Setelah kepulangan Hendry dari Malaysia, Natasya kembali berangkat ke kampus menggunakan bus. Sebenarnya, Hendry sudah meminta agar Natasya membawa mobilnya untuk sementara, mengingat gadis itu akan selalu membawa Bhara kemana pun ia pergi. Namun, Natasya menolak tawaran dari Hendry, ia merasa tidak enak jika terus menerus menggunakan mobil yang bukan miliknya sendiri.
Dan seperti biasa, Natasya selalu menitipkan Bhara di daycare kampusnya setiap ia akan pergi ke kelas.
"Daah mama~" ucap Bhara sambil melambaikan tangannya kepada Natasya.
"Daah sayang~" balas Natasya, lalu ia pergi untuk belajar.
Beruntung Bhara merasa nyaman di tempat penitipan itu, sehingga Natasya bisa meninggalkan anak itu di sana dengan tenang. Ketika weekday, jadwal kuliah Natasya sangat padat. Ia memiliki kelas sejak pagi hingga selesai kelas sekitar pukul 3 sore. Ngomong-ngomong, berbagai cibiran untuk Natasya tidak separah saat pertama kali ia datang sambil menggendong Bhara. Beberapa temannya sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya, Natasya juga tidak terlalu peduli tentang pendapat orang lain.
Selesai kelas, ia langsung bergegas menuju tempat penitipan. Rasa lelahnya akibat belajar berjam-jam seketika menghilang saat melihat Bhara sedang tertawa riang bersama trman-temannya di daycare.
"Bhara," panggil Natasya.
Anak itu pun menoleh, "yeay! Mama datang!!"
Bhara langsung berlari untuk memeluk Natasya, begitu juga dengan Natasya yang membalas pelukan anak itu.
"Eum... Bhara," panggil Natasya.
Bhara yang merasa dipanggil langsung menatap mata Natasya untuk mendengarkan apa yang akan mamanya bicarakan.
"Bhara tunggu di sini dulu ya, mama mau kerja dulu, nanti mama jemput Bhara lagi," ucap Natasya.
Senyum Bhara perlahan memudar, "mama mau pelgi lagi? Ugh! Mama cudah pelgi lama tadi, kenapa cekalang mau pelgi lagi?!"
"Mama harus kerja dulu, Sayang. Nanti kalau mama gak kerja, mama gak bisa beliin Bhara makanan sama mainan," jelas Natasya.
Bhara hanya diam sambil menunduk sedih. Natasya yang melihatnya pun mengangkat wajah Bhara untuk menatapnya.
"Mama gak lama kok, nanti mama jemput lagi," kata Natasya meyakinkan Bhara, "mama gak akan ninggalin Bhara."
"Mama ndak akan ninggalin Bhala?" lirih anak itu.
Natasya menggeleng sambil tersenyum, "mama gak akan ninggalin Bhara. Janji!"
Kemudian, Bhara pun mengangguk lemah. Natasya tidak tega melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, ia harus melatih anak-anak di klub menembak. Ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannnya begitu saja. Lagipula, pengeluarannya sekarang semakin meningkat karena ada Bhara.
Setelah berbicara sebentar dengan Bu Lili, Natasya pun segera pergi menuju klub menembak. Biasanya ia akan mengajar hingga pukul 8 malam, tapi ia sudah meminta izin kepada pemilik klub agar memberinya waktu mengajar hanya sampai pukul 6 sore.
...----------------...
Satu Minggu Kemudian
Tidak terasa sudah satu minggu Natasya tinggal bersama Bhara. Dan selama itu juga, hubungan mereka menjadi semakin dekat.
"Ahahaha, Mama! Geli! Ahahaha."
"Geli? Sini kamu, rasakan jurus andalan mama, hyakk!!"
"Ahahaha!!"
Suasana rumah Natasya di Hari Jum'at pagi ini begitu hangat. Ia tidak memiliki jadwal kuliah karena dosennya tiba-tiba tidak bisa mengajar, sehingga ia bisa tinggal di rumah seharian dan bermain dengan Bhara. Lihat saja, betapa asyiknya mama dan anak itu, mereka berguling-guling di depan TV dengan Natasya yang sibuk menggelitiki perut Bhara.
"Ahahaha, mama cudah, ma, cudah," ucap Bhara masih dengan tawanya.
"Oke oke, mama juga capek," kata Natasya.
Ting tong
Suara bel rumah membuat mereka berdua menoleh.
"Mama, ada tamu," seru Bhara.
Natasya terkekeh, "Bhara tunggu di sini ya, mama mau bukain pintu dulu."
Bhara hanya mengangguk lucu, kemudian Natasya pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.
Cklek
Natasya mengernyitkan dahi saat melihat Bu Nia, polwan yang mengurus kasus Bhara, datang bersama dengan seorang polisi yang merupakan bawahannya.
"Selamat pagi, Kak Natasya."
"Selamat pagi," jawab Natasya ragu, "ada apa ya, Bu Nia?"
