Natasya baru saja selesai mandi di kamar mandi umum rumah sakit itu, lalu ia kembali ke ruangan tempat Bhara dirawat. Sebenarnya, di ruang ICU tidak boleh ada yang menunggu di dalam. Tapi karena Bhara masih anak-anak, maka anak itu diperbolehkan untuk ditemani oleh orang dewasa.
Saat Natasya mendekati brankar, ia terkejut melihat Bhara yang sudah membuka matanya. Ia pun bergegas untuk mendekati anak itu.
"Sayang! Hei! Bhara sudah bangun?" seru Natasya sambil menggenggam tangan mungil Bhara.
"Ugh...," rintih Bhara.
"Mana yang sakit, Nak?" tanya Natasya cemas.
Bhara mulai menangis kecil, "hiks... Pucing, Ma."
Natasya yang melihat Bhara menangis pun langsung panik. Ia segera memanggil dokter yang berjaga untuk memeriksa keadaan anaknya itu. Tidak lama kemudian, seorang dokter dan perawat datang, lalu memeriksa kondisi Bhara.
"Bagaimana, dokter?" tanya Natasya.
Dokter itu tersenyum lembut, "tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ibu Natasya. Bhara mengalami pusing karena luka di kepalanya, juga karena faktor ia pingsan cukup lama."
Natasya menghela napas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter. Ia tadi sempat mengira telah terjadi sesuatu yang buruk dengan kepala Bhara.
"Kondisi Bhara sudah semakin membaik. Setelah ini, kami akan memindahkan Bhara ke ruang rawat inap," imbuh dokter tersebut.
"Baik, dokter. Terima kasih banyak," ucap Natasya.
Setelah itu, sang dokter dan perawat berpamitan untuk pergi dari ruang ICU.
"Mama..."
Natasya menoleh dan segera menghampiri Bhara.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Natasya lembut.
"Bhala lindu mama," lirih anak itu.
Natasya tersenyum kecil, "mama juga rindu Bhara."
...----------------...
Sekarang Bhara sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Ia mendapatkan kamar VIP atas permintaan langsung dari Anjani. Direktur rumah sakit itu bahkan membebaskan seluruh biaya rumah sakit Bhara.
"Eum... Bu Anjani tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap ibu panti sungkan.
Anjani tersenyum kecil, "tidak masalah, Bu. Saya hanya ingin membantu Bhara. Lagipula, ini juga demi Natasya. Saya sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri."
Ibu panti itu hanya bisa mengucapkan terima kasih. Lalu, dua orang wanita dewasa itu mendekati Bhara yang sedang bermain bersama Natasya di ranjang rumah sakit itu.
"Halo, Bhara~" sapa Anjani membuat Bhara menoleh.
"Halo, Bu doktel!" seru Bhara.
Semua orang tertawa kecil melihat tingkah anak itu. Padahal baru tadi pagi anak itu sadar dari pingsan, sekarang sudah ceria kembali.
"Bhara kelihatannya senang sekali, ya?" tanya Anjani.
Anak itu menganggukkan kepalanya dengan semangat, "iya, Bhala cenang cekali, kalena ada mama di cini."
Mereka semua tersenyum sendu melihat Bhara yang sangat bahagia hanya karena kehadiran Natasya. Ibu panti pun sebenarnya kasihan ketika Bhara dipisahkan oleh Natasya, tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Bu Natasya," panggil bu panti, "Bu Natasya tidak kuliah hari ini? Kalau Bu Natasya mau pergi kuliah, tidak apa-apa, saya akan menjaga Bhara di sini."
Natasya menggelengkan kepalanya, "hari ini saya tidak ada jadwal kuliah, Bu. Jadi saya mau menemani Bhara saja seharian."
Ibu panti menganggukkan kepalanya paham, "kalau begitu, saya minta tolong Bu Natasya untuk menjaga Bhara ya. Saya harus kembali ke panti asuhan untuk mengurus anak-anak yang lain."
Natasya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah itu, ibu panti berpamitan kepada Natasya dan Anjani, lalu segera pergi dari sana.
Anjani mengambil tempat duduk agar ia bisa duduk di sebelah Bhara.
"Bhara hari ini sudah makan apa belum?" tanya Anjani kepada anak kecil itu.
Bhara mengangguk lucu, "cudah! Tadi Bhala dicuapin cama mama, lho."
Anjani terkekeh, "oh ya? Bhara makan apa aja tadi?"
