"Kak Natasya? Apa maksudnya ini?"
Panggil polisi tersebut meminta penjelasan. Setelah Bhara memanggilnya 'Mama', tentu saja semua orang terkejut dan mengira bahwa Natasya adalah ibu kandung anak itu.
"Bukan! Saya bukan ibu kandungnya," seru Natasya sambil menggeleng ribut.
"Bhara," panggil Natasya lembut kepada anak yang ada di gendongannya, "kenapa kamu panggil kakak dengan sebutan 'Mama'? Kakak kan bukan mama kamu."
Bibir anak itu mencebik, "Mama... Hiks..."
"Eh?" Natasya panik, lalu menatap para polisi dan petugas, "saya serius, Pak, Bu, saya ini bukan ibunya. Saya juga tidak tahu kenapa dia memanggil saya 'Mama'."
Semua orang saling melempar tatapan bingung. Mereka yakin bahwa anak sekecil itu tidak mungkin berbohong, tetapi nada bicara Natasya juga menunjukkan bahwa ia mengatakan yang sebenarnya.
"Bhara," panggil polwan, "Kak Natasya bukan mama kamu. Ayo ikut ibu polisi dulu, nanti kita akan mencari mama kamu."
Bhara menggeleng ribut, lalu mengeratkan pelukannya kepada Natasya, "hiks... Mama... Mau cama Mama."
Natasya menyengir, "aduh, kayaknya dia tidak mau lepas dari saya. Pak polisi, boleh tidak, saya bawa pulang Bhara saja?"
Polisi itu mendengus lelah, "tidak bisa, Kak Natasya. Kami tidak bisa membiarkan Bhara ikut dengan anda karena anak ini berstatus sebagai anak hilang. Bhara harus ikut dengan kami."
Tiba-tiba, Bhara menangis kencang, "huaaa! Ndak mau cama polici! Mau cama Mama!"
Natasya langsung mengelus-elus punggung Bhara untuk menenangkan anak itu. Sementara itu, para polisi semakin bingung dengan situasi ini. Apalagi malam sudah semakin larut.
"Ayolah, Pak. Izinkan saya membawa Bhara pulang. Bhara tidak mau melepaskan saya, dan saya harus segera pulang," kata Natasya dengan nada memohon.
Kedua polisi itu saling berpandangan dan melempar isyarat.
"Baiklah," ucap sang polisi pria, "Bu Natasya boleh membawa Bhara pulang untuk sementara. Tapi kalian harus tetap dalam pengawasan kami."
Natasya mengangguk pasrah, "ya sudah. Kalau begitu, bawa saja KTP saya, Pak."
"Boleh kami minta nomor telepon Bu Natasya?" tanya sang polwan.
Natasya mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel dan memberikan nomornya kepada polisi wanita itu. Setelah menyelesaikan urusan dengan para polisi di sana, Natasya membawa Bhara pergi menuju mobil.
"Nah, Bhara ikut kakak pulang, ya," kata Natasya sambil mendudukkan Bhara di kursi penumpang.
"Yeay!!! pulang cama Mama," seru Bhara sambil tersenyum.
Natasya akan memprotes panggilan 'Mama' dari Bhara, tetapi ia mengurungkan niatnya karena melihat wajah anak itu yang ceria. Hatinya menghangat saat melihat senyum terpancar dari wajah anak manis itu. Sejak ia bertemu dengan Bhara, ini adalah pertama kalinya anak itu tersenyum.
"Bhara senang ya pulang sama kakak?" tanya Natasya sambil menyetir.
Bhara mengangguk antusias, "hihi... Cenang cekali. Tapi..."
Natasya menoleh menunggu Bhara melanjutkan kalimatnya.
"...mama bukan 'kakak', tapi 'Mama', mamanya Bhala."
Dahi Natasya mengernyit, "eh? Bhara... Kakak bukan mamanya Bhara."
Wajah Bhara seketika berubah menjadi murung. Natasya panik saat melihat mata anak itu mulai berkaca-kaca.
"Eh? Aduh, iya iya, kakak mamanya Bhara," panik Natasya, "Bhara boleh panggil 'Mama'."
Air mata anak itu tidak jadi turun, senyum di wajahnya sudah kembali. Natasya hanya bisa menghela napas panjang, tidak masalah Bhara memanggilnya 'Mama', yang penting anak itu bisa terus tersenyum.
Sesampainya di rumah, Natasya menggendong Bhara yang ketiduran sejak dalam perjalanan. Ia menidurkan anak itu di kamar tidurnya.
"Huft...," Natasya menghela napas lega setelah meletakkan Bhara dan menyelimutinya.
Natasya mengelus pucuk kepala Bhara, lalu bergumam pelan, "sebenarnya, kamu tuh siapa sih, Bhara? Kenapa tiba-tiba panggil aku 'Mama'?"
Lama Natasya menatap wajah tenang Bhara yang tertidur. Senyum kecil terukir di wajahnya saat merasa hatinya menghangat setiap kali ia melihat wajah lucu anak itu.
...----------------...
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, tepat saat matahari mulai menampakkan sinarnya, Natasya sudah berada di pasar yang terletak di dekat rumahnya. Ia pergi untuk membeli beberapa baju untuk Bhara sebelum anak itu bangun. Sebenarnya, ia bukan tipe orang yang suka berbelanja di pasar. Namun, karena Bhara membutuhkan pakaian ganti secepatnya, ia terpaksa membeli di sini. Lagipula, tidak ada supermarket ataupun toko baju yang buka di pagi hari.
Ia membeli berbagai perlengkapan yang dibutuhkan oleh anak laki-laki itu, seperti baju, celana, sandal, alat mandi, dan susu balita. Natasya berinisiatif untuk memberikan susu kepada Bhara karena tubuh anak itu sangat kurus dibandingkan dengan anak-anak seusianya.
