Chapter 16 – MUSIBAH

‘Itu benar. kalau dipikir-pikir, Bibi dan Paman Cassian hanya bertemu sekali dan itu pun pertemuan mereka sangat singkat, jadi wajar jika Bibi sudah lupa dengan wajahnya.’

Sembari membuat banyak titik melalui pulpen yang dipegangnya di atas kertas, Dilan mencoba membenarkan logikanya sendiri.

Dilan masih saja belum bisa melupakan soal kekikukan Kania kemarin yang bahkan setelah mengetahui nama keluarga Dilan yakni Lekata, masih saja belum curiga alih-alih mengetahui bahwa sejatinya dialah sosok keponakan yang selama ini dirindu-rindukannya.

‘Tapi kan Paman juga turut memberikan Bibi kartu nama, kartu nama yang sama yang diterima oleh Bibi di hari itu untuk memperoleh uang ganti rugi membesarkanku. Bagaimana bisa dia belum mengenali aku? Ataukah setelah menerima uang ganti ruginya, Bibi langsung membuang kartu nama itu begitu saja saking tak inginnya lagi Bibi menemuiku?’

Membayangkan hal itu, wajah Dilan segera merosot ke meja.

Menyadari ada yang salah dengan sang keponakan, Alex, paman Dilan yang lain selain Cassian itu, segera menyapanya.

“Nak, Dilan? Kamu kurang sehat, Nak? Kalau iya, istirahat saja sekarang. Paman akan selesaikan sisa kerjaan yang tersisa. Lagian tidak ada meeting penting hari ini dan kamu sudah cukup bekerja keras menyelesaikan kerjaan penting untuk hari ini.” Ujar sang paman kepada Dilan.

Dilan tertawa simpul seraya menggelengkan kepalanya kepada sang paman.

Dilan cukup berekspresi lunak kala itu, sangat bertolak belakang dengan ekspresi yang selalu ditunjukkannya jika dia bersama Cassian.

“Hehehe. Nggak kok, Paman. Dilan baik-baik saja.” Jawab Dilan sembari dengan segera menengadahkan kepalanya kembali dari atas meja.

Namun di saat itulah, suara dering telepon terdengar di balik saku Dilan.

Begitu Dilan melihat siapa orang yang ada di balik panggilan itu, ekspresinya segera mengerut.

‘Palingan suatu hal yang tak penting lagi’, hanya itulah yang dapat dipikirkan oleh Dilan pada tema pembicaraan yang akan disampaikan oleh orang yang berada di seberang panggilan telepon itu.

Itu karena yang menelepon adalah Jamet, salah seorang rekan seperdosaan Dilan selama dia menetap di Kota Makassar.

“Dilan! Gawat, Dilan! Lho pokoknya harus segera datang ke rumah sakit Faisal sekarang juga!”

Namun berbeda dari dugaan Dilan, Jamet justru tampak panik di seberang telepon.

‘Apakah salah satu rekan seperdosaannya yang lain, Gems atau Ivan, mabuk-mabukan trus tanpa sengaja menabrak orang yang salah lantas dihajar habis-habisan hingga harus masuk rumah sakit? Ivan orangnya tenang, jadi apa itu mungkin Gems?’ Setidaknya itulah yang ada di pikiran Dilan beberapa saat yang lalu.

Akan tetapi, justru nama tak terdugalah yang keluar dari mulut Jamet.

“Kennie kecelakaan!”

Hanya dalam dua kata yang keluar dari mulut Jamet itu, sekujur tubuh Dilan mendadak dingin.

Emosinya seketika meluap-luap di mana detak jantungnya semakin kencang dan bertambah kencang.

Di tengah kepanikan itu, Dilan pun berkata kepada Alex.

“Baiklah, Paman. Tolong urus urusan kantor untuk hari ini. Aku pergi dulu.”

Tanpa menanyakannya pun, siapapun bisa menebak bahwa Dilan pergi bukan untuk beristirahat di rumah sesuai saran Alex, melainkan ada urusan yang lebih mendesak yang tidak bisa ditinggalkannya.

Di kala itu Cassian tiba di ruang kerja Dilan.

“Hei, Dilan! Ini masih jam kerja! Kau mau ke mana?!”

Sayangnya Dilan sampai tak punya waktu lagi untuk sekadar menjawab pertanyaan sang paman itu.

.

.

.

Sesampainya di UGD rumah sakit, bisa Dilan lihat bahwa ketiga teman seperdosaannya itu sedang duduk berjejeran bersama beberapa kawan hostess Kania di ruang tunggu rumah sakit.

“Dilan!”

Gems mencoba memanggil Dilan, namun Dilan yang terlanjur panik tak sempat lagi menggubris panggilan Gems tersebut.

Dilan langsung menuju ke suster terdekat yang bisa ditemuinya.

“Suster, apa Anda kenal dengan Kania? Itu… Dia cantik tapi sedikit kurus. Putih tapi sedikit kecoklat-coklatan. Ah, benar. Rambutnya panjang hitam mengkilap dan lurus dengan bola mata yang besar.”

