20 : Papa

Sementara itu, Anjani dan Johnathan pergi ke panti asuhan di sela-sela waktu istirahat mereka. Mereka ingin melihat Bhara, anak manis yang ternyata adalah bagian dari keluarga mereka.

Anjani dan Johnathan tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa beberapa box besar berisi pakaian untuk anak-anak panti, serta sembako untuk keperluan sehari-hari pengurus panti asuhan tersebut. Ibu panti mengantar mereka untuk pergi ke halaman belakang, tempat di mana Bhara dan anak-anak yang lain bermain.

"Bhara ada di sana, Pak, Bu," ucap ibu panti sambil menunjuk Bhara yang sedang duduk sendiri bersandar pada sebuah pohon besar.

Anjani dan Johnathan tersenyum melihat wajah lucu Bhara. Anak itu tampak sedikit mengantuk, mungkin karena kelelahan bermain.

"Kalau begitu, saya tinggal ke dalam dulu, ya," pamit ibu panti yang diangguki oleh kedua orang tersebut.

Setelah ibu panti itu pergi dari sana, Anjani dan Johnathan mulai berjalan mendekat menghampiri Bhara.

'Putraku...'

'Cucuku...'

"Bhara," panggil Johnathan kepada anak itu.

Bhara menoleh, seketika wajahnya berubah menjadi cerah.

"Pak doktel! Bu doktel!" seru Bhara.

Anak itu buru-buru bangkit dari duduknya, lalu segera berlari menghampiri para dokter yang ia kenal tersebut. Johnathan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Bhara.

"Halo, Bhara, apa kabar?" tanya Johnathan dengan senyum manisnya.

"Eung... Baik," jawab Bhara yang juga tersenyum.

"Bhara masih ingat sama kami, ya?" tanya Anjani.

Bhara mendongak untuk melihat Anjani yang masih berdiri, lalu mengangguk semangat.

"Tentu aja Bhala ingat cama kalian. Pak doktel cama bu doktel kan celing jenguk Bhala."

Kedua orang dewasa itu tertawa kecil mendengar celotehan Bhara yang masih cadel. Anak itu benar-benar lucu dan memiliki daya tarik tersendiri hingga membuat semua orang gemas dengannya.

"Bu doktel, pak doktel, ayo ikut Bhala, kita duduk di cana," ucap Bhara sambil menunjuk pohon besar di belakangnya.

Anjani dan Johnathan hany menurut saat kedua tangan Bhara menggandeng tangan mereka dan berjalan menuju pohon itu.

"Ayo duduk cini," ajak Bhara.

Anak itu sudah mendudukkan dirinya di tanah, lalu bersandar pada pohon itu. Anjani dan Johnathan tidak habis pikir dengan Bhara. Padahal di sekitar mereka ada banyak tempat duduk, tapi anak itu malah memilih untuk duduk di tanah.

Tapi mereka tidak ingin menolak keinginan dari Bhara. Maka dari itu, mereka pun ikut duduk di tanah. Sebelumnya, keluarga Adikusuma tidak pernah melakukan ini, sangat kotor. Namun, setelah mereka duduk di sana, mereka merasa begitu nyaman karena suasana di bawah pohon yang sejuk.

"Bhara suka duduk di sini, ya? Kenapa gak di bangku taman aja? Berkumpul sama teman-teman Bhara yang lain," tanya Anjani penasaran.

"Kalena mama cuka duduk di cini," jawab Bhara antusias.

"Bhala cama mama cuka belmain di cini kalau mama datang," imbuh anak itu, "pak doktel cama bu doktel kenal cama mamanya Bhala, kan?"

Anjani mengangguk, "kenal, mama Bhara itu perempuan yang sangat baik."

Bhara mengangguk antusias, lalu tersenyum lebar, "iya! Mama Bhala baik cekali, mama juga cantik cekali. Bhala cayang cekali cama mama!"

Anjani dan Johnathan hanya mengangguk setuju mendengar ucapan Bhara. Mereka tersenyum kecil melihat Bhara yang sangat bersemangat saat membicarakan tentang Natasya.

"Bhara," panggil Anjani.

"Eung?" Bhara menatap wanita itu dengan tatapan bertanya.

"Gimana kalau Bhara panggil pak dokter 'papa'?" kata Anjani.

"Ibu...," tegur Johnathan kepada ibunya.

Menurut Johnathan, ini terlalu cepat. Tetapi tidak bisa dipungkiri, ia juga ingin mendengar panggilan 'papa' dari Bhara. Pria itu pun ikut menatap Bhara dengan penuh harap.

