2 : Bhara

Hari Jum'at adalah hari yang cukup santai bagi Natasya. Jadwalnya di hari ini tidak sepadat hari-hari lainnya. Kuliahnya berakhir lebih awal, serta ia tidak memiliki jam mengajar di klub menembak. Namun, karena ia memiliki tugas untuk mengantarkan Hendry ke bandara, ia memilih untuk tetap di kampus sambil menunggu dosennya itu selesai mengajar.

"Lebih baik aku ngerjain tugas buat besok dulu, biar nanti sepulang dari bandara bisa langsung istirahat," gumam Natasya.

Kemudian, gadis itu pergi ke bangku di dekat danau kampus. Ia membuka laptop dan mulai mengerjakan tugasnya. Selama kurang lebih satu jam berkutat dengan tugas, akhirnya ia pun selesai mengerjakannya.

Drrrt... Drrrt...

Natasya meraih ponsel yang ia letakkan di meja, lalu melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata itu adalah Hendry, ia pun dengan segera mengangkatnya.

"Halo, Pak Hendry?" ucap Natasya.

"Halo, Natasya. Kamu di mana? Saya sudah selesai mengajar," kata Hendry di seberang sana.

"Oh, iya pak. Saya masih ada di dekat danau. Gimana, Pak? Kita berangkat sekarang?" tanya Natasya.

"Iya, langsung ke tempat parkir aja ya. Kita ketemuan di sana," jawab Hendry.

"Okey, siap, Pak. Saya segera ke sana."

Setelah itu, Natasya segera membereskan tasnya, lalu bergegas ke tempat parkir dosen untuk menemui Hendry. Dari kejauhan, ia bisa melihat dosennya itu juga baru sampai di dekat mobilnya.

"Pak Hendry!"

Hendry pun menoleh dan mendapati Natasya yang terengah-engah karena baru saja berlari.

"Eh, Natasya? Kenapa kamu lari-larian?" ucap Hendry.

Natasya menyengir lebar, "hehe... Biar nyampe di sini lebih dulu. Eh, tapi ternyata masih tetap lebih cepat Pak Hendry."

Hendry yang mendengarnya pun tertawa. Gadis itu sering bertingkah lucu. Mungkin karena ia tidak memiliki anak perempuan, sehingga ia merasa senang saat melihat tingkah Natasya.

"Ya udah, kita berangkat sekarang ya. Ini kuncinya," kata Hendry sambil menyerahkan kunci mobil kepada Natasya.

Natasya pun segera menerima kunci mobil itu dan membuka pintu pengemudi. Sementara itu, Hendry duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah Natasya. Kemudian, mobil berwarna putih itu pun mulai berjalan meninggalkan area kampus menuju bandara yang berjarak sekitar 25 km dari sana.

...----------------...

Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mereka pun tiba di bandara. Natasya tidak langsung pulang, ia membantu membawakan koper milik Hendry.

"Kamu tidak perlu membawakan koper saya, Natasya. Barang bawaan saya kan tidak terlalu banyak, saya masih bisa membawa semuanya sendiri," ujar Hendry.

Natasya tersenyum, "tidak apa-apa, Pak Hendry. Lagipula, biar saya punya alasan juga buat masuk bandara. Saya pengen lihat-lihat ke dalam."

Hendry hanya tertawa kecil, kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam area bandara. Karena jam keberangkatan pesawat Hendry masih agak lama, mereka pun duduk di area lobi. Natasya hanya melihat-lihat lalu lalang orang yang ada di sana, sementara Hendry memeriksa barang-barangnya kembali sebelum check-in.

"Pak Hendry," panggil Natasya membuat Hendry menoleh, "saya boleh tanya sesuatu?"

Hendry mengangguk, "tentu saja, tanyakan apa pun yang ingin kamu ketahui."

"Untuk klien yang mau bapak temui di Malaysia nanti, apakah dia ada hubungannya dengan kasus kriminalitas? Atau urusan politik yang lain?" tanya Natasya.

Hendry tersenyum kecil. Ini yang ia suka dari Natasya, gadis itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

"Bukan kasus yang besar, sebenarnya klien itu adalah teman saya sesama pengacara, dia juga orang Indonesia," jawab Hendry, "tetapi beberapa waktu ini, ia menangani sebuah kasus yang cukup rumit dan mengharuskannya untuk pergi ke Malaysia. Tapi karena belum berhasil menyelesaikan kasusnya, ia pun meminta bantuan saya."

Natasya menganggukkan kepalanya, "tapi kenapa harus di Malaysia?"

Hendry tampak berpikir sebentar, "hmm... saya belum bisa memastikan alasan yang sebenarnya. Tetapi dia bilang kepada saya kalau saksi kunci dalam kasus yang ia tangani adalah orang Malaysia."

