“Ah, nikmatnya!”
Kania meraung puas atas belaian lembut pria itu padanya.
Walaupun badannya saat ini kurang leluasa bergerak perihal tertindih oleh sesuatu yang keras namun hangat, Kania meraung puas.
Tubuhnya dipenuhi oleh keringat kepuasan.
Dilan, sang keponakan, melihat bibinya berekspresi seperti itu tidak dapat merasakan perasaan lain selain kebahagiaan.
“Syukurlah kalau Bibi puas dengan layanan yang kuberikan. Apa kita perlu satu ronde lagi?”
“Ah, ah, ah.”
Kata-kata Dilan hampir tak terdengar lagi oleh Kania perihal rasa kenikmatan yang dia rasakan saat ini yang sensasinya begitu membuat ketagihan.
Melihat ekspresi sang bibi itu, Dilan hanya mampu tersenyum kecut.
Dia pun memberikan isyarat kepada pria gemulai yang saat ini sedang mengeramasi rambut bibinya itu agar lebih memperlakukan Kania dengan lembut.
“Ternyata ini ya rasanya jadi orang kaya. Nikmat banget, Dilan. Aku baru tahu kalau dikeramasi di salon itu senikmat ini rasanya padahal ini bukan pertama kalinya aku creambath di salon lho.”
“Layanan di salon sini memang spesial, makanya aku langganan di sini.”
Entah mengapa justru Dilan-lah yang terlihat membanggakan dirinya di hadapan bibinya atas pelayanan salon yang berkualitas elit itu yang sesuai pula dengan bayarannya.
Dilan turut merasa senang karena ekspresi ikan mati di wajah bibinya sudah tak terlihat lagi.
Hal itu bagaimanapun adalah juga karena kesalahannya yang mengambil libur Kania yang berharga kemarin sehingga Kania jadinya kurang dapat beristirahat.
Untuk menebus kesalahannya itu, Dilan pun sengaja menyewa sang bibi dari tempat kerjanya demi memberikan sang bibi liburan.
Tiada yang tidak mampu Dilan beli dengan uang, bahkan jika itu seorang pegawai tetap kontrak dari sang boss perusahaan besar di mana pegawai itu bekerja.
Jadilah Kania selama kurang lebih 4 jam itu menikmati waktu santainya dengan spa, pedicure, manicure, serta creambath yang memuaskan.
Namun waktu dengan cepat menunjukkan waktu pukul satu siang.
-Kruyuk.
Tiada yang paling bisa menghentikan manusia dari aktivitas penuh kesenangan apapun selain daripada perasaan lapar.
Suara perut Kania benar-benar cukup menggema hingga sanggup terdengar oleh orang-orang di sekelilingnya.
“Ah, maafkan aku. Tadi aku hanya sempat sarapan sedikit remah roti jadi cepat lapar, hehehe.”
Dilan menghela nafasnya panjang.
Dia yang selama ini hidup enak di keluarga Lekata sama sekali tak tahu bahwa bibinya telah hidup penuh penderitaan perihal kemiskinan.
Dilan sama sekali tak punya klu tentang itu karena seingatnya sang bibi telah menjualnya ke keluarga Lekata dengan imbalan uang sebesar satu milyar rupiah.
‘Ke mana perginya uang sebanyak itu, apa bibinya terjebak perjudian atau semacamnya’, Dilan tiada lain hanya sanggup untuk memikirkan hal itu.
“Yuk kita makan siang dulu sebentar di luar, Bi.”
Dilan pun mengajak Kania ke retoran mewah yang segera membuat Kania terkaget-kaget dengan harganya.
Bagaimana bisa steak sekecil itu dihargai dengan uang hampir sepuluh juta rupiah yang setara dengan gaji kerja Kania di mall selama 3 bulan?
Dilan dengan bangga mengatakan kepada bibinya bahwa itu bukan apa-apa baginya dengan uang yang ada di sakunya, tetapi Kania dengan gesit menarik Dilan keluar lantas membawa pemuda flamboyan itu alih-alih ke restoran mewah, malah ke suatu kedai makanan sederhana tapi bersih.
“Bi, ada apa dengan tempat ini?”
“Aku tahu kamu tuh kaya, Dilan. Tapi tidak baik juga selalu menghambur-hamburkan uang. Makanan kelas bawah itu tidak kalah nikmatnya sama makanan kelas atas yang kamu sering makan. Bi, pesan nasi semur jengkolnya dua porsi!”
Dilan hanya termangu melihat penampilan Kania yang tidak biasa itu baginya.
Tidak, itu adalah tampilan seorang tante-tante yang memang sudah sesuai dengan usianya.
Dengan hesitasi, Dilan menatap semur jengkol yang baunya menyengat yang ada di hadapannya itu.
Namun melihat Kania begitu menikmatinya dengan lahap, Dilan pun menjadi penasaran pula untuk mencicipinya.
Di luar dugaan, rasanya cukup gurih dan memuaskan seleranya.
Itu segera mengingatkan Dilan kembali pada pengalaman ketika Nenek Dewinta-nya masih hidup.
Sehabis makan dari kedai makanan, Dilan keheranan mengapa Kania sampai memesan begitu banyak kotak makanan pulang bersamanya.
