5 : Ke Kampus

Sekitar jam 10 siang, Natasya membawa Bhara untuk pergi ke kampusnya. Ia berencana untuk menitipkan anak itu di daycare yang ada di area kampus, daycare itu khusus untuk anak-anak dari para dosen maupun mahasiswa yang sudah menikah dan memiliki anak.

Natasya memarkirkan mobilnya. Eumm... Lebih tepatnya mobil milik Hendry, di tempat parkir dekat daycare. Saat ia keluar dari mobil, semua mahasiswa yang ada di sana langsung melihatnya. Mereka sudah biasa melihat Natasya pergi ke kampus membawa mobil Hendry, karena semua orang tahu bahwa ia adalah asisten pribadi, sekaligus mehasiswa kesayangan dosen itu. Yang membuat mereka terkejut adalah sesosok balita yang digendong oleh Natasya.

"Lah, itu kan si Natasya, anak siapa tuh dibawa?"

"Udah cantik, pinter, mahasiswa teladan, ibu-able banget lagi, duhh idaman."

"Idaman mata kau?! Pergaulan bebas dia."

"Dia asistennya Pak Hendry, kan? Wah... Apa jangan-jangan itu anaknya sama Pak Hendry?!"

"Percuma cantik, kalau hamil diluar nikah."

"Heh! Mulutnya!"

Sepanjang perjalanan, Natasya mendengar berbagai perkataan menyakitkan dari para mahasiswa di sana. Bhara yang merasa tidak nyaman karena semua pandangan tertuju padanya langsung mengeratkan pelukan di leher Natasya.

"Eung... Mama...," lirih Bhara.

"Ssst... Gak apa-apa, Bhara. Jangan takut, mereka semua teman-teman Mama," ucap Natasya sambil menepuk-nepuk punggung Bhara pelan.

Sesampainya di daycare, ia pun langsung masuk dan menemui Bu Lili, pengurus di daycare tersebut.

"Permisi, Bu Lili," sapa Natasya kepada seorang perempuan berusia 30-an itu.

"Iya? Ada yang bisa saya bantu," balas Bu Lili tersenyum ramah.

"Eh, anu bu, itu...," ucap Natasya gugup, "saya mau menitipkan adik-- eh, bukan, emm... Maksud saya, anak saya."

Bu Lili menatap Natasya dan Bhara bergantian dengan tatapan bingung, "anak kamu? Ini benar anak kamu? Kamu... Bukannya maba ya?"

Natasya menyengir, "hehe... Bukan maba juga sih, Bu. Saya mahasiswa hukum tahun kedua. Dan Sebenarnya..., anak ini bukan anak kandung saya, Bu."

"Hah? Terus, anak angkat?"

"Bukan juga."

"Lah, terus anak ini tuh anak siapa?" Bu Lili semakin bingung dengan situasi ini.

"Anak saya!" seru Natasya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan yang sebenarnya, "jadi begini Bu Lili, anak ini namanya Bhara. Saya tidak sengaja bertemu dia di bandara kemarin. Waktu mau dibawa sama polisi, Bhara terus menempel sama saya, gak mau dilepasin, akhirnya saya bawa pulang dia. Jadi, secara hukum dia bukan anak angkat saya, tapi saya sudah anggap dia anak sendiri."

Bu Lili mengerjapkan matanya mencerna penjelasan panjang lebar dari Natasya.

"Jadi, Bu Lili, saya mau menitipkan Bhara di sini selama saya masuk kelas. Boleh kan, Bu?" tanya Natasya.

Bu Lili pun tersenyum lembut, "tentu saja boleh, eum... Siapa nama kamu?"

"Natasya, mahasiswa fakultas hukum."

Gadis itu merutuki kebodohannya karena tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu.

"Baik Natasya, jadi nanti kamu mau jemput Bhara jam berapa?" tanya Bu Lili.

"Jam 3, Bu. Saya cuma ada dua kelas hari ini," jawab Natasya.

"Oke, kalau begitu," Bu Lili mengalihkan pandangan kepada Bhara, "halo, Bhara!"

Bhara menoleh, "eung?"

"Wah... Lucu sekali kamu, Bhara," puji Bu Lili.

Natasya tersenyum, "nah, Bhara, kamu sama Bu Lili dulu, ya. Mama mau sekolah dulu."

Bhara menggeleng kecil, "nda mau..., Bhala mau cama mama."

"Bhara, mama harus belajar. Nanti kalau gak belajar, mama bisa jadi orang bodoh," ujar Natasya mencoba membujuk.

"Iya, Bhara. Sini sama Bu Lili dulu, di sini Bhara bisa bermain sama teman-teman, lihat itu," ucap Bu Lili sambil menunjuk area bermain di dalam daycare.

Bhara menatap penuh minat kepada anak-anak yang bermain di sana, di sana juga ada banyak sekali mainan.