"Huh? Bhala kan tidak punya papa," kata anak itu dengan tatapan bingung.

"Pak dokter mau kok jadi papanya Bhara," sahut Johnathan, "Bhara panggil 'papa' aja ya, mau kan?"

Tiba-tiba, wajah Bhara berubah menjadi murung, "kata mama, Bhala ndak boleh punya papa, Bhala ndak boleh panggil papa."

Anjani dan Johnathan menatap anak itu dengan tatapan tidak percaya. Mereka tidak menyangka Natasya akan mengatakan hal itu. Dan lagi, 'tidak boleh punya papa'? Apa maksud dari ucapan itu?

"Natasya ngomong kayak gitu sama kamu?!" seru Anjani.

Bhara sedikit terkejut mendengar suara Anjani yang meninggi, lalu anak itu menggelengkan kepalanya ribut.

"Bukan, bukan mama Natacya," cicit Bhara, "tapi mama yang lain."

Anjani dan Johnathan saling berpandangan. Mereka memikirkan hal yang sama saat ini. Kalau 'mama' yang dimaksud bukan Natasya, berarti 'mama' itu adalah mama kandung Bhara.

'Sabrina? Apa yang sebenarnya udah kamu perbuat pada anakku?' batin Johnathan.

Kemudian, Anjani menoleh ke arah Bhara lagi, lalu tersenyum.

"Gak apa-apa, Sayang. Kamu boleh panggil pak dokter dengan sebutan papa," bujuk Anjani dengan lembut.

Bhara menatap Johnathan lama. Johnathan tersenyum lembut melihat anak itu yang tampak ingin untuk melakukannya.

"P-Pa.. Papa?" panggil Bhara dengan suara lirih.

Johnathan pun tersenyum lebar, lalu reflek memeluk Bhara, "iya, Sayang. Ini papa, Nak."

Bhara masih bingung, tapi ia merasa senang karena akhirnya bisa memiliki 'papa'. Anak itu pun balas memeluk pria yang kini tengah memeluknya. Anjani tersenyum haru melihat anak dan cucunya berpelukan. Ia berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak keluar.

"Bhara?"

Mereka semua menoleh dan mendapati Natasya yang berdiri di samping mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Mama!" seru Bhara.

Anak itu melepas pelukannya pada Johnathan, lalu berlari untuk menghampiri mamanya.

"Yeay! Mama datang!" seru anak itu sambil memeluk kaki Natasya.

Natasya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya kepada dua orang dewasa yang sedang melihat ke arah mereka.

"Bu Anjani? Dokter Johnathan? Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Natasya.

Johnathan tersenyum, lalu membalas perkataan Natasya, "kami hanya ingin bertemu dengan Bhara. Kamu tahu, Natasya? Anak itu menggemaskan sekali, jadi kami merindukannya."

Natasya tersenyum senang mendengarnya, "oh, begitu... Anakku ini memang sangat menggemaskan."

Setelah itu, Natasya mencubit gemas kedua pipi Bhara membuat anak itu terkikik senang.

"Haha... Cudah, Ma," pinta anak itu, "mama, ayo kita belmain, cama bu doktel, cama papa juga."

Natasya menatap Bhara bingung setelah mendengar ucapan anak itu.

"Papa? Papa siapa, Bhara?" tanya Natasya.

Bhara menunjuk Johnathan, "pak doktel! Kata pak doktel dan bu doktel, Bhala boleh panggil 'papa'!"

Natasya melihat Anjani dan Johnathan bergantian meminta penjelasan. Sedangkan dua orang itu saling berpandangan karena bingung harus menjawab apa.

"Eh, eum..., itu...," gumam Johnathan sambil memikirkan jawaban, "jadi gini, Natasya. Saya hanya ingin agar Bhara merasakan kehadiran seorang ayah, jadi saya mengizinkan dia untuk memanggil saya 'papa'. Iya, itu saja."

"Iya, benar begitu, Natasya," imbuh Anjani.

Wanita itu bernapas lega karena anaknya bisa memikirkan jawaban yang tidak terlalu mencurigakan.

"Oh, begitu ya," ucap Natasya sambil mengangguk paham.

Sebenarnya, gadis itu masih tidak yakin dengan jawaban Johnathan. Tapi ia tepis keraguannya itu karena mereka memiliki niat yang baik untuk Bhara. Setidaknya itu yang ada di pikiran Natasya.

...----------------...

