7 : Berpisah

Setelah kepulangan Hendry dari Malaysia, Natasya kembali berangkat ke kampus menggunakan bus. Sebenarnya, Hendry sudah meminta agar Natasya membawa mobilnya untuk sementara, mengingat gadis itu akan selalu membawa Bhara kemana pun ia pergi. Namun, Natasya menolak tawaran dari Hendry, ia merasa tidak enak jika terus menerus menggunakan mobil yang bukan miliknya sendiri.

Dan seperti biasa, Natasya selalu menitipkan Bhara di daycare kampusnya setiap ia akan pergi ke kelas.

"Daah mama~" ucap Bhara sambil melambaikan tangannya kepada Natasya.

"Daah sayang~" balas Natasya, lalu ia pergi untuk belajar.

Beruntung Bhara merasa nyaman di tempat penitipan itu, sehingga Natasya bisa meninggalkan anak itu di sana dengan tenang. Ketika weekday, jadwal kuliah Natasya sangat padat. Ia memiliki kelas sejak pagi hingga selesai kelas sekitar pukul 3 sore. Ngomong-ngomong, berbagai cibiran untuk Natasya tidak separah saat pertama kali ia datang sambil menggendong Bhara. Beberapa temannya sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya, Natasya juga tidak terlalu peduli tentang pendapat orang lain.

Selesai kelas, ia langsung bergegas menuju tempat penitipan. Rasa lelahnya akibat belajar berjam-jam seketika menghilang saat melihat Bhara sedang tertawa riang bersama trman-temannya di daycare.

"Bhara," panggil Natasya.

Anak itu pun menoleh, "yeay! Mama datang!!"

Bhara langsung berlari untuk memeluk Natasya, begitu juga dengan Natasya yang membalas pelukan anak itu.

"Eum... Bhara," panggil Natasya.

Bhara yang merasa dipanggil langsung menatap mata Natasya untuk mendengarkan apa yang akan mamanya bicarakan.

"Bhara tunggu di sini dulu ya, mama mau kerja dulu, nanti mama jemput Bhara lagi," ucap Natasya.

Senyum Bhara perlahan memudar, "mama mau pelgi lagi? Ugh! Mama cudah pelgi lama tadi, kenapa cekalang mau pelgi lagi?!"

"Mama harus kerja dulu, Sayang. Nanti kalau mama gak kerja, mama gak bisa beliin Bhara makanan sama mainan," jelas Natasya.

Bhara hanya diam sambil menunduk sedih. Natasya yang melihatnya pun mengangkat wajah Bhara untuk menatapnya.

"Mama gak lama kok, nanti mama jemput lagi," kata Natasya meyakinkan Bhara, "mama gak akan ninggalin Bhara."

"Mama ndak akan ninggalin Bhala?" lirih anak itu.

Natasya menggeleng sambil tersenyum, "mama gak akan ninggalin Bhara. Janji!"

Kemudian, Bhara pun mengangguk lemah. Natasya tidak tega melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, ia harus melatih anak-anak di klub menembak. Ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannnya begitu saja. Lagipula, pengeluarannya sekarang semakin meningkat karena ada Bhara.

Setelah berbicara sebentar dengan Bu Lili, Natasya pun segera pergi menuju klub menembak. Biasanya ia akan mengajar hingga pukul 8 malam, tapi ia sudah meminta izin kepada pemilik klub agar memberinya waktu mengajar hanya sampai pukul 6 sore.

...----------------...

Satu Minggu Kemudian

Tidak terasa sudah satu minggu Natasya tinggal bersama Bhara. Dan selama itu juga, hubungan mereka menjadi semakin dekat.

"Ahahaha, Mama! Geli! Ahahaha."

"Geli? Sini kamu, rasakan jurus andalan mama, hyakk!!"

"Ahahaha!!"

Suasana rumah Natasya di Hari Jum'at pagi ini begitu hangat. Ia tidak memiliki jadwal kuliah karena dosennya tiba-tiba tidak bisa mengajar, sehingga ia bisa tinggal di rumah seharian dan bermain dengan Bhara. Lihat saja, betapa asyiknya mama dan anak itu, mereka berguling-guling di depan TV dengan Natasya yang sibuk menggelitiki perut Bhara.

"Ahahaha, mama cudah, ma, cudah," ucap Bhara masih dengan tawanya.

"Oke oke, mama juga capek," kata Natasya.

Ting tong

Suara bel rumah membuat mereka berdua menoleh.

"Mama, ada tamu," seru Bhara.

Natasya terkekeh, "Bhara tunggu di sini ya, mama mau bukain pintu dulu."

Bhara hanya mengangguk lucu, kemudian Natasya pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama.

Cklek

Natasya mengernyitkan dahi saat melihat Bu Nia, polwan yang mengurus kasus Bhara, datang bersama dengan seorang polisi yang merupakan bawahannya.

