Chapter 12 - KENCAN

Minggu pagi, terlihat Kania keluar dari kediaman kontrakannya dalam keadaan berat hati.

Hari minggu seharusnya menjadi waktu satu-satunya bagi Kania dalam sepekan untuk beristirahat perihal di hari reguler dia harus bekerja baik siang maupun malam.

Sebagai pegawai mall di siang harinya dan sebagai hostess pada malam hari.

Kania terpaksa mengorbankan waktu istirahatnya yang berharga itu perihal kesalahannya sendiri.

Dia yang melanggar kesepakatan terhadap pelanggan harus menggantikan waktu yang terbuang percuma dari pelanggan tersebut di waktu liburnya yang berharga saat ini.

Pada saat Kania sampai di tempat yang dijanjikan, terlihat sudah sebuah mobil mewah berwarna merah parkir di sana.

Hari ini Kania akan kencan bersama Dilan sebagai pelanggan yang telah Kania salahi kesepakatannya itu.

“Ah, Bibi sudah datang akhirnya. Yuk naik, Bi.”

Dengan senyumnya yang imut, Dilan menurunkan kacamata hitamnya seraya menatap wajah sang bibi dengan tatapan mata yang menggoda.

Kania yang masih ketakutan terhadap Dilan perihal kejadian kemarin hanya dapat menurut patuh memasuki mobilnya itu sembari memegang alat sengat listrik yang dia sembunyikan di balik tas hitam kecilnya.

Kania masih trauma bahwa Dilan yang tak bisa ditebak temperamennya itu sekali lagi akan mencoba menggerayangi tubuhnya ataukah menempelkan senjatanya di badannya sambil menikmati aroma tubuhnya.

Tanpa menyadari itu, Dilan hanya cengar-cengir bahagia sembari mengendarai mobilnya karena apa yang telah dinanti-nantikannya selama ini akhirnya kecapaian.

Betapa kagetnya Kania karena rupanya Dilan hendak memarkirkan kendaraannya di suatu mall yang terdapat sebuah hotel di dalamnya.

Secara insting pandangan Kania tertuju kepada hotel tersebut.

“Dilan, kita mau ke mana?”

Dengan tatapan curiga, Kania melirik Dilan sembari masih memegang alat sengat listriknya dari balik tasnya sebagai senjata pertahanan diri.

“Apa yang Bibi lakukan? Cepat kemari. Kita makan dulu sebelum masuk ke bioskop.”

“Ah.”

Kania segera bernafas lega begitu Dilan justru mengajaknya ke arah lain dari tempat di mana hotel berada.

Kencan yang manis pun terjadi di antara mereka berdua.

Sehabis makan, mereka bermain di pusat permainan sejenak sembari menunggu waktu tayang film di bioskop dimulai.

Kania yang simpel segera mampu melupakan segala bentuk kewaspadaannya terhadap Dilan begitu menikmati seluncuran air, ice skating, sampai pada game zombie pada wahana bermain tersebut.

Dilan hanya menatap sang bibi dengan tatapan penuh arti sembari turut tersenyum kecil begitu melihat bibinya bahagia.

Tanpa terasa waktu empat jam berlalu dengan cepat dan sekarang jam telah menunjukkan pukul 2 siang.

Kania dan Dilan segera mengunjungi bioskop yang sebelumnya telah mereka pesan tiketnya.

Semula Kania sama sekali tak tahu apa-apa tentang jenis film apa yang akan mereka tonton.

Itu karena yang memesan tiketnya sepenuhnya adalah Dilan di mana Kania mengiyakan saja karena dari posternya, itu hanya menunjukkan film bertemakan keluarga dengan judul yang normal, ‘Tetangga Ideal.’

Akan tetapi begitu film mulai diputar, Kania harus menutup matanya sepanjang film diputar karena berbeda dari ekspektasinya, itu adalah film 18+.

“Mengapa film seperti ini sampai lulus sensor buat remaja?”

Keluh Kania di saat film masih menayangkan adegan yang dianggapnya tidak layak itu.

Dilan tertawa simpul menyaksikan tingkah laku Kania yang unik itu.

Bagaimana bisa seorang hostess seperti dirinya yang telah banyak menghadapi para pria hidung belang sampai tak tahan melihat adegan yang masih dikategorikan biasa di zaman modern saat ini?

“Adegan seperti itu masih tergolong wajarlah, Bi, di era sekarang. Kecuali ada adegan ketelanjangan vulgar atau pembicaraan pornografinya terlalu terang-terangan, itu tidak akan disensor apalagi diboikot oleh lembaga film.”

“Tapi itu seharusnya masuk film 18+ rated. Lagipula bagaimana bisa ada seorang anak SMA jatuh cinta pada wanita yang sudah kepala tiga puluhan? Trus juga si wanita itu terlalu kecentilan. Dia terkesan sengaja menggoda sang anak remaja dengan berjalan sambil melenggak-lenggokkan pantatnya ke sana ke mari. Dih, aku tak sanggup lagi melihatnya.”

Suara Kania terdengar cukup besar sehingga tatapan mata penonton bioskop lain ikut tertuju padanya.

Namun Dilan sama sekali tidak peduli terhadap hal itu.

Melebihi tatapan orang lain, hati Dilan berdigik.

“Tapi, Bi. Aku mencintai Bibi. Bagiku perbedaan usia sepuluh tahun tidak ada artinya buatku. Tidak bisakah Bibi menerima cintaku saja?”

Serangan tidak terduga segera dilancarkan oleh Dilan kepada Kania.

Namun sebagai hostess, Kania telah mahir berdalih menolak para pelanggan hidung belang yang senantiasa menggodanya.

