sembari menyodorkan senjatanya kala itu seakan telah lekang dari ingatan Kania tertutupi oleh berbagai kenangan manisnya bersama bocah itu yang selalu saja menunjukkan tampangnya yang imut ketika bersama Kania.
Namun dia sendiri sulit untuk menjelaskannya kepada Edo perihal di zaman sekarang bahkan seorang nenek tua berusia lebih dari 60 tahun pun bisa menikahi seorang bocah SMA jika kedua belah pihak mau.
Kedua sahabat karib itu terus berceloteh di sepanjang perjalanan pulang mereka.
Seharusnya hari itu bisa berakhir dengan baik tanpa adanya masalah.
Namun kemudian,
“Kania!”
Tumpukan material bangunan tiba-tiba saja berjatuhan dari lantai dua sebuah rumah tepat di atas di mana Kania sedang berdiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Sarah ajha
Klub M atau klub persik kk?
2023-08-09
1
Sarah ajha
Kania memang spesial
2023-08-09
1
Sarah ajha
memomoroti itu apa kakak?
2023-08-09
1