Senyum anak itu berubah menjadi bingung. Anak itu tampak berpikir, lalu menoleh untuk menatap wajah Natasya.
"Bhala tadi makan apa, Ma?" tanya Bhara dengan nada polos.
Natasya tertawa, "haha... Bhara gak tahu nama makanannya, ya? Tadi Bhara makan bubur ayam sama telur."
"Iya, itu, Bu doktel! Bubul ayam cama telul!" seru Bhara kepada Anjani.
Anjani tertawa melihat tingkah lucu Bhara. Direktur rumah sakit itu menghabiskan cukup banyak waktu untuk bercanda bersama Bhara di ruang rawat anak itu. Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama dengan bahagia.
...----------------...
Malam harinya, Natasya kembali menyuapi makan malam untuk Bhara. Untung saja, anak itu tidak rewel dan mau makan dengan lahap.
"Aaaa~" instruksi Natasya sambil menyuapkan sesendok nasi.
"Aaaa~" tiru Bhara, lalu memakan makanan itu, "nyam nyam~"
Natasya tertawa kecil melihat tingkah anaknya. Ia sangat senang karena bisa membuat Bhara kembali riang.
Brak
Suara pintu yang terbuka dengan keras membuat Natasya dan Bhara tersentak. Mereka pun langsung menoleh ke arah pintu.
"Bhara!"
Ternyata itu adalah Alan yang baru saja datang dan membuka pintu dengan keras. Laki-laki itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Bhara.
"Astaga! Apa yang terjadi sama kamu, Bhara?! Kok bisa kayak gini sih?!" tanya Alan panik.
Bhara yang melihat tingkah Alan langsung memasang ekspresi ketakutan. Natasya yang melihatnya langsung memukul pundak Alan.
Plak!
"Aduh!" seru Alan sambil memegangi lengannya.
"Kamu kenapa sih datang-datang udah bikin ribut aja?!" omel Natasya, "lihat! Bhara jadi ketakutan gara-gara kamu!"
Alan kembali melihat Bhara, lalu memasang cengiran lebarnya, "hehe... Maafin Kak Alan ya, Bhara. Kakak cuma cemas aja sama kamu."
Bhara hanya mengangguk pelan.
Natasya melirik kantong kresek yang dibawa oleh Alan, "kamu bawa apa itu?"
Alan menoleh, "oh iya! Aku bawain kamu makanan. Kamu belum makan, kan?"
Natasya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, ayo makan dulu," ajak Alan.
"Bhara, mama makan dulu, ya," kata Natasya kepada Bhara.
Bhara mengangguk sambil tersenyum lebar, "okee, Ma~"
Setelah itu, Natasya dan Alan duduk di sofa yang berada di samping ranjang Bhara. Mereka mulai makan bersama, sedangkan Bhara sedang bermain sendiri dengan mainannya.
"Kasihan banget sih Bhara," gumam Alan.
"Huh?" ucap Natasya bingung.
"Ayah tadi udah cerita semuanya, kalau Bhara kecelakaan karena dia kabur dari panti asuhan dan mau nyari kamu," kata Alan dengan nada sendu.
Natasya menghela napas lelah, "aku juga gak nyangka kalau Bhara bakal ngelakuin hal itu."
"Terus, sekarang mau gimana, Sya?" tanya Alan.
"Aku bakal berusaha buat adopsi Bhara," ucap Natasya dengan serius.
Alan memelototkan matanya, "hah?! Tapi... itu kan gak mungkin."
Natasya menggelengkan kepalanya, "gak ada yang gak mungkin, Al. Sekarang yang perlu aku lakuin adalah cari uang sebanyak-banyaknya. Selama ini, aku gak dibolehin adopsi Bhara karena perekonomianku yang kurang, kan. Maka dari itu, aku bakal cari uang yang banyak supaya bisa memenuhi persyaratan."
Alan hanya terdiam mendengar penjelasan dari Natasya. Sebenarnya, ia tidak terlalu yakin apakah cara Natasya itu akan berhasil atau tidak. Karena proses pengadopsian tidaklah sesederhana itu. Selain kekayaan, masih banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Tapi untuk saat ini, ia akan berusaha percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Natasya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Itha Fitra
slain ekonomi,syarat yg lain ny hrs ada buku nikah.klu msih gadis bhkan sttus mahasiswi di universitas,gk sah
2023-12-26
1
LISA
Semangat Natasya..kmu bisa jdi ma2 nya Bhara
2023-11-28
0