CHAPTER 9 – POTRET

Kennie jauh terlihat lebih muda dari usianya.

Itulah sebabnya Dilan sampai salah mengenali usia Kennie yang sebenarnya.

Dilan mulai berada pada mode serigalanya.

Senjatanya seketika menegang begitu mencium aroma harum di tubuh Kennie.

Dilan mencengkeram kuat-kuat kedua tangan wanita itu yang terlihat ingin menolak keinginannya.

“Jangan begini, Tuan! Saya seorang hostess tapi saya bukan pramuria.”

Namun terhadap perkataan memelas dari suara lembut Kennie tersebut, nafsu Dilan justru semakin memuncak dibuatnya.

“Hehehe.”

Air liur menetes di mulut Dilan sembari menyeringai bagaikan seekor serigala menyaksikan daging empuk tepat di hadapannya.

“Aaakkhh!”

Dilan secara kasar mendorong wanita itu menghadap ke belakang dinding dengan tangan kanannya di mana tangannya yang lain mengunci kedua tangan Kennie.

Dengan penuh nafsu, Dilan sengaja menggosok-gosokkan senjatanya yang masih tersarung itu di tubuh bagian belakang Kennie sembari Dilan yang bejat meraba-raba perut wanita cantik itu.

“Oh, ayolah, Nona. Apa bedanya hostess dengan pramuria. Kalian kan sama-sama memperoleh penghasilan dari pria hidung belang sepertiku.”

Air mata tumpah di mata Kennie.

Terlihat wanita itu begitu ketakutan pada pria yang lebih muda darinya yang berusaha menerkamnya.

“Kumohon jangan begini, Tuan. Aku menjual pelayananku tapi tidak dengan tubuhku. Aakkhh!”

Namun perkara perkataan Kennie itu, Dilan justru geram.

Dia membanting tubuh Kennie ke atas sofa lantas menindihnya di atas.

Kennie berusaha melawan sebaik yang dia bisa.

Dia merapatkan kedua kakinya, menekuk kedua lututnya, untuk melindungi bagian paling vital di tubuhnya.

“Jangan sok suci kamu, pramuria! Kalian semua tak ada bedanya di mataku!”

Sayangnya Kennie tak dapat melindungi tubuh bagian atasnya perihal kedua tangannya yang terkunci oleh Dilan.

Dilan tanpa tahu malu lantas mulai meraba-raba buah susu Kennie.

“Tidak! Tolong! Tolong!”

Kennie meronta-ronta mencoba meminta bantuan dari luar.

Namun karena itu adalah ruang VVIP yang paling eksklusif di klub itu, itu sengaja dibuat kedap suara agar pelanggan terpenting yang memakai ruangan itu bisa menikmati kesenangannya secara maksimal.

Akan tetapi, di kala Kennie mulai putus asa melindungi kesuciannya yang selalu terancam itu sejak dia masuk pertama kali ke klub tersebut sebelas tahun yang lalu, tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan itu didobrak.

-Gedubrak, gedubrak, gedubrak.

Suara pintu terkunci berusaha didobrak dari luar tak henti-hentinya terdengar.

Lalu kemudian, pintu yang terlihat kokoh itu pun kalah dari besarnya tenaga tendangan dari sang pendobrak pintu.

Dari luar pintu terlihat seseorang berbadan kekar, besar, dan botak segera masuk menerobos ruangan itu.

“Berani-beraninya ada yang mengganggu kesenanganku!”

Dilan berteriak marah terhadap pria asing yang menganggu kesenangannya itu.

“Aakkhhh!”

Tapi berkat itu pula, Dilan akhirnya melepaskan genggaman tangannya dari Kennie.

Namun sebagai akibatnya, Kennie terpental dan kepalanya terbentur di lantai.

“Akan kulaporkan ini semua pada bosmu, bajingan!”

Namun tanpa memperhatikan ancaman Dilan, pria kekar botak itu segera menghampiri Kennie yang dahinya telah berdarah.

“Kania, kau baik-baik saja?”

Namun nama yang disebutkan oleh sang pria kekar botak itu bukanlah nama yang sama yang diketahui oleh Dilan.

Terlebih, itu adalah nama yang sangat spesial bagi Dilan yang menempati relung di hatinya.

Dilan segera mengenyahkan pikiran itu perihal semenjak sang bibi angkat yang bernama sama itu meninggalkan dirinya sebelas tahun lalu, sang bibi angkat itu bukan siapa-siapa lagi bagi Dilan.

Dilan membenci sang bibi, setidaknya itulah yang coba dia ekspresikan dari setiap tindakannya.

Tapi sayangnya, melebihi siapapun, Dilan yang paling tahu kalau itu tidak mungkin.

Seketika nama bibinya disebutkan, walaupun kepada orang yang berbeda, mood Dilan sudah hilang duluan.

