Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kaca kamar ruang rawat Bhara. Sinar tersebut menyorot langsung ke wajah Natasya yang sedang tertidur lelap di sofa, membuat gadis cantik yang ketiduran semalam mengerjapkan matanya. Perlahan mata bulat nan indah itu pun terbuka.
"Haah~ aku ketiduran," gumam Natasya sambil mendudukkan dirinya di sofa tersebut.
Setelah kesadarannya sudah terkumpul, ia pun bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Jadwal kuliahnya masih 3 jam lagi, jadi ia tidak ingin mandi dulu.
"Mama~" sayup-sayup terdengar suara Bhara dari luar kamar mandi.
"Iya, sayang. Mama lagi di kamar mandi," balas Natasya sedikit berteriak.
Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, ia pun keluar dan mendapati Bhara sudah duduk manis di atas ranjangnya.
"Selamat pagi, anak mama~" sapa Natasya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Pagi, mama~" balas Bhara tak kalah ceria.
Natasya pun mengambil tempat duduk di sebelah Bhara. Ia mulai mengupas buah apel sebagai camilan untuk Bhara sebelum sarapan datang.
"Mama," panggil Bhara.
"Iya, kenapa, sayang?" balas Natasya.
"Bhala kapan boleh pulang?" tanya anak itu.
Natasya tampak mengingat-ingat sesuatu, "eum... Kalau gak salah, kata dokter, Bhara boleh pulang besok."
"Wah, besok?" ujar Bhara tampak bersemangat.
Natasya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu memberikan satu potong kecil buah apel kepada Bhara yang langsung dilahap oleh anak itu.
"Bhala pulang cama mama, kan?" tanya Bhara kembali.
Senyum Natasya perlahan memudar, tapi segera ia samarkan dan berucap dengan lembut, "Bhara, besok Bhara pulang sama ibu panti dulu, ya."
Wajah Bhara menjadi tertekuk, "yaah~ kenapa gak cama mama?"
"Bhara belum boleh pulang sama mama. Nanti kalau Bhara pulang sama mama, mama dimarahi sama pak polisi," jawab Natasya berusaha untuk membujuk Bhara.
"Huh! Pak polici jahat," seru Bhara sambil cemberut.
Natasya tertawa kecil, "pak polisi gak jahat, Nak. Memang begitu peraturannya."
Natasya diam sejenak, lalu berkata dengan serius kepada Bhara, "tapi Bhara jangan khawatir. Mama pasti jemput Bhara nanti. Bhara tunggu mama ya, kita pasti akan tinggal bersama."
Wajah Bhara berubah menjadi cerah kembali, "janji, Ma?"
Natasya mengangguk, "iya, mama janji."
"Yeay! Bhala tunggu mama jemput Bhala nanti," seru anak itu dengan nada gembira.
Natasya hanya tersenyum simpul melihat Bhara. Bagaimana bisa ia berjanji saat dirinya sendiri tidak yakin dengan janjinya?
'Ya Tuhan... Semoga aku bisa menepati janjiku kepada anakku.'
...----------------...
Seperti hari-hari sebelumnya, Natasya selalu pergi ke kampusnya langsung dari rumah sakit. Bahkan, ia tidak ingat kapan terakhir kali tidur di rumahnya sendiri. Ia akan pulang hanya untuk mengambil pakaian ganti.
"Baik, itu saja untuk kelas hari ini, pertemuan berikutnya mempresentasikan tugas yang sudah saya berikan, ya," ucap seorang dosen di kelas Natasya mengakhiri pembelajaran.
Setelah dosen itu pergi dari kelas, para mahasiswa juga meninggalkan ruangan. Kini hanya tersisa beberapa mahasiswa, termasuk Natasya. Ia memutuskan untuk langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya tadi. Natasya memang rajin, tapi alasan mengapa ia langsung mengerjakan tugas itu adalah agar ia bisa leluasa bekerja nantinya.
Tap... Tap... Tap...
Natasya menoleh saat mendengar suara langkah sepatu berjalan ke arahnya. Dahinya mengernyit saat melihat siapa yang mendekatinya. Ternyata itu adalah kakak tingkatnya yang juga seorang mahasiswa hukum. Namanya Haikal.
Natasya merasa tidak nyaman saat Haikal berjalan menghampirinya sambil tersenyum, yang menurutnya menyeramkan. Natasya merasa tidak nyaman bukan tanpa alasan. Sejak masuk ke kampus ini, Haikal terus mengejar Natasya. Natasya tidak masalah jika Haikal menyukainya, tetapi laki-laki itu menyukainya dengan berlebihan.