"Selamat pagi, Kak Natasya."

"Selamat pagi," jawab Natasya ragu, "ada apa ya, Bu Nia?"

"Kami dari pihak kepolisian ingin menjemput Bhara," ucap Bu Nia.

Kedua bola mata Natasya melotot mendengar hal itu, "menjemput Bhara? Kenapa mendadak sekali? Apa orang tuanya sudah ditemukan? Kenapa Bu Nia tidak mengabari saya?"

Polwan itu menggeleng, "orang tua Bhara belum ditemukan, dan sampai sekarang pencarian terhadap mereka juga belum menemukan titik terang. Oleh karena itu, pihak kepolisian memutuskan untuk berhenti mencari orang tua kandung Bhara dan menutup kasus ini."

"Apa?! Kalian menyerah secepat ini?!" seru Natasya tidak percaya.

Bu Nia menghela napas kasar, "kasus yang kami tangani sangat banyak, Kak Natasya. Kami tidak bisa membiarkan kasus yang lain tidak segera dikerjakan jika harus terus melakukan pencarian yang sampai sekarang tidak membuahkan hasil ini."

"Lalu, untuk apa kalian menjemput Bhara?" tanya Natasya dengan nada kesal.

"Pihak kepolisian sudah memutuskan untuk menyerahkan Bhara ke panti asuhan," jawab polwan itu.

"Apa?! Panti asuhan?! Yang benar saja kalian ini, lebih baik Bhara tetap saya urus sendiri daripada harus tinggal di panti asuhan," seru Natasya tidak terima.

"Tidak bisa begitu, Kak. Kak Natasya tidak punya hak untuk mengasuh Bhara karena Kak Natasya bukan wali sah dari anak ini. Kak Natasya bisa terjerat hukum jika Bhara tetap tinggal bersama dengan Kak Natasya," jelas Bu Nia.

Natasya terdiam seketika. Sebagai seorang mahasiswa hukum, ia sangat mengetahui jika tindakannya ini bisa dikategorikan sebagai kasus penyanderaan. Meskipun niatnya baik, tapi tinggal bersama seorang anak yang bukan anak asuhnya secara hukum merupakan sebuah tindakan ilegal.

"Mama?"

Suara lembut Bhara membuat mereka semua menoleh. Bhara sedari tadi hanya diam memperhatikan perdebatan mamanya dengan polisi tanpa mengetahui apa yang mereka bicarakan.

"Bhara," lirih Natasya, lalu menghambur untuk memeluk Bhara dengan erat dan meneteskan air matanya.

"Mama kenapa?" tanya anak itu saat menyadari sosok yang memeluknya sedang menangis.

Natasya pun melepas pelukannya dan mengusap kasar wajahnya untuk menghapus air mata. Setelah itu, ia memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Bhara.

"Bhara tau kan, kalau mama sayang sekali dengan Bhara," lirih Natasya.

Bhara tersenyum lebar, "Bhala juga cayang cama mama hihi~"

Natasya mati-matian menahan tangisnya, "tapi mama gak bisa menemani Bhara terus."

"Huh?" bingung Bhara.

Bu Nia memberi isyarat kepada polisi lainnya untuk mengikutinya mendekati Bhara.

"Bhara," panggil Bu Nia membuat Bhara menoleh, "kamu ikut sama ibu polisi dulu, ya."

Merasa ada yang aneh, Bhara sontak menggelengkan kepalanya, "ndak mau!"

"Bhara, nanti Bhara bisa tinggal sama teman-teman yang banyak. Bhara juga dapat banyak sekali mainan di tempat tinggal Bhara nanti," bujuk Bu Nia.

"Ndak mau!" teriak Bhara, "Bhala mau cama mama. Bhala ndak mau teman. Bhala ndak mau mainan. Bhala cuma mau cama mama."

Pertahanan Natasya runtuh, ia mengeluarkan tangisannya saat itu juga. Namun, ia juga tidak bisa menghentikan polisi yang akan membawa Bhara. Kemudian, Bu Nia memberi isyarat kepada bawahannya. Setelah itu, polisi muda itu pun langsung menggendong Bhara.

"Aaaaa! Mama! Tolongin Bhala!!" berontak Bhara dalam gendongan polisi itu.

"Astaga! Apa kalian harus melakukan ini?! Kenapa kalian memaksa seorang anak kecil?!" Natasya histeris melihat Bhara yang menangis kencang saat digendong dengan paksa.

"Maaf, Kak Natasya. Kami harus melakukan ini untuk membawa Bhara," tegas Bu Nia, "kami permisi dulu."

Mereka pun membawa Bhara keluar dari rumah Natasya.

"Huaaaa! Mama! Mama!!"

