Seorang wanita muda yang terusir dari rumahnya dalam keadaan hamil besar.
Kini tersiksa begitu kesakitan di tengah hutan dalam perjalanannya menuju ke kota.
Di sampingnya hanya ada adiknya Kania yang senantiasa setia berada di sisinya.
“Aaaakkkkhhhh!”
“Kakak! Kakak! Kakak kenapa? Ada apa dengan kakak saya, Pak?”
Sang adik yang baru menginjak usia 9 tahun yang belum mengenal dengan baik apa itu kehamilan dan kelahiran begitu panik mengharapkan belas kasihan bantuan dari seorang kusir yang merupakan satu-satunya orang lain yang bersama mereka kala itu.
“Kayaknya air ketuban Kakak Neng sudah pecah dan bayinya butuh segera dilahirkan atau kalau tidak, bayi beserta ibunya akan sama-sama meninggal.”
Bagaikan kepalanya tersambar petir, pikiran Kania tiba-tiba kosong begitu mendengar kata kematian terucap oleh sang kusir.
“Kakak… Hiks, hiks, Kakaaaaaaak!”
Menyadari kepanikan sang adik, dengan pelan sang kusir menepuk pundak Kania.
“Ini bukan saatnya Neng untuk panik. Di sini di tengah hutan, jauh dari bantuan warga desa apalagi rumah sakit. Satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang adalah melakukan persalinan darurat sendiri.”
“Tapi Pak, tidak ada bidan di sini.”
Sejenak tampak Pak Kusir hesitasi terhadap apa yang ingin dikatakannya, namun kemudian dia pun berkata,
“Sebenarnya Bapak dulunya adalah mahasiswa kebidanan, tapi bapak keluar menjelang kelulusan karena tidak mampu membayar biaya toga sehingga Bapak tidak bisa sarjana. Tapi Bapak telah punya tiga kali pengalaman membantu kelahiran sebelumnya. Jika Neng mempercayai Bapak, mari kita selamatkan Kakak Neng beserta calon bayinya sekarang juga di tempat ini.”
“Hmm.”
Dengan ucapan dari Pak Kusir, muncullah kembali sedikit cahaya harapan di mata Kania.
“Apa yang mesti saya lakukan, Pak?”
“Di antara barang-barang bawaan Neng, apa ada pisau dapur atau gunting yang bersih?”
“Kami tidak bawa pisau, Pak, tapi kalau gunting rambutnya ada.”
“Bagus. Kalau panci atau wadah sejenisnya?”
Wajah Kania seketika mengusut.
Tidak mungkin dalam tas-tas empuk yang dibawanya akan ada panci atau sejenisnya di dalamnya.
“Tidak ada, Pak.”
“Hmm. Kalau begitu kita mungkin bisa menggunakan wadah panci untuk kotoran kuda Bapak saja. Tenang saja, itu masih bersih karena belum digunakan. Kita bisa mengambil air sungai yang ada 20 meter di depan. Tuk pemanas, kita bisa menggunakan kayu bakar dari ranting-ranting pohon sekitar. Syukurlah sekarang musim kemarau sehingga ranting-rantingnya pada kering. Sanggup kan Neng mengumpulkan keduanya?”
“Hmm”, dengan penuh tekad Kania pun mengangguk.
Kania berlari dengan pontang-panting mengambil air dari sungai kemudian mengumpulkan kayu bakar yang cukup untuk membuat perapian demi memanaskan air yang akan digunakan untuk membantu persalinan.
Sementara itu, sang Pak Kusir menggunakan sebagian air yang masih dingin dari sungai yang dibawa Kania untuk mendinginkan tubuh pasien yang memanas akibat akan melahirkan.
Sang Pak Kusir terlihat sangat kewalahan karena melakukannya semua serba sendirian.
Hingga semua persiapan pun siap dan persalinan akhirnya dimulai.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian,
“Oeek, oeek, oeek.”
Bayi berhasil terlahir dengan selamat.
Walau demikian, baik Kania maupun sang Pak Kusir tidak sempat untuk menikmati kesenangan tersebut.
Itu karena keadaan sang Ibu yang pendarahannya tak kunjung berhenti akibat persalinan yang dilakukan dengan seadanya.
Suatu keajaiban bahwa sang bayi bisa terlahir sehat tanpa cacat sedikit pun.
“Pak, bagaimana ini? Bagaimana dengan kondisi Kakak saya?”
“Denyut nadinya tidak stabil. Tapi ini lebih gawat dari biasanya. Bisa jadi karena pengaruh stress psikis menjelang kelahiran. Kita harus bergegas ke rumah sakit, Neng.”
Akan tetapi, bagaimanapun cepatnya kuda berjalan, batas tempuhnya terbatas.
Terlebih kuda butuh beristirahat secara berkala setelah menempuh jarak tertentu.
