Di suatu kesempatan, Dilan pernah berkeluh-kesah kepada Kania bahwa dia merasa dirinya akan segera disingkirkan oleh pamannya demi persaingan harta warisan.
Kania di setiap kesempatan itu pula selalu menenangkan Dilan bahwa itu bisa saja hanya delusinya semata karena bisa saja sebenarnya pamannya amatlah mencintainya.
[Hati-hati jika Paman Cassian menemui Bibi. Dia punya niat yang sangat jahat pada Bibi.]
Namun ketika SMS dari Dilan itu sampai kepadanya, Kania seketika menjadi panik.
Walau dia mengatakan hal itu sebelumnya kepada Dilan, Kania yang telah menempuh hidupnya selama 29 tahun lamanya memang telah mengenal dengan baik kebusukan manusia.
Memang ada tipe-tipe sampah yang hidup di dunia yang kita tinggali bersama ini yang akan tega membunuh bahkan darah dagingnya sendiri perihal termakan oleh ketamakan harta.
Kania menyaksikan bagaimana raut wajah bengis Cassian yang tiba-tiba mendatanginya di dini hari buta tanpa pemberitahuan sebelumnya itu.
“Hei, Kania, bukan? Bisa berbicara sebentar?”
Mendengar suara rendah dari seorang pria dengan tampang kebengisan tersebut, tidak dapat lagi menahan Kania dari rasa takutnya lantas dengan sigap segera berusaha melarikan diri darinya.
Kania menyesal mengapa dia tidak mendengarkan nasihat Edo sebelumnya bahwa selama Edo tidak bisa menemaninya, sebaiknya dia minta dikawal saja oleh salah seorang rekan hostessnya ataukah dia sedari awal menundukkan kepalanya menahan rasa malu dengan meminta pertolongan sang boss untuk diantar pulang.
Musibah tidak akan pernah diketahui kapan datangnya.
Namun di kala itu datang, semuanya telah terlambat.
“Tolong!”
Tiada lagi yang dapat Kania lakukan kala itu selain meminta tolong sekencang-kencangnya mengharapkan bantuan dari orang asing yang bisa saja secara beruntung berada di situ yang bisa menyelamatkannya dari kebengisan Cassian sembari Kania menyelamatkan nyawanya dengan turut pula berlari sekencang yang dia bisa.
Dan di luar dugaan, di gang yang selalu sunyi di malam hari itu, tiba-tiba saja nampak seorang pemuda asing lewat yang Kania tidak kenali perawakannya sebagai pertanda bahwa pemuda itu bukanlah salah satu warga di kompleks di mana Kania tinggal tersebut.
Perihal ketakutan, Kania telah kehilangan rasionalitasnya lantas segera meminta tolong kepada seorang pemuda yang bahkan sama sekali tidak dikenalinya itu.
“Tolong aku, Dik. Aku dikejar sama orang yang mencurigakan.”
Kania telah salah langkah.
Dia baru saja menceburkan mukanya sendiri di gumpalan darah babi.
Bukannya menolong Kania, pemuda itu malah serta-merta mengeluarkan sebuah pisau dari balik sakunya.
‘Apa? Jadi dia rekan Cassian?’ Gumam Kania dalam hati menyesali kebodohannya itu yang justru berusaha mencari pertolongan kepada orang asing yang rupanya seorang rekan kejahatan.
Namun semuanya telah terlambat.
Pisau yang dipegang oleh pria itu terlanjur dilayangkan dan bagaimanapun Kania berusaha mengelak, tidak ada lagi peluang baginya untuk selamat dari serangan tersebut.
Kania yang ketakutan akhirnya justru memilih untuk menutup mata saja, keputusan yang sangat begitu bodoh.
Bagaimana mungkin rasa sakit tertikam pisau akan menghilang begitu saja hanya dengan menutup mata?
Namun lama Kania menunggu, tikaman itu tidak pernah juga muncul menghampirinya.
Dan di kala Kania membuka mata, seorang pria paruh baya telah berdiri di hadapannya dalam keadaan lengan yang berdarah.
Itu adalah Cassian.
Kania sendiri tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Namun bahkan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa pun bisa segera tahu bahwa Cassian yang ada di hadapan Kania kala itu tidaklah sedang berusaha menyakitinya, bahkan sebaliknya, berusaha melindungi Kania dari pemuda asing yang ada di hadapannya itu.
Cassian baru saja telah menggantikan Kania tertikam oleh tajamnya pisau dari sang pria asing tersebut.
“Kenapa?” Dengan setengah bergumam Kania berujar.
“Cepat menjauh dari sini!”
Kata-kata Cassian yang kasar segera mengembalikan kembali kesadaran Kania.