"Bagus, kan? Bhara pasti senang di sini. Nanti mama akan jemput Bhara lagi, ya?" kata Natasya.

"Janji?" lirih Bhara sambil menatap Natasya.

Natasya mengangguk, "iya, janji."

Akhirnya, Bhara mau diturunkan. Setelah berpamitan, Bhara digandeng oleh Bu Lili menuju tempat bermain. Natasya masih memandang Bhara yang berjalan sambil sesekali menoleh ke arahnya. Sebenarnya, ia tidak tega meninggalkan Bhara, tetapi ia tidak mungkin meninggalkan pelajaran.

...----------------...

Saat memasuki ruang kelas, semua tatapan tertuju kepadanya. Ada yang memandangnya penuh tanya, bahkan ada yang terang-terangan menatap jijik kepadanya. Meskipun Natasya termasuk orang yang pandai bergaul, tapi ia adalah tipe mahasiswa yang menganggap teman-temannya hanyalah teman seperjuangan, sehingga ia tidak terlalu akrab dengan mereka secara pribadi.

'Huh! Kebiasaan. Gak tau apa-apa, tapi suka berasumsi yang nggak-nggak,' cibir Natasya dalam hati.

Ia pun mendudukkan diri di samping Alan yang sedari tadi menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Jadi?"

Natasya menoleh, lalu mendengus, "dia bukan anak aku."

Alan menghela napas lega, "huft... Aku tau kalau kamu bukan perempuan yang suka macam-macam. Tapi... dia anak siapa? Seingatku, kamu gak punya kerabat, kan?"

"Kemarin, aku nemu anak itu di bandara," celetuk Natasya.

"Tck, yang benar aja dong!" seru Alan tidak percaya.

Natasya menatap Alan dengan wajah serius, "aku gak bohong kok."

Setelah itu, Natasya menceritakan seluruh rangkaian kejadian yang ia alami kemarin. Bahkan, sampai dosen yang mengajar tiba, mereka masih terus berbisik-bisik.

"Huh... Kasihan banget Bhara," gumam Alan, "nanti aku ikut kamu pas jemput Bhara ya."

Natasya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian, mereka pun mulai fokus mengikuti pembelajaran.

...----------------...

Alan benar-benar mengikuti Natasya untuk menjemput Bhara di daycare. Ia belum pernah masuk ke tempat ini sebelumnya. Sesampainya di sana, hanya ada sedikit anak yang masih bermain di tempat penitipan itu, mengingat hari sudah semakin sore.

"Bhara," panggil Natasya.

Bhara yang sedang bermain sendiri itu menoleh, "Mama!!!"

Natasya menunduk sambil merentangkan tangannya untuk menangkap Bhara yang berlari ke arahnya.

Grepp!

"Ugh! Bhara kangen ya sama mama?" tanya Natasya kepada Bhara yang saat ini ia gendong.

Sedangkan Bhara hanya menganggukkan kepala dengan semangat.

"Bhara senang di sini?" tanya Natasya lagi.

Bhara kenbali mengangguk, "Bhala cenang, di cini banyak mainan."

"Bhara senang bermain di sini," ucap Bu Lili sambil menghampiri Natasya, "tapi dia agak sulit untuk bergaul dengan anak-anak yang lain."

Natasya cukup sedih mendengarnya, "baiklah, Bu Lili, terima kasih ya karena sudah menjaga Bhara hari ini. Saya tadi sudah mentransfer biayanya, bisa Bu Lili cek dulu."

Bu Lili tersenyum, "sama-sama, Natasya. Tadi sudah saya cek. Kalau begitu, saya kembali menemani anak-anak yang lain dulu, ya."

Setelah itu, Bu Lili kembali ke tempat bermain. Kini hanya ada Natasya, Alan, dan Bhara di sana.

"Emm... Hai, Bhara," sapa Alan.

Bhara menoleh dengan dahi mengernyit bingung.

"Ini namanya Om Alan," ucap Natasya.

"Dih, kok 'om' sih," seru Alan tidak terima, lalu kembali tersenyum melihat Bhara, "panggil aja, Kak Alan."

"Kak Alan?" ucap Bhara dengan tatapan polos.

"Hiiih~ gemes banget," gemas Alan sambel menguyel-uyel pipi Bhara.

"Aaaa! Cakit!!" rengek Bhara.

Plak!

Alan meringis sambil mengusap tangannya yang baru saja digeplak oleh Natasya. Hendak protes, tapi tidak jadi saat melihat tatapan tajam dari gadis itu.

"Hehe... Pipinya gemes banget loh," kata Alan sambil cengengesan.

Natasya hanya memutar bola matanya malas. Setelah itu, ia menggendong Bhara untuk pergi dari sana. Ia harus segera pergi ke kantor polisi karena sudah membuat janji untuk membicarakan masalah Bhara.

