Beberapa hari sejak insiden Natasya menampar Haikal, ia menjadi bahan gosip di kampusnya. Sebagian orang kasihan dengan Natasya, sebagian yang lain ikut menjelekkan namanya. Tapi Natasya tidak peduli, ia tetap menjalani kegiatannya seperti biasa. Belajar, kerja, belajar, kerja, begitu seterusnya. Oh, dan mengunjungi Bhara di panti asuhan juga setiap sore.
Jadwal kelas pertama Natasya sudah berakhir, masih ada 2 kelas lagi nanti setelah istirahat. Saat ini, ia sedang menuju ruangan Hendry untuk melakukan pekerjaannya sebagai asisten pribadi. Dosennya yang juga seorang pengacara itu meminta rekap jadwal harian selama satu bulan ke depan.
Tok tok tok
Natasya mengetuk pintu ruangan Hendry, lalu membukanya dengan pelan. Ia bisa melihat bahwa dosennya itu sedang duduk di meja kerjanya sambil menulis sesuatu. Saat Natasya masuk, Hendry mengalihkan pandangannya dan tersenyum kepada asistennya itu.
"Ini jadwal harian Pak Hendry selama satu bulan ke depan," ucap Natasya sambil menyerahkan lembaran kertas berisi jadwal Hendry.
Hendry pun memeriksa jadwalnya dengan saksama, lalu berujar kepada Natasya, "tolong pertemuan dengan kepala kejaksaan diubah menjadi satu hari setelahnya. Kemarin beliau baru saja memberi tahu saya, kalau ada rapat penting di kejaksaan pada hari itu."
Natasya pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "baik, Pak. Ada lagi yang perlu saya ubah?"
Hendry menggelengkan kepalanya, "untuk sementara tetap seperti ini saja."
"Baik, kalau begitu, saya permisi dulu, Pak," kata Natasya.
Natasya sudah akan berbalik badan untuk pergi dari sana, sebelum suara Hendry mencegahnya.
"Tunggu sebentar, Natasya!" seru Hendry sebelum Natasya pergi dari sana.
"Iya? Ada apa, Pak?" tanya Natasya.
"Natasya kamu pasti kurang istirahat akhir-akhir ini, muka kamu pucat sekali," ucap Hendry miris.
"Oh, mungkin saya memang kurang istirahat, Pak Hendry. Tapi saya baik-baik saja kok," jawab Natasya berusaha untuk meyakinkan dosennya itu.
Hendry menghela napas panjang, "jangan terus menerus memaksakan diri, Natasya. Sudah berapa kali saya bilang, jangan lewatkan istirahat."
Natasya tersenyum lembut, "terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya, Pak Hendry. Tapi saya benar-benar baik-baik saja, Pak Hendry tidak perlu khawatir."
"Ya sudah, kamu boleh pergi, jangan lewatkan makan siang lagi ya," ucap Hendry.
Natasya tertawa kecil, "siap, Pak."
Setelah itu, Natasya pergi dari ruangan Hendry. Dosen itu menatap miris punggung Natasya yang menghilang di balik pintu. Walaupun berusaha untuk terlihat baik-baik saja, tetapi wajah lelah Natasya tidak bisa berbohong. Matanya tampak sayu, kantong matanya tebal, bibirnya pucat pasi. Hendry khawatir jika gadis itu jatuh sakit karena terlalu bekerja keras.
...----------------...
Setelah pergi dari ruangan Hendry, Natasya langsung melangkahkan kakinya ke fakultas teknik. Ia mendapatkan pekerjaan dari beberapa mahasiswa teknik untuk membantu mengerjakan makalah penelitian mereka. Ia harus melihat langsung penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa teknik itu agar bisa membuat makalah yang sesuai.
Karena terlalu sibuk mengikuti proses penelitian di sana, tanpa sadar Natasya telah melewatkan jam makan siangnya. Saat ia mulai merasa lapar, kelas berikutnya sudah semulai. Alhasil, ia harus tetap mengikuti kelas tanpa makan sama sekali.
Sepanjang pelajaran, Natasya berusaha untuk tetap duduk tegak walaupun ia merasa badannya sudah sangat lemas. Alan yang duduk di samping Natasya mengernyitkan dahinya saat melihat Natasya yang mulai tidak fokus menyimak penjelasan dari dosen di depan sana.
"Natasya, kamu sakit?" tanya Alan dengan suara pelan.