Tapi tentu saja dia yang kaya raya sama sekali tidak ada masalah untuk membelikan makanan Kania yang harganya tak seberapa itu walaupun jumlahnya berjibun.
Di luar dugaan, Kania rupanya berkunjung ke salah satu panti asuhan di dekat situ lantas membagi-bagikan makanan yang sebelumnya telah mereka beli itu.
“Aku dulu juga lahir di panti asuhan. Itu sebabnya aku paham penderitaan mereka sehingga jika ada sedikit kelebihan rezeki, aku berbagi dengan mereka.”
Ujar Kania dengan tulus.
Di luar dugaan Dilan, Kania yang hidupnya cukup susah, masih saja mau berbagi dengan orang sekitarnya yang membutuhkan.
‘Lantas bagaimana dengan proyek mengumpulkan uang demi bertemu sang keponakan?’, di satu sisi Dilan merasakan bitter end terhadap sikap Kania yang dermawan tersebut.
“Lihatlah, Dilan, dengan uang makan harianmu yang kamu kira kecil nilainya itu, seberapa banyaknya perut kosong dari anak-anak kelaparan yang dapat diisi.”
Ucapan Kania selanjutnya membuat Dilan merasakan sensasi kepahitan sendiri di hatinya.
Namun memang begitulah sifat bibinya yang dia kenal sebelas tahun silam, setidaknya sebelum bibinya menjualnya hanya dengan uang satu milyar.
Itu di luar rencananya, tapi Dilan tetap merasa puas.
Itu karena dia berhasil mengenal bibinya yang dulu berpisah dengannya dengan perasaan pahit, kembali menjadi sosok bibi yang dipujanya.
Semuanya seharusnya berjalan baik-baik saja sampai saat itu.
Namun begitu Dilan menurunkan Kania di jalan dekat kontrakannya yang bisa dikatakan di mana segala jenis orang bisa berkumpul termasuk preman dan pramuria, Dilan dikagetkan oleh suatu sosok yang seolah telah menunggu kedatangannya di sana.
“Bagaimana Paman bisa ada di sini…”
Dilan seketika panik.
Itu karena dia takut identitasnya itu akan terbongkar di hadapan Kania.
Kania mungkin tidak mengenali Dilan perihal wajahnya yang sudah banyak berubah dari wajah kanak-kanaknya sebelas tahun silam, tetapi itu berbeda dengan Cassian.
Cassian yang berumur baik 23 maupun 34 tahun itu tidak menunjukkan banyak perbedaan.
Bagaimana mungkin Kania yang sudah pernah bertemu dengannya sekali tidak akan mengenalinya?
Terlebih dengan ciri khas pamannya yang spesial itu yang akan segera memberikan bekas mendalam bagi seseorang yang baru pertama kali melihatnya baik dari segi wajahnya yang tampan tapi beringas maupun dari segi tabiat ‘ore sama’-nya yang kental.
“Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu mengkhianati kepercayaan Paman dengan terlibat sama pramuria murahan!”
Ujar Cassian seraya melirik Kania seakan memperjelas bahwa maksud pramuria murahan itu ditujukan untuk dirinya.
“Maaf, aku memang seorang hostess, tapi aku bukan pramuria yang menjual tubuhya demi uang!”
Kania balas membentak Cassian.
Melihat itu Dilan jadi terperangah.
Di luar dugaannya, sang bibi lebih kikuk dari yang dibayangkannya sehingga masih tak mengenali sang paman, Cassian.
“Memangnya ada bedanya?”
Cassian segera memiringkan kepalanya tanda tak paham tentang apa yang dikatakan oleh Kania.
Sama halnya dengan pola pikir Dilan, bagi Cassian seorang hostess tak ubahnya sama saja dengan para pramuria.
Cassian juga tampaknya belum mengenali sang bibi yang ada di hadapannya itu.
Namun bagi Dilan itu adalah peluang.
Dia pun segera menyeret sang paman sebelum bicara yang lebih tidak-tidak yang dapat membongkar identitasnya di hadapan Kania.
Sayangnya, Cassian terlanjur melepaskan bom yang selanjutnya.
“Harap Anda ingat, keluarga Lekata tidak selevel dengan Anda jadi tolong jauhi Dilan kami.”
Ujar Cassian seraya melemparkan kartu namanya di hadapan Kania.
“Jika apa yang Anda incar adalah uang, silakan hubungi saja nomor yang tertera di situ! Aku, Cassian Lekata, pasti akan memberikan kepada Anda imbalan yang sesuai asal Anda bersedia tidak lagi terlibat dengan Dilan kami yang berharga!”
Mana mungkin sekarang Kania tidak menyadarinya siapa dua orang yang ada di hadapannya itu setelah dengan gamblang Cassian menyebutkan identitas keluarga mereka.
Namun Kania justru bertindak di luar ekspektasi Dilan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Sarah ajha
idih kk bisa aja. aku sempat berpikiran ke sana padahal 🤭🙏
2023-08-09
1
Myumy rev
Di gantung pulak aku,ngapain nih Kania nya thor haduh🥲
2023-07-13
1
Myumy rev
Oow bom banget ini,bakal ketahuan sih
2023-07-13
1