Kepada pemuda yang dipenuhi amarah itu, Kania berteriak,
“Dilan! Apa yang kamu lakukan padanya?! Dia itu pelanggan aku!”
Telah cukup lama Kania mengenal Dilan dan akrab dengannya sampai-sampai dia telah terbiasa langsung memanggilnya saja sebagai nama.
Walau demikian, walau dengan nama yang sama dengan keponakannya yang telah berpisah dengannya sebelas tahun lamanya yang sampai saat ini belum bisa dilupakannya, tiada satu pun kecurigaan Kania bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya itu adalah sang keponakan angkat tersebut.
Itu mungkin wajar saja sejak Dilan adalah nama yang umum ditambah tempat Kania berada saat ini adalah kota berbeda di mana dia sebelumnya tinggal yang dipisahkan oleh lautan yang sangat luas, terlebih perpisahan mereka sudah terjadi sejak sebelas tahun yang lalu.
Dilan telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah, sangat berbeda dari dirinya yang kumal di ingatan Kania.
Walau demikian, jika ada yang mengetahui kekikukan Kania yang tak menyadari orang yang selama ini dirindu-rindukannya ternyata tepat berada di hadapan matanya sendiri, pastilah dia sudah dari dulu akan dihujat netizen.
Namun sang keponakan durhaka yang jelas-jelas telah mengetahui identitas bibinya tersebut, malah mengharapkan cinta dari sang bibi.
Bukan cinta sebagai keluarga, melainkan cinta di antara pria dan wanita.
Lantas pria yang posesif itu tidak segan-segan bersikap brutal begitu melihat Kania mendekati pria lain, walaupun itu sejatinya hanyalah profesionalisme Kania saja sebagai seorang hostess.
“Pelanggan?! Hah, pelanggan?!”
Telah lama Kania tidak menyaksikan wajah sangar Dilan yang tertutupi oleh muka chihuahuanya yang selalu memelas dengan tampang imut di hadapannya, namun inilah sejatinya Dilan yang asli.
Seorang pemuda posesif yang kasar.
Kania gemetaran di bawah amarah Dilan.
Namun kemudian, Dilan akhirnya segera sadar dari nafsu amarahnya lantas mendapati sang bibi telah gemetar ketakutan.
Dilan masih marah, namun dia berusaha merendahkan suaranya serendah mungkin demi mencegah Kania ketakutan lebih jauh lagi.
“Mana bisa ada pelanggan Bibi yang lain selain aku.”
“Itu… Aku hanya menggantikan tugas rekan kerjaku yang sedang sakit saja, Dilan. Hiks… Hiks…”
Saking takutnya Kania dengan penampilan amarah Dilan yang ingatannya tumpang-tindih dengan pertemuan pertama mereka di mana Dilan hampir saja merebut kesuciannya itu, Kania menangis.
Menyaksikan pemandangan itu, Dilan tertegun.
“Bukan. Bukan itu maksudku, Bi. Maksudku adalah aku sudah membooking Bibi full selama dua bulan, bahkan aku sudah bayar di muka. Mana mungkin Bibi masih bisa punya jadwal untuk diisi oleh para sampah hidung belang lainnya.”
“Hei, kau menghinaku ya?! Kurang ajar kau, bajingan!”
Setelah beberapa saat, akhirnya pria hidung belang yang dihajar oleh Dilan tersebut kembali kepada kesadarannya.
Atau itu bisa dibilang sebagai setengah sadar lantaran kondisinya yang masih cukup mabuk.
Dilan tidak perlu upaya keras untuk meredakan murka dari sang hidung belang.
Dilan cukup menunjukkan kartu namanya secara terang-terangan kepada pria hidung belang itu.
“Ini? Grup Le…”
“Sst.”
Dilan segera memotong perkataan pria hidung belang itu di tengah-tengah dengan tampangnya yang sangar seakan siap untuk membunuh.
Sang pria hidung belang seketika gemetaran ketakutan lantas tak bisa berucap apa-apa lagi.
“Jika kau masih ingin mempertahankan pekerjaanmu besok, pulanglah sekarang dan pikirkan sendiri hukuman apa yang pantas untukmu.”
“Baik, Tuan.”
Sang hidung belang pun pergi begitu saja dengan lari terbirit-birit menggulung ekornya di kedua kakinya.
Dilan bukanlah orang sembarangan yang bisa dihadapinya.
Setelah sang masalah lenyap, fokus Dilan kembali tertuju pada Kania.
“Anu, Dilan. Bisa kita lupakan saja masalah ini? Aku juga tidak tahu kau akan datang setengah jam lebih cepat. Jika kutahu kau akan datang, aku tidak akan menerima pekerjaannya.”
“Bibi, bukannya salah jika menerima pekerjaan dobel? Itu kan namanya korupsi?”
“Maaf, aku bersalah.”
“Hah.”
