Sementara itu, Anjani dan Johnathan pergi ke panti asuhan di sela-sela waktu istirahat mereka. Mereka ingin melihat Bhara, anak manis yang ternyata adalah bagian dari keluarga mereka.
Anjani dan Johnathan tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa beberapa box besar berisi pakaian untuk anak-anak panti, serta sembako untuk keperluan sehari-hari pengurus panti asuhan tersebut. Ibu panti mengantar mereka untuk pergi ke halaman belakang, tempat di mana Bhara dan anak-anak yang lain bermain.
"Bhara ada di sana, Pak, Bu," ucap ibu panti sambil menunjuk Bhara yang sedang duduk sendiri bersandar pada sebuah pohon besar.
Anjani dan Johnathan tersenyum melihat wajah lucu Bhara. Anak itu tampak sedikit mengantuk, mungkin karena kelelahan bermain.
"Kalau begitu, saya tinggal ke dalam dulu, ya," pamit ibu panti yang diangguki oleh kedua orang tersebut.
Setelah ibu panti itu pergi dari sana, Anjani dan Johnathan mulai berjalan mendekat menghampiri Bhara.
'Putraku...'
'Cucuku...'
"Bhara," panggil Johnathan kepada anak itu.
Bhara menoleh, seketika wajahnya berubah menjadi cerah.
"Pak doktel! Bu doktel!" seru Bhara.
Anak itu buru-buru bangkit dari duduknya, lalu segera berlari menghampiri para dokter yang ia kenal tersebut. Johnathan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Bhara.
"Halo, Bhara, apa kabar?" tanya Johnathan dengan senyum manisnya.
"Eung... Baik," jawab Bhara yang juga tersenyum.
"Bhara masih ingat sama kami, ya?" tanya Anjani.
Bhara mendongak untuk melihat Anjani yang masih berdiri, lalu mengangguk semangat.
"Tentu aja Bhala ingat cama kalian. Pak doktel cama bu doktel kan celing jenguk Bhala."
Kedua orang dewasa itu tertawa kecil mendengar celotehan Bhara yang masih cadel. Anak itu benar-benar lucu dan memiliki daya tarik tersendiri hingga membuat semua orang gemas dengannya.
"Bu doktel, pak doktel, ayo ikut Bhala, kita duduk di cana," ucap Bhara sambil menunjuk pohon besar di belakangnya.
Anjani dan Johnathan hany menurut saat kedua tangan Bhara menggandeng tangan mereka dan berjalan menuju pohon itu.
"Ayo duduk cini," ajak Bhara.
Anak itu sudah mendudukkan dirinya di tanah, lalu bersandar pada pohon itu. Anjani dan Johnathan tidak habis pikir dengan Bhara. Padahal di sekitar mereka ada banyak tempat duduk, tapi anak itu malah memilih untuk duduk di tanah.
Tapi mereka tidak ingin menolak keinginan dari Bhara. Maka dari itu, mereka pun ikut duduk di tanah. Sebelumnya, keluarga Adikusuma tidak pernah melakukan ini, sangat kotor. Namun, setelah mereka duduk di sana, mereka merasa begitu nyaman karena suasana di bawah pohon yang sejuk.
"Bhara suka duduk di sini, ya? Kenapa gak di bangku taman aja? Berkumpul sama teman-teman Bhara yang lain," tanya Anjani penasaran.
"Kalena mama cuka duduk di cini," jawab Bhara antusias.
"Bhala cama mama cuka belmain di cini kalau mama datang," imbuh anak itu, "pak doktel cama bu doktel kenal cama mamanya Bhala, kan?"
Anjani mengangguk, "kenal, mama Bhara itu perempuan yang sangat baik."
Bhara mengangguk antusias, lalu tersenyum lebar, "iya! Mama Bhala baik cekali, mama juga cantik cekali. Bhala cayang cekali cama mama!"
Anjani dan Johnathan hanya mengangguk setuju mendengar ucapan Bhara. Mereka tersenyum kecil melihat Bhara yang sangat bersemangat saat membicarakan tentang Natasya.
"Bhara," panggil Anjani.
"Eung?" Bhara menatap wanita itu dengan tatapan bertanya.
"Gimana kalau Bhara panggil pak dokter 'papa'?" kata Anjani.
"Ibu...," tegur Johnathan kepada ibunya.
Menurut Johnathan, ini terlalu cepat. Tetapi tidak bisa dipungkiri, ia juga ingin mendengar panggilan 'papa' dari Bhara. Pria itu pun ikut menatap Bhara dengan penuh harap.
"Huh? Bhala kan tidak punya papa," kata anak itu dengan tatapan bingung.