Halo halo... 😊

Kasihan Natasya ya, orang-orang yang ia percaya malah membohongi dirinya T_T

Jangan lupa like dan komen yaaa ♥♥

Terpopuler

Comments

Frando Wijaya

Frando Wijaya

syngny lo slh lo natasya

2024-08-01

0

Dewa Dewi

Dewa Dewi

emang gemesin bgt😘😘😍😍

2024-02-18

0

Dewa Dewi

Dewa Dewi

😘😘😘😘😍😍😍😍😍

2024-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 1 : Natasya
2 2 : Bhara
3 3 : Mama?!
4 4 : Fakta Mengejutkan
5 5 : Ke Kampus
6 6 : Kakek
7 7 : Berpisah
8 8 : Kecelakaan
9 9 : Donor Darah
10 10 : Johnathan
11 11 : Rencana Natasya
12 12 : Kerja Tambahan
13 13 : Haikal
14 14 : Kelelahan
15 15 : Permintaan Alan
16 16 : Hasil Tes DNA
17 17 : Keturunan Adikusuma
18 18 : Bermain
19 19 : Rencana Buruk
20 20 : Papa
21 21 : Berkas
22 22 : Kecewa
23 23 : Amarah
24 24 : Pertengkaran
25 25 : Buntu
26 26 : Kesepakatan
27 27 : Undangan
28 28 : Makan Malam
29 29 : Resmi
30 30 : Persidangan
31 31 : Tinggal Bersama
32 32 : Baikan
33 33 : Salah Paham
34 34 : Makam
35 35 : Komitmen
36 36 : Klarifikasi
37 37 : Keluarga Kecil
38 38 : Liburan Keluarga
39 39 : Sabrina
40 40 : Masa Lalu
41 41 : Pertemuan
42 42 : Penjelasan
43 43 : Kembali
44 44 : Cinta
45 45 : Kebenaran
46 46 : Gagal
47 47 : Ditangkap
48 48 : Malam Pilu
49 49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50 50 : Ada yang Aneh
51 Part 51 : Hampir
52 52 : Hakim Jujur?
53 53 : Vonis
54 54 : Berkumpul Lagi
55 55 : Omelan Istri
56 56 : Awal Ajaran Baru
57 57 : Menghilang
58 58 : Diculik
59 59 : Pencarian
60 60 : Perlawanan
61 61 : Upaya Kabur
62 62 : Belum Berakhir
63 63 : Terguncang
64 64 : Trauma
65 65 : Hari yang Suram
66 66 : Sidang (lagi)
67 67 : Pulang
68 68 : Tidak Baik-Baik Saja
69 69 : Kembali Normal
70 70 : Akhir
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1 : Natasya
2
2 : Bhara
3
3 : Mama?!
4
4 : Fakta Mengejutkan
5
5 : Ke Kampus
6
6 : Kakek
7
7 : Berpisah
8
8 : Kecelakaan
9
9 : Donor Darah
10
10 : Johnathan
11
11 : Rencana Natasya
12
12 : Kerja Tambahan
13
13 : Haikal
14
14 : Kelelahan
15
15 : Permintaan Alan
16
16 : Hasil Tes DNA
17
17 : Keturunan Adikusuma
18
18 : Bermain
19
19 : Rencana Buruk
20
20 : Papa
21
21 : Berkas
22
22 : Kecewa
23
23 : Amarah
24
24 : Pertengkaran
25
25 : Buntu
26
26 : Kesepakatan
27
27 : Undangan
28
28 : Makan Malam
29
29 : Resmi
30
30 : Persidangan
31
31 : Tinggal Bersama
32
32 : Baikan
33
33 : Salah Paham
34
34 : Makam
35
35 : Komitmen
36
36 : Klarifikasi
37
37 : Keluarga Kecil
38
38 : Liburan Keluarga
39
39 : Sabrina
40
40 : Masa Lalu
41
41 : Pertemuan
42
42 : Penjelasan
43
43 : Kembali
44
44 : Cinta
45
45 : Kebenaran
46
46 : Gagal
47
47 : Ditangkap
48
48 : Malam Pilu
49
49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50
50 : Ada yang Aneh
51
Part 51 : Hampir
52
52 : Hakim Jujur?
53
53 : Vonis
54
54 : Berkumpul Lagi
55
55 : Omelan Istri
56
56 : Awal Ajaran Baru
57
57 : Menghilang
58
58 : Diculik
59
59 : Pencarian
60
60 : Perlawanan
61
61 : Upaya Kabur
62
62 : Belum Berakhir
63
63 : Terguncang
64
64 : Trauma
65
65 : Hari yang Suram
66
66 : Sidang (lagi)
67
67 : Pulang
68
68 : Tidak Baik-Baik Saja
69
69 : Kembali Normal
70
70 : Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!