4 : Fakta Mengejutkan

"Kak Natasya? Apa maksudnya ini?"

Panggil polisi tersebut meminta penjelasan. Setelah Bhara memanggilnya 'Mama', tentu saja semua orang terkejut dan mengira bahwa Natasya adalah ibu kandung anak itu.

"Bukan! Saya bukan ibu kandungnya," seru Natasya sambil menggeleng ribut.

"Bhara," panggil Natasya lembut kepada anak yang ada di gendongannya, "kenapa kamu panggil kakak dengan sebutan 'Mama'? Kakak kan bukan mama kamu."

Bibir anak itu mencebik, "Mama... Hiks..."

"Eh?" Natasya panik, lalu menatap para polisi dan petugas, "saya serius, Pak, Bu, saya ini bukan ibunya. Saya juga tidak tahu kenapa dia memanggil saya 'Mama'."

Semua orang saling melempar tatapan bingung. Mereka yakin bahwa anak sekecil itu tidak mungkin berbohong, tetapi nada bicara Natasya juga menunjukkan bahwa ia mengatakan yang sebenarnya.

"Bhara," panggil polwan, "Kak Natasya bukan mama kamu. Ayo ikut ibu polisi dulu, nanti kita akan mencari mama kamu."

Bhara menggeleng ribut, lalu mengeratkan pelukannya kepada Natasya, "hiks... Mama... Mau cama Mama."

Natasya menyengir, "aduh, kayaknya dia tidak mau lepas dari saya. Pak polisi, boleh tidak, saya bawa pulang Bhara saja?"

Polisi itu mendengus lelah, "tidak bisa, Kak Natasya. Kami tidak bisa membiarkan Bhara ikut dengan anda karena anak ini berstatus sebagai anak hilang. Bhara harus ikut dengan kami."

Tiba-tiba, Bhara menangis kencang, "huaaa! Ndak mau cama polici! Mau cama Mama!"

Natasya langsung mengelus-elus punggung Bhara untuk menenangkan anak itu. Sementara itu, para polisi semakin bingung dengan situasi ini. Apalagi malam sudah semakin larut.

"Ayolah, Pak. Izinkan saya membawa Bhara pulang. Bhara tidak mau melepaskan saya, dan saya harus segera pulang," kata Natasya dengan nada memohon.

Kedua polisi itu saling berpandangan dan melempar isyarat.

"Baiklah," ucap sang polisi pria, "Bu Natasya boleh membawa Bhara pulang untuk sementara. Tapi kalian harus tetap dalam pengawasan kami."

Natasya mengangguk pasrah, "ya sudah. Kalau begitu, bawa saja KTP saya, Pak."

"Boleh kami minta nomor telepon Bu Natasya?" tanya sang polwan.

Natasya mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel dan memberikan nomornya kepada polisi wanita itu. Setelah menyelesaikan urusan dengan para polisi di sana, Natasya membawa Bhara pergi menuju mobil.

"Nah, Bhara ikut kakak pulang, ya," kata Natasya sambil mendudukkan Bhara di kursi penumpang.

"Yeay!!! pulang cama Mama," seru Bhara sambil tersenyum.

Natasya akan memprotes panggilan 'Mama' dari Bhara, tetapi ia mengurungkan niatnya karena melihat wajah anak itu yang ceria. Hatinya menghangat saat melihat senyum terpancar dari wajah anak manis itu. Sejak ia bertemu dengan Bhara, ini adalah pertama kalinya anak itu tersenyum.

"Bhara senang ya pulang sama kakak?" tanya Natasya sambil menyetir.

Bhara mengangguk antusias, "hihi... Cenang cekali. Tapi..."

Natasya menoleh menunggu Bhara melanjutkan kalimatnya.

"...mama bukan 'kakak', tapi 'Mama', mamanya Bhala."

Dahi Natasya mengernyit, "eh? Bhara... Kakak bukan mamanya Bhara."

Wajah Bhara seketika berubah menjadi murung. Natasya panik saat melihat mata anak itu mulai berkaca-kaca.