"Pak dokter mau kok jadi papanya Bhara," sahut Johnathan, "Bhara panggil 'papa' aja ya, mau kan?"
Tiba-tiba, wajah Bhara berubah menjadi murung, "kata mama, Bhala ndak boleh punya papa, Bhala ndak boleh panggil papa."
Anjani dan Johnathan menatap anak itu dengan tatapan tidak percaya. Mereka tidak menyangka Natasya akan mengatakan hal itu. Dan lagi, 'tidak boleh punya papa'? Apa maksud dari ucapan itu?
"Natasya ngomong kayak gitu sama kamu?!" seru Anjani.
Bhara sedikit terkejut mendengar suara Anjani yang meninggi, lalu anak itu menggelengkan kepalanya ribut.
"Bukan, bukan mama Natacya," cicit Bhara, "tapi mama yang lain."
Anjani dan Johnathan saling berpandangan. Mereka memikirkan hal yang sama saat ini. Kalau 'mama' yang dimaksud bukan Natasya, berarti 'mama' itu adalah mama kandung Bhara.
'Sabrina? Apa yang sebenarnya udah kamu perbuat pada anakku?' batin Johnathan.
Kemudian, Anjani menoleh ke arah Bhara lagi, lalu tersenyum.
"Gak apa-apa, Sayang. Kamu boleh panggil pak dokter dengan sebutan papa," bujuk Anjani dengan lembut.
Bhara menatap Johnathan lama. Johnathan tersenyum lembut melihat anak itu yang tampak ingin untuk melakukannya.
"P-Pa.. Papa?" panggil Bhara dengan suara lirih.
Johnathan pun tersenyum lebar, lalu reflek memeluk Bhara, "iya, Sayang. Ini papa, Nak."
Bhara masih bingung, tapi ia merasa senang karena akhirnya bisa memiliki 'papa'. Anak itu pun balas memeluk pria yang kini tengah memeluknya. Anjani tersenyum haru melihat anak dan cucunya berpelukan. Ia berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak keluar.
"Bhara?"
Mereka semua menoleh dan mendapati Natasya yang berdiri di samping mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Mama!" seru Bhara.
Anak itu melepas pelukannya pada Johnathan, lalu berlari untuk menghampiri mamanya.
"Yeay! Mama datang!" seru anak itu sambil memeluk kaki Natasya.
Natasya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pandangannya kepada dua orang dewasa yang sedang melihat ke arah mereka.
"Bu Anjani? Dokter Johnathan? Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Natasya.
Johnathan tersenyum, lalu membalas perkataan Natasya, "kami hanya ingin bertemu dengan Bhara. Kamu tahu, Natasya? Anak itu menggemaskan sekali, jadi kami merindukannya."
Natasya tersenyum senang mendengarnya, "oh, begitu... Anakku ini memang sangat menggemaskan."
Setelah itu, Natasya mencubit gemas kedua pipi Bhara membuat anak itu terkikik senang.
"Haha... Cudah, Ma," pinta anak itu, "mama, ayo kita belmain, cama bu doktel, cama papa juga."
Natasya menatap Bhara bingung setelah mendengar ucapan anak itu.
"Papa? Papa siapa, Bhara?" tanya Natasya.
Bhara menunjuk Johnathan, "pak doktel! Kata pak doktel dan bu doktel, Bhala boleh panggil 'papa'!"
Natasya melihat Anjani dan Johnathan bergantian meminta penjelasan. Sedangkan dua orang itu saling berpandangan karena bingung harus menjawab apa.
"Eh, eum..., itu...," gumam Johnathan sambil memikirkan jawaban, "jadi gini, Natasya. Saya hanya ingin agar Bhara merasakan kehadiran seorang ayah, jadi saya mengizinkan dia untuk memanggil saya 'papa'. Iya, itu saja."
"Iya, benar begitu, Natasya," imbuh Anjani.
Wanita itu bernapas lega karena anaknya bisa memikirkan jawaban yang tidak terlalu mencurigakan.
"Oh, begitu ya," ucap Natasya sambil mengangguk paham.
Sebenarnya, gadis itu masih tidak yakin dengan jawaban Johnathan. Tapi ia tepis keraguannya itu karena mereka memiliki niat yang baik untuk Bhara. Setidaknya itu yang ada di pikiran Natasya.
...----------------...
Halo halo... 😊
Kasihan Natasya ya, orang-orang yang ia percaya malah membohongi dirinya T_T
Jangan lupa like dan komen yaaa ♥♥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Frando Wijaya
syngny lo slh lo natasya
2024-08-01
0
Dewa Dewi
emang gemesin bgt😘😘😍😍
2024-02-18
0
Dewa Dewi
😘😘😘😘😍😍😍😍😍
2024-02-18
0