CHAPTER 5 – SULIT

Lima tahun kemudian.

“Hehehehe. Tangkap aku coba kalau Bibi bisa. Hehehehe.”

Terlihat pemandangan seorang anak kecil tampan berlarian begitu cerianya di antara semak-belukar rumput yang rindang.

“Duh, Dilan. Habiskan dulu makanannya sini baru main lagi gih. Bibi suapin.”

“Hehehehe. Dasar Bibi lamban.”

“Duh, kamu ini.”

Rupanya anak kecil itulah Dilan yang telah tumbuh besar dengan sehat.

Berkat pertolongan Dewinta, kini Kania mampu bekerja sebagai asisten penjaja kedai dan akhirnya sanggup untuk menafkahi dirinya dan Dilan bahkan sampai Dilan tumbuh kian besar di usianya yang genap menginjak lima tahun itu.

“Kania. Kedai bentar lagi mau buka. Cepat bantu Ibu beres-beres nih.”

“Oh iya, baik Bu.”

Dengan panggilan Dewinta itu, Kania bergegas.

Seketika Kania menatap dengan pandangan yang panjang ke arah Dilan.

Seakan mengerti bahwa bibinya sedang buru-buru untuk kerja, Dilan yang semula aktif langsung menjadi anak baik penurut dengan segera menghabiskan sisa makanannya dengan disuapi oleh bibi tercintanya itu.

“Hehehehe. Hari ini juga menyenangkan ya, Bibi. Kuharap hari-hari lain juga akan semenyenangkan ini.”

“Duh kamu ini. Tentu saja harus begitu. Selama Bibi masih hidup, pasti Bibi akan membuat hidup Dilan bahagia.”

“Janji ya Bi. Sampai kapanpun Bibi tidak akan pernah meninggalkan Dilan.”

Hati Kania seketika bergetar begitu mendengarkan ucapan itu keluar dari mulut Dilan.

Entah mengapa kalau Kania bisa menangkap keseriusan di balik obrolan seorang anak yang bahkan baru menginjak usia lima tahunnya.

Kania pun seketika memeluk Dilan.

“Bagaimana bisa Bibi akan meninggalkan keponakan Bibi yang imut ini. Bibi janji bahwa mulai sekarang, hanya akan ada kebahagiaan yang menyertai hidup kita.”

Sayangnya berbeda dari harapan Kania, kemalanganlah yang justru segera menjemput mereka.

“Ukh.”

“Ah, Ibu!”

Kania yang semula asyik melayani para pelanggan kedai beserta para anak yang sesekali datang untuk membeli jajanan seketika menjadi kaget begitu melihat Dewinta yang biasanya segar-bugar tiba-tiba saja jatuh pingsan.

Kania pun segera membawa ibu angkatnya itu ke puskesmas terdekat.

Bisa terlihat ekspresi shok di wajah sang dokter puskesmas, namun sang dokter tidak bilang banyak hal selain memberikan Kania surat rujukan ke rumah sakit yang lebih besar untuk lebih memastikan lagi hasil diagnosa penyakit Dewinta.

Namun dari ekspresi sang dokter puskesmas, bisa tertebak bahwa penyakit yang menimpa Dewinta bukanlah penyakit yang ringan walaupun sang dokter tidak bilang banyak.

Kania sedari awal sudah was-was begitu mengetahui bahwa poliklinik yang mesti dikunjunginya bukanlah poliklinik umum atau semacamnya melainkan poliklinik kulit dan kelamin.

“Bu Dewinta menderita kanker kelamin. Tampaknya Beliau dulu sering bergonta-ganti pasangan. Penyakit ini memang sering muncul di kemudian hari bagi para pelaku pekerjaan pramuria.”

Setelah Kania berpikir bahwa setelah hari itu hanya akan ada kebahagiaan yang menantinya hidup bersama Dilan dan Bu Dewinta, sekali lagi petir menyambar di kepalanya.

Di hari itu pula Kania akhirnya mengetahui rahasia terbesar Dewinta.

Dewinta yang dikenalnya sebagai seorang sosok ibu yang baik ternyata memiliki masa lalu yang sangat kelam.

Beliau adalah mantan seorang pelaku pekerjaan pramuria komersial.

Hari silih-berganti.

Para dokter telah berusaha melakukan upaya terbaik mereka menyembuhkan Dewinta dengan melakukan operasi sebanyak dua kali, namun sayangnya kondisi Dewinta tidak kunjung membaik.

Perlahan, mantan pramuria itu semakin melemah.

Badannya yang semula aduhai perlahan menjadi kurus kering.

“Hiks, hiks.”

“Kania?”

Dalam lirihnya, Dewinta memanggil Kania.

Mungkin karena mendengarkan isak tangis remaja yang baru menginjak usia 14-nya itu, Dewinta menjadi khawatir kepadanya.

“Maafkan Ibu, Nak. Ibu telah mengecawakan Kania.”

“Tidak! Mana mungkin Ibu mengecewakan Kania! Justru berkat Ibulah yang selama ini merawat Kania dan Dedek Dilan, kami bisa hidup dengan baik selama lima tahun ini!”

“Kania…”

“Ibu…”

“Di masa muda dulu, orang tua kandung Ibu meninggal di kala usia Ibu masih muda. Ibu yang masih polos kala itu, terjebak oleh jebakan paman kandung Ibu sendiri yang menjadikan Ibu menjadi seorang pramuria.”

