Sekitar jam 10 siang, Natasya membawa Bhara untuk pergi ke kampusnya. Ia berencana untuk menitipkan anak itu di daycare yang ada di area kampus, daycare itu khusus untuk anak-anak dari para dosen maupun mahasiswa yang sudah menikah dan memiliki anak.
Natasya memarkirkan mobilnya. Eumm... Lebih tepatnya mobil milik Hendry, di tempat parkir dekat daycare. Saat ia keluar dari mobil, semua mahasiswa yang ada di sana langsung melihatnya. Mereka sudah biasa melihat Natasya pergi ke kampus membawa mobil Hendry, karena semua orang tahu bahwa ia adalah asisten pribadi, sekaligus mehasiswa kesayangan dosen itu. Yang membuat mereka terkejut adalah sesosok balita yang digendong oleh Natasya.
"Lah, itu kan si Natasya, anak siapa tuh dibawa?"
"Udah cantik, pinter, mahasiswa teladan, ibu-able banget lagi, duhh idaman."
"Idaman mata kau?! Pergaulan bebas dia."
"Dia asistennya Pak Hendry, kan? Wah... Apa jangan-jangan itu anaknya sama Pak Hendry?!"
"Percuma cantik, kalau hamil diluar nikah."
"Heh! Mulutnya!"
Sepanjang perjalanan, Natasya mendengar berbagai perkataan menyakitkan dari para mahasiswa di sana. Bhara yang merasa tidak nyaman karena semua pandangan tertuju padanya langsung mengeratkan pelukan di leher Natasya.
"Eung... Mama...," lirih Bhara.
"Ssst... Gak apa-apa, Bhara. Jangan takut, mereka semua teman-teman Mama," ucap Natasya sambil menepuk-nepuk punggung Bhara pelan.
Sesampainya di daycare, ia pun langsung masuk dan menemui Bu Lili, pengurus di daycare tersebut.
"Permisi, Bu Lili," sapa Natasya kepada seorang perempuan berusia 30-an itu.
"Iya? Ada yang bisa saya bantu," balas Bu Lili tersenyum ramah.
"Eh, anu bu, itu...," ucap Natasya gugup, "saya mau menitipkan adik-- eh, bukan, emm... Maksud saya, anak saya."
Bu Lili menatap Natasya dan Bhara bergantian dengan tatapan bingung, "anak kamu? Ini benar anak kamu? Kamu... Bukannya maba ya?"
Natasya menyengir, "hehe... Bukan maba juga sih, Bu. Saya mahasiswa hukum tahun kedua. Dan Sebenarnya..., anak ini bukan anak kandung saya, Bu."
"Hah? Terus, anak angkat?"
"Bukan juga."
"Lah, terus anak ini tuh anak siapa?" Bu Lili semakin bingung dengan situasi ini.
"Anak saya!" seru Natasya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan yang sebenarnya, "jadi begini Bu Lili, anak ini namanya Bhara. Saya tidak sengaja bertemu dia di bandara kemarin. Waktu mau dibawa sama polisi, Bhara terus menempel sama saya, gak mau dilepasin, akhirnya saya bawa pulang dia. Jadi, secara hukum dia bukan anak angkat saya, tapi saya sudah anggap dia anak sendiri."
Bu Lili mengerjapkan matanya mencerna penjelasan panjang lebar dari Natasya.
"Jadi, Bu Lili, saya mau menitipkan Bhara di sini selama saya masuk kelas. Boleh kan, Bu?" tanya Natasya.
Bu Lili pun tersenyum lembut, "tentu saja boleh, eum... Siapa nama kamu?"
"Natasya, mahasiswa fakultas hukum."
Gadis itu merutuki kebodohannya karena tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Baik Natasya, jadi nanti kamu mau jemput Bhara jam berapa?" tanya Bu Lili.
"Jam 3, Bu. Saya cuma ada dua kelas hari ini," jawab Natasya.
"Oke, kalau begitu," Bu Lili mengalihkan pandangan kepada Bhara, "halo, Bhara!"
Bhara menoleh, "eung?"
"Wah... Lucu sekali kamu, Bhara," puji Bu Lili.
Natasya tersenyum, "nah, Bhara, kamu sama Bu Lili dulu, ya. Mama mau sekolah dulu."
Bhara menggeleng kecil, "nda mau..., Bhala mau cama mama."
"Bhara, mama harus belajar. Nanti kalau gak belajar, mama bisa jadi orang bodoh," ujar Natasya mencoba membujuk.
"Iya, Bhara. Sini sama Bu Lili dulu, di sini Bhara bisa bermain sama teman-teman, lihat itu," ucap Bu Lili sambil menunjuk area bermain di dalam daycare.
Bhara menatap penuh minat kepada anak-anak yang bermain di sana, di sana juga ada banyak sekali mainan.
"Bagus, kan? Bhara pasti senang di sini. Nanti mama akan jemput Bhara lagi, ya?" kata Natasya.
"Janji?" lirih Bhara sambil menatap Natasya.