"Eh? Aduh, iya iya, kakak mamanya Bhara," panik Natasya, "Bhara boleh panggil 'Mama'."

Air mata anak itu tidak jadi turun, senyum di wajahnya sudah kembali. Natasya hanya bisa menghela napas panjang, tidak masalah Bhara memanggilnya 'Mama', yang penting anak itu bisa terus tersenyum.

Sesampainya di rumah, Natasya menggendong Bhara yang ketiduran sejak dalam perjalanan. Ia menidurkan anak itu di kamar tidurnya.

"Huft...," Natasya menghela napas lega setelah meletakkan Bhara dan menyelimutinya.

Natasya mengelus pucuk kepala Bhara, lalu bergumam pelan, "sebenarnya, kamu tuh siapa sih, Bhara? Kenapa tiba-tiba panggil aku 'Mama'?"

Lama Natasya menatap wajah tenang Bhara yang tertidur. Senyum kecil terukir di wajahnya saat merasa hatinya menghangat setiap kali ia melihat wajah lucu anak itu.

...----------------...

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, tepat saat matahari mulai menampakkan sinarnya, Natasya sudah berada di pasar yang terletak di dekat rumahnya. Ia pergi untuk membeli beberapa baju untuk Bhara sebelum anak itu bangun. Sebenarnya, ia bukan tipe orang yang suka berbelanja di pasar. Namun, karena Bhara membutuhkan pakaian ganti secepatnya, ia terpaksa membeli di sini. Lagipula, tidak ada supermarket ataupun toko baju yang buka di pagi hari.

Ia membeli berbagai perlengkapan yang dibutuhkan oleh anak laki-laki itu, seperti baju, celana, sandal, alat mandi, dan susu balita. Natasya berinisiatif untuk memberikan susu kepada Bhara karena tubuh anak itu sangat kurus dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Setelah membeli semua yang dibutuhkan, Natasya bergegas untuk pulang. Ia tidak mau terlalu meninggalkan Bhara, khawatir jika anak itu terbangun dan mendapati bahwa dirinya tidak ada di rumah.

Natasya's POV

Cklek

"Hiks... Hiks..."

Mendengar suara tangisan Bhara, aku langsung berlari memasuki kamar. Benar saja, anak itu sudah terduduk di atas kasur sambil berlinang air mata. Padahal sekarang masih pukul 8 pagi.

"Hei hei, anak manis udah bangun~"

Ucapku sambil mengangkat Bhara untuk kugendong.

"Mama kemana aja? Hiks... Bhala kila, mama ninggalin Bhala," lirihnya sambil sesenggukan.

Aku pun tersenyum kecil, "mama gak ninggalin Bhara kok. Tadi mama beli baju baru sama susu buat Bhara."

"Baju balu?!" seru Bhara dengan mata berbinar.

Aku tertawa kecil saat melihatnya kembali ceria setelah aku mengatakan bahwa aku baru saja membeli baju untuknya.

"Iya, Bhara mau mandi sekarang?"

Anak kecil itu hanya diam, sepertinya ia tidak mau mandi.

"Nanti habis mandi, Bhara bisa pakai baju barunya," bujukku.

Berhasil! Dia menganggukkan kepalanya semangat.

Aku pun mengajaknya pergi ke kamar mandi. Setelah mengatur suhu air supaya hangat, aku pun mulai membuka baju Bhara.

"Astaga! Bhara, punggung kamu kenapa?!" aku refleks berteriak karena terkejut.

Ya Tuhan! Apa yang kulihat ini?! Punggung dan perut anak ini penuh dengan lebam dengan warna ungu yang berbeda, itu berarti lebam ini didapatkannya dalam waktu yang berbeda-beda juga.

"Hiks... Mama...," Bhara kembali menangis sambil menatapku, "jangan pukul Bhala lagi."

