CHAPTER 3 – BERSAMA

Kania yang saat itu masih berusia 9 tahun, harus berjuang berkeliling ke rumah sakit demi mencari bantuan keponakannya yang masih baru dilahirkan.

Sayangnya, tak ada satu pun petugas rumah sakit yang iba padanya.

Alasannya sama.

“Suster, kumohon periksa adik saya. Dia masih baru dilahirkan. Aku takut dia kenapa-kenapa.”

Namun bukan pertanyaan tentang kondisi bayi atau informasi tentang ibu kandung dari sang bayi-lah yang pertama kali didengar oleh Kania dari suster yang berjaga di ruang gawat darurat tersebut melainkan,

“Mana BPJS-nya?”

“Ini, Suster.”

“Lho, ini kan BPJS Anda ya, Dik? Yang saya minta itu BPJS dari Dedek Bayi-nya.”

“Lho bagaimana Dedek Bayi ini punya BPJS, Suster? Dedek bayi ini baru saja dilahirkan. Dia bahkan belum mengurus akta kelahirannya.”

“Lha, Kok Adik malah membentak sih?! Kalau gitu, gimana Dedek Bayi-nya bisa lahiran?! Memangnya apa yang dilakukan sama rumah sakit tempat dia dilahirkan?!”

“Maaf, Suster. Saya tidak bermaksud membentak. Namun Dedek Bayi ini dibantu kelahirannya sama bidan di luar rumah sakit soalnya kondisinya tidak memungkinkan waktu itu. Kakak saya air ketubannya pecah pada saat kami dalam perjalanan dan berada di tengah hutan.”

“Lha terus mana si ibunya?”

“Kakak saya… Kakak saya sudah meninggal, Suster. Hiks… Hiks…”

Namun jangankan simpati pada air mata Kania, sang suster hanya menjawab dengan tegas.

“Kalau gitu Dedek Bayinya tidak bisa dirawat pakai BPJS, tapi harus dengan biaya mandiri.”

“Tapi saya tidak punya uang, Suster.”

“Kalau begitu, silakan angkat kaki dari rumah sakit ini.”

Begitulah, Kania ditolak di rumah sakit mana pun dengan alasan yang sama.

Bahkan uang 500 ribu yang dia bawa dari desanya yang telah dia kumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun ini untuk biaya daruratnya, tinggal tersisa 10 ribu rupiah saja sehabis membeli susu formula Dedek Bayi dan biaya transportasi sana sini keliling mencari bantuan rumah sakit yang ujung-ujungnya tak membuahkan hasil.

Namun jika pertolongan itu akan tiba, ada saja jalan kedatangannya.

Di kala Kania sudah tidak berharap banyak, di salah satu rumah sakit swasta yang dikunjunginya, akhirnya ada suster yang memperlakukannya dengan ramah dan rumah sakit bersedia untuk merawat sang Dedek Bayi walau tanpa dibayar sepeser pun.

Itu karena rumah sakit tersebut tidak lain memang merupakan rumah sakit amal.

“Benarkah Suster? Syukurlah! Akhirnya!”

Kania pun sontak merasa kegirangan seolah beban hidupnya selama ini terlepaskan.

Namun itu hanya untuk sementara.

Tanpa sengaja, Kania mendengarkan pembicaraan rahasia para suster.

“Jadi bagaimana dengan keadaan bayi itu Suster Maria?”

“Mungkin mukjizat dari-Nya sehingga bayi itu masih bisa selamat meski dilahirkan dalam kondisi sekitar yang memprihatinkan. Namun masalahnya apa yang akan terjadi pada bayi itu ke depannya.”

“Itu benar, Suster Maria. Ibunya meninggal seusai melahirkannya dan kini hanya ada anak di bawah umur yang bisa merawatnya. Jadi apa yang akan kita lakukan, Suster Maria? Kalau kita biarkan saja bayinya seperti itu, bayi itu akan sulit bertahan. Dan itu pasti juga akan berpengaruh pada mental anak yang merawat bayi itu karena sudah menjadi pengasuh di kala dia seharusnya masih bisa bermain dengan bebas.”

Terlihat bahwa seorang wanita tua yang mengenakan tampilan baju hitam dengan kerudung yang menutupi kepalanya berpikir keras.

“Kita bisa membesarkan bayi itu. Jika kita didik dengan benar, ketika besar bayi itu bisa menjadi pengikut setia dogma kita.”

“Lantas bagaimana dengan anak yang merawatnya itu?”