Saat Natasya masih menjadi maba, Haikal terus berusaha mendekatinya. Setiap hari laki-laki itu terus mengirimkan pesan padanya, menawari untuk mengantarkannya pulang, dan berusaha untuk mengajaknya kencan. Tapi Natasya terus menolak semua usaha pendekatan dari Haikal. Selain karena ia tidak tertarik dengan laki-laki itu, ia juga ingin fokus belajar dan bekerja.
Selama kurang lebih satu tahun, hidupnya seolah tidak tenang karena Haikal terus mengusiknya. Tapi di tahun kedua, ia mulai bisa bernafas dengan lega karena Haikal mengikuti program pertukaran pelajar di Australia. Ngomong-ngomong, Haikal adalah mahasiswa yang sangat berprestasi, seluruh kampus mengenalnya.
Sebenarnya, ia sudah mendengar kabar bahwa Haikal kembali ke kampus mereka sejak 2 minggu yang lalu. Namun, ia berpikir bahwa katingnya itu pasti sudah melupakannya dan mendapat pacar selama belajar di Australia. Tapi sepertinya tebakan Natasya salah, melihat Haikal yang saat ini sudah menghampirinya di kelas. Persis seperti apa yang mahasiswa itu lakukan setiap hari di tahun lalu.
"Hai, Natasya. Lama gak ketemu," sapa Haikal dengan senyum lebarnya.
"Hai, Kak Haikal," balas Natasya dengan senyum kecil tidak berminat.
"Kayaknya kamu akhir-akhir ini sibuk banget, ya?" kata Haikal sambil mendudukkan dirinya di bangku kursi berhadapan dengan Natasya.
"Yahh... Kayak yang kakak lihat," jawab Natasya sekedarnya.
Haikal tertawa kecil, "kamu gak berubah ya, masih aja dingin kalau sama aku."
Natasya hanya diam dan lanjut mengerjakan tugasnya, ia tidak ingin menanggapi Haikal. Bukan maksud sok jual mahal atau bagaimana, ia hanya tidak ingin memberi harapan palsu kepada laki-laki itu. Ia juga ingin agar Haikal berhenti mengejarnya.
"Ngomong-ngomong, aku udah lihat tweet kamu, kamu lagi butuh kerja tambahan, ya?" tanya
Natasya menoleh dengan cepat, lalu menganggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak ingin berurusan dengan laki-laki di hadapannya itu, tapi kalau tentang bisnis, masih bisa dibicarakan.
"Aku punya pekerjaan buat kamu," ucap Haikal sambil tersenyum misterius.
"Apa, Kak?" tanya Natasya antusias.
"Kamu menerima tawaran apa aja, kan?"
Natasya mengangguk antusias, "apapun."
Haikal tersenyum miring, "termasuk tidur sama aku?"
Natasya diam membatu. Ia tahu bahwa Haikal terobsesi dengannya, tapi ia tidak menyangka jika laki-laki itu bisa mengatakan hal hina seperti itu kepada dirinya.
"Kecuali itu," ucap Natasya dingin.
Haikal terkekeh, "ayolah, Natasya. Ini kerjaan yang gampang, aku bisa kasih berapa pun yang kamu mau asal kamu bersedia berada satu ranjang sama aku."
Plak!
Beberapa mahasiswa yang masih berada di kelas sontak menoleh dan terkejut mendengar suara itu. Natasya baru saja menampar pipi kiri Haikal. Sorot matanya terlihat penuh amarah.
"Mending kamu cari pelac*r di luaran sana buat muasin hasrat binatangmu itu," ucap Natasya geram.
Haikal hanya diam sambil tersenyum miring menatap gadis yang baru saja menamparnya. Natasya buru-buru merapikan tasnya dan bergegas keluar dari sana. Matanya memanas mengingat ucapan dari Haikal yang sangat melukai hatinya. Ia hanya berusaha mencari uang, tapi kenapa harus sesulit dan semenyakitkan ini.
...----------------...
Hai guyss....
Maaf ya, lama gak update huhu 😭😭
Author masih sibuk persiapan buat kuliah nih.
Semoga setelah ini bisa rajin update lagi ❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Frando Wijaya
yg bner aja....bch ini haikal alasan kejar natasya hanya inginkn tubuh? ini gk ada bedany seperti bch hidung belang
2024-08-01
0
Dewa Dewi
👍👍
2024-02-17
0
Lena Sari
haikal-haikalll....gimana Natasya mau sama kamu?jamunya aja kurang ajar gitu.
2023-12-12
0