CHAPTER 8 – BUAS

Di tempat di mana kumpulan manusia yang kaya harta tapi miskin hati sedang berpesta, Cassian menerobos masuk tanpa merasa malu.

Tidak, memang bukan Cassian-lah yang pantas merasa malu di tempat itu, melainkan orang-orang yang berkelakuan layaknya binatang itu.

Teman-teman Dilan yang malu senjata mereka terlihat oleh pria paruh baya itu segera memasukkannya kembali ke dalam sangkarnya, adapun para pramuria yang semula tidak mengenakan pakaian yang telah terbiasa menjadikan tubuh mereka sebagai bahan tontonan tampak sama sekali tidak terpengaruh terhadap hal itu.

Yang ada, para pramuria yang telah lewat masa keharumannya itu malah berpose seksi tampak mencoba menggoda Cassian dengan tubuh mereka yang tanpa busana.

Namun berbeda dari apa yang para pramuria itu harapkan, ekspresi Cassian datar.

Cassian hanya tertarik kepada keponakannya, Dilan, itu.

“Kau dikirim ke Makassar bukannya belajar berbisnis, malah ke tempat haram seperti ini, dasar bedebah!”

Namun Dilan hanya menatap pamannya itu dengan ekspresi tajam.

“Diamlah, Paman. Paman pasti juga senang kan kalau aku jadi sampah begini? Bukannya dengan demikian, Paman dipastikan bisa menjadi calon tunggal pewaris kakek buyut?”

“Apa yang kau katakan, Dilan?!”

“Sudalah, Paman. Aku bukan lagi anak kecil yang bisa Paman kelabui. Aku tidak akan menjadi sebodoh Ayah yang telah Paman bunuh.”

Kata-kata Dilan yang tajam itu seketika membuat Cassian mematung.

Dilan pun segera pergi meninggalkan ruangan klub itu diikuti oleh ketiga teman-teman sepermainannya tersebut.

Namun belum jauh Dilan keluar dari pintu, Cassian yang akhirnya kembali ke kesadarannya segera mencegat Dilan.

“Tunggu, Dilan.”

Dilan menoleh ke belakang, menatap wajah Cassian yang tampak putus asa itu.

Namun alih-alih kasihan, Dilan segera menampik tangan pamannya tersebut.

“Apa lagi, pembunuh?!”

“Dilan, sudah kubilang bahwa kematian Kak Andrea sama sekali tidak ada kaitannya dengan Paman.”

“Apa Paman pikir aku bisa percaya dengan semua itu?!"

"Aku telah mendengar semua ceritanya dari Paman Alex apa yang terjadi 16 tahun lalu kepada Ayah!"

"Aku bukannya sedih atas kematian bajingan yang bahkan tak pernah kulihat wajahnya selain di foto itu yang bahkan tak tahu telah punya anak!"

"Hanya saja...

"Hanya saja, aku benci semuanya!"

"Aku benci dengan semua yang ada di keluarga Lekata ini!”

-“Dilan.”

“Jadi tolong cukup abaikan aku saja, Paman."

"Kumohon abaikan saja aku."

"Aku tidak tertarik menjadi pewaris, jadi Paman tidak usah lagi repot-repot merencanakan kematianku."

"Aku hanya ingin hidup bebas.”

Mata pria muda itu berkaca-kaca.

Terlihat kesungguhan di balik kata-katanya.

Dilan pun segera pergi meninggalkan Cassian di mana pria paruh baya itu tak sanggup lagi berkata apa-apa.

Andrea Lekata, ayah Dilan.

Meninggal di kala usia Dilan menginjak 4 tahun ketika dirinya masih hidup dengan bahagia bersama bibi angkatnya, Kania, dan seseorang yang telah dianggapnya sebagai nenek sendiri, Dewinta.

Suatu cara meninggal yang begitu konyol.

Andrea Lekata yang selamat dari kecelakaan kapal yang secara beruntung terdampar di pulau terpencil…

Andrea Lekata yang selamat dari kecelakaan banana boot walaupun telah terhanyut di sungai sejauh 10 kilometer…

Andrea Lekata yang selamat setelah jatuh dari kuda dan hampir saja terinjak…

Andrea Lekata yang selamat dari kebakaran gedung setelah secara nekat loncat dari lantai empat dan tersangkut di pohon…

Andrea Lekata yang keberuntungannya tidak pernah habis seperti itu, justru mati secara konyol karena meminum susu basi sewaktu berkunjung ke apartemen Cassian.

Cassian bebas akan segala tuduhan perihal Andrea murni meninggal karena keracunan susu basi yang sama sekali tidak terdapat unsur racun buatan di dalamnya.

Walau demikian, Dilan tidak percaya terhadap hal itu.