Dia tidak peduli lagi terhadap apa yang terjadi di ruangan itu.

Dia pun segera mengurungkan niatnya untuk membuat hidup bajingan yang menghancurkan kesenangannya itu menjadi rusak.

Yang diinginkan Dilan saat itu hanyalah segera meninggalkan ruangan tersebut, mengenyahkan segala rasa tak nyaman di hatinya itu.

“Hei, Anak Muda, tunggu dulu! Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah kekacauan yang kau perbuat, bukan?”

Sayangnya, berkebalikan dengan keinginan Dilan, sang pria kekar botak justru menghentikan langkah Dilan untuk membuatnya mempertanggungjawabkan segala keributan yang telah diperbuatnya.

“Anda tak tahu saya siapa?”

“Siapapun Anda, yang melanggar aturan tetap harus mendapatkan sangsinya.”

“Aku akan menghancurkan hidupmu, bajingan!”

Tepat di saat Dilan akan meledak, Kennie segera menghentikan tindakan sang pria kekar botak itu.

“Sudah cukup, Edo. Aku tak mengapa.”

“Apanya yang tidak mengapa? Bocah itu sudah kurang ajar padamu, Kania. Kamu adalah aset berharga klub kita dan tugaskulah untuk melindungi aset berharga itu demi kejayaan klub kita.”

Dalam hati, nafsu Dilan untuk segera menghancurkan klub tersebut yang awalnya telah padam kini mulai terbakar kembali bahkan semakin menjadi-jadi.

“Kau meremahkanku, bajingan!”

“Hei, Bocah. Tidak sepatutnya kau berbicara begitu kepada yang lebih tua. Memangnya keluargamu tidak pernah mendidikmu apa?”

Balasan perkataan sang pria kekar botak semakin membuat amarah Dilan terbakar.

Akan tetapi di saat Dilan akan mulai meledak, barulah disadarinya sebuah foto yang sempat jatuh di dalam baju Kennie.

Walaupun itu terlihat jauh, bagaimana mungkin Dilan tidak akan tahu tentang identitas di dalam foto itu.

Sebuah foto yang menampakkan tiga orang keluarga bahagia.

Seorang gadis remaja yang tampak berada di usia SMP-nya dengan rambut panjang hitam lurus nan kulitnya yang putih.

Di sampingnya, tampak gadis itu menggandeng seorang wanita berusia sekitar empat puluhan yang memberikan nuansa sayu dengan pola sanggulnya yang khas.

Dan di tengah-tengah keduanya, tampaklah sesosok anak kecil berusia sekitar 5 sampai 6 tahun berambut hitam sedikit ikal yang sangat tampan.

Wajah di foto itu mencerminkan keluarga Dilan di masa lalu.

Menyaksikan itu, Dilan mundur dua langkah dengan ekspresi yang tegang.

Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Kennie segera menyadari arah tatapan Dilan itu, namun tak sadar akan ekspresi panik Dilan.

Kennie yang menatap akhir tatapan itu akhirnya menyadari bahwa harta fotonya yang berharga baru saja terlepas darinya.

Seakan itu adalah barang yang sangat berharga, Kennie dengan cepat mengambilnya secara hati-hati.

“Siapa bocah yang ada di foto itu?”

Kennie pun segera merasa mendapat peluang dari ucapan Dilan itu untuk lepas dari masalah ini.

“Ya, itu benar, Tuan. Aku sudah punya anak. Dan kedua anak yang ada di dalam foto ini adalah anakku. Maaf telah membohongi Anda. Aku akan bertanggung jawab dengan mengembalikan uang yang telah Anda bayarkan kepadaku sebanyak dua kali lipat sekaligus keluar dari klub ini. Klub ini tak tahu apa-apa perihal aku yang sudah punya anak, jadi jangan salahkan klub ini atas tindakan pribadiku.”

Semua pun bisa menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh hostess itu hanyalah omong kosong belaka dengan melihat ekspresi terpelintir yang ditunjukkan oleh sang pria kekar botak yang dipanggil Edo tersebut.

Namun tanpa diberitahu pun, Dilan sudah menyadari kebenarannya.

Betapa bodohnya Dilan bahwa dia tidak segera menyadari wajah sang bibi yang tidak pernah ditemuinya lagi selama sebelas tahun itu.

Siapa yang sangka bibi angkat yang selama ini dicari-carinya justru ditemuinya di tempat antah-berantah suatu klub kecil di pulau seberang.

Terpopuler

Comments

Sarah ajha

Sarah ajha

awok awok

2023-07-23

1

Myumy rev

Myumy rev

Tuhkan bener dugaanku

2023-07-05

1

Myumy rev

Myumy rev

Kennie apakah kamu Kania?

2023-07-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!