Natasya sudah duduk berhadapan dengan polwan yang baru ia ketahui bernama Bu Nia, sedangkan Bhara sedang bermain di lobi kantor polisi.
"Jadi, bagaimana Kak Natasya?" tanya Bu Nia mengawali pembicaraan.
Natasya pun membuka ponselnya dan mencari beberapa foto lebam di tubuh Bhara. Bu Nia yang melihat foto-foto tersebut langsung meringis.
"Astaga, banyak sekali lebamnya, ada beberapa bekas cakaran juga di punggung dan dadanya," gumam Bu Nia sambil mengamati foto-foto di ponsel Natasya.
Natasya mengangguk pelan, "saya tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Bhara saat mendapat luka-luka ini. Tolong, Bu Nia, kita harus segera menemukan orang tua Bhara. Dan memastikan siapa pelaku KDRT ini sebenarnya."
"Kami masih berusaha untuk mencari tahu keberadaan orang tua Bhara, Kak Natasya. Tapi memang sulit sekali untuk melacaknya," ucap Bu Nia, "boleh saya minta foto-foto itu sebagai barang bukti?"
"Tentu saja," jawab Natasya, lalu ia mengirimkan foto-foto tersebut kepada Bu Nia.
"Terima kasih, Kak Natasya," kata Bu Nia.
Natasya mengangguk sambil tersenyum, "kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu."
"Oh, baik, Kak. Nanti kalau ada perkembangan dalam pencarian, saya akan memberitahukan kepada Kak Natasya secepatnya," ujar Bu Nia.
Setelah itu, Natasya berpamitan kepada para polisi yang ada di sana. Lalu, ia pun keluar untuk menemui Alan dan Bhara yang masih asyik bermain bersama. Bhara yang melihat Natasya keluar langsung berlari menghampiri mamanya itu.
"Mama!" teriak Bhara sambil memeluk kaki Natasya.
Natasya hanya tersenyum, lalu mengangkat Bhara untuk ia gendong.
"Kamu kenapa suka banget gendong Bhara sih? Apa gak berat?" tanya Alan.
"Gak kok," sahut Natasya, lalu mencubit hidung Bhara, "anak sekecil ini gak berat sama sekali."
"Hihi~" Bhara terkikik saat hidungnya dicubit gemas oleh Natasya.
"Huh~ Bhara harus makan yang banyak, ya, biar cepat besar," ucap Alan kepada Bhara.
"Okeey!!" seru Bhara sambil menunjukkan jempolnya.
Natasya dan Alan tertawa gemas melihat tingkah lucu dari Bhara. Setelah itu, mereka pun keluar dari kantor polisi dan pulang ke rumah masing-masing.
...----------------...
Malam ini, Natasya disibukkan dengan pekerjaannya sebagai asisten Hendry, yaitu mengatur jadwal bertemu klien hingga seminggu ke depan, menyortir email untuk Hendry, dan sebagainya. Sedangkan Bhara, anak itu terlihat asyik bermain di kasur dengan beberapa mainan yang dibelikan oleh Natasya tadi sore.
"Mama~" rengek Bhara sambil menarik-narik kaki Natasya.
Natasya pun menoleh, "iya? Kenapa, Sayang?"
"Bhala ngantuk," ucap Bhara sambil mengucek matanya dan menguap sesekali.
Natasya melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 8 malam. Masih terlalu awal untuk dirinya tidur, tapi tidak untuk Bhara, anak itu perlu tidur lebih awal. Oleh karena itu, Natasya memilih untuk meninggalkan pekerjaannya sebentar.
"Bhara tunggu di sini sebentar ya, mama beresin dulu mainan-mainan kamu," kata Natasya.
Bhara hanya mengangguk, lalu Natasya mulai membereskan mainan Bhara yang ada di atas kasur. Setelah semuanya bersih, ia langsung meminta Bhara untuk naik dan berbaring di atas kasur.
"Mama, mau peluk," lirih Bhara.
Natasya terkekeh, "duh~ manja sekali sih anak mama."
Kemudian, ia pun ikut membaringkan dirinya di samping Bhara sambil memeluk anak itu. Begitu juga dengan Bhara, ia langsung tidur menyamping sambil memeluk Natasya dengan erat. Natasya tersenyum memperhatikan wajah tenang Bhara dengan mata yang sudah terpejam, ia pun mengelus-elus pucuk kepala anak laki-laki itu.
"Kamu lucu banget sih, Bhara," gumam Natasya.
