Hari Jum'at adalah hari yang cukup santai bagi Natasya. Jadwalnya di hari ini tidak sepadat hari-hari lainnya. Kuliahnya berakhir lebih awal, serta ia tidak memiliki jam mengajar di klub menembak. Namun, karena ia memiliki tugas untuk mengantarkan Hendry ke bandara, ia memilih untuk tetap di kampus sambil menunggu dosennya itu selesai mengajar.
"Lebih baik aku ngerjain tugas buat besok dulu, biar nanti sepulang dari bandara bisa langsung istirahat," gumam Natasya.
Kemudian, gadis itu pergi ke bangku di dekat danau kampus. Ia membuka laptop dan mulai mengerjakan tugasnya. Selama kurang lebih satu jam berkutat dengan tugas, akhirnya ia pun selesai mengerjakannya.
Drrrt... Drrrt...
Natasya meraih ponsel yang ia letakkan di meja, lalu melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata itu adalah Hendry, ia pun dengan segera mengangkatnya.
"Halo, Pak Hendry?" ucap Natasya.
"Halo, Natasya. Kamu di mana? Saya sudah selesai mengajar," kata Hendry di seberang sana.
"Oh, iya pak. Saya masih ada di dekat danau. Gimana, Pak? Kita berangkat sekarang?" tanya Natasya.
"Iya, langsung ke tempat parkir aja ya. Kita ketemuan di sana," jawab Hendry.
"Okey, siap, Pak. Saya segera ke sana."
Setelah itu, Natasya segera membereskan tasnya, lalu bergegas ke tempat parkir dosen untuk menemui Hendry. Dari kejauhan, ia bisa melihat dosennya itu juga baru sampai di dekat mobilnya.
"Pak Hendry!"
Hendry pun menoleh dan mendapati Natasya yang terengah-engah karena baru saja berlari.
"Eh, Natasya? Kenapa kamu lari-larian?" ucap Hendry.
Natasya menyengir lebar, "hehe... Biar nyampe di sini lebih dulu. Eh, tapi ternyata masih tetap lebih cepat Pak Hendry."
Hendry yang mendengarnya pun tertawa. Gadis itu sering bertingkah lucu. Mungkin karena ia tidak memiliki anak perempuan, sehingga ia merasa senang saat melihat tingkah Natasya.
"Ya udah, kita berangkat sekarang ya. Ini kuncinya," kata Hendry sambil menyerahkan kunci mobil kepada Natasya.
Natasya pun segera menerima kunci mobil itu dan membuka pintu pengemudi. Sementara itu, Hendry duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah Natasya. Kemudian, mobil berwarna putih itu pun mulai berjalan meninggalkan area kampus menuju bandara yang berjarak sekitar 25 km dari sana.
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, mereka pun tiba di bandara. Natasya tidak langsung pulang, ia membantu membawakan koper milik Hendry.
"Kamu tidak perlu membawakan koper saya, Natasya. Barang bawaan saya kan tidak terlalu banyak, saya masih bisa membawa semuanya sendiri," ujar Hendry.
Natasya tersenyum, "tidak apa-apa, Pak Hendry. Lagipula, biar saya punya alasan juga buat masuk bandara. Saya pengen lihat-lihat ke dalam."
Hendry hanya tertawa kecil, kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam area bandara. Karena jam keberangkatan pesawat Hendry masih agak lama, mereka pun duduk di area lobi. Natasya hanya melihat-lihat lalu lalang orang yang ada di sana, sementara Hendry memeriksa barang-barangnya kembali sebelum check-in.
"Pak Hendry," panggil Natasya membuat Hendry menoleh, "saya boleh tanya sesuatu?"
Hendry mengangguk, "tentu saja, tanyakan apa pun yang ingin kamu ketahui."
"Untuk klien yang mau bapak temui di Malaysia nanti, apakah dia ada hubungannya dengan kasus kriminalitas? Atau urusan politik yang lain?" tanya Natasya.
Hendry tersenyum kecil. Ini yang ia suka dari Natasya, gadis itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
"Bukan kasus yang besar, sebenarnya klien itu adalah teman saya sesama pengacara, dia juga orang Indonesia," jawab Hendry, "tetapi beberapa waktu ini, ia menangani sebuah kasus yang cukup rumit dan mengharuskannya untuk pergi ke Malaysia. Tapi karena belum berhasil menyelesaikan kasusnya, ia pun meminta bantuan saya."
Natasya menganggukkan kepalanya, "tapi kenapa harus di Malaysia?"
Hendry tampak berpikir sebentar, "hmm... saya belum bisa memastikan alasan yang sebenarnya. Tetapi dia bilang kepada saya kalau saksi kunci dalam kasus yang ia tangani adalah orang Malaysia."
"Wah... Ternyata jadi pengacara juga harus seteliti itu ya," ucap Natasya dengan kagum.