"Kami dari pihak kepolisian ingin menjemput Bhara," ucap Bu Nia.
Kedua bola mata Natasya melotot mendengar hal itu, "menjemput Bhara? Kenapa mendadak sekali? Apa orang tuanya sudah ditemukan? Kenapa Bu Nia tidak mengabari saya?"
Polwan itu menggeleng, "orang tua Bhara belum ditemukan, dan sampai sekarang pencarian terhadap mereka juga belum menemukan titik terang. Oleh karena itu, pihak kepolisian memutuskan untuk berhenti mencari orang tua kandung Bhara dan menutup kasus ini."
"Apa?! Kalian menyerah secepat ini?!" seru Natasya tidak percaya.
Bu Nia menghela napas kasar, "kasus yang kami tangani sangat banyak, Kak Natasya. Kami tidak bisa membiarkan kasus yang lain tidak segera dikerjakan jika harus terus melakukan pencarian yang sampai sekarang tidak membuahkan hasil ini."
"Lalu, untuk apa kalian menjemput Bhara?" tanya Natasya dengan nada kesal.
"Pihak kepolisian sudah memutuskan untuk menyerahkan Bhara ke panti asuhan," jawab polwan itu.
"Apa?! Panti asuhan?! Yang benar saja kalian ini, lebih baik Bhara tetap saya urus sendiri daripada harus tinggal di panti asuhan," seru Natasya tidak terima.
"Tidak bisa begitu, Kak. Kak Natasya tidak punya hak untuk mengasuh Bhara karena Kak Natasya bukan wali sah dari anak ini. Kak Natasya bisa terjerat hukum jika Bhara tetap tinggal bersama dengan Kak Natasya," jelas Bu Nia.
Natasya terdiam seketika. Sebagai seorang mahasiswa hukum, ia sangat mengetahui jika tindakannya ini bisa dikategorikan sebagai kasus penyanderaan. Meskipun niatnya baik, tapi tinggal bersama seorang anak yang bukan anak asuhnya secara hukum merupakan sebuah tindakan ilegal.
"Mama?"
Suara lembut Bhara membuat mereka semua menoleh. Bhara sedari tadi hanya diam memperhatikan perdebatan mamanya dengan polisi tanpa mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Bhara," lirih Natasya, lalu menghambur untuk memeluk Bhara dengan erat dan meneteskan air matanya.
"Mama kenapa?" tanya anak itu saat menyadari sosok yang memeluknya sedang menangis.
Natasya pun melepas pelukannya dan mengusap kasar wajahnya untuk menghapus air mata. Setelah itu, ia memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Bhara.
"Bhara tau kan, kalau mama sayang sekali dengan Bhara," lirih Natasya.
Bhara tersenyum lebar, "Bhala juga cayang cama mama hihi~"
Natasya mati-matian menahan tangisnya, "tapi mama gak bisa menemani Bhara terus."
"Huh?" bingung Bhara.
Bu Nia memberi isyarat kepada polisi lainnya untuk mengikutinya mendekati Bhara.
"Bhara," panggil Bu Nia membuat Bhara menoleh, "kamu ikut sama ibu polisi dulu, ya."
Merasa ada yang aneh, Bhara sontak menggelengkan kepalanya, "ndak mau!"
"Bhara, nanti Bhara bisa tinggal sama teman-teman yang banyak. Bhara juga dapat banyak sekali mainan di tempat tinggal Bhara nanti," bujuk Bu Nia.
"Ndak mau!" teriak Bhara, "Bhala mau cama mama. Bhala ndak mau teman. Bhala ndak mau mainan. Bhala cuma mau cama mama."
Pertahanan Natasya runtuh, ia mengeluarkan tangisannya saat itu juga. Namun, ia juga tidak bisa menghentikan polisi yang akan membawa Bhara. Kemudian, Bu Nia memberi isyarat kepada bawahannya. Setelah itu, polisi muda itu pun langsung menggendong Bhara.
"Aaaaa! Mama! Tolongin Bhala!!" berontak Bhara dalam gendongan polisi itu.
"Astaga! Apa kalian harus melakukan ini?! Kenapa kalian memaksa seorang anak kecil?!" Natasya histeris melihat Bhara yang menangis kencang saat digendong dengan paksa.
"Maaf, Kak Natasya. Kami harus melakukan ini untuk membawa Bhara," tegas Bu Nia, "kami permisi dulu."
Mereka pun membawa Bhara keluar dari rumah Natasya.
"Huaaaa! Mama! Mama!!"
Natasya hanya bisa melihat Bhara yang dibawa paksa oleh para polisi. Gadis itu bersimpuh di lantai saat melihat mobil polisi yang membawa Bhara mulai melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Ia merasa sangat kehilangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Nitnot
padahal tinggal proses adopsi y, ko mahasiswa hukum g ngeuh
2024-08-30
0
Dewa Dewi
kasian Bara 😭😭😭😭😭😭
2024-02-17
0
LISA
Moga Natasya dpt menjadi ibu asuh dr Bhara
2023-11-28
0