"Terima kasih ya, udah hadir di hidup mama, mama jadi gak kesepian lagi karena ada kamu di sini."
Dengan mata yang masih terpejam, senyum Bhara mengembang dalam tidurnya. Anak itu juga semakin mengeratkan pelukannya kepada Natasya. Setelah memastikan Bhara sudah tidur dengan nyenyak, Natasya bangun dari tempat tidur dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Besok adalah hari Minggu, tapi ia harus pergi ke bandara pagi-pagi sekali untuk menjemput Hendry.
...----------------...
Semenjak turun dari mobil, Bhara selalu meminta untuk tetap dalam gendongan Natasya. Kini mereka sudah ada di bandara, bandara yang sama di mana Natasya dan Bhara bertemu untuk pertama kalinya.
"Bhara, turun dulu yuk, mama capek gendong Bhara terus," kata Natasya.
Bhara menggelengkan kepalanya, "ndak mau, nanti mama tinggalin Bhala cendili di sini."
Natasya menghela napas panjang, "mama gak akan ninggalin kamu, Bhara. Turun dulu, ya? Nanti mama gandeng tangan kamu terus deh, janji."
Bhara tetap menggelengkan kepala, lalu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Natasya. Gadis itu hanya bisa mendengus lelah. Ia tahu bahwa Bhara mungkin saja trauma dengan kejadian ia ditinggalkan di bandara beberapa hari yang lalu, tapi sekarang tubuhnya terasa pegal karena terus menggendong Bhara sambil menunggu kedatangan Hendry.
Tidak lama kemudian, Natasya mengembangkan senyumnya. Ia bisa melihat Hendry sedang berjalan keluar dari area departure (kedatangan).
"Bhara, ayo lambaikan tangan kepada Pak Hendry," ucap Natasya sambil menggerakkan tangan Bhara untuk melambai ke arah Hendry.
Hendry yang melihatnya pun tersenyum dan membalas lambaian tangan tersebut. Ia sudah tahu perihal Bhara yang sekarang diasuh sementara oleh Natasya.
"Selamat datang, Pak Hendry," ucap Natasya saat Hendry sudah berada di depannya.
"Terima kasih sudah menjemput saya, Natasya," kata Hendry.
"Tentu saja, Pak. Ini kan memang sudah menjadi tugas saya," balas Natasya.
Hendry pun tersenyum, lalu mengarahkan pandangannya kepada Bhara yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan polos.
"Oh! Hai, Bhara!"
Bhara hanya diam sambil menggigit bibirnya. Bukannya ia takut kepada Hendry, hanya saja ia bingung bagaimana cara membalas sapaan itu.
"Bhara, ini Pak Hendry, gurunya mama," ucap Natasya.
"H-Halo Pak Hendeli," sapa Bhara yang kesulitan mengucapkan nama 'Hendry'.
Natasya dan Hendry yang mendengarnya pun tertawa.
"Jangan panggil 'pak' dong, nanti kamu sama kayak mahasiswa saya yang lainnya," gurau Hendry.
"Oh, atau mau dipanggil Om Hendry saja?" tanya Natasya dengan senyum jahilnya.
Hendry pun tergelak, "hahaha... Kamu kira saya masih usia berapa, Natasya? Saya ini sudah gak pantas dipanggil 'om', pantasnya dipanggil 'kakek'."
"Yahh... Kok 'kakek' sih, Pak. Bapak belum setua itu, loh," ucap Natasya.
"Kakek?"
"Eh?"
Natasya dan Hendry menoleh kepada Bhara yang baru saja memanggil Hendry dengan sebutan 'kakek'.
"Eh, Bhara, jangan panggil Pak Hendry 'kakek', ya," ucap Natasya canggung, ia khawatir Hendry akan tersinggung.
Namun, yang terjadi malah sebaliknya, Hendry tersenyum lembut sambil memandangi Bhara.
"Baiklah, kamu sudah memutuskan. Mulai sekarang, panggil saja saya 'kakek'."
Natasya hanya pasrah dengan apa yang terjadi. Sebenarnya, ia masih tidak enak saat Bhara memanggil dosennya itu dengan sebutan 'kakek'. Meskipun usia Hendry sudah mencapai 52 tahun, tetapi menurut Natasya, dosennya itu masih terlalu bugar untuk dipanggil 'kakek'. Tapi apa boleh buat, Hendry sendiri terlihat senang saat dipanggil seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Dewa Dewi
😭😭😭😭😭
2024-02-17
0
LISA
Makin menarik nih
2023-11-28
0