Natasya hanya bisa melihat Bhara yang dibawa paksa oleh para polisi. Gadis itu bersimpuh di lantai saat melihat mobil polisi yang membawa Bhara mulai melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Ia merasa sangat kehilangan.

Terpopuler

Comments

Nitnot

Nitnot

padahal tinggal proses adopsi y, ko mahasiswa hukum g ngeuh

2024-08-30

0

Dewa Dewi

Dewa Dewi

kasian Bara 😭😭😭😭😭😭

2024-02-17

0

LISA

LISA

Moga Natasya dpt menjadi ibu asuh dr Bhara

2023-11-28

0

lihat semua
Episodes
1 1 : Natasya
2 2 : Bhara
3 3 : Mama?!
4 4 : Fakta Mengejutkan
5 5 : Ke Kampus
6 6 : Kakek
7 7 : Berpisah
8 8 : Kecelakaan
9 9 : Donor Darah
10 10 : Johnathan
11 11 : Rencana Natasya
12 12 : Kerja Tambahan
13 13 : Haikal
14 14 : Kelelahan
15 15 : Permintaan Alan
16 16 : Hasil Tes DNA
17 17 : Keturunan Adikusuma
18 18 : Bermain
19 19 : Rencana Buruk
20 20 : Papa
21 21 : Berkas
22 22 : Kecewa
23 23 : Amarah
24 24 : Pertengkaran
25 25 : Buntu
26 26 : Kesepakatan
27 27 : Undangan
28 28 : Makan Malam
29 29 : Resmi
30 30 : Persidangan
31 31 : Tinggal Bersama
32 32 : Baikan
33 33 : Salah Paham
34 34 : Makam
35 35 : Komitmen
36 36 : Klarifikasi
37 37 : Keluarga Kecil
38 38 : Liburan Keluarga
39 39 : Sabrina
40 40 : Masa Lalu
41 41 : Pertemuan
42 42 : Penjelasan
43 43 : Kembali
44 44 : Cinta
45 45 : Kebenaran
46 46 : Gagal
47 47 : Ditangkap
48 48 : Malam Pilu
49 49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50 50 : Ada yang Aneh
51 Part 51 : Hampir
52 52 : Hakim Jujur?
53 53 : Vonis
54 54 : Berkumpul Lagi
55 55 : Omelan Istri
56 56 : Awal Ajaran Baru
57 57 : Menghilang
58 58 : Diculik
59 59 : Pencarian
60 60 : Perlawanan
61 61 : Upaya Kabur
62 62 : Belum Berakhir
63 63 : Terguncang
64 64 : Trauma
65 65 : Hari yang Suram
66 66 : Sidang (lagi)
67 67 : Pulang
68 68 : Tidak Baik-Baik Saja
69 69 : Kembali Normal
70 70 : Akhir
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1 : Natasya
2
2 : Bhara
3
3 : Mama?!
4
4 : Fakta Mengejutkan
5
5 : Ke Kampus
6
6 : Kakek
7
7 : Berpisah
8
8 : Kecelakaan
9
9 : Donor Darah
10
10 : Johnathan
11
11 : Rencana Natasya
12
12 : Kerja Tambahan
13
13 : Haikal
14
14 : Kelelahan
15
15 : Permintaan Alan
16
16 : Hasil Tes DNA
17
17 : Keturunan Adikusuma
18
18 : Bermain
19
19 : Rencana Buruk
20
20 : Papa
21
21 : Berkas
22
22 : Kecewa
23
23 : Amarah
24
24 : Pertengkaran
25
25 : Buntu
26
26 : Kesepakatan
27
27 : Undangan
28
28 : Makan Malam
29
29 : Resmi
30
30 : Persidangan
31
31 : Tinggal Bersama
32
32 : Baikan
33
33 : Salah Paham
34
34 : Makam
35
35 : Komitmen
36
36 : Klarifikasi
37
37 : Keluarga Kecil
38
38 : Liburan Keluarga
39
39 : Sabrina
40
40 : Masa Lalu
41
41 : Pertemuan
42
42 : Penjelasan
43
43 : Kembali
44
44 : Cinta
45
45 : Kebenaran
46
46 : Gagal
47
47 : Ditangkap
48
48 : Malam Pilu
49
49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50
50 : Ada yang Aneh
51
Part 51 : Hampir
52
52 : Hakim Jujur?
53
53 : Vonis
54
54 : Berkumpul Lagi
55
55 : Omelan Istri
56
56 : Awal Ajaran Baru
57
57 : Menghilang
58
58 : Diculik
59
59 : Pencarian
60
60 : Perlawanan
61
61 : Upaya Kabur
62
62 : Belum Berakhir
63
63 : Terguncang
64
64 : Trauma
65
65 : Hari yang Suram
66
66 : Sidang (lagi)
67
67 : Pulang
68
68 : Tidak Baik-Baik Saja
69
69 : Kembali Normal
70
70 : Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!