Bahkan sebelum meninggalkan area hutan, Sekar pun sekarat.
“Kania, tolong rawat anak ini dengan baik menggantikanku. Itu benar, namanya Dilan. Kuharap dia bisa menjadi anak yang ganteng seganteng ayahnya di masa depan dan bisa menjadi warga kota yang bahagia, tidak seperti ibunya yang berkarat di pedesaan.”
“Kakak?”
Sayangnya dengan ucapan terakhirnya itu, Sekar pun mengembuskan nafas terakhirnya.
“Tidaaaaaak!!! Kakaaaaaak!!!”
Air mata kesedihan bercampur frustasi membasahi pipi Kania.
“Oeeek, oeeek, oeeek.”
Tangisan sang bayi seketika terdengar merespon teriakan Kania yang menggelegar.
Tangisan sang bayi begitu imut, namun di telinga Kania itu justru terdengar bagaikan musik dari neraka.
Sang bayi yang terlahir ke dunia dengan merenggut nyawa kakaknya.
Sang bayi yang bahkan sampai akhir tak diketahui siapa ayahnya.
Kania hanya tak sanggup untuk menekan rasa bencinya itu terhadap sang bayi yang telah merenggut kakaknya dari sisinya.
Ingin rasanya Kania mencekik leher bayi itu sehingga suara tangisannya tak lagi terdengar untuk selama-lamanya.
Namun begitu melihat bayi itu, Kania bisa melihat kemiripannya dengan sang kakak yang paling dicintainya.
Sang bayi yang merupakan warisan terakhir yang ditinggalkan oleh sang kakak.
Sang bayi yang di akhir hayat kakaknya memohon untuk Kania agar merawatnya.
Bagaimana bisa Kania membenci bayi tersebut?
“Maafkan aku, maafkan aku, Dedek Bayi.”
Kania pun meminta maaf atas kekhilafannya yang sempat berpikir untuk membunuh sang Dedek Bayi yang imut itu.
.
.
.
Kania pada awalnya ingin menguburkan jasad Sekar setelah keluar dari hutan.
Namun dengan pertimbangan sang Pak Kusir, jasad Sekar pun akhirnya dimakamkan di suatu tempat di dalam hutan sebelum keluar dari area hutan itu.
Pak Kusir beralasan bahwa bau busuk dari jasad akan tidak nyaman dan bisa menimbulkan penyakit bagi sang bayi.
Itu memang benar adanya, tapi alasan sebenarnya Pak Kusir menyarankannya karena dia takut ditangkap oleh polisi karena telah melakukan persalinan ilegal, makanya dia ingin meninggalkan barang bukti untuk selama-lamanya di dalam hutan.
Bagaimanapun, niat awal Pak Kusir adalah ketulusan yang ingin membantu kedua kakak-adik yang terlihat kepayahan itu.
Ditambah, berkat dirinya pula setidaknya sang bayi bisa diselamatkan.
Jika saja Pak Kusir tidak memberanikan dirinya untuk mengulurkan tangan, mungkin tidak hanya sang Ibu yang akan meregang nyawa, tetapi Dilan sang bayi juga mungkin tidak akan selamat dan tidak akan pernah terlahir ke dunia.
Hanya saja hukum di Indonesia tidak mungkin akan mempertimbangkan ketulusan Pak Kusir itu dalam keputusannya.
Pada akhirnya, Kania dan sang Dedek Bayi Dilan pun berhasil meninggalkan hutan lantas mengunjungi desa terdekat.
Hal yang pertama kali Kania lakukan adalah meminta bantuan ASI warga setempat yang kebetulan juga sedang merawat bayi.
Secara beruntung, di antara barang bawaan Kania ada susu kaleng dan secara beruntung pula Dilan yang meminum susu kaleng yang tidak untuk bayi itu terlebih dengan menggunakan air dari sungai sebagai campurannya tidaklah mengalami diare.
Diare pada bayi sama dengan kematian sehingganya Dilan bisa keluar dari hutan dengan selamat dengan bekal seadanya memang benar-benar adalah suatu keajaiban.
Dengan bekal ASI yang cukup dari warga desa setempat, setelah menempuh perjalanan satu hari Kania dan Dilan pun berhasil selamat tiba di kota yang merupakan tempat tujuan awal Kania dan Sekar, tempat di mana bekas panti asuhan mereka dulunya juga berada.
Dengan saran dari Pak Kusir, Kania pun segera membawa Dilan ke rumah sakit untuk diperiksa kesehatannya lebih lanjut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Dayu Fabi
Bruh
2023-07-10
1
Rick
awas loh... jd horor ceritanya..
hiii... dimana anakku... hiii😬
2023-07-08
1
Rick
si bapak multi talenta ini 👍
2023-07-08
1