Dengan senyum playful, Kania menatap Dilan.

“Duh, kamu ini masih kecil, Nak. Kamu bisa bilang itu karena sekarang belum dewasa saja.”

“Apanya yang belum dewasa?! Aku sudah 20 tahun, Bi!”

Suara Dilan cukup besar pula sampai-sampai petugas sekuriti bioskop akan segera mendatanginya.

Namun di situlah Kania tetap memasang ekspresi tegarnya seolah sudah terbiasa melakukannya dari pengalamannya menjadi seorang hostess selama sebelas tahun lamanya itu.

“Ya, ya. Dilan kita sudah besar rupanya.”

Kania tidak mengiyakan maupun menolak pernyataan cinta dadakan dari Dilan itu padanya dengan aktingnya yang senatural mungkin mengalihkan perhatian melalui senyum playful-nya.

Setelah keluar dari bioskop, tampak Dilan masih merajuk perihal Kania yang memperlakukannya sebagai anak kecil.

“Ini menyenangkan! Rutinitasku selama ini meletihkan. Sekali-kali merubah suasana dengan bermain di wahana hiburan dan menonton bioskop seperti ini rupanya menyenangkan juga. Terima kasih, Dilan, karena telah memberikanku pengalaman yang menyenangkan ini.”

Namun begitu melihat ekspresi puas Kania di mana tak tampak lagi sikap waspada Kania terhadap dirinya pasca Dilan melakukan tindak kekerasan itu, Dilan turut tersenyum puas.

‘Yah, lagipula masih ada banyak kesempatan lain bagiku untuk menyatakan cintaku pada Bibi,’ pikir Dilan dalam hatinya.

Dilan masih belum menyerah untuk mendapatkan perasaan cinta dari sang bibi.

Pukul 4 sore lewat, Dilan ingin mengajak Kania ke destinasi kencan selanjutnya, akan tetapi Kania segera menolak ajakan itu.

“Maaf, Dilan. Aku letih. Aku ingin memanfaatkan sisa waktu malam harinya buat beristirahat perihal paginya aku masih harus kerja.”

“Bukannya pekerjaan Bibi itu malam hari?” Dilan yang baru pertama kali menerima informasi itu akhirnya bertanya.

“Ah, bukan. Maksudku bukan pekerjaan di klub, tapi pekerjaan regulerku sebagai sales di mall.”

Mendengar pernyataan Kania itu, mata Dilan segera terbelalak sembari gemetar.

Dengan kaget pun, Dilan berujar, “Bibi juga bekerja di pagi hari? Lantas kapan Bibi istirahatnya?”

“Itu dia makanya, Dilan. Aku ingin pulang dulu sekarang soalnya sudah terlalu letih. Waktu istirahatku terlalu sedikit.”

Mendengar pernyataan Kania, Dilan tiba-tiba merasa bersalah karena telah mengorbankan waktu istirahat berharga dari sang bibi demi keegoisan pribadinya.

“Mengapa Bibi sampai harus bekerja sekeras itu?” Tanpa sadar pertanyaan itu muncul dari mulut Dilan.

Jika itu permasalahan utang, Dilan yang kini telah menjadi kaya-raya akan segera sanggup untuk mengatasi masalah sang bibi.

“Kamu pernah lihat fotoku di hari itu kan? Sebenarnya aku bohong di hari itu. Foto anak perempuan itu sebenarnya adalah aku dan anak kecil manis berambut ikal itu adalah keponakanku. Dia kini telah diasuh oleh ayahnya yang kaya-raya dan hidup bahagia. Aku bukannya bermaksud bagaimana, hanya saja…”

Belum selesai Kania mengutarakan alasannya, air mata itu tumpah dari kedua bola matanya.

“Hanya saja aku tak ingin anak itu diremehkan oleh keluarga barunya begitu tahu bahwa dia punya keluarga yang miskin seperti bibinya. Makanya aku sampai lari ke luar pulau ke tempat ini dan memutuskan segala kontak dengannya lantas berusaha mencari uang sebanyak-banyaknya di sini. Dengan harapan begitu punya uang banyak, aku dengan bangga bisa kembali menemui Dilan.”

Kania menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi ke langit.

“Rasanya aneh juga menceritakan hal ini kepada orang asing yang baru aku temui, tapi entah mengapa aku merasa nyaman berbicara denganmu, Dilan. Ah, oh iya, keponakanku itu juga bernama Dilan, sama sepertimu, hehehe.”

Dari wajah yang cerah ketika menatap langit, sinar mata itu seketika hilang bagai ikan mati.

“Nyatanya sampai sebelas tahun berlalu, sama sekali tak ada perubahan di hidupku. Aku masihlah Kania si wanita miskin yang hanya bisa direndahkan. Mungkin untuk selamanya, aku takkan lagi sanggup menemui keponakanku itu.”

Mendengar ucapan dari sang bibi, ingin rasanya Dilan berteriak, ‘Keponakan yang dicari-carinya ada di hadapannya saat ini’, namun ditahannya.

Itu karena cinta yang diharapkan oleh Dilan pada Kania bukanlah cinta keluarga, melainkan cinta di antara pria dan wanita.

Terpopuler

Comments

Nora Neko

Nora Neko

Kamis akan benci Dilan hak ya nantinya kalau tau kenyataan?

2023-10-20

1

Sarah ajha

Sarah ajha

Kapan kau tidur Kania? 😀

2023-07-27

1

Myumy rev

Myumy rev

Jadi penasaran reaksi Kania kalau dia tau Dilan sang keponakan adalah si bujang kampret itu

2023-07-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!