Sontak aku pun menutup mulut karena terkejut. Aku tidak bodoh, melihat reaksi Bhara saat ini, aku yakin dia adalah korban KDRT. Langsung kupeluk erat anak yang sejak kemarin memanggilku 'Mama' itu.

"Ssst... Tenang ya, Sayang. Mama gak akan pukul kamu kok, tenang ya," ucapku sambil mengusap lembut punggungnya.

Tanpa sadar, aku meneteskan air mata. Rasanya begitu sesak membayangkan anak yang mungil dan rapuh ini harus mendapatkan begitu banyak luka. Kemudian, aku segera menghapus air mataku dan kembali memasang senyuman.

"Ayo, sekarang Bhara mandi dulu, ya," ucapku sambil menghapus air mata di pipinya.

Anak itu mengangguk kecil. Lalu, dengan hati-hati, aku mulai memandikan tubuhnya. Setelah 15 menit acara 'memandikan Bhara', aku pun membawanya kembali ke kamar dan memakaikannya baju.

"Nah, selesai," ujarku setelah memakaikan baju kepadanya, lalu memeluknya erat karena gemas, "uwah... Lucu sekali bayi kecil ini."

"Ugh! Mama! Sesak!"

Aku pun tertawa melihat Bhara menggeliat mencoba untuk melepaskan diri dari pelukanku.

Kemudian, aku pun menggendong anak itu menuju ruang tamu dan mendudukkannya di sofa.

"Nah, Bhara duduk di sini dulu ya, mama mau buatkan Bhara susu dulu," ucapku sambil menyalakan TV.

Anak itu hanya mengangguk patuh dan menyamankan diri di sova sambil menonton TV. Kemudian, aku pun berjalan menuju dapur. Namun, sebelum membuatkan Bhara susu dan memasak untuk sarapan, aku membuka ponselku dan menelepon polisi kemarin.

"Halo, Bu polisi," ucapku setelah panggilan tersambung.

"Iya, Kak Natasya. Ada apa?" jawab polwan itu.

"Bu, saya mau melaporkan sesuatu," aku menjeda ucapanku sejenak, "sepertinya, Bhara adalah korban KDRT. Saya menemukan banyak lebam di tubuhnya."

Aku bisa mendengar polwan itu tidak langsung menjawab, mungkin beliau cukup terkejut dengan pernyataanku.

"Baiklah, Kak Natasya. Terima kasih atas laporannya. Setelah ini, kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Apakah kita bisa bertemu secepatnya?"

"Bisa, Bu. Nanti siang saya ada jadwal kuliah. Sepulang kuliah nanti, saya akan pergi ke kantor polisi," ucapku.

"Kuliah? Lalu, bagaimana dengan Bhara? Siapa yang akan menjaganya nanti?" tanya polwan itu.

"Emm..., oh! Bhara akan saya titipkan di daycare dekat kampus saya."

"Baiklah, Kak Natasya. Terima kasih atas waktunya."

"Sama-sama, Bu," ucapku sebelum mengakhiri panggilan.

Aku bersyukur karena pihak kepolisian menanggapi kasus ini dengan cepat. Semoga saja kebenaran segera terungkap. Dan untuk siapapun yang melakukan hal keji itu kepada Bhara, semoga orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal.

