CHAPTER 4 – JALANAN

Sejak saat itu, Kania bersama keponakannya yang masih bayi, Dilan, hidup di tengah kerasnya kehidupan perkotaan dengan bergonta-ganti atap pinggiran minimarket.

Kania menghidupi dirinya dan keponakannya itu dengan berbekalkan suaranya dan tariannya yang indah sebagai pengamen jalanan.

Sungguh keberuntungan bahwa dengan pendapatan yang mengharapkan belas kasih dari orang lain itu, Kania masih mampu membeli makanan buat dirinya sendiri dan juga popok serta susu formula buat bayi yang dirawatnya.

Namun itu tidak bertahan lama.

“Lepaskan saya, Paman. Saya tidak mau ikut Paman.”

“Ayo, ikut Paman saja Neng Cilik. Kalau ikut Paman, kehidupan Neng Cilik tidak akan lagi susah. Kalau mau, Abang juga bersedia menampung adik bayi yang Neng Cilik selalu bawa-bawa itu.”

Sembari mengeluarkan air liur bejat, seorang pria paruh baya menggoda Kania yang tampak tak dapat mengendalikan birahinya tersebut.

Walaupun langka, keberadaan para pedofil di kota-kota besar jauhlah lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan.

Itu bahkan meningkat sejak tahun 2004 di mana terjadi booming anime-anime sesat dari Jepang yang mempertontonkan adegan pedofilia yang tak pantas berkeliaran bebas di tanah air Indonesia kita yang tercinta ini.

Seorang anak kecil yang bahkan belum mengerti dengan baik apa itu hubungan pria dan wanita mengingat di zaman itu belum menginjak era milenial di mana kebanyakan anak-anak masih polos dengan permainan jadul seperti bongkar pasang dan wayang kertas, tidak seperti sekarang yang dihiasi oleh gadget dan make-up bermerek.

Seorang anak yang seperti itu harus menghadapi trauma merasakan bau tubuh om-om secara dekat yang bahkan tidak memiliki hubungan kekeluargaan sedikit pun dengannya.

“Tidak, Paman. Kumohon jangan. Ampuni Kania jika Kania berbuat salah.”

Dengan berlinangan air mata, Kania justru yang balik meminta maaf agar dilepaskan oleh sang pria paruh baya bejat padahal sang anak polos tersebut sekalipun tak berbuat dosa.

Kalaupun ada dosa yang diperbuat oleh Kania, itu mungkin adalah karena dia melenggak-lenggokkan tiap sudut dan celah tubuh ciliknya dalam tariannya yang seketika merangsang birahi para pedofilia bejat di sekitarnya.

“Tidak apa-apa, Neng Cilik. Paman orang baik kok.”

Di saat sang pedofil berada di puncak hawa nafsunya, tiba-tiba saja terdengar suara sandal menggema di aspal dengan suara yang semakin terdengar jelas pertanda langkah kaki itu semakin mendekat dengan kecepatan yang tinggi.

“Dasar pria sampah!”

-Tuak.

“Auch!”

Di luar dugaan Kania, di tengah ketakutannya itu, masih ada manusia baik hati yang berkenan menolongnya.

Seorang wanita yang tampak berusia menjelang empat puluhnya tiba-tiba saja datang lantas menjitak kepala sang pedofil tersebut.

“Anak masih kecil begitu digodain. Tidak sadar umur apa, dasar bajingan! Pantas saja sampai sekarang masih saja menjomblo, doyannya ternyata sama anak kecil!”

“Dewinta, kamu bangsat!”

“Apa?”

Sang pria pedofil ingin balas memukul wanita yang dipanggilnya Dewinta tersebut, namun seketika Dewinta menatapnya dengan membelalak sehingga menciutlah nyali sang pedofil dan dia pun segera pergi dari tempat itu tanpa membuat keributan lagi dengan berkata,

“Awas saja nanti akan kuadukan perbuatanmu sama Mama.”

Lucunya, di usianya yang tidak muda lagi itu, masih mamanya-lah orang yang paling diandalkannya ketika dirinya menghadapi masalah.

Dengan prihatin Dewinta menatap sang anak kecil malang yang tak terlepas dari bayi yang digendongnya di belakangnya itu dengan berlilitkan sarung yang sudah tampak compang-camping pula.

“Mau ikut sama Tante? Tante kebetulan tinggal sendiri dan tidak punya siapa-siapa lagi tinggal bersama Tante sehingga cukup sepi di rumah. Setidaknya dengan ikut Tante, kamu tidak akan perlu khawatir soal makanan dan tempat tinggal lagi. Bagaimana, Neng?”

Kania awalnya ragu.

Itu karena wanita yang ada di hadapannya itu juga merupakan orang asing.