Hendry menganggukkan kepalanya, kemudian pandangannya beralih ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Sudah waktunya saya check-in," ujar Hendry sambil berdiri, "kamu langsung pulang ya, bawa saja mobil saya ke rumah kamu."
Natasya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang. Dalam hati ia bersorak saat diperbolehkan membawa mobil Hendry untuk sementara, paling tidak ia bisa menghemat ongkos ojek saat pergi ke kampus.
"Hati-hati, Pak Hendry," ucap Natasya saat Hendry pergi dari sana.
"Iya, kamu juga hati-hati nanti di jalan," balas Hendry.
Setelah itu, Natasya pun pergi dari sana. Tetapi sebelum meninggalkan bandara, tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil. Maka dari itu, ia pun menuju ke toilet yang terletak di sudut bandara.
Natasya's POV
Lega sekali rasanya setelah buang air kecil. Aku pun mencuci tangan di wastafel sambil bercermin. Ngomong-ngomong, toilet di sini sangat sepi. Apa mungkin karena memang letaknya di ujung? Sehingga para pengunjung yang lain lebih memilih untuk menggunakan toilet yang ada di dekat pintu masuk dan keluar. Entahlah, aku tidak perlu terlalu memikirkannya.
Saat aku keluar dari area toilet, sayup-sayup aku mendengar suara tangisan. Bukan, ini bukan suara tangisan perempuan berbaju putih yang membuat suasana menjadi horor, tapi suaranya seperti anak kecil yang sesenggukan. Dan suara itu berasal dari toilet pria. Aku tidak bisa pergi begitu saja karena aku merasa ada yang tidak beres di sini. Namun, aku juga ragu untuk mengecek ke dalam toilet. Jika nanti aku masuk ke toilet pria untuk memeriksa dan ada yang memergoki, bisa-bisa aku yang dituduh sebagai perempuan mesum.
hiks... hiks...
Suara itu begitu lirih, tapi terdengar sangat jelas di telingaku. Aku mengedarkan pandangan berharap ada laki-laki yang bisa kumintai tolong untuk mengecek keadaan, tapi sama sekali tidak ada. Toilet ini benar-benar tersembunyi, sehingga semua orang berada jauh dari sini.
"Arghh... Persetan dengan omongan orang!"
Aku tidak bisa membendung rasa penasaranku lagi dan langsung masuk ke toilet pria. Di dalam toilet, hanya ada satu bilik yang tertutup. Tapi tunggu! Pintu itu terkunci dari luar?! Dengan segera, aku langsung membuka pintu itu. Betapa terkejutnya aku saat melihat ada seorang anak laki-laki yang duduk di atas closet sambil sesenggukan.
Deg!
Jantungku berdetak lebih kencang saat mata anak itu menatapku. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, tapi aku benar-benar ingin menangis saat itu juga. Mata dan hidungnya yang memerah menandakan bahwa ia sudah terlalu banyak menangis. Mungkin itu yang membuatnya hanya bisa sesenggukan saja sekarang.
"Hei...," lirihku sambil menghampirinya, lalu berjongkok di depan anak itu.
"Kenapa kamu di sini sendirian?" tanyaku, "dimana orang tuamu?"
Anak itu tidak menjawab, ia hanya menatapku dengan binar mata yang berkaca-kaca. Dan itu benar-benar menyayat hatiku. Kemudian, pandanganku mengarah ke sebuah kalung perak di lehernya. Di kalung itu terukir nama 'Bhara'.
"Bhara?" ucapku sambil tersenyum ke arahnya, "jadi namamu Bhara?"
Anak itu mengangguk pelan.
"Jadi, Bhara, dimana orang tuamu?" tanyaku.
Tidak ada jawaban yang kuterima. Ia masih menatapku seperti tadi.
"Ayo ikut kakak, kita cari orang tuamu," ajakku sambil menggandeng tangannya.
Anak itu tidak memberontak saat kugandeng, tetapi ia sama sekali tidak mau beranjak dari sana. Aku yang sudah berdiri pun merasa bingung.
"Bhara gak mau ikut kakak?" tanyaku.
Ia hanya diam.
"Kakak bukan orang jahat, kok," ucapku menenangkannya.
Lagi, ia hanya diam.
Oh, Tuhan. Bagaimana caraku meyakinkannya?
"Emm... Bhara mau kakak gendong?"
Oh! Dia mengangguk!
Aku pun tersenyum lega. Akhirnya, aku memutuskan untuk menggendong anak itu dan membawanya ke pusat informasi. Badannya tidak terlalu berat karena ia masih anak berusia... Emm... Entahlah, mungkin 3 atau 4 tahun? Ditambah badannya yang sangat kurus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Itha Fitra
bdn bhara amat kurus,tp gmbr ny gemuk kok?
2023-12-26
1
LISA
Bagus jg nih ceritanya
2023-11-28
0