Terpopuler

Comments

Frando Wijaya

Frando Wijaya

kykny orgtua kandung bhara kna buang...sebelom buang kekerasan dlo Bru buang

2024-08-01

0

Dewa Dewi

Dewa Dewi

kalo perlu lbh kejam lagi

2024-02-17

0

Dewa Dewi

Dewa Dewi

kasian bgt nih Bara korban kebiadaban mamanya🤬🤬

2024-02-17

0

lihat semua
Episodes
1 1 : Natasya
2 2 : Bhara
3 3 : Mama?!
4 4 : Fakta Mengejutkan
5 5 : Ke Kampus
6 6 : Kakek
7 7 : Berpisah
8 8 : Kecelakaan
9 9 : Donor Darah
10 10 : Johnathan
11 11 : Rencana Natasya
12 12 : Kerja Tambahan
13 13 : Haikal
14 14 : Kelelahan
15 15 : Permintaan Alan
16 16 : Hasil Tes DNA
17 17 : Keturunan Adikusuma
18 18 : Bermain
19 19 : Rencana Buruk
20 20 : Papa
21 21 : Berkas
22 22 : Kecewa
23 23 : Amarah
24 24 : Pertengkaran
25 25 : Buntu
26 26 : Kesepakatan
27 27 : Undangan
28 28 : Makan Malam
29 29 : Resmi
30 30 : Persidangan
31 31 : Tinggal Bersama
32 32 : Baikan
33 33 : Salah Paham
34 34 : Makam
35 35 : Komitmen
36 36 : Klarifikasi
37 37 : Keluarga Kecil
38 38 : Liburan Keluarga
39 39 : Sabrina
40 40 : Masa Lalu
41 41 : Pertemuan
42 42 : Penjelasan
43 43 : Kembali
44 44 : Cinta
45 45 : Kebenaran
46 46 : Gagal
47 47 : Ditangkap
48 48 : Malam Pilu
49 49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50 50 : Ada yang Aneh
51 Part 51 : Hampir
52 52 : Hakim Jujur?
53 53 : Vonis
54 54 : Berkumpul Lagi
55 55 : Omelan Istri
56 56 : Awal Ajaran Baru
57 57 : Menghilang
58 58 : Diculik
59 59 : Pencarian
60 60 : Perlawanan
61 61 : Upaya Kabur
62 62 : Belum Berakhir
63 63 : Terguncang
64 64 : Trauma
65 65 : Hari yang Suram
66 66 : Sidang (lagi)
67 67 : Pulang
68 68 : Tidak Baik-Baik Saja
69 69 : Kembali Normal
70 70 : Akhir
Episodes

Updated 70 Episodes

1
1 : Natasya
2
2 : Bhara
3
3 : Mama?!
4
4 : Fakta Mengejutkan
5
5 : Ke Kampus
6
6 : Kakek
7
7 : Berpisah
8
8 : Kecelakaan
9
9 : Donor Darah
10
10 : Johnathan
11
11 : Rencana Natasya
12
12 : Kerja Tambahan
13
13 : Haikal
14
14 : Kelelahan
15
15 : Permintaan Alan
16
16 : Hasil Tes DNA
17
17 : Keturunan Adikusuma
18
18 : Bermain
19
19 : Rencana Buruk
20
20 : Papa
21
21 : Berkas
22
22 : Kecewa
23
23 : Amarah
24
24 : Pertengkaran
25
25 : Buntu
26
26 : Kesepakatan
27
27 : Undangan
28
28 : Makan Malam
29
29 : Resmi
30
30 : Persidangan
31
31 : Tinggal Bersama
32
32 : Baikan
33
33 : Salah Paham
34
34 : Makam
35
35 : Komitmen
36
36 : Klarifikasi
37
37 : Keluarga Kecil
38
38 : Liburan Keluarga
39
39 : Sabrina
40
40 : Masa Lalu
41
41 : Pertemuan
42
42 : Penjelasan
43
43 : Kembali
44
44 : Cinta
45
45 : Kebenaran
46
46 : Gagal
47
47 : Ditangkap
48
48 : Malam Pilu
49
49 : Keberanian Mahasiswa Hukum
50
50 : Ada yang Aneh
51
Part 51 : Hampir
52
52 : Hakim Jujur?
53
53 : Vonis
54
54 : Berkumpul Lagi
55
55 : Omelan Istri
56
56 : Awal Ajaran Baru
57
57 : Menghilang
58
58 : Diculik
59
59 : Pencarian
60
60 : Perlawanan
61
61 : Upaya Kabur
62
62 : Belum Berakhir
63
63 : Terguncang
64
64 : Trauma
65
65 : Hari yang Suram
66
66 : Sidang (lagi)
67
67 : Pulang
68
68 : Tidak Baik-Baik Saja
69
69 : Kembali Normal
70
70 : Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!