Dilan menghela nafasnya panjang.
Terlihat Kania bergidik terhadap hal itu.
Tidak, Kania bergidik tiap gerakan sekecil apapun yang Dilan lakukan.
Kania tidak bisa menerka apa yang pemuda berdarah panas itu bisa perbuat selanjutnya.
“Jika minta maaf saja cukup, maka takkan perlu ada penjara bukan, Bibi?”
Mendengar kata penjara, Kania tergesa-gesa menundukkan kepalanya dengan gemetaran.
Kali ini Dilan kembali menghela nafasnya walaupun lebih pelan hingga tak bisa didengarkan oleh sang bibi.
Dilan mengucapkan hal itu dengan maksud bercanda.
Siapa sangka bahwa sang bibi akan menanggapinya dengan serius.
“Kumohon, Dilan. Apapun hukumannya akan aku terima asal jangan penjara. Kalau perlu aku akan menggantikan uangmu sebanyak dua kali lipat… tidak, tiga kali lipat jika kamu berkenan. Asal jangan penjara.”
“Kenapa Bibi takut sekali dipenjara?”
“Gini-gini, aku juga punya keluarga. Aku punya keponakan kecil yang sangat berharga. Aku hanya takut akan menjadi penghalang karir baginya jika orang-orang tahu kalau bibinya pernah dipenjara.”
Dilan tertegun sejenak begitu sosoknya yang tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan sang bibi.
Tanpa sadar tawa pelan keluar dari mulutnya yang dia juga tidak tahu alasannya.
“Lantas bagaimana dengan pekerjaan Bibi sekarang? Apa ini pekerjaan halal?”
Dilan tersenyum playful di hadapan Kania yang merasa takut dipenjara, tetapi sama sekali tanpa dosa menjalankan pekerjaannya sebagai pemuas nafsu pria hidung belang.
“Apa yang kamu katakan?! Pekerjaan sebagai hostess itu tidak melanggar hukum, Dilan! Bahkan Klub Persik kami punya lisensi berdirinya. Kami menjual layanan tapi bukan tubuh kami!”
Dilan yang menganggap bahwa seorang hostess dan pramuria sama saja dari posisi tinggi di mana dia berdiri, hanya mengangguk-anggukkan kepala atas penjelasan Kania tersebut yang sama sekali dia tidak bisa mengerti.
“Baiklah, aku sedari awal memang tidak berniat kok membawa ini ke ranah hukum, Bi.”
Dilan tertawa internal di dalam hati akan kepolosan bibinya.
Bagaimana bisa dia akan memperkarakan masalah ini ke pengadilan.
Apakah Kania berpikir Dilan akan berkata seperti, ‘Saya memesan wanita ini duluan, tetapi tiba-tiba ada pria hidung belang lain yang menerobos pesanan saya walau saya sudah bayar’, atau semacamnya ke hakim?
Lupakan soal moralitas, yang ada, malah nama Dilan yang akan heboh diberitakan di surat kabar keesokan harinya karena telah terjerat kasus perdagangan wanita.
Kania pun segera berekspresi lega begitu mendengar pernyataan Dilan tersebut.
Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama.
Itu karena Dilan sekali lagi tersenyum playful seraya berkata pada Kania, “Tapi yang namanya permintamaafan, harus ada ganti ruginya kan, Bi?”
Kania segera menelan ludah terhadap pernyataan Dilan tersebut.
Kania menerka-nerka apa yang Dilan akan minta pada dirinya yang hampir tak punya apa-apa itu.
Jika itu uang, mungkin Kania masih bisa menyanggupinya, namun dia tetap panik jika saja Dilan akan meminta lebih dari kesanggupannya.
Jika demikian, dia yang menjadi hostess demi mencari uang malah akan berakhir jatuh dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam lagi di mana dia harus terpaksa berutang sana-sini.
Namun itu lebih baik, ditambah sedari awal ini adalah salah Kania yang melanggar kontrak pelayanan jasanya dengan Dilan.
Namun bagaimana jika seandainya Dilan meminta lebih semisal kesuciannya?
Masih terngiang jelas di ingatannya bagaimana di pertemuan pertama mereka, Kania digerayangi oleh Dilan.
Dia bisa merasakan dengan jelas bau tubuh pemuda itu, merasakan dirinya berada pada titik terhinanya tanpa bisa melawan.
“Sebagai ganti jasa Bibi yang batal malam ini, aku ingin kencan dengan Bibi besok seharian penuh, mumpung besok adalah hari minggu.”
Terhadap senyum playful Dilan itu, Kania hanya ternganga.
Namun wanita itu bernafas lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Sarah ajha
Wah, sampulnya baru ya kak? Pantas dicariin tadi tidak ketemu 😁
2023-07-27
1
Myumy rev
Wah ada maunya kau ini
2023-07-10
1
Myumy rev
Memang rada laen kau Dilan
2023-07-10
1