“Ah kalau Mbak yang itu kayaknya aku pernah lihat deh, Kak. Dia saat ini berada di ruang pasien sebelah sana.”

Ujar sang suster seraya menunjuk salah satu kamar pasien UGD.

Mata Dilan segera berbinar-binar lantas segera ingin menemui Kania yang berada di dalam.

Namun perkataan sang suster selanjutnya segera membuat Dilan jantungan kembali.

“Pasien yang dirawat di sana benar-benar naas kondisinya, Kak. Kepalanya hampir pecah hingga dijahit sampai delapan kali jahitan. Jika bukan karena fisiknya yang kuat, mungkin dia tidak akan selamat. Lagipula orang ceroboh mana yang menaruh tumbukan batako dekat dengan teras hingga sampai mengenai kepala korban yang kebetulan lewat di bawahnya.”

Mendengar informasi selanjutnya dari sang suster, tiba-tiba kaki Dilan gemetaran.

Dia rasanya tak sanggup lagi untuk melangkah.

Dia ingin menolak kuat-kuat bahwa pesien naas yang dimaksud oleh sang suster adalah sang bibi, Kania.

‘Itu benar. Pasti ada pasien lain yang cantik tapi kurus, kulit putih tapi agak sedikit kecoklatan, bola mata besar, serta rambut mengkilap, panjang, hitam, serta lurus di rumah sakit ini selain Bibi Kania. Pasti yang dimaksud susternya bukan bibiku, Kania.’ Dilan sekali lagi ingin membenarkan pendapatnya sendiri di hatinya.

Dengan perasaan gugup, Dilan membuka pelan-pelan pintu kamar pasien tersebut.

Dia begitu berkonstrasi hingga tanpa sadar di belakangnya sudah ada Gems, Ivan, dan Jamet yang mengikutinya.

Namun begitu pintu kamar pasien dibuka,

“Dilan?”

Sang bibi memanggil nama Dilan dengan heran.

Tampak sekujur tubuh sang bibi baik-baik saja.

Dilihatnyalah di samping Kania, seorang pria paruh baya bertubuh besar nan kekar dengan kepalanya yang mengkilap tertutupi seluruhnya oleh kain perban sedang terbaring tak berdaya.

Dilan sekilas mengenang kembali perkataan dari sang suster.

“Ah kalau Mbak yang itu kayaknya aku pernah lihat deh, Kak. Dia saat ini berada di ruang pasien sebelah sana.”

“Pasien yang dirawat di sana benar-benar naas kondisinya, Kak. Kepalanya hampir pecah hingga dijahit sampai delapan kali jahitan. Jika bukan karena fisiknya yang kuat, mungkin dia tidak akan selamat…”

Sang suster tak pernah sekalipun mengatakan bahwa wanita yang dicari Dilanlah yang sedang mengalami kecelakaan naas.

Dilan pun seketika melirik ke arah Jamet yang memberinya informasi salah tersebut, faktor utama yang menyebabkan Dilan bisa sampai salah menafsirkan perkataan sang suster.

“Kau bilang Kennie kecelakaan?”

Namun bukan Jametlah yang menjawab pertanyaan Dilan tersebut, melainkan jawaban datang langsung dari mulut Kania.

“Itu benar, Dilan. Aku tadi malam mengalami kecelakaan dengan Edo. Ada tumpukan batako tiba-tiba jatuh dari atas kami. Syukurlah Edo dengan gesit mendorongku menjauh sehingga aku hanya mengalami sedikit lecet di lengan. Tapi keadaan Edo… hiks… hiks… kuharap Edo bisa segera siuman.”

Melihat sang bibi bersedih, Dilan pun mengambil kesempatan tersebut untuk memeluk sang bibi demi merasakan buah susu sang bibi yang besar… tidak, itu memang sedikit terbersit di pikiran Dilan, namun faktor utama Dilan melakukannya adalah benar-benar karena kelegaannya bahwa bibinya untungnya baik-baik saja.

“Kania?”

Di luar dugaan beberapa saat setelah Kania melampiaskan kekhawatirannya terhadap Edo, Edo siuman.

“Edo! Syukurlah kamu siuman, Edo. Hiks… hiks…”

“Idih, luka segini sih tidak ada apa-apanya buatku, Kania. Aku tuh kuat tahu.”

Kania memeluk Edo dengan penuh haru.

Akan tetapi Dilan alih-alih cemburu, lebih bertanya-tanya mengapa si pria kekar itu malah ngondek?

Terpopuler

Comments

Myumy rev

Myumy rev

Awowkowk aku pun heran kok bisa gitu lho😂

2023-07-16

1

Myumy rev

Myumy rev

Itu Edo ya? bener-bener bodyguard nya Kania ya🥺

2023-07-16

1

Myumy rev

Myumy rev

Kasian Dilan pasti syok banget dia

2023-07-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!