Dilan muda yang waktu itu tidak tahu apa-apa menganggap Cassian sebagai pengganti ayahnya setelah sang bibi angkat menelantarkannya.

Dilan banyak bergantung kepada Cassian sampai-sampai tidur pun harus dalam belaian lembut tangan Cassian.

Namun ketika Dilan mengetahui fakta tersebut setelah dewasa, Dilan hanya dapat melihat Cassian dengan jijik.

Seseorang yang selama ini berada di posisi nomor dua, tidak tahan akan kerendahan dirinya sendiri lantas menyingkirkan sang nomor satu lalu menggantikannya berdiri di posisi puncak.

Semuanya berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Cassian setidaknya sampai kakek dan nenek buyut Dilan akhirnya menemukan surat yang dikirimkan oleh sang Ibu Dilan, Sekar, kepada ayahnya.

Surat itu telah berdebu selama sembilan tahun lamanya perihal sifat easy going Andrea yang tak pernah menduga bahwa itu adalah surat yang isinya sangat penting bahkan sampai pada waktu kematiannya.

Lima tahun setelah kematian Andrea setelah akhirnya para keluarga bersepakat untuk membersihkan kamar bekas sang almarhum itu, surat itu pun diketemukan.

Betapa kagetnya mereka di kala mereka membaca surat bahwa Andrea yang memantapkan dirinya untuk menjadi bujang selamanya itu ternyata pernah melakukan one night stand bersama dengan seorang wanita desa di desa di mana dia dulu pernah diselamatkan setelah terhanyut aliran sungai.

Akhirnya kakek dan nenek buyut Dilan segera mengutus Cassian untuk menjemput cicitnya itu.

Semuanya masih berjalan baik-baik saja sampai saat itu.

Namun semua berubah ketika sang nenek buyut meninggal dan kakek buyut menetapkan Dilan sebagai pewaris pertama menggantikan sang ayah, Andrea Lekata.

Sejak saat itu, Dilan banyak memperoleh kecelakaan tak terduga yang beberapa hampir saja merenggut nyawanya.

Dan orang yang paling mencurigakan dari semua itu tidak lain adalah pamannya sendiri yang ambisius, Cassian, sang pewaris nomor dua.

***

Keempat rekan seperdosaan itu jalan berbarengan di mobil yang sama.

Dilan sang pemilik mobil, otomatis yang duduk di posisi sopir.

Sambil menyetir Dilan berujar, “Ivan, tempat yang tadi kamu bilang, ayo kunjungi sekarang. Di mana tadi kau bilang alamatnya?”

“Ah, Di Jalan Cendrawasih di belakang tempat karaoke Gembira.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dilan yang masih stress memikirkan masalahnya pun menyetir membawa rekan-rekan seperdosaannya itu ke tempat tujuan yang diucapkan oleh Ivan.

.

.

.

“Kami pesan hostess-nya 4 ya. Oh iya, ada boss penting yang ikut bersama kami. Kennie kosong kan? Tolong sertakan dia juga.”

Sang petugas pengelola segera berkedip tanda pengiyaan terhadap pertanyaan Ivan tersebut.

Para hostess dari klub Cendrawasih itu datang dengan dipimpin langsung oleh seorang wanita cantik jelita yang dipanggilnya sebagai Kennie tersebut.

“Yuk kita langsung ke ruangan saja. Hahahaha.”

Terhadap ucapan Jamet itu, Dilan segera menggeleng-gelengkan tangannya pertanda pertidaksetujuan.

“Kalian bertiga bisa main sendiri, aku ingin main sendiri dengan wanita cantik ini.”

Dilan yang seketika terpesona menatap kecantikan Kennie, tanpa mempedulikan rekan-rekan seperdosaannya yang lain, segera membawa Kennie ke kamar lain.

“Ah, Mas Tampan mau aku tuangkan minuman yang mana?”

Sambil melanggak-lenggokkan badannya yang ramping nan indah, sang hostess yang juga bersuara sangat menggoda itu tersenyum kepada Dilan sambil menunjukkannya berbagai jenis minuman keras kepadanya.

Namun berbeda dari apa yang diharapkan Kennie, Dilan justru menariknya dengan kasar.

“Hei, daripada lama-lama begitu, kita langsung saja pada intinya. Aku sangat tertarik dengan tubuhmu, jadi biarkan aku mencicipinya.”

Dilan yang jinak segera berubah menjadi serigala yang bejat, tak jauh beda dari rekan-rekan seperdosaannya yang lain.

Terpopuler

Comments

Sarah ajha

Sarah ajha

Ini majas metafora ya thor 😂

2023-07-23

1

Richie

Richie

seperdosaan

2023-07-05

1

Myumy rev

Myumy rev

Dilan aku jadi kecewa deh kamu jadi bejat begini:(

2023-07-05

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!