Selama tinggal di panti asuhan sebelum akhirnya dirawat oleh sang kades dari desa terpencil yang akhirnya mengusir kakaknya sehingga dia pun turut pergi menemani sang kakak yang akhirnya juga pada akhirnya meninggal itu, Kania lebih tahu bahwa penampilan luar seseorang paling tidak bisa dipercaya.

Semakin manis tampilan orang dari luar, maka semakin besar kemungkinan dia menyembunyikan niat jahatnya di dalam hatinya.

Namun melihat sang dedek bayi Dilan mulai kedinginan oleh dinginnya malam karena kebetulan waktu itu baru saja turun hujan, Kania ingin sedikit mempercayai instingnya bahwa wanita yang ada di hadapannya itu adalah orang baik.

“Mohon bantuannya, Bu… eh, Tante.”

Dengan suara rendah penuh ketakutan, Kania pun menerima uluran tangan sang tante.

“Hehehehe. Tidak masalah kok kalau Neng mau memanggil Tante dengan sebutan Ibu. Tante justru senang karena anak kandung Tante sudah lama meninggal. Dia bahkan belum sempat menginjak usia kanak-kanak. Anak Tante meninggal dunia di kala usianya masih menginjak dua tahun.”

“Maaf, Tante, eh… maksud Kania, Ibu.”

“Sini, Nak.”

Dewinta pun memeluk Kania dengan hangat.

Tanpa terasa air mata Kania mengalir deras membasahi pakaian yang dikenakan Dewinta.

Badan kecil gadis cilik itu masih gemetaran ketakutan setelah mengalami kejadian traumatis seperti itu untuk pertama kalinya.

.

.

.

Begitu sampai di rumah Dewinta, Kania bisa melihat bahwa Dewinta juga hidup serba sederhana.

Sebuah rumah kayu berlantai satu yang di depannya tepat terdapat sebuah kedai kecil yang menjual beraneka ragam cemilan anak-anak dan juga mie.

Dengan penghasilan yang sederhana itulah Dewinta selama ini menghidupi kebutuhan hidupnya sendiri.

“Sekarang istirahatlah dulu, Nak. Kamu pasti capek. Biar Dedek Bayi, Ibu yang akan urus soalnya Ibu sudah cukup berpengalaman dalam merawat bayi.”

“Tapi Bu, Kania merasa tidak enak kalau hanya numpang tanpa kerja.”

“Tidak usah berpikiran yang macam-macam. Untuk malam ini Kania hanya harus beristirahat. Mulai besok pagi baru Kania bisa mulai membantu Ibu berjualan di kedai. Bukankah Kania sudah menganggapku sebagai Ibu Kania sendiri, bukan? Kalau begitu, Kania harus dong mematuhi apa kata-kata Ibu Kania.”

Dengan tatapan merasa tak enak, Kania menatap Dewinta.

Namun Dewinta hanya balik menatap Kania dengan penuh ketegasan.

Pada akhirnya, Kania-lah yang mengalah dan memilih untuk mendengarkan perkataan Dewinta saja.

Di tengah kondisinya yang memang sudah benar-benar kelelahan, Kania memilih untuk tak banyak berpikir lagi dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kasur keras nan tipis yang telah disediakan oleh Dewinta untuknya.

Walau keras nan tipis, itu dipenuhi kehangatan.

Dalam pikirnya, Kania merasa bahwa mungkin inilah kehangatan cinta seorang ibu yang tidak pernah dirasakannya selama ini.

Tidak butuh waktu lama bagi Kania untuk berkelana ke negeri kapuk.

Terlihat wajah penuh iba dari Dewinta menyaksikan seorang anak kecil malang yang sampai-sampai harus merawat bayi seorang diri tertidur pulas tanpa daya bahkan belum tiga menit dia berbaring di tempat tidur yang menandakan begitu Kania telah sangat kelelahan selama seharian ini.

Dewinta belum menanyakan identitas sang bayi bagi Kania, tapi satu hal yang pasti diketahui oleh Dewinta yakni bayi itu begitu berarti bagi Kania.

Jika tidak, tidak mungkin Kania merawatnya selama ini walaupun harus bersusah-payah.

Dewinta pun membelai kening Kania yang mulai berkeringat melepaskan segala lelahnya itu.

“Sungguh anak yang malang. Apapun yang terjadi, takkan kubiarkan kamu mengalami penderitaan yang sama seperti Ibu rasakan dulu karena luntang-lantung di jalanan. Kehidupan jalanan itu keras, terutama bagi kita para wanita yang tak punya daya melawan nafsu bejat para pria.”

Ujar Dewinta secara sungguh-sungguh.

Terpopuler

Comments

Sarah ajha

Sarah ajha

Pria pun sekarang sudah tak aman di jalanan, banyak kaum pelangi sekarang

2023-07-22

1

Sarah ajha

Sarah ajha

Umaru chan, hmm

2023-07-22

1

Myumy rev

Myumy rev

Tante Dewinta berhati mulia, lope you Tante🥰

2023-06-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!