“Dia masih muda tapi dia telah lewat usia untuk memulai mengikuti pendidikan dogma kita. Apa boleh buat, kita tidak bisa juga turut merawatnya.”

“Lantas apakah kita akan memisahkan dia dari keponakannya?”

“Tidak ada jalan lain. Tapi kita akan sebisa mungkin membantunya memperoleh tempat tinggal lain di antara para pengikut dogma kita.”

Seakan petir menyambar di kepala Kania, sekali lagi dia mengalami rasa frustasi yang begitu menyiksa mentalnya begitu tanpa sengaja mendengar perkataan salah satu suster yang merawat Dilan tersebut.

“Kita bisa membujuk anak itu baik-baik. Lagipula ini adalah juga jalan yang terbaik baginya untuk melanjutkan kehidupannya. Dia tidak bisa menjadi seorang ibu di usianya yang masih belia itu.”

Sempat terbersit rasa benci di hati Kania terhadap Dilan yang karena kelahirannya menyebabkan kakak tercintanya mengembuskan nafas terakhirnya.

Kania pernah berpikir bahwa jika bayi itu menghilang dari hadapannya, mungkin itu adalah hal yang terbaik baginya.

Namun begitu melihat senyum Dilan yang mengingatkannya kembali pada permintaan tulus kakaknya di akhir nafasnya, Kania tidak bisa melepaskan harta berharga itu.

Kenangan terakhir yang ditinggalkan oleh sang kakak yang sangat dicintainya itu.

Dan melebihi apapun, seperti halnya Kania menyayangi Sekar, jauh di lubuk hatinya, Kania juga sangat menyayangi Dilan.

Itulah sebabnya dia takkan mungkin pernah setuju dengan anjuran para suster tersebut.

Namun bukannya Kania bisa berbuat apa-apa.

Usianya masih belia.

Dia masih belum cukup umur.

Dia tak dapat melawan ketika sang Dedek Bayi akan direbut oleh para suster.

Mungkin saja kehidupan sang Dedek Bayi akan lebih sejahtera di tangan para suster ketimbang hidup bersamanya.

Namun keegoisan di hati Kania tak ingin melepaskan satu-satunya keluarganya yang kini tersisa di dunia itu, sang keponakan yang begitu berharga.

Terlebih Kania yang pernah dibesarkan di panti asuhan bersama sang kakak tercinta, tahu benar bagaimana kehidupan panti itu.

Bisa saja yayasan yang mengelola panti memang amanah sehingga para anak asuhannya bisa hidup bahagia.

Bagaimanapun, label sebagai anak panti tidak akan pernah lagi lepas dari diri para anak panti.

Mereka akan diremehkan di mana pun mereka berada.

Hanya karena ketiadaan kedua orang tua mereka.

Tak jarang pula yang mengusik mereka dengan mencampur-baurkan fakta terhadap omong kosong dengan mengatakan mereka sebagai anak haram atau anak yang tak diakui atau bahkan anak yang tak diinginkan walaupun sebenarnya kebanyakan anak panti di kota itu berasal dari korban ayah dan ibu yang meninggal karena pekerjaan tambang yang berbahaya yang para orang tua mereka jalani.

Sekecil apapun kemungkinannya, Kania tak ingin Dilan merasakan pengalaman pahit seperti yang dirasakannya dulu.

Lalu dengan penuh tekad, Kania pun melakukan perbuatan nekat itu.

Tepat di tengah malam buta, Kania kembali ke rumah sakit melalui jalan belakang layaknya pencuri untuk membawa kabur Dilan dari rumah sakit tersebut.

-Prak.

Suara kaca jendela yang pecah segera membangunkan para suster yang berjaga malam itu.

Tidak butuh waktu lama bagi para suster untuk menyadari apa yang telah terjadi.

“Bagaimana ini, Suster Maria? Tampaknya anak itu telah membawa kabur sang bayi.”

“Tidak banyak lagi yang bisa kita lakukan. Kita juga tidak dapat memisahkan keluarga yang saling menyayangi. Yang terbaik yang dapat kita lakukan sekarang adalah mendoakan mereka agar memperoleh kehidupan yang baik. Semoga Tuhan senantiasa menyertai langkah mereka.”

Suster Maria sama sekali tidak terlihat marah apalagi kesal terhadap keputusan Kania tersebut.

Dia hanya dengan datar menatap kaca jendela yang pecah.

Terpopuler

Comments

Dayu Fabi

Dayu Fabi

Begitulah hidup

2023-07-18

1

Richie

Richie

ditunggu kunbal nya

2023-07-05

1

Richie

Richie

kenapa pisah2

2023-07-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!