Terpopuler

Comments

Dewa Dewi

Dewa Dewi

kasian bgt nasibmu Bara😭😭😭😭😭

2024-02-17

0

Reza Indra

Reza Indra

Miris banGeetTt... anak se kecil Bhara sdh menderita... 😥😥😥 Untungnya ketemu arg baik sprti Natasya... 🧡🧡❤🧡🧡😘😘😘

2023-07-21

4

lihat semua
Episodes
1 1 : Natasya
2 2 : Bhara
3 3 : Mama?!
4 4 : Fakta Mengejutkan
5 5 : Ke Kampus
6 6 : Kakek
7 7 : Berpisah
8 8 : Kecelakaan
9 9 : Donor Darah
10 10 : Johnathan
11 11 : Rencana Natasya
12 12 : Kerja Tambahan
13 13 : Haikal
14 14 : Kelelahan
15 15 : Permintaan Alan
16 16 : Hasil Tes DNA
17 17 : Keturunan Adikusuma
18 18 : Bermain
19 19 : Rencana Buruk
20 20 : Papa
21 21 : Berkas
22 22 : Kecewa
23 23 : Amarah
24 24 : Pertengkaran
25 25 : Buntu
26 26 : Kesepakatan
27 27 : Undangan
28 28 : Makan Malam
29 29 : Resmi
30 30 : Persidangan
31 31 : Tinggal Bersama
32 32 : Baikan
33 33 : Salah Paham
34 34 : Makam
35 35 : Komitmen
36 36 : Klarifikasi
37 37 : Keluarga Kecil
38 38 : Liburan Keluarga
39 39 : Sabrina
40 40 : Masa Lalu
41 41 : Pertemuan
42 42 : Penjelasan
43 43 : Kembali
44 44 : Cinta
45 45 : Kebenaran
46 46 : Gagal
47 47 : Ditangkap
48 48 : Malam Pilu
49 49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50 50 : Ada yang Aneh
51 Part 51 : Hampir
52 52 : Hakim Jujur?
53 53 : Vonis
54 54 : Berkumpul Lagi
55 55 : Omelan Istri
56 56 : Awal Ajaran Baru
57 57 : Menghilang
58 58 : Diculik
59 59 : Pencarian
60 60 : Perlawanan
61 61 : Upaya Kabur
62 62 : Belum Berakhir
63 63 : Terguncang
64 64 : Trauma
65 65 : Hari yang Suram
66 66 : Sidang (lagi)
67 67 : Pulang
68 68 : Tidak Baik-Baik Saja
69 69 : Kembali Normal
70 70 : Akhir
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1 : Natasya
2
2 : Bhara
3
3 : Mama?!
4
4 : Fakta Mengejutkan
5
5 : Ke Kampus
6
6 : Kakek
7
7 : Berpisah
8
8 : Kecelakaan
9
9 : Donor Darah
10
10 : Johnathan
11
11 : Rencana Natasya
12
12 : Kerja Tambahan
13
13 : Haikal
14
14 : Kelelahan
15
15 : Permintaan Alan
16
16 : Hasil Tes DNA
17
17 : Keturunan Adikusuma
18
18 : Bermain
19
19 : Rencana Buruk
20
20 : Papa
21
21 : Berkas
22
22 : Kecewa
23
23 : Amarah
24
24 : Pertengkaran
25
25 : Buntu
26
26 : Kesepakatan
27
27 : Undangan
28
28 : Makan Malam
29
29 : Resmi
30
30 : Persidangan
31
31 : Tinggal Bersama
32
32 : Baikan
33
33 : Salah Paham
34
34 : Makam
35
35 : Komitmen
36
36 : Klarifikasi
37
37 : Keluarga Kecil
38
38 : Liburan Keluarga
39
39 : Sabrina
40
40 : Masa Lalu
41
41 : Pertemuan
42
42 : Penjelasan
43
43 : Kembali
44
44 : Cinta
45
45 : Kebenaran
46
46 : Gagal
47
47 : Ditangkap
48
48 : Malam Pilu
49
49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50
50 : Ada yang Aneh
51
Part 51 : Hampir
52
52 : Hakim Jujur?
53
53 : Vonis
54
54 : Berkumpul Lagi
55
55 : Omelan Istri
56
56 : Awal Ajaran Baru
57
57 : Menghilang
58
58 : Diculik
59
59 : Pencarian
60
60 : Perlawanan
61
61 : Upaya Kabur
62
62 : Belum Berakhir
63
63 : Terguncang
64
64 : Trauma
65
65 : Hari yang Suram
66
66 : Sidang (lagi)
67
67 : Pulang
68
68 : Tidak Baik-Baik Saja
69
69 : Kembali Normal
70
70 : Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!