"Wah... Ternyata jadi pengacara juga harus seteliti itu ya," ucap Natasya dengan kagum.

Hendry menganggukkan kepalanya, kemudian pandangannya beralih ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Sudah waktunya saya check-in," ujar Hendry sambil berdiri, "kamu langsung pulang ya, bawa saja mobil saya ke rumah kamu."

Natasya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang. Dalam hati ia bersorak saat diperbolehkan membawa mobil Hendry untuk sementara, paling tidak ia bisa menghemat ongkos ojek saat pergi ke kampus.

"Hati-hati, Pak Hendry," ucap Natasya saat Hendry pergi dari sana.

"Iya, kamu juga hati-hati nanti di jalan," balas Hendry.

Setelah itu, Natasya pun pergi dari sana. Tetapi sebelum meninggalkan bandara, tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil. Maka dari itu, ia pun menuju ke toilet yang terletak di sudut bandara.

Natasya's POV

Lega sekali rasanya setelah buang air kecil. Aku pun mencuci tangan di wastafel sambil bercermin. Ngomong-ngomong, toilet di sini sangat sepi. Apa mungkin karena memang letaknya di ujung? Sehingga para pengunjung yang lain lebih memilih untuk menggunakan toilet yang ada di dekat pintu masuk dan keluar. Entahlah, aku tidak perlu terlalu memikirkannya.

Saat aku keluar dari area toilet, sayup-sayup aku mendengar suara tangisan. Bukan, ini bukan suara tangisan perempuan berbaju putih yang membuat suasana menjadi horor, tapi suaranya seperti anak kecil yang sesenggukan. Dan suara itu berasal dari toilet pria. Aku tidak bisa pergi begitu saja karena aku merasa ada yang tidak beres di sini. Namun, aku juga ragu untuk mengecek ke dalam toilet. Jika nanti aku masuk ke toilet pria untuk memeriksa dan ada yang memergoki, bisa-bisa aku yang dituduh sebagai perempuan mesum.

hiks... hiks...

Suara itu begitu lirih, tapi terdengar sangat jelas di telingaku. Aku mengedarkan pandangan berharap ada laki-laki yang bisa kumintai tolong untuk mengecek keadaan, tapi sama sekali tidak ada. Toilet ini benar-benar tersembunyi, sehingga semua orang berada jauh dari sini.

"Arghh... Persetan dengan omongan orang!"

Aku tidak bisa membendung rasa penasaranku lagi dan langsung masuk ke toilet pria. Di dalam toilet, hanya ada satu bilik yang tertutup. Tapi tunggu! Pintu itu terkunci dari luar?! Dengan segera, aku langsung membuka pintu itu. Betapa terkejutnya aku saat melihat ada seorang anak laki-laki yang duduk di atas closet sambil sesenggukan.

Deg!

Jantungku berdetak lebih kencang saat mata anak itu menatapku. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, tapi aku benar-benar ingin menangis saat itu juga. Mata dan hidungnya yang memerah menandakan bahwa ia sudah terlalu banyak menangis. Mungkin itu yang membuatnya hanya bisa sesenggukan saja sekarang.

"Hei...," lirihku sambil menghampirinya, lalu berjongkok di depan anak itu.

"Kenapa kamu di sini sendirian?" tanyaku, "dimana orang tuamu?"

Anak itu tidak menjawab, ia hanya menatapku dengan binar mata yang berkaca-kaca. Dan itu benar-benar menyayat hatiku. Kemudian, pandanganku mengarah ke sebuah kalung perak di lehernya. Di kalung itu terukir nama 'Bhara'.

"Bhara?" ucapku sambil tersenyum ke arahnya, "jadi namamu Bhara?"

Anak itu mengangguk pelan.

"Jadi, Bhara, dimana orang tuamu?" tanyaku.

Tidak ada jawaban yang kuterima. Ia masih menatapku seperti tadi.

"Ayo ikut kakak, kita cari orang tuamu," ajakku sambil menggandeng tangannya.

Anak itu tidak memberontak saat kugandeng, tetapi ia sama sekali tidak mau beranjak dari sana. Aku yang sudah berdiri pun merasa bingung.

"Bhara gak mau ikut kakak?" tanyaku.

Ia hanya diam.

"Kakak bukan orang jahat, kok," ucapku menenangkannya.

Lagi, ia hanya diam.

Oh, Tuhan. Bagaimana caraku meyakinkannya?

"Emm... Bhara mau kakak gendong?"

Oh! Dia mengangguk!