Natasya mengangguk, "iya, janji."
Akhirnya, Bhara mau diturunkan. Setelah berpamitan, Bhara digandeng oleh Bu Lili menuju tempat bermain. Natasya masih memandang Bhara yang berjalan sambil sesekali menoleh ke arahnya. Sebenarnya, ia tidak tega meninggalkan Bhara, tetapi ia tidak mungkin meninggalkan pelajaran.
...----------------...
Saat memasuki ruang kelas, semua tatapan tertuju kepadanya. Ada yang memandangnya penuh tanya, bahkan ada yang terang-terangan menatap jijik kepadanya. Meskipun Natasya termasuk orang yang pandai bergaul, tapi ia adalah tipe mahasiswa yang menganggap teman-temannya hanyalah teman seperjuangan, sehingga ia tidak terlalu akrab dengan mereka secara pribadi.
'Huh! Kebiasaan. Gak tau apa-apa, tapi suka berasumsi yang nggak-nggak,' cibir Natasya dalam hati.
Ia pun mendudukkan diri di samping Alan yang sedari tadi menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Jadi?"
Natasya menoleh, lalu mendengus, "dia bukan anak aku."
Alan menghela napas lega, "huft... Aku tau kalau kamu bukan perempuan yang suka macam-macam. Tapi... dia anak siapa? Seingatku, kamu gak punya kerabat, kan?"
"Kemarin, aku nemu anak itu di bandara," celetuk Natasya.
"Tck, yang benar aja dong!" seru Alan tidak percaya.
Natasya menatap Alan dengan wajah serius, "aku gak bohong kok."
Setelah itu, Natasya menceritakan seluruh rangkaian kejadian yang ia alami kemarin. Bahkan, sampai dosen yang mengajar tiba, mereka masih terus berbisik-bisik.
"Huh... Kasihan banget Bhara," gumam Alan, "nanti aku ikut kamu pas jemput Bhara ya."
Natasya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian, mereka pun mulai fokus mengikuti pembelajaran.
...----------------...
Alan benar-benar mengikuti Natasya untuk menjemput Bhara di daycare. Ia belum pernah masuk ke tempat ini sebelumnya. Sesampainya di sana, hanya ada sedikit anak yang masih bermain di tempat penitipan itu, mengingat hari sudah semakin sore.
"Bhara," panggil Natasya.
Bhara yang sedang bermain sendiri itu menoleh, "Mama!!!"
Natasya menunduk sambil merentangkan tangannya untuk menangkap Bhara yang berlari ke arahnya.
Grepp!
"Ugh! Bhara kangen ya sama mama?" tanya Natasya kepada Bhara yang saat ini ia gendong.
Sedangkan Bhara hanya menganggukkan kepala dengan semangat.
"Bhara senang di sini?" tanya Natasya lagi.
Bhara kenbali mengangguk, "Bhala cenang, di cini banyak mainan."
"Bhara senang bermain di sini," ucap Bu Lili sambil menghampiri Natasya, "tapi dia agak sulit untuk bergaul dengan anak-anak yang lain."
Natasya cukup sedih mendengarnya, "baiklah, Bu Lili, terima kasih ya karena sudah menjaga Bhara hari ini. Saya tadi sudah mentransfer biayanya, bisa Bu Lili cek dulu."
Bu Lili tersenyum, "sama-sama, Natasya. Tadi sudah saya cek. Kalau begitu, saya kembali menemani anak-anak yang lain dulu, ya."
Setelah itu, Bu Lili kembali ke tempat bermain. Kini hanya ada Natasya, Alan, dan Bhara di sana.
"Emm... Hai, Bhara," sapa Alan.
Bhara menoleh dengan dahi mengernyit bingung.
"Ini namanya Om Alan," ucap Natasya.
"Dih, kok 'om' sih," seru Alan tidak terima, lalu kembali tersenyum melihat Bhara, "panggil aja, Kak Alan."
"Kak Alan?" ucap Bhara dengan tatapan polos.
"Hiiih~ gemes banget," gemas Alan sambel menguyel-uyel pipi Bhara.
"Aaaa! Cakit!!" rengek Bhara.
Plak!
Alan meringis sambil mengusap tangannya yang baru saja digeplak oleh Natasya. Hendak protes, tapi tidak jadi saat melihat tatapan tajam dari gadis itu.
"Hehe... Pipinya gemes banget loh," kata Alan sambil cengengesan.
Natasya hanya memutar bola matanya malas. Setelah itu, ia menggendong Bhara untuk pergi dari sana. Ia harus segera pergi ke kantor polisi karena sudah membuat janji untuk membicarakan masalah Bhara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Dewa Dewi
kasian bgt nasibmu Bara😭😭😭😭😭
2024-02-17
0
Reza Indra
Miris banGeetTt... anak se kecil Bhara sdh menderita... 😥😥😥 Untungnya ketemu arg baik sprti Natasya... 🧡🧡❤🧡🧡😘😘😘
2023-07-21
4