Secara insting, wanita itu pun menjauh dari lokasi di mana pria asing itu berada.
Terlihat bahwa sang pria asing ingin mencabut kembali pisaunya yang menancap ke daging Cassian demi mampu memberikan serangan yang lebih fatal lewat pisau itu.
Namun Cassian dengan sekuat tenaga menahannya.
Tak punya pilihan lain perihal serangan tendangan Cassian yang mengarah padanya, sang pemuda asing pun segera menjauh dengan memilih melepaskan pisaunya.
Lantas setelah hesitasi sejenak, rupanya sang pria asing lebih memilih untuk segera meninggalkan lokasi kejadian.
Cassian tak lagi mengejarnya, mungkin karena merasa dirinya tetap akan kesulitan menangkap sang pelaku dengan luka parah di lengannya itu.
“Mengapa kau menyelamatkanku? Bukannya kau datang kemari untuk mencelakaiku karena ingin melihat Dilan sebagai satu-satunya hambatan dalam karirmu menjadi hancur?”
Ujar Kania secara jujur dengan begitu polosnya kepada Cassian.
“Kau pikir aku ini apa, hah?! Mana mungkin aku melakukan itu kepada keponakanku sendiri hanya karena sesuatu yang trivial seperti harta kekayaan?!”
Cassian meraung.
Mungkin itu karena dia tulus mengatakan hal tersebut dari lubuk hatinya yang terdalam.
***
Kembali ke satu hari sebelumnya.
“Kania. Sudah kuduga keberadaan wanita itu sangat menganggu.”
Dengan wajah yang menyeramkan seakan siap membunuh orang, Cassian menatap lurus ke depan seolah dia bisa melihat sesuatu apa yang orang lain tidak bisa lihat.
-Toktok.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Itu jelas bukanlah Dilan yang baru saja meninggalkan ruangannya dengan penuh amarah.
Jika itu memang Dilan, tidak akan mungkin dia perlu berlaku sopan kepada Cassian dengan bersikap semisal mengetuk pintu sebelum masuk.
“Ya, masuk.”
Dengan nada rendah Cassian berucap, mengizinkan orang yang berada di seberang pintu tersebut untuk masuk.
Rupanya itu adalah sekretarisnya yang membawa tumpukan dokumen di tangannya.
Cassian segera menerima tumpukan dokumen itu dari tangan sang sekretaris.
#PENYELIDIKAN TENTANG ASAL USUL KENNIE#
#Nama Asli: Kania#
#Asal: tidak diketahui secara detail, sekitar sebelas tahun yang lalu mengubah KTP secara ilegal lantas berpindah ke Kota Makassar#
#Tempat, tanggal lahir: Kediri, 26 Januari 1994 (masih belum diketahui kebenarannya perihal pemalsuan KTP tersebut)#
(bla bla bla)
#Lampiran: sebuah foto keluarga#
Perhatian Cassian segera tertuju pada identitas foto yang ada pada lembar paling belakang pada isi laporan tersebut.
Itu perihal dia tidak mungkin tidak mengenali siapa identitas di balik seorang anak kecil yang berada di tengah-tengah pada foto tersebut.
Itu adalah Dilan kecil.
“Mengapa Kennie bisa memiliki foto Dilan? Kalau dipikir-pikir, sebelum aku mengambil Dilan, dia memang dirawat oleh seorang wanita yang mengaku sebagai bibi angkatnya…”
Tak butuh waktu lama bagi Cassian untuk menyadari hal penting tersebut.
“Jadi Kennie selama ini adalah Bibi Dilan yang telah merawatnya sewaktu kecil?”
Seketika lampu hijau menyala di atas kepalanya.
***
Kembali ke masa sekarang.
Cassian menatap wajah Kania dengan pandangan yang penuh kompleksitas.
“Ah, maaf. Bukan itu maksudku menuduh Anda. Bagaimanapun tampang Anda tadi sangat mencurigakan. Ah, bukan itu yang penting sekarang. Hei, apa Anda baik-baik saja? Duh gimana ini? Kita perlu untuk segera merawat luka-luka Anda.”
Namun terhadap perkataan Kania itu, Cassian hanya menggelengkan kepalanya.
“Luka-luka seperti ini bukan masalah bagiku sejak aku sudah terbiasa mengalaminya.”
Jawab pria paruh baya yang selalu berekspresi datar seolah sedang marah itu dengan kasualnya seolah luka parah di lengannya itu bukanlah hal yang besar baginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Myumy rev
Hmmm aku masih belum sepenuhnya percaya
2023-07-25
1
Myumy rev
Lahh!?
2023-07-25
1