Aku pun tersenyum lega. Akhirnya, aku memutuskan untuk menggendong anak itu dan membawanya ke pusat informasi. Badannya tidak terlalu berat karena ia masih anak berusia... Emm... Entahlah, mungkin 3 atau 4 tahun? Ditambah badannya yang sangat kurus.

Terpopuler

Comments

Itha Fitra

Itha Fitra

bdn bhara amat kurus,tp gmbr ny gemuk kok?

2023-12-26

1

LISA

LISA

Bagus jg nih ceritanya

2023-11-28

0

lihat semua
Episodes
1 1 : Natasya
2 2 : Bhara
3 3 : Mama?!
4 4 : Fakta Mengejutkan
5 5 : Ke Kampus
6 6 : Kakek
7 7 : Berpisah
8 8 : Kecelakaan
9 9 : Donor Darah
10 10 : Johnathan
11 11 : Rencana Natasya
12 12 : Kerja Tambahan
13 13 : Haikal
14 14 : Kelelahan
15 15 : Permintaan Alan
16 16 : Hasil Tes DNA
17 17 : Keturunan Adikusuma
18 18 : Bermain
19 19 : Rencana Buruk
20 20 : Papa
21 21 : Berkas
22 22 : Kecewa
23 23 : Amarah
24 24 : Pertengkaran
25 25 : Buntu
26 26 : Kesepakatan
27 27 : Undangan
28 28 : Makan Malam
29 29 : Resmi
30 30 : Persidangan
31 31 : Tinggal Bersama
32 32 : Baikan
33 33 : Salah Paham
34 34 : Makam
35 35 : Komitmen
36 36 : Klarifikasi
37 37 : Keluarga Kecil
38 38 : Liburan Keluarga
39 39 : Sabrina
40 40 : Masa Lalu
41 41 : Pertemuan
42 42 : Penjelasan
43 43 : Kembali
44 44 : Cinta
45 45 : Kebenaran
46 46 : Gagal
47 47 : Ditangkap
48 48 : Malam Pilu
49 49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50 50 : Ada yang Aneh
51 Part 51 : Hampir
52 52 : Hakim Jujur?
53 53 : Vonis
54 54 : Berkumpul Lagi
55 55 : Omelan Istri
56 56 : Awal Ajaran Baru
57 57 : Menghilang
58 58 : Diculik
59 59 : Pencarian
60 60 : Perlawanan
61 61 : Upaya Kabur
62 62 : Belum Berakhir
63 63 : Terguncang
64 64 : Trauma
65 65 : Hari yang Suram
66 66 : Sidang (lagi)
67 67 : Pulang
68 68 : Tidak Baik-Baik Saja
69 69 : Kembali Normal
70 70 : Akhir
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1 : Natasya
2
2 : Bhara
3
3 : Mama?!
4
4 : Fakta Mengejutkan
5
5 : Ke Kampus
6
6 : Kakek
7
7 : Berpisah
8
8 : Kecelakaan
9
9 : Donor Darah
10
10 : Johnathan
11
11 : Rencana Natasya
12
12 : Kerja Tambahan
13
13 : Haikal
14
14 : Kelelahan
15
15 : Permintaan Alan
16
16 : Hasil Tes DNA
17
17 : Keturunan Adikusuma
18
18 : Bermain
19
19 : Rencana Buruk
20
20 : Papa
21
21 : Berkas
22
22 : Kecewa
23
23 : Amarah
24
24 : Pertengkaran
25
25 : Buntu
26
26 : Kesepakatan
27
27 : Undangan
28
28 : Makan Malam
29
29 : Resmi
30
30 : Persidangan
31
31 : Tinggal Bersama
32
32 : Baikan
33
33 : Salah Paham
34
34 : Makam
35
35 : Komitmen
36
36 : Klarifikasi
37
37 : Keluarga Kecil
38
38 : Liburan Keluarga
39
39 : Sabrina
40
40 : Masa Lalu
41
41 : Pertemuan
42
42 : Penjelasan
43
43 : Kembali
44
44 : Cinta
45
45 : Kebenaran
46
46 : Gagal
47
47 : Ditangkap
48
48 : Malam Pilu
49
49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50
50 : Ada yang Aneh
51
Part 51 : Hampir
52
52 : Hakim Jujur?
53
53 : Vonis
54
54 : Berkumpul Lagi
55
55 : Omelan Istri
56
56 : Awal Ajaran Baru
57
57 : Menghilang
58
58 : Diculik
59
59 : Pencarian
60
60 : Perlawanan
61
61 : Upaya Kabur
62
62 : Belum Berakhir
63
63 : Terguncang
64
64 : Trauma
65
65 : Hari yang Suram
66
66 : Sidang (lagi)
67
67 : Pulang
68
68 : Tidak Baik-Baik Saja
69
69 : Kembali Normal
70
70 : Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!