“Seorang wanita lemah yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia, tiba-tiba saja disuruh untuk melayani berbagai jenis pria yang sama sekali Ibu tidak pernah kenal sebelumnya.”

“Ingin rasanya Ibu menjerit, namun sekuat apapun Ibu menjerit, tidak ada satu pun pertolongan yang datang.”

“Ibu pun terpaksa melakukannya sekali dua kali, namun tanpa sadar, Ibu akhirnya sudah terbiasa dengan itu dan akhirnya melakukan pekerjaan hina itu dengan kehendak Ibu sendiri.”

“Suatu hari, ada pelanggan nakal yang memaksa Ibu berhubungan tanpa mengenakan balon"

“Mungkin itulah penyebabnya akhirnya Ibu jadi hamil, namun berkat itu pula Ibu akhirnya mendapatkan pensiun sementara dari pemilik rumah pramuria untuk Ibu diberikan waktu menggugurkan bayi yang ada di perut Ibu.”

“Tapi hal itu justru Ibu jadikan kesempatan untuk melarikan diri untuk selamanya dari tempat hina itu dan bertekad untuk merawat jabang bayi yang ada di kandungan Ibu mulai saat itu.”

“Dengan uang yang Ibu kumpulkan dari pekerjaan hina itu, Ibu membeli sepetak tanah lantas membangun kedai dan akhirnya Ibu bisa mendapatkan pekerjaan yang halal.”

“Dengan uang yang Ibu kumpulkan dari berjualan di kedai itu, akhirnya Ibu bisa lahiran dengan selamat lantas membesarkan bayi Ibu.”

“Namun Tuhan berkehendak lain dan akhirnya anak Ibu yang masih berusia dua tahun itu pun harus meninggal dunia karena suatu penyakit.”

“Itulah sebabnya kedatanganmu dan Dilan ke tempat Ibu benar-benar anugerah besar buat Ibu seakan Ibu kembali memperoleh apa yang hilang dari diri Ibu selama ini melalui kehadiran kalian berdua.”

“Sayangnya, dosa itu tidak bisa dihapus dan kini Ibu harus menanggung akibatnya.”

“Kania…”

Sekali lagi Dewinta dengan lirih memanggil Kania.

Kania masih tampak shok dengan fakta masa lalu Dewinta yang baru saja diceritakannya kepada putri angkatnya itu.

“Jika seandainya Ibu nanti tiada, hiduplah dengan baik dan jangan sampai pernah terjerumus ke dalam lubang yang sama dengan Ibu sesulit apapun nanti kehidupanmu. Tidak akan ada hal yang baik muncul dengan menjadi seorang pramuria. Camkan hal itu baik-baik, Nak.”

Rupanya, itulah nasihat terakhir yang Kania bisa dengarkan dari ibu angkat tercintanya itu perihal keesokan harinya Dewinta pun mengembuskan nafas terakhirnya.

“Hiks… Hiks… Ibu.”

Dalam linangan air mata, Kania mengantar kepergian Dewinta ke liang lahatnya yang menjadi tempat peristirahatan terakhirnya tersebut.

Lalu setelahnya, Dewinta yang mengharapkan yang terbaik bagi kehidupan anak angkatnya itu, justru karena masa lalu dirinya yang kelam, kini Kania-lah yang harus menanggung akibatnya.

Tidak butuh waktu lama bagi para warga mengetahui penyakit yang menimpa Dewinta melalui gosip yang beredar yang diawali dari sang suster puskesmas yang melanggar integritasnya sebagai seorang petugas medis yang seharusnya mampu merahasiakan apapun penyakit pasien.

Kania yang tidak ada sangkut-pautnya dengan masa lalu Dewinta pun mulai diperlakukan hina layaknya Kania sendirilah yang melakukan perbuatan bejat itu.

Para warga menggunjingnya, menjauhinya, dan bahkan tidak jarang pula mendiamkannya.

Kedai Dewinta yang pada mulanya ramai, kini mendadak sepi karena takut ketularan penyakit sial dari sang pramuria.

Apa yang lebih buruk adalah kini justru banyak pria bejat yang datang berkunjung ke kedainya hanya untuk melecehkan Kania yang mulai tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

Tak ada rem lagi bagi para pria bejat itu untuk melakukannya sejak mereka berpikir bahwa anak yang dirawat oleh seorang pramuria juga pastinya ketika besar kelak akan mewarisi sifat ibunya menjadi seorang pramuria.

Kehidupan sulit Kania dan Dilan pun dimulai lagi sejak saat itu.

Dan di tengah-tengah kesulitan kehidupan itu, petir lain segera datang menerjang hidup Kania sekali lagi.

Keluarga dari pihak ayah Dilan yang selama ini tidak pernah ada kabarnya tiba-tiba saja muncul untuk menjemput Dilan, membawa Dilan dari hidup Kania untuk selama-lamanya.

Terpopuler

Comments

Sarah ajha

Sarah ajha

Makanya jauhilah dunia malam

2023-07-23

1

Sarah ajha

Sarah ajha

Sudah kuduga 🥺

2023-07-23

1

Sarah ajha

Sarah ajha

Kayak mendengar white flag kk 🤭

2023-07-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!