Setelah membeli semua yang dibutuhkan, Natasya bergegas untuk pulang. Ia tidak mau terlalu meninggalkan Bhara, khawatir jika anak itu terbangun dan mendapati bahwa dirinya tidak ada di rumah.
Natasya's POV
Cklek
"Hiks... Hiks..."
Mendengar suara tangisan Bhara, aku langsung berlari memasuki kamar. Benar saja, anak itu sudah terduduk di atas kasur sambil berlinang air mata. Padahal sekarang masih pukul 8 pagi.
"Hei hei, anak manis udah bangun~"
Ucapku sambil mengangkat Bhara untuk kugendong.
"Mama kemana aja? Hiks... Bhala kila, mama ninggalin Bhala," lirihnya sambil sesenggukan.
Aku pun tersenyum kecil, "mama gak ninggalin Bhara kok. Tadi mama beli baju baru sama susu buat Bhara."
"Baju balu?!" seru Bhara dengan mata berbinar.
Aku tertawa kecil saat melihatnya kembali ceria setelah aku mengatakan bahwa aku baru saja membeli baju untuknya.
"Iya, Bhara mau mandi sekarang?"
Anak kecil itu hanya diam, sepertinya ia tidak mau mandi.
"Nanti habis mandi, Bhara bisa pakai baju barunya," bujukku.
Berhasil! Dia menganggukkan kepalanya semangat.
Aku pun mengajaknya pergi ke kamar mandi. Setelah mengatur suhu air supaya hangat, aku pun mulai membuka baju Bhara.
"Astaga! Bhara, punggung kamu kenapa?!" aku refleks berteriak karena terkejut.
Ya Tuhan! Apa yang kulihat ini?! Punggung dan perut anak ini penuh dengan lebam dengan warna ungu yang berbeda, itu berarti lebam ini didapatkannya dalam waktu yang berbeda-beda juga.
"Hiks... Mama...," Bhara kembali menangis sambil menatapku, "jangan pukul Bhala lagi."
Sontak aku pun menutup mulut karena terkejut. Aku tidak bodoh, melihat reaksi Bhara saat ini, aku yakin dia adalah korban KDRT. Langsung kupeluk erat anak yang sejak kemarin memanggilku 'Mama' itu.
"Ssst... Tenang ya, Sayang. Mama gak akan pukul kamu kok, tenang ya," ucapku sambil mengusap lembut punggungnya.
Tanpa sadar, aku meneteskan air mata. Rasanya begitu sesak membayangkan anak yang mungil dan rapuh ini harus mendapatkan begitu banyak luka. Kemudian, aku segera menghapus air mataku dan kembali memasang senyuman.
"Ayo, sekarang Bhara mandi dulu, ya," ucapku sambil menghapus air mata di pipinya.
Anak itu mengangguk kecil. Lalu, dengan hati-hati, aku mulai memandikan tubuhnya. Setelah 15 menit acara 'memandikan Bhara', aku pun membawanya kembali ke kamar dan memakaikannya baju.
"Nah, selesai," ujarku setelah memakaikan baju kepadanya, lalu memeluknya erat karena gemas, "uwah... Lucu sekali bayi kecil ini."
"Ugh! Mama! Sesak!"
Aku pun tertawa melihat Bhara menggeliat mencoba untuk melepaskan diri dari pelukanku.
Kemudian, aku pun menggendong anak itu menuju ruang tamu dan mendudukkannya di sofa.
"Nah, Bhara duduk di sini dulu ya, mama mau buatkan Bhara susu dulu," ucapku sambil menyalakan TV.
Anak itu hanya mengangguk patuh dan menyamankan diri di sova sambil menonton TV. Kemudian, aku pun berjalan menuju dapur. Namun, sebelum membuatkan Bhara susu dan memasak untuk sarapan, aku membuka ponselku dan menelepon polisi kemarin.
"Halo, Bu polisi," ucapku setelah panggilan tersambung.
"Iya, Kak Natasya. Ada apa?" jawab polwan itu.
"Bu, saya mau melaporkan sesuatu," aku menjeda ucapanku sejenak, "sepertinya, Bhara adalah korban KDRT. Saya menemukan banyak lebam di tubuhnya."
Aku bisa mendengar polwan itu tidak langsung menjawab, mungkin beliau cukup terkejut dengan pernyataanku.
"Baiklah, Kak Natasya. Terima kasih atas laporannya. Setelah ini, kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Apakah kita bisa bertemu secepatnya?"
"Bisa, Bu. Nanti siang saya ada jadwal kuliah. Sepulang kuliah nanti, saya akan pergi ke kantor polisi," ucapku.
"Kuliah? Lalu, bagaimana dengan Bhara? Siapa yang akan menjaganya nanti?" tanya polwan itu.
"Emm..., oh! Bhara akan saya titipkan di daycare dekat kampus saya."
"Baiklah, Kak Natasya. Terima kasih atas waktunya."
"Sama-sama, Bu," ucapku sebelum mengakhiri panggilan.
Aku bersyukur karena pihak kepolisian menanggapi kasus ini dengan cepat. Semoga saja kebenaran segera terungkap. Dan untuk siapapun yang melakukan hal keji itu kepada Bhara, semoga orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Frando Wijaya
kykny orgtua kandung bhara kna buang...sebelom buang kekerasan dlo Bru buang
2024-08-01
0
Dewa Dewi
kalo perlu lbh kejam lagi
2024-02-17
0
Dewa Dewi
kasian bgt nih Bara korban kebiadaban mamanya🤬🤬
2024-02-17
0