Natasya menoleh, lalu menggelengkan kepalanya, "aku gak apa-apa, Al."
"Tapi, muka kamu pucat banget, Sya," lirih Alan.
"Aku gak apa-apa, Al," jawab Natasya tetap dalam pendiriannya, lalu kembali menyimak dosen di depan.
"Aku antar ke ruang kesehatan aja, ya," kata Alan yang terus berusaha membujuk Natasya.
Natasya kembali menoleh, "aku beneran gak apa-apa, Al. Udah ya, mending kita fokus sama pelajaran aja."
Alan hanya bisa menghela napas panjang. Natasya selalu seperti ini, sangat keras kepala dan selalu bersikap kuat. Gagal membujuk Natasya untuk pergi ke ruang istirahat, Alan pun kembali menyimak penjelasan dosen tanpa bertanya lagi kepada gadis itu.
Bruk!
"Natasya!"
Semua mahasiswa menoleh dan terkejut melihat Natasya yang sudah pingsan dan tersungkur di lantai. Semua orang pun panik, hal itu membuat kegiatan belajar mengajar pun terhenti. Alan yang terkejut pun langsung mengangkat tubuh Natasya dan menggendongnya menuju ruang kesehatan. Untung saja tubuh Natasya sangat kurus, jadi laki-laki itu tidak terlalu kesulitan untuk menggendongnya.
Brak!
Alan menendang pintu ruang kesehatan menggunakan kakinya, hal itu membuat penjaga di dalam sana terkejut. Bukannya bersikap anarkis, kedua tangan Alan memang digunakan untuk menggendong Natasya, jadi satu-satunya cara untuk membuka pintu itu adalah dengan menendangnya.
"Alan! Membuat kaget saja," geram penjaga itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Natasya yang berada di gendongan Alan, lalu memberikan instruksi, "astaga! Baringkan dia di kasur sebelah sana!"
Alan pun membaringkan Natasya di salah satu kasur ruang kesehatan. Penjaga itu pun ikut menghampiri mereka.
"Ada apa dengan Natasya?" tanya penjaga yang memang sudah mengenal Natasya.
"Tadi tiba-tiba dia pingsan di kelas," jawab Alan masih terengah-engah.
"Dia punya riwayat penyakit atau pingsan begitu saja?" tanya si penjaga sambil mengurus natasya.
"Tidak ada riwayat penyakit, tapi akhir-akhir ini dia jarang istirahat, mungkin kelelahan," jawab Alan.
"Kalau begitu, tunggu dia sadar dulu. Tolong kamu belikan makanan dan air putih untuknya," kata penjaga itu.
Alan hanya menganggukkan kepalanya dan segera berlari menuju kantin untuk membeli makanan dan air putih. Setelah selesai membeli, ia langsung berlari untuk kembali ke ruang kesehatan.
Sahabat Natasya itu meletakkan kantong kresek yang ia bawa di nakas sebelah kasur Natasya. Ia duduk di kursi samping Natasya, lalu menghela napas lelah.
"Kamu keras kepala banget sih, Sya, sampai tumbang kayak gini," gumam Alan.
...----------------...
Natasya mengerjapkan matanya dan membukanya perlahan-lahan. ia meringis saat merasakan pusing yang menyerang kepalanya.
"Natasya? Kamu udah bangun?"
Suara Alan membuatnya menoleh. Sekarang, ia baru saja menyadari kalau dirinya sedang berbaring di ruang kesehatan kampus.
"Kamu tadi pingsan pas lagi di kelas," ucap Alan mengetahui kebingungan Natasya.
Natasya hanya diam, ia pun berusaha bangkit dari tidurnya. Alan yang melihat Natasya masih lemas langsung berinisiatif untuk membantunya duduk. Setelah memastikan Natasya duduk dengan nyaman, Alan mengambil nasi bungkus di nakas dan menyerahkannya kepada Natasya.
"Makan dulu, ya. Kamu pasti belum makan apa-apa tadi," ucap Alan sambil membukakan bungkus nasi itu.
Natasya hanya mengangguk pelan, "makasih banyak ya, Al. Maaf udah ngerepotin kamu."
"Sama-sama, gak ngerepotin sama sekali kok," kata Alan sambil tersenyum.
Setelah itu, Natasya mulai memakan nasi itu. Alan hanya memperhatikannya, sesekali ia juga mengajak Natasya berbincang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
LISA
Kasihan Natasya